Cinta Terhalang Dinding Pesantren Season 2

Cinta Terhalang Dinding Pesantren Season 2
Rencana Menjual


__ADS_3

2 hari setelah acara Mahda masih di sibukan dengan berbagai macam pekerjaan, mulai dari beberes barang-barang yang sudah di pakai selama acara hingga merekap pengeluaran.


Tabsyi-tabsyi bekas makan bersama para santri mulai di tumpuk dan di bereskan. Piring-piring pun sama hal nya tengah di lap dan di bereskan. Baskom besar juga peralatan tempur lain nya sudah siap di kembalikan ke tempat asal, gudang belakang.


Zulaikha dengan sigap memimpin para santri untuk membantu mengangkut barang-barang ke gudang belakang. Berjalan beriringan melewati asrama, tempat cctv, tempat pengolahan air bersih, rumah asatidz lalu barulah sampai di gudang.


"Cape bener Allah kareem" ucap Syamsiah sambil berkacak pinggang melihat Zulaikha yang masih berusaha membuka pintu gudang.


"Eh, ini kunci nya bener gak sih?" tanya Zulaikha.


"Loh, ko nanya ama kita. Kan ente yang pegang" jawab Syamsiah sambil berkacak pinggang.


..


Mahda merentangkan tangan nya ke atas, melepaskan rasa pegal karna sedari tadi menunduk mengerjakan rekapan pengeluaran. Di tambah rekapan uang syahriah para santri, membagi nya pada beberapa bagian, untuk listrik, laundryan, lauk sehari-hari, beras, ah semua nya memusingkan.


"Loh, ini kunci gudang masih di sini?" ucap Mahda.


"Dih, yang di bawa kesana kunci apa?" tanya Afiyah yang kebetulan bersama Mahda.


"Tau, apa kunci kedai ya?" timpal Mahda lirih.


"Anterin gih Fi!" titah Mahda.


"Ih ogah, ngelewatin tempat air, serem" tolak Afiyah.


"Gak bakalan ada apa-apa Afiyah, kasian loh" rayu Mahda.


"Ya udah ente aja kalau gitu!" titah balik Afiyah.


"Yeee, di suruh malah suruh balik" gerutu Mahda.


Dan akhir nya Mahda dan Afiyah larut dalam perdebatan siapa yang akan ke sana mengantarkan kunci. Ke dua nya sama-sama beralasan pekerjaan nya belum selesai.


Tok.. Tok.. Tok..


Mahda dan Afiyah langsung menengok ke arah pintu kantor yang terbuka, menampakan seseorang yang berdiri di ambang pintu.


Kak Syihab?


Ustadz Syihab?


Ucap ke dua nya serempak.


"Mau ngambil kunci gudang, di suruh mba Eha" ucap Syihab lembut.


"Oh, iya ustadz" timpal Afiyah lalu menyikut Mahda yang hanya terdiam, seperti terpana dengan orang yang di depan nya.


"Mahda" bisik Afiyah, kembali menyikut Mahda.


"Oh, ini" Mahda memberikan kunci yang tadi tergeletak di depan nya.

__ADS_1


Syihab pun pamit dan segera berlalu dari ruangan kantor putri.


"Ente tuh gimana sih sama ustadz Syihab? Beneran udah zuwad?" tanya Afiyah penasaran.


"Mau kepo nih?" tanya Mahda yang kembali so sibuk menata buku catatan.


"Iya lah, kabar gak jelas di pondok bikin ane penasaran tau Da. Gimana sih?" tanya Afiyah yang semakin tak sabar.


"Do'ain aja" jawab Mahda simple.


"Allah kareem Mahda, greget ane ya sama lo" timpal Afiyah yang gemas dan mencubit Mahda pelan.


Mahda menghela nafas nya kasar seakan menyiapkan tenaga untuk berbicara.


"Ana udah zuwad ama ustadz Syihab" jawab Mahda yakin.


"Hah, sawa? Ente gak harat kan?" tanya Afiyah.


Mahda mengangguk.


"Belum banyak yang tau, soal nya baru nikah agama" jawab Mahda.


"Kalau gak ada halangan, nikah negara sama resepsi nya nanti bulan depan" lanjut Mahda.


"Ahhh, lancar-lancar ya Da" timpal Afiyah dan memeluk Mahda erat.


"Do'ain ya Fi" pinta Mahda.


"Du'a bi du'a Da" timpal Afiyah.


......................


