
Mahda dan Afiyah bernafas lega setelah menyelesaikan pekerjaan nya. Selisih perdebatan sering terjadi saat pencocokan data, terasa biasa saat satu atau dua catatan berbeda lalu harus kembali mencocokan nya. Meski pada kenyataan nya menyita waktu juga fikiran nya.
"Alhamdulillah kelar" ucap Mahda dengan mengangkat ke dua tangan nya ke udara. Meregangkan otot-otot nya yang kaku, termasuk otot-otot leher nya.
Mahda menyenderkan kepala nya, sementara tubuh nya sedikit melorot dari kursi. Ia mencoba memejamkan mata nya, merasakan kepala nya yang cukup berdenyut nyeri. Semalam tak cukup tidur dan pagi-pagi di serang Afiyah dengan kerjaan nya.
Tiba-tiba terlintas bayangan antara diri nya dan sang suami tadi malam. Mahda sudah gelisah jika tadi malam ia dan Syihab akan bersatu, tapi akhir nya sampai saat ini ia masih tersegel.
Wait, semalam sudah pemanasan bukan? Lalu? Ana ngantuk? Yassalaaam, ahhh.. Bisa-bisa nya kembali mengacuhkan hak suami.
Monolog Mahda dalam hati, merasa frustasi mengingat semalam dalam kata lain Mahda menghindar dan menolak keinginan suami nya.
..
Hari kembali berganti, Mahda terlihat sibuk membereskan barang-barang nya. Sudah lama ia meminta di pindahkan ke asrama khusus pengurus namun Ummi tidak pernah mengacc keinginan nya, alasan nya hanya takut Mahda tak nyaman, padahal Mahda nyaman-nyaman saja.
Dan untuk ke sekian kali nya Mahda kembali mengajukan permintaan nya, beralasan agar lebih dekat ke kantor jika ada urusan atau pekerjaan lain nya, sedangkan jika dari asrama ia harus berjalan jauh melewati taman juga rumah Ummi bagian samping.
"Disana, kasur nya di gelar di bawah loh mba tidur nya, apa mba Mahda bakalan nyaman?" tanya Tika terlihat sendu melihat Mahda akan pindah kamar. Hanya pindah kamar padahal, masih bisa bertemu bukan pindah pesantren.
"Insyaa Alloh, dimana aja tidur nyaman ko Ka. Pake kasur ini, nyaman, zaman dulu mondok cuma gelar tiker kalau tidur, sekarang enak. Di asrama sana juga enak kan, masih pake kasur" tutur Mahda.
"Tapi nanti di sini gak seru, gak ada yang mencak-mencak lagi kalau udah malem belum pada tidur, gak ada yang protes kalau baju bergelantungan di samping ranjang, sedih aku tuh mba" jelas Tika.
"Dih, gitu amat kesan nya. Ana pindah ke ghurfah sana biar gampang kalau ada kerjaan di kantor loh Tik. Lagian sekarang khidmah 2 taun kan, 1 taun yang ini pasti ana sibuk" timpal Mahda.
"Hah, 2 taun mba Mahda? Kata siapa?" tanya Sri yang terlihat kaget mendengar ucapan Mahda.
"Itu berarti setelah ujian masih harus mengabdi 1 tahun lagi?" tanya Sri memastikan
"Iya, baru tahu sekarang ana juga" jawab Mahda.
"Yassalaaam, harus nge-pending dulu niatan buat zuad ini mah" timpal Sri kelabakan.
"Emang udah punya calon?" tanya Mahda.
"Kemaren udah, cuma di tikung mba Mahda" jawab Sri tanpa merasa berdosa.
"Eh, siapa?" tanya Mahda terlihat bingung.
"Ustadz Syihab lah, siapa lagi" jawab Sri di buat kesal.
"Hilih, kau ini" Mahda tak menanggapi perkataan Sri selanjutnya yang merasa menjadi korban karna perjodohan Mahda dan Syihab.
