
Haidar~
Hari ini aku benar-benar melepas mu dengan ikhlas. Berbahagialah dengan pilihan mu, tugas ku sebagai payung telah selesai, silahkan jemput pelangimu..
Jika di tanya hati ku sakit, sesak? Jelas saja hati ku tak karuan melihat orang yang aku sayang bersanding dengan orang lain, namun balik lagi aku pun kini bukan lah Haidar yang dulu, yang pernah ia cintai dengan sangat.
Perhari ini, aku akan dengan sangat berusaha membuka hati untuk Ratih, wanita yang dengan sangat terpaksa aku nikahi demi menghormati perintah guru ku.
Aku pernah berharap bisa kembali bersanding dengan Mahda apalagi dengan status nya kemarin yang tanpa siapa-siapa, bahkan rasa nya berbagai cara sudah di lakukan namun ternyata hati nya benar-benar sudah tertutup untuk ku.
Dulu saat meninggalkan nya aku benar-benar meninggalkan tanpa perasaan, bahkan kata ma'af pun tak terlontar namun sekarang aku yang merasakan sendiri bagaimana di tinggalkan dalam keadaan begitu mencinta dan mendamba padahal sebenar nya dia tidak menyakiti, namun aku nya saja yang merasa tersakiti.
Sejak kemarin aku memang sudah berada di rumah Ustadz Zein atau rumah Mahda, berkumpul bersama asatidz juga santri yang lain nya.
Menatap dan berdiam di rumah ini rasa nya begitu sesak juga, pernah berharap tinggal namun ternyata hanya sekedar singgah sebagai tamu.
Lebih menyakitkan lagi saat melihat foto dia dan Syihab yang di pajang di antara kamar mereka, ingin ku tendang jika ku mampu dan berteriak dengan lantang aku masih mencintai nya. Namun ternyata itu hal bodoh.
Hari masih pagi saat Aly menyuruh paksa berangkat untuk membeli mas kawin untuk aqad dadakan yang Syihab minta. Mengesalkan, namun tetap di jalankan, ini persembahan terakhir yang bisa di lakukan untuk melihat Mahda bahagia.
Syihab yang aqad, aku yang gemetar. Gemetar menahan sedih dan bahagia yang di rasakan bersamaan.
Usai sudah segala penantian. Berakhir sudah segala rasa yang telah terjaga dan berakhir pula payung ku menuju pelangi mu.
******
Sesi foto masih terus berlanjut, kini Abuya dan keluarga di persilahkan untuk berswa foto bersama pengantin. Bahkan Hubabah dan Ummi saling berebut untuk berfoto di sisi Mahda yang hari ini bak barbie hidup.
Dan yang di tunggu-tunggu oleh para santri putri pun datang. Mereka di persilahkan untuk bergantian berfoto dengan Mahda dan Syihab. Berbagai tingkah dan gaya mereka tunjukan di depan kamera. Pelaminan dengan lebar 10 meter bahkan penuh dengan santri putri yang berebut untuk berfoto, selebih nya untuk menikmati pelaminan megah yang baru mereka lihat kali ini.
"Udah kayak Royal Wedding ya Ha" ucap Syamsiah pada Zulaikha.
"Iya, ente mau kaya gini juga?" tanya Zulaikha.
"Jelas mau. Bener-bener jadi ratu dan raja sehari ini mah" jawab Syamsiah.
"Coba zuad sama ustadz Aly, pasti ngunduh mantu bakalan megah juga kaya gini" saran Zulaikha.
"Euuhhh, meluluhkan cold man yang satu ini kite nyerah mba. Meskipun stok nya limited edition tapi ya kita ora mampu" jelas Syamsiah yang mendapat balasan kekehan dari Zulaikha.
..
Hari semakin siang dan tamu pun semakin banyak yang hadir. Santri putri yang baru di izinkan menyicipi sedikit acara segera di arahkan kembali ke tugas nya atau pun untuk beristirahat. Mereka di instruksikan bisa kembali ke lokasi jika acara dengan para tamu undangan sudah selesai, bergantian dengan santri putra.
__ADS_1
Dua sejoli yang kembali menjadi pengantin baru pun nampak bahagia. Menyelingi para tamu yang hendak memberikan ucapan selamat, Mahda dan Syihab pun kembali berfoto.
"Kamu diet yang?" bisik Syihab saat pose nya tengah memeluk Mahda dari arah belakang.
Mahda yang mendapat bisikan dengan panggilan yang merasa bulu kuduk nya meremang, ada sensasi dan perasaan yang berbeda dengan kata tersebut. Kata keramat yang baru keluar dari mulut Syihab.
"Enggak, emang kenapa?" tanya balik Mahda.
"Agak kurusan perasaan" jawab Syihab masih terus berbisikndi telinga Mahda.
