Cinta Terhalang Dinding Pesantren Season 2

Cinta Terhalang Dinding Pesantren Season 2
Di Paksa?


__ADS_3

Berpindah ke pondokan baru membuat Mahda harus kembali beradaptasi, entah itu tempat maupun orang-orang di dalam nya. Lebih legowo lagi menghadapi dan menyikapi berbagai sikap dan sifat.


Apalagi diri nya, melanjutkan kelas takhasus sekaligus mengabdi menjadi guru RA yang masih berada di sekitar pondok pada pagi hari, dan sore hari mengajar halaqoh santri putri.


Di sela-sela hembusan nafas kasar nya karna lelah, Mahda tak pernah lupa mengucapkan sholawat.


Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad.


Ucap nya lirih.


Semua ini adalah perjalanan menuju ridho-Nya


Batin nya lagi.


*****


Tak terasa Mahda sudah 6 bulan mengajar di pesantren A****. Mahda nampak bahagia menjalani hari-hari nya, apalagi dengan anak-anak RA yang banyak tingkah dan menggemaskan.


"Ayo baca do'a nya!" titah Mahda saat selesai mengajar.


Secara serentak anak-anak tersebut langsung melafalkan do'a selepas belajar dan menyalami Mahda secara berebut untuk saling berlomba menghambur ke luar kelas. Sementara di luar, ibu-ibu sudah antri hendak menjemput anak-anak nya.


Mahda kembali ke asrama dan merebahkan tubuh nya sebentar sebelum ke dapur untuk membantu mba yang menyiapkan menu makan siang.


Saat Mahda hendak menyimpan buku ke dalam lemari, ia melihat ponsel nya menyala. Setelah menjadi pengurus Mahda di izinkan membawa ponsel untuk keperluan nya. Mahda pun segera membuka kunci layar benda pipih tersebut, dan melihat ada beberapa panggilan tak terjawab dan pesan dari bu Nyai, pemilik sekaligus guru di pesantren pertama nya dulu.


Mahda sedikit bingung dengan pesan dari guru nya tersebut, namun ia harus tetap menjalankan nya.


☘☘☘☘☘


"Bang, anterin adek ke pondok lama, di suruh sama bu nyai" ucap Mahda begitu sambungan telepon nya di angkat oleh Aly.


"Mau ngapain?" tanya Aly.


"Gak tau, di suruh ke sana kata nya. Adek udah minta izin tadi sama Ummy, kata nya boleh, asal besok balik lagi" jelas Mahda.


"Ya kher" jawab Aly singkat dan segera bersiap sesuai permintaan sang adik.

__ADS_1


Dengan bermodalkan motor pinjaman dari asatidz, Aly membawa Mahda ke pesantren nya dahulu. Aly pun menunggu di sebelah supermarket pondok.


"Ciyee mba Mahda, mau kemana nih?" tanya Della melihat Mahda berpakaian rapih dan membawa tas simple yang selalu ia bawa jika bepergian.


"Ada perlu sebentar, Del" jawab Mahda sembari terus berjalan menuju Aly.


"Iihhhh, pengen dong di bonceng sama abang ganteng" teriak Della dan yang lain nya melihat Mahda menaiki motor bersama Aly.


"Iissshhh, dasar" cibir Mahda dan menepuk bahu Aly, memerintah nya segera melajukan kendaraan nya.


"Abang bukan ojol ya de, seenak nya nepuk-nepuk bahu kaya ke tukang ojeg aja" gerutu Aly setelah keluar dari gerbang utama.


"Lah, emang iya kan? Ojeg pribadi nya Mahda" bela Mahda.


"Gak abang anter nih dek" ancam Aly.


"Iya deh iya, softoh (bercanda) deh bang" ucap Mahda mengakhiri.


Tepat sebelum sholat ashar berjamaah di mulai, Mahda dan Aly sampai di parkiran pondok. Mahda dan Aly pun berpisah, bergegas masuk ke lingkungan nya masing-masing.


Tak perlu menunggu waktu lama, selesai sholat dan wirid Mahda segera menuju ruang keluarga bu Nyai. Tampak bu Nyai seperti tengah menunggu nya, duduk di kursi kesukaan nya yang menghadap ke jendela dan masih mengenakan mukena juga tasbih yang di pegang nya.


"Assalamu'alaikum" ucap salam Mahda sembari berjalan dengan ke 2 lutut nya.


"Wa'alaikum salam" jawab bu Nyai.


Mahda pun meraih tangan nya dan mencium nya berulang kali lalu duduk di bawah, di depan kaki bu Nyai.


"Nak Mahda" sapa bu Nyai.


"Nggeh bu Nyai" jawab Mahda tak kalah sopan.


"Kalau ada yang minta Mahda, apa Mahda siap?" tanya bu Nyai pelan.


"Minta? Minta bagaimana maksud bu Nyai?" tanya balik Mahda belum faham dengan pertanyaan sang guru.


"Ya meminta, meminta Mahda menjadi makmum nya" jelas bu Nyai.

__ADS_1


Mahda seketika menegang, diam.


Maksud nya nikah, gitu maksud bu Nyai? Ini gimana? Gue belum siap, sumpah.


Batin Mahda menduga-duga.


"Tapi Mahda belum siap bu Nyai" cicit Mahda.


"Bismillah ya, ini ibadah yang paling besar pahala nya, ibadah yang paling panjang juga banyak lika liku nya" jelas bu Nyai yang seperti memaksa.


"Dengan siapa bu Nyai? Mahda belum tau?" tanya balik Mahda namun jujur sebenar nya ia ingin menolak.


"Dengan Ahmad, bulan depan dalam acara haul Mahda nikah ya, di sini" keputusan final tanpa persetujuan Mahda dari bu Nyai.


"Hah?" Mahda terkejut hingga menaikan oktav suara nya.


Ahmad? Ahmad siapa? Yang mana? Sumpah, gue gak tau ini.


Batin Mahda menjerit karna terkejut.


"Iya, nak Mahda siap kan? Bismillah ya. Yemma dan Yebba Mahda kemarin ke sini, Ibu udah bicara dan mereka memasrahkan semua nya pada Ibu" rayu bu Nyai.


Yakin Yemma sama Yebba setuju? Gak nanya ke gue dulu gitu, misal nya.


Batin Mahda lagi.


"Insyaa Alloh bu Nyai" pasrah Mahda.


Hati nya bergejolak, rasa nya sesak. Kini ia bingung harus mengekspresikan nya seperti apa. Tiba-tiba di paksa nikah kah? Atau nikah dadakan seperti Haniyah dan Zein dulu.


Mahda pun pamit dengan hati yang terus menggerutu. Rasa nya ingin menolak tapi tak mampu.


Rasa nya seperti ada rasa sakit mendengar kata menikah. Bagaimana tidak? Pernah berhubungan dengan seseorang dan berniat serius namun tiba-tiba di tinggalkan. Seperti ada luka tersendiri. Melupakan nya pun butuh waktu.


☘☘☘☘☘


Aku tidak berusaha untuk mengingat mu, tetapi aku juga tidak untuk melupakan mu, karna aku hanya ingin melepaskan mu dengan ikhlas walau pun masih ada sisa rasa yang tak bisa ku ungkapkan lagi kepada mu💔

__ADS_1


__ADS_2