Sri hanya terobesi pada sang suami, ia memaklumi di usia nya Sri yang baru menginjak ABG ia mulai melirik mana laki-laki yang menarik bagi nya.
Mahda segera merapihkan kembali barang-barang nya yang di bantu oleh Afiyah yang sudah terlebih dulu menempati ghurfah khusus pengurus ini, termasuk mba yang bertugas di dalam rumah Hubabah.
"Mba Mahda, ada yang nyariin tuh" ucap Heni.
"Siapa" tanya Mahda.
"Gak tau, nungguin di bangunan baru tuh" jelas Heni.
Mahda segera menutup pintu lemari nya setelah benar-benar rapih, lalu berjalan keluar sembari merapihkan kerudung phasmina yang asal ia lilitkan di kepala nya.
__ADS_1
Mahda berjalan menuju bangunan baru tempat orang yang kata nya mencari diri nya tengah menunggu. Melihat mobil yang ia kenal terparkir di dekat sana, membuat Mahda tau siapa yang mencari nya.
Mama, Abi
Gumam Mahda tersenyum lalu mempercepat langkah kaki nya.
Assalamu'alam, Mama, Abi
Ucap Mahda dan mencium tangan ke dua mertua nya bergantian
Wa'alaikum salam
Timpal ke dua nya.
"Sehat sayang?" tanya mama Balgis.
"Alhamdulillah ma, mama sama abi sehat?" tanya balik Mahda.
"Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat cantik" jawab mama Balgis menggoda Mahda.
"Kita pergi keluar bisa kan?" tanya mama Balgis.
"Emm, tapi kemarin Mahda baru keluar sama kak Syihab ma" jawab Mahda ragu-ragu.
"Udah free kan gak ada kegiatan? Biar mama yang izin sama Ummi, kamu siap-siap dulu sana" titah mama Balgis.
..
Sepanjang perjalanan Mahda dan mama Balgis tak henti-henti nya bercanda hingga berkali-kali tertawa bahkan karna hal spele sekali pun. Dan ini membuat Syihab cemburu di buat nya, karna saat bersama nya Mahda belum pernah tertawa seperti ini. Bisa ia maklumi, ia baru menikah 3 hari terus berpisah kembali dengan dinding pesantren sebagai pembatas.
"Sudah, bahkan kemarin kami tidur di sana" jawab Syihab dengan tatapan suntuk nya, kepergian nya kali ini dengan Mahda namun Mahda mengacuhkan nya, lebih memilih duduk bersama sang mama dari pada di samping diri nya, lalu bermanja pada diri nya.
"Oh ya, apa sudah ada tanda-tanda cucu mama akan segera tumbuh di dalam sini?" tanya mama Balgis sembari mengelus perut rata milik Mahda.
"Hee, do'ain aja ma" jawab Mahda malu-malu.
"Syihab, bekerja keraslah!" kini Abi Zainal yang berbicara, seolah menyemangati Syihab untuk lebih semangat kerja malam nya.
Kerja keras lagi biar bisa cepet unboxing.
Batin Syihab dengan senyuman manis terbit dari bibir manis nya.
Sementara itu Mahda terlihat melamun setelah mendengar perkataan dari mama mertua nya.
..
Seharian berkeliling dari tempat wisata ke tempat belanja lalu singgah ke restaurant, membuat Mahda sedikit kelelahan. Ia pun tak dapat menolak ajakan dari mertua nya. Alibi nya hanya karna ingin mengahbiskan waktu bersama menantu satu-satu nya. Dan memang benar ada nya, Mahda pun begitu menikmati waktu nya bersama sang mertua yang jarang-jarang bisa ia lakukan.
Ya, Syihab adalah anak tunggal menjadikan Mahda satu-satu nya menantu di keluarga Zainal.
"Sayang, Mama titip Syihab ya. Ma'af jika kelakuan nya kