
Hari raya sudah di depan mata dan pasti nya semua keperluan untuk menyambut nya mulai di persiapkan. Begitu pun dengan segala pernak pernik yang merayakan nya.
Mahda yang pada hari itu murung langsung di ajak keluar oleh Yemma Haniyah. Berbelanja keperluan nya untuk lebaran, termasuk THR untuk mbak yang sering membantu pekerjaan di rumah nya.
Tak tanggung-tanggung, Haniyah memborong 5 troli makanan juga minuman serta keperluan untuk dapur nya.
Dengan di bantu Aly juga security yang menjaga, Haniyah dan Mahda di bantu memasukan barang belanjaan nya ke dalam mobil.
Beruntunglah Aly sudah bisa mengemudikan mobil, bisa di mintai tolong untuk mengantar ke sana kemari.
Selesai berbelanja Haniyah dan ke dua anak nya pergi ke butik milik sang suami, AZ Boutiq. Butik yang alhamdulillah semakin hari semakin melesat omset penjualan nya, menjadikan nya mempunyai beberapa cabang dan di berbagai daerah, termasuk di kota asal Haniyah dan tentu saja halaty Sri yang mengurus nya.
Sekedar mengambil baju seragam keluarga besar nya untuk lebaran nanti kemudian langsung kembali. Haniyah takut Zein kesal karna keluar terlalu lama dan mengabaikan nya.
*****
Kicauan burung masih terdengar dan dedaunan pun masih terlihat basah akibat embun yang setiap pagi turun. Namun Haniyah memaksa Mahda untuk turun ikut serta membantu nya juga mba di rumah nya untuk menyiapkan masakan juga yang lain nya untuk besok hari raya. Haniyah sengaja mengajak Mahda ikut serta memasak, ia ingin Mahda bisa mengerjakan pekerjaan seorang istri pada umum nya meski pada kenyataan nya di bantu oleh mba.
Ketupat, opor ayam, rendang, soto, sop tulang hingga bakso Haniyah siapkan untuk menjamu para tamu yang bersilaturahmi juga untuk keluarga besar nya yang setiap tahun akan berkumpul di rumah besar Aly Zein.
"Wah, enak nih kaya nya" ucap Zein yang menghampiri Haniyah di dapur.
"Baba ngeraguin kemampun Yamma, hmm?" tanya balik Haniyah.
"Percaya deh kalo sama suhu" jawab Zein.
"Assalamu'alikum.." teriak dengan lantang seseorang yang berjalan dari arah pintu.
"Wa'alaikum salam. Maasyaa Alloh, kapan sampai Lu?" tanya Haniyah
"Tadi malem mbak. Waahhh, masak besar nih" mata Lulu tertuju pada bahan masakan yang sudah di persiapkan.
Lulu yang baru saja tiba tadi malam merasa tak sabar untuk tidak berkunjung ke rumah sang kakak. Romadhon tahun ini Irfan di tugaskan untuk mengisi kegiatan di kota asal sang suami, menjadikan Lulu harus dengan rela mengikuti Irfan. Berjauhan dengan ke dua orang tua nya yang biasa nya selalu bertemu hampir setiap hari.
"Irfan mana?" tanya Haniyah lagi.
"Kangen lo sama gue Han" tiba-tiba Irfan datang dari arah belakang Lulu dan langsung mendekati Haniyah.
"Cih, nanya doang. Gue ipar lo Fan kalo lo lupa" ucap Haniyah.
"Nggeh kakak ipar" timpal Irfan dengan nada mengejek.
"Hilih, besok lo nangis-nangis minta ma'af sama gue tuh sekarang ngeledek gitu" balik ledek Haniyah.
Sementara itu, Mahda hanya menatap bengong kelakuan Yemma dan Khal (paman) nya yang selalu saja beradu mulut jika bertemu. Seperti masih muda, apa mungkin mereka lupa umur? Fikir Mahda.
__ADS_1
"Kamu enggak kangen sama HaMi mu yang tampan ini Da?" goda Irfan.
"Aiiihh iya, lupa Mahda kalau ada Hami disini" kekeh Mahda yang mendapat tatapan kesal dari Irfan.
Haniyah pun memasrahkan sementara tugas nya, meminta agar mba menyiapkan bahan-bahan yang akan di masak. Urusan masak memasak biar urusan Haniyah nanti.
🍀🍀🍀🍀🍀
Pagi yang cerah pun menyongsong, suara takbir semakin menggema di langit yang cerah, orang-orang berbondong-bondong berangkat ke mesjid, berjajar rapih di setiap shaf.
Hati Mahda mencelos ketika harus berdekatan dengan Aliya. Bukan tak ikhlas, bukan tak menerima ketentuan-Nya namun rasa nya masih belum bisa melupakan.
Mahda tersenyum pada Aliya, berbeda dengan Aliya yang terlihat kikuk kala menghadapi Mahda.
Dengan berderai air mata Mahda terlebih dahulu meminta ma'af pada Yemma dan Yebba nya di lanjut pada Aly.
Selesai berma'af ma'afan, Zein sekeluarga pergi ke rumah orang tua nya. Kembali meminta ma'af atas segala kesalahan nya selama ini. Selanjutnya mereka pergi ziarah ke makan njid dan jiddah tertua nya.
Pukul 11 siang rumah Zein terlihat ramai di penuhi sanak keluarga yang tengah menyantap makanan yang di sediakan rumah juga para tamu yang tengah bersilaturahmi.
Di keramaian orang-orang di lantai bawah, Mahda memilih membawa main Lufia di ruang tengah lantai atas, anak ke dua Irfan dan Lulu.
"Udah pantes belum sih punya anak? hihi" kekeh Mahda sambil melihat diri nya di cermin seraya menggendong Lufia.
"Eh, Hameh.. Malu deh" ucap Mahda tersipu malu.
"Sawa' (beneran) deh, Mahda udah cocok" timpal Lulu.
"Entar ah, belum lulus juga" sambung Mahda.
"Yemma kamu juga nikah belum lulus Da" bela Lulu.
"Itu kan Yemma, aku sih beda cerita" ucap Mahda dan di tanggapi senyuman oleh Lulu.
2 hari setelah hari raya, Zein dan keluarga kecil nya bertolak ke kota tempat tinggal Haniyah dulu. Menziarahi abah dan ibu mendiang istri nya.
Rasa nya kembali pilu mengingat hanya sebentar waktu yang Zein miliki berkumpul bersama mertua nya tersebut, apalagi dengan abah mertua nya, hanya sekilas, namun dari kejadian itu Zein bisa memiliki Haniyah sedikit lebih cepat.
Yang lupa cerita nya, boleh buka lagi Cinta Terhalang Dinding Pesantren season 1 nya ya😊
🍀🍀🍀🍀🍀
Waktu seperti nya berlomba-lomba dalam setiap detik nya hingga menyisihkan waktu liburan Mahda yang tinggal beberapa hari lagi.
Dengan malas Mahda segera mengepak barang-barang yang akan ia bawa kembali ke pondok. Mengganti semua baju lusuh nya dengan yang baru.
__ADS_1
"Bawa seperlu nya de, nanti gampang kalo bistel Yemma bawa lagi" ucap Haniyah.
"Yemma lama, kalau waktu nya ngebistel kadang gak dateng" timpal Mahda dengan raut muka cemberut.
"Janji deh, Yemma bakal sering jenguk Kakak" ucap Haniyah lagi.
"Why, kakak? Jangan bilang Mahda mau punya adek Ma, don't say Ma" teriak Mahda frustasi.
Haniyah tersenyum.
"Astaga, gue mesti seneng apa sedih ini?" racau Mahda lagi.
"Bungsu gak jadi deh" celetuk Mahda yang di ketawai Haniyah.
"Ada apa sih, rame bener?" tanya Aly yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Mahda.
"Bang, kita mo punya adek" ucap Mahda.
"Oh.." jawab Aly dan melangkah kembali keluar.
"Eh, apa? Adek? Yemma hamil?" tanya Aly terkejut.
"Isshhh, tadi aja cuma oh doang, sekarang kaget" cibir Mahda.
"Udah udah. Iya Yemma hamil, gak nyangka sih udah tua bisa isi lagi" tutur Haniyah.
"Gak papa, Yemma masih cantik ko, masih cocok punya 2 lagi juga kaya kata Hemeh Lulu" ucap Mahda.
"Dasar. Abis ini waktu nya Yemma punya cucu" timpal Haniyah sembari menyentil hidung mancung Mahda.
"Dari abang, bukan dari Mahda. Iya kan?" tanya Mahda dengan menaikan ke 2 alis nya, kode di iyakan.
"Dari kamu lah de, masa abang" elak Aly.
"Tuaan abang" keukeuh Mahda.
"Kita cuma beda 3 taun de" bela Aly dan menatap Mahda yang tengah cemberut.
Mahda masih tak habis fikir, bagaimana bisa ia yang sudah berumur 18 tahun kini akan mempunyai adik, dari Yemma yang sudah tak muda lagi.
Yebba nya benar-benar membuktikan ucapan nya, bahwa ia akan memberikan Mahda seorang adik, kini terjadi dan benar ada nya.
Mahda bahagia akan kedatangan seseorang yang lucu di tengah-tengah mereka, sedih nya? Sedih nya gak jadi anak bungsu.
Ku kira akan punya anak, tapi adik yang terlebih dahulu hadir
__ADS_1