
Ruangan gelap dengan secercah cahaya dari terang nya bulan yang menembus sisi-sisi gorden. Semilir angin menembus, menerpa pipi mulus wanita cantik bersurai kecoklatan.
Mata nya menyipit, menelisik jam di dinding yang terlihat agak jauh dari tempat tidur nya. Kaki nya berjalan dengan lunglai menuju kamar mandi. Tempat mencari kesegaran untuk tubuh nya.
Suara tahrim menggema tak selang lama setelah Mahda merapihkan tempat tidur nya. Berjalan menuju mesjid di samping asrama.
Langit masih berlukiskan warna hitam, hitam bertabur bintang. Masih terlalu awal untuk menentukan hari ini terang atau mendung.
"Mba, tolong bantuin ana ya" pinta Zelda sesaat setelah selesai segala aktifitas nya di waktu subuh.
Mahda memanggut mengikuti Zelda yang tengah memasak untuk keluarga Ummuna. Berkhidmah pada guru, melanjutkan jejak ke dua orang tua nya dahulu.
🍀🍀🍀🍀🍀
Jarum jam menunjukan pukul 11.30 saat Mahda beserta teman-teman seangkatan nya selesai ta'lim. Mahda menaruh kitab nya di lemari bagian atas dan merapihkan nya.
Sudah beberapa bulan di sini ia bersyukur tak ada yang mengungkit kejadian nya kemarin. Bersyukur karna mereka mengerti dan enggan mengusik masalah pribadi nya.
"Mahda, tolong anterin teko ini ke ustadz Syihab!" titah Ida, mbak yang sama berkhidmah di pesantren ini.
"Kemana?" tanya Mahda bingung.
"Kesana. Deket gerbang hitam" jawab Ida dengan menggerakan sedikit wajah nya, menunjukan bahwa Syihab berada di sana.
"Ya kher" timpal Mahda.
Mahda pun segera melaksanakan perintah Ida. Memberikan teko berisi teh panas untuk para asatidz di sela-sela waktu istirahat nya.
Terlihat seorang pria berperawakan tinggi, berkulit putih dengan jambang menghiasi ke dua pipi nya. Halis dan bibir tebal menambah pesona pada pria tampan tersebut.
"Ini ustadz" ucap Mahda menyerahkan nampan tanpa melihat terlalu intens pada pria tersebut.
"Syukron (terima kasih)" ucap Syihab.
Mahda berlalu dan bersiap melaksanan sholat dhzuhur berjama'ah seperti biasa nya.
"Liburan mau pulang Da?" tanya Ida saat mereka tengah mengisi tepak untuk makan para santri.
"Gak tau, gimana bang Aly aja" jawab Mahda.
"Enak ya yang punya abang" ledek Ida.
"Biasa aja sih" timpal Mahda cuek.
"Ihh, ente cuek banget sih Mahda" kesal Ida mendapat sikap dingin dari Mahda.
__ADS_1
"Kita laper Ida, laper, laper, per, L-A-P-A-R" balas kesal Mahda yang tak beres-beres mengisi tepak untuk makan para santri.
Menahan lapar sedari tadi pagi karna lupa menyimpan tepak di barisan yang seharus nya. Sedangkan pengisi makan bukan jadwal nya. Mahda gigit jari saat melihat ke dapur nasi sudah habis dan kebetulan kantin tutup. Sewaktu istirahat harus nya bisa ia gunakan untuk jajan malah menghabiskan waktu nya di kamar mandi karna urusan negara yang belum tuntas.
Yahdik
Pekik Mahda dalam hati.
*
*
*
Entah kebetulan atau di sengaja, Mahda selalu di suruh untuk mengantarkan teh hangat untuk para asatidz.
Seperti saat ini, Mahda tengah membuat teh dan akan di serahkan pada ustadz yang biasa membawa nya, Syihab.
"Hilal nya sudah nampak nih kaya nya Mahda" celoteh ustadzah Nur yang baru saja masuk melewati gerbang hitam.