Selesai sholat isya Mahda bergegas menuju dapur hendak membawa jatah makan nya. Namun belum sempat sampai langkah nya di hentikan oleh suara Zulaikha yang menyuruh nya bersiap dan sudah di tunggu Syihab di parkiran RA.


"Ko ngajak nya udah malem?" tanya Mahda pada Zulaikha yang tengah menunggu nya.


Masih secara sembunyi-sembunyi acara ngedate nya bersama sang suami hingga membutuhkan Zulaikha untuk menemani nya hingga keluar gerbang.


"Minta nginep di perum kata nya, udah izin sama Ummi juga. Gagian dih, anak-anak keburu keluar!" jelas Zulaikha.


"Siap" ucap Mahda dan langsung menggandeng tangan Zulaikha.


Berjalan melewati deretan kelas putri, kedai, kantin RA, kelas RA barulah tiba di parkiran.


"Syukron mba" ucap Mahda lalu segera menghampiri Syihab yang sudah menunggu nya di atas motor.


Menaiki motor berdua menembus dingin nya angin malam, Mahda dan Syihab menuju pusat perbelanjaan.


Tak banyak permbicaraan yang terlontar dari ke dua nya, apalagi Syihab yang terlihat lebih diam dari biasa nya.


"Kenapa sih kak?" tanya Mahda setelah mereka selesau menyantap makan malam nya.

__ADS_1


"Nanti kita ngobrol di rumah ya" jawab Syihab dengan senyuman manis terukir di bibir nya.


Jambang tipis yang menghiasi pipi nya menambah tampan paras wajah nya. Sama seperti hal nya Mahda yang berpipi chubby tapi tetap terlihat cantik.


Puas bermain-main di pusat perbelanjaan dan di taman kota, Syihab mengajak Mahda untuk pulang. Namun pulang ke perum, bukan ke pondok.


Satu bulan tak berkunjung ke sini rasa nya seperti ada hawa yang berbeda, seolah ada sisi lain yang menyelimuti nya.


"Da, sini duduk!" titah Syihab sambil menepuk kasur, menyuruh Mahda untuk duduk di sebelah nya.


Tak banyak bertanya, Mahda lalu berjalan mendekati Syihab dan duduk di dekat nya.


"Kakak ada masalah?" tanya Mahda pelan.


Melihat raut wajah Syihab yang seperti murung Mahda yakin jika sang suami tengah ada masalah. Tak mungkin jika ia tiba-tiba berubah, toh pada biasa nya Syihab tipikal orang yang ceria.


"Jangan marah ya" jawaban Syihab yang lirih.


"Rumah ini mau kakak jual lagi" sambung Syihab.


"Loh, kenapa kak?" tanya Mahda mulai penasaran.


"Butik bermasalah" jawab Syihab.


"Bermasalah? Masalah apa? Ko sampe mau jual rumah ini?" tanya Mahda lagi.


"Kakak kena tipu" timpal Syihab lirih.


"Ko bisa? Seberapa besar kerugian nya?" tanya Mahda menggebu.


"Hampir 100 juta, tau kan abaya ori Dubai berapa harga nya? Ada pesanan banyak alhamdulillah, tapi entahlah mungkin belum rizki kakak, malah kegoda sama yang harga nya miring. Niat hati biar dapet untung gede buat modal nikah malah kaya gini" tutur Syihab.


"Gimana? Gak papa kan?" tanya Syihab.


"Ini rumah kakak, kenapa kakak nanya Mahda dulu? Apa gak minta tolong sama Yebba?" tanya balik Mahda.


"Mahda istri kakak, sudah jelas apa yang kakak miliki itu milik Mahda juga. Kakak gak mau ngerepotin Yebba, gak papa lah ngeluarin rumah ini, sayang juga kosong terus" jelas Syihab.


Mahda memeluk Syihab yang sudah hampir menangis, mencoba menenangkan dan menghibur kesedihan nya.


"Mahda gimana kakak. Yang sabar, mungkin ini salah satu ujian di awal rumah tangga, bukankah ekonomi di uji saat awal berumah tangga?" tutur Mahda bijak.


"Kita gak usah resepsi ya, langsung bikin surat nikah aja" sambung Mahda.


Syihab dengan cepat mengurai pelukan nya, menatap Mahda lekat.


"Tidak, acara itu akan tetap berlangsung" timpal Syihab paten.


"Hhhh, terserahlah" jawab Mahda pasrah.


Berulang kali meyakinkan sang suami rasa nya kenapa susah sekali?

__ADS_1


......................


Ma'af baru up lagi🙏 kondisi drop lagi🥺🙏


__ADS_2