"Enggak ko, ngapain diet" elak Mahda bersamaan dengan pelukan Syihab yang terurai karna harus berganti pose.
..
Selesai sholat dzuhur Mahda kembali di rias, memperbaiki riasan nya yang sengaja di hapus saat hendak berwudhu. Berganti baju dengan gaun berwarna buttermint yang menjadi pilihan nya kali ini. Senada dengan tuxedo yang Syihab kenakan.
Gaun yang menjuntai panjang dan begitu mengembang benar-benar menjadikan Mahda bak ratu yang berjalan menuju singgasana nya.
Pada kebanyakan pengantin di iringi terompet atau alat musik lain nya, namun berbeda dengan Mahda dan Syihab yang di arak kembali oleh team hadroh.
Selepas dzuhur memang waktu nya santri putra untuk kondangan dan putri di berikan waktu setelah sholat ashar.
Kali ini asatidz yang membuat heboh, dengan jahil memberikan Syihab kalung yang hanya boleh di gunakan oleh orang yang sudah menikah.
"Biar bersih tadz, iye gak mba Mahda?" ledek ustadz Farhan.
"Apaan sih" timpal Mahda malu.
Kira-kira apa ya kalung nya?
Saat giliran Haidar, terlihat ada keraguan untuk Haidar maju namun melihat Mahda yang tersenyum menunjukan bahwa ia di izinkan untuk maju, Haidar pun melangkah maju. Menyalami Syihab dan memeluk nya erat dengan menahan segala sesak.
"Samawa ya Hab. Jangan sampe kecewain Mahda, tau ente kecewain dia gue gibeng lu" ucap Haidar dengan nada mengejek.
"Ana bukan ente ya Dar" balik ejek Syihab dan kembali saling merangkul.
Antrian pun seperti tak sabar menunggu giliran nya. Haidar yang sedikit lama berbincang akhir nya di dorong paksa agar segera maju dan memberikan giliran untuk orang selanjut nya.
Tanpa di duga tiba-tiba Aly ikut dalam antrian. Setelah sekian lama tak terlihat karna sibuk kesana kemari bahkan saat aqad pun Aly memilih bersembunyi. Bukan tanpa alasan, Aly yang perasaan nya cenderung sensitif apalagi yang berkaitan dengan Mahda memilih berdiam diri di kamar Jiddah Ita.
Aqad yang di lakukan Syihab memang yang ke dua kali, namun rasa haru nya tetap sama, tetap menggetarkan jiwa dan membuat tegang.
"Kakak sayang.." ucap Aly lirih saat tepat beridir di depan Mahda.
__ADS_1
"Abang?" antara terkejut dan juga haru Mahda melihat abang kesayangan nya ini.
"Samawa, bahagia selalu ya kak" ucap Aly dengan suara parau nya.
"Syukron bang, lu kapan nyusul?" tanya Mahda polos.
Tak..
Satu sentilan mendarat di kening Mahda.
"Loh, ko malah nyentil Mahda sih bang" keluh Mahda merasa tersakiti.
"Nanya nya absurd banget. Minta ma'af sini!" titah Aly.
"Eh, ko malah Mahda yang suruh salim, Mahda lagi jadi penganten nih, harus nya Mahda yang di salamin" elak Mahda.
"Dosa loh masa abang yang salim" telak Aly.
Dengan berat hati Mahda menyalami Aly, dan memberikan stempel bibir merah nya di lengan Aly.
"Isshh, bibir lu kak" ucap Aly sambil mengibaskan tangan nya.
Aly pun berjalan ke arah Syihab yang terlihat sudah menunggu nya sedari tadi.
"Samawa ya bro. Ana titip Mahda, sekali ente sakitin dia, ane yang berhadapan sama ente" tutur Aly.
"Iye abang" timpal Syihab di buat semanis mungkin.
"Aqad lagi, awas aja kalo unboxing kedengeran ke kamar ana" ancam Aly.
"Wiihh, syukron sudah mengingatkan. Ini sebagai wejangan apa ancaman duhai ipar?" timpal Syihab dengan senyum smirk nya.
"Ancaman ipar" jawab Aly dingin.
Aly mendelikan mata nya dan langsung meninggalkan sang adik ipar yang terkekeh geli dengan ancaman nya tersebut.
Acara pun terus berlanjut. Santri putra yang bermain hadroh sesekali japin dan berghoflah ria, menghibur pengantin baru dan para tamu undangan yang masih banyak berdatangan. Bahkan tak tanggung-tanggung, Syihab pun di tarik menuju panggung hadroh untuk japin bersama para santri.
Sungguh indah. Kebahagiaan resepsi Mahda dan Syihab bisa di rasakan oleh semua orang, terutama para santri.
💐💐💐💐💐
Aqad lagi, unboxing lagi gak nih? :D
__ADS_1