
Dor.. Dor.. Dor..
"Santri, tolong panggilin bang Aly dong!" ucap Mahda setengah berteriak hingga tak memperhatikan volume suara nya.
Kepanikan yang menyelimuti diri nya seperti mengalutkan apapun yang ada di depan nya. Seperti saat ini, ia menggedor kencang dan berbicara setengah teriak meminta di panggilkan Aly.
"Bang" lirih Mahda dengan mata mengembun menahan air mata yang hampir meluncur.
"Ke bangunan depan ya, abang lewat sini!" titah Aly, tak mungkin ia berbicara lama di tempat seperti ini.
Mahda pun mengangguk dan segera berlari ke arah bangunan depan, bersebelahan dengan ruang para tamu. Tempat tersebut biasa di gunakan para wali santri saat menjenguk anak-anak nya yang tengah berjihad di sini.
Aly berjalan lebih cepat melihat Mahda yang sama cepat nya menuju bangunan depan.
"Bang" ucap Mahda lirih setengah terisak. Tubuh nya luruh bertumpu pada kaki Aly yang sudah duduk.
Menangis sejadi-jadi nya di pangkuan Aly padahal belum mengatakan apapun.
"Lu tau kan bang tentang suami gue?" tanya Mahda terisak.
"Tentang apa Da?" tanya balik Aly.
"Yang lagi viral di medsos tuh, Mahda yakin abang tau" jawab Mahda masih terus menangis, enggan menghentikan air mata yang membasahi pipi nya.
Aly terdiam, keliru untuk menjawab apa.
"Kak Syihab gimana bang, huhuhuhu.." sambung Mahda tergugu.
"Nih, ngomong sendiri!" Aly mengulurkan ponsel nya pada Mahda.
Awal nya Mahda terdiam, namun saat melihat nama Syihab terpampang di layar panggilan, baru lah Mahda mengerti.
"Ha-hallo" ucap Mahda gugup.
"Ya, hallo" jawab di sebrang sana.
"Kakak gak papa kan? Gimana keadaan kakak? Apa aja yang luka? Kenapa gak hati-hati? Ya Allah kak, jangan bikin Mahda jantungan" cerocos Mahda sasaat setelah mendengar suara Syihab.
"Sayang pelan-pelan, kakak bingung jawab nya. Kenapa sih? Kaya hawatir gitu?" tanya balik Syihab.
"Kakak gak usah harat ! Nutupin kebohongan biar Mahda tetep baik-baik aja" kesal Mahda dan mengusap ujung mata nya.
"Memang kakak gak kenapa-napa sayang, kakak lagi duduk sama mama. Coba vidio call" tutur Syihab dan mengganti mode panggilan nya.
Layar berukuran telapak tangan Mahda sendiri memunculkan gambar Syihab yang tengah duduk dengan mama mertua nya.
Blusshh..
Wajah Mahda memerah seketika, rasa nya malu sudah berfikiran yang tidak-tidak pada Syihab. Sementara yang di hawatirkan nya ternyata tengah asyik bersenda gurau dengan mama nya sendiri.
"Mahda fikir kakak kenapa-napa, kalo gitu Mahda pamit ya, mau balek ke dalem" tutur Mahda lirih.
__ADS_1
"Kenapa gitu? Kangen ya? Besok kakak berangkat pagi-pagi" goda Syihab.
"Hee, mungkin. Iya, hati-hati ya! Ana pamit, assalamu'alaikum" pamit Mahda.
"Wa'alaikum salam" timpal Syihab dan menutup vidio call nya bersama sang istri.
Mahda menoleh pada Aly yang tengah bersikap cuek dengan mata melihat ke sembarang arah. Menatap nya tajam seolah ingin menerkam orang di depan nya.
"Abang" pekik Mahda tertahan.
"Kenapa kak? Udah telponan nya?" tanya Aly santai sambil meraih ponsel nya di tangan Mahda.
"Abang gak bilang kalo kak Syihab baik-baik aja" kesal Mahda.
"Lah, abang mau ngomong di serobot kakak terus sambil mewek" timpal Aly jutek.
"Malu tau gue bang" lirih Mahda mengingat betapa memalukan nya ia menangis dan bersungut tak karuan karna mengira Syihab sang suami kecelakaan.
Akibat melihat dari ponsel ustadzah Nur dan melihat motor nya persis motor sang suami di tambah hati nya terus gelisah, membuat Mahda menyimpulkan sesuatu tanpa mencari tau terlebih dahulu. Dan pada akhir nya Mahda sendiri yang menyesal dan malu luar biasa.
"Abang juga, kenapa pas di gerbang malah masang tampang sedih gitu" sinis Mahda menatap Aly.