"Maksud nya?" tanya Mahda tak mengerti dengan ucapan ustadzah Nur.
"Tuh" ustadzah Nur mengerucutkan bibir nya, menunjuk ke arah gerbang hitam.
"Ishh, apaan ustadzah. Ana cuma menjalankan tugas" kilah Mahda.
Biar waktu yang menjawab semua do'a nya.
Batin Mahda.
Mahda tak ingin terburu-buru mengambil keputusan, karna menikah bukan untuk satu hari, tapi untuk selama nya. Butuh mental dan kesiapan untuk semua nya.
*
*
*
"Da, ana nanti mau maen ya ke beyt (rumah) ente" ucap Fiana, teman seangkatan nya yang kebetulan mendapatkan jadwal libur bersamaan dengan Mahda.
Seperti pada umum nya, santri takhasus beserta mbak yang biasa berkhidmah pada keluarga akan di bagi jadwal kepulangan nya. Begitu pun dengan Mahda, ia di jadwalkan pulang bersamaan dengan santri lain nya.
"Boleh, hayu ! Mau sama siapa lagi?" tanya Mahda.
"Ana ikut" timpal Zakia yang kebetulan tempat tinggal nya berdekatan, hanya terhalang satu kecamatan.
"Fadhol. Kasih tahu dulu ya nanti nya, takut lagi gak ada di rumah" sambung Mahda.
__ADS_1
"Oke. Di maklum, ustadzah banyak acara gaes" timpal Zakia.
"Isshhh" Mahda mencebik mendengar ledekan Zakia.
Mahda terus memasukan baju-baju nya yang hendak ia ganti dengan yang baru. Seperi kebiasaan nya sejak di pondokan lama, hampir setiap bulan Mahda mengganti baju-baju nya.
*
*
*
"Yemma, temen-teman Mahda mau main kesini. Boleh?" izin Mahda pada Haniyah yang tengah merias diri di depan meja rias nya.
"Boleh, nanti Yemma siapkan makanan untuk mereka. Berapa orang yang main?" tanya balik Haniyah.
"Cuma 2 orang ko" jawab Mahda.
"Eh, tapi. Temen abang mu mau maen juga kesini loh kak" timpal Haniyah.
"Ih, ko abang gak bilang" keluh Mahda.
"Jadi gimana?" tanya Haniyah lagi.
"Gak papa deh, Mahda di atas. Biar abang di bawah" jawab Mahda.
"Oke. Yemma gak mau nanggung ya kalau sampe ketahuan pengurus di sangka pada ketemuan di sini" tutur Haniyah.
"Siapa yang ketemuan, ih. Mereka udah bilang mau maen ke beyt (rumah) pas masih di pondok Yemma" jelas Mahda.
"Iya, Yemma tau. Udah gih mandi ! Jam segini belum mandi, asem tau" titah Haniyah mengibaskan tangan nya pura-pura mencium bau.
"Mana? Kakak wangi kok meski belum mandi, lihat stok parfum kakak banyak di kamar!" kilah Mahda sembari mencium aroma tubuh nya.
Haniyah terkekeh mendengar Mahda yang mengeluh karna di tuduh yang tidak-tidak oleh Yemma nya.
Namun beberapa saat kemudian ia keluar dari kamar Yemma nya. Berjalan menuju kamar nya. Menjalani ritual yang tak mungkin ia lewatkan, mandi.
Dengan memakai baju abaya berwarna hazelnut, Mahda turun menapaki satu persatu tangga di rumah nya. Berjalan menuju dapur untuk sekedar mengambil air minum.
"Asaalamu'alaikum" ucap seseorang dari luar pintu.
Mahda yang kebetulan tengah duduk di ruang tamu lantas segera berjalan ke arah pintu, membukakan tamu yang tengah berdiri di luar menunggu si empu nya rumah menyuruh nya masuk.
"Wa'alaikum salam" jawab Mahda saat membuka pintu tersebut.
🍀🍀🍀🍀🍀
__ADS_1