"Lah, abang cape kak. Udah regud tadi, tiba-tiba di bangunin santri, masih mode ngantuk elu sad gitu muka nya" jelas Aly tanpa merasa bersalah.
"Dah ah, masuk gih ! Syihab besok pulang ko, sabar napa gak ketemu satu hari aja udah maasyaa Alloh, hih" titah Aly namun berujung cibiran.
Mahda mendengus sambil menghapus sisa-sisa bekas air mata nya tadi. Malu dan kesal masih bergumul dalam hati nya.
Rasa nya terus gelisah, merasakan ada yang janggal, seperti kehilangan sesuatu di sisi nya.
Inikah rindu? Rindu yang biasa nya menjadi penghuni kamar sebelah.
Batin Mahda.
*
*
Ke esokan hari nya Syihab benar-benar sudah kembali ke pondok, membawa motor kesayangan Mahda. Ingat ! Motor kesayangan Mahda, bukan Syihab. Syihab membawa motor Mahda setelah kesepakatan nya dengan Mahda sebelum berangkat.
Beruntung Syihab di izinkan membawa motor, alasan nya agar bisa mengajak sang istri kencan jika ada waktu.
Kencan secara sembunyi-sembunyi lagi guys
Mahda tersenyum saat melihat Syihab memasuki gerbang utama pondok dengan mengendarai motor nya.
"Ciyeee, yang di senyumin calon suami nya" ledek Afiyah.
"Isshhh, ngiri ya" ledek balik Mahda.
"Jelas, situ cantik ustadz Syihab ganteng. Gak kebayang anak nya kaya gimana, emak bapa nya bibit unggul" jelas Afiyah.
__ADS_1
"Ada tuh ustadz yang masih lajang" timpal Mahda.
"Ustadz Aly kan? Ahh, boleh dong jadi kakak ipar mu Da" cerocos Afiyah dengan ekspresi wajah menggelikan, membayangkan jika ia benar-benar bisa menjadi kakak ipar Mahda.
"Gak ya, ma'af" timpal Mahda membentangkan telapak tangan nya di depan wajah Afiyah, membuat ciut Afiyah. Afiyah mendengus kesal lalu pergi mendahului Mahda menuju rumah ustadzah Rahmah.
Kepala nya menunduk manakala melewati kamar asatidz yang saat ini di pindahkan dekat deretan rumah ustadzah Rahmah.
"Sejak kapan asatidz pindah kesini Fi?" tanya Mahda berbisik.
"Waktu ente pulang kemarin. Asrama sana buat anak baru, jadi pada di pindah ke sini. Termasuk calon suami situ, tapi di pisah di belakang rumah ustadzah Rahmah tuh, sama golongan nya abang mu, ustadz tampan juga. Masih tahap proses sih kata nya" tutur Afiyah sembari tersenyum dengan mengedipkan genit mata nya saat mengatakan ustadz tampan.
"Siapa ustadz tampan?" tanya Mahda.
"Ustadz Haidar" jawab Afiyah tersipu malu.
Hoek..
Mahda bertingkah so mual melihat Afiyah yang tergila-gila pada Haidar. Andai Afiyah tau bahwa Haidar pernah menorehkan luka di hati nya.
*
*
Malam menyapa, dingin nya angin malam mulai berkelana menghampiri insan di alam semesta. Hamparan bintang membentang di langit hitam, bulan dengan bulatan sempurna menonjol di antara hamparan bintang.
Sudah 3 minggu berlalu dari acara malam itu, namun Mahda belum sempat bertemu kembali dengan Syihab. Mahda memaklumi kesibukan Syihab sebagai ustadz yang tengah merekap nilai para santri.
Musytaq
Gumam Mahda lirih.
Mahda duduk di depan asrama sembari menghirup aroma segar dari berbagai macam bunga yang tumbuh di sana. Mencoba menenangkan rindu yang kian menggebu di hati nya.
"Mahda, tolong bantuin anterin makan!" ajak Zulaikha melihat Mahda yang tengah melamun seorang diri.
"Kemana mba Zul?" tanya Mahda.
"Isshhh" Zulaikha mendengus kesal dengan sebutan Zul yang masih saja bertahan sampai sekarang.
"Astadiz, abang mu, laki mu" jawab Zulaikha dan berlalu menuju dapur.
Mendengar nama laki mu yang dalam artian adalah Syihab, perasaan Mahda kembali gelisah, lama tak melihat diri nya dan sekarang di minta mengantarkan makanan untuk nya.
Bakalan ketemu gak ya?
Batin Mahda.
Semoga.
Tambah Mahda lagi.
__ADS_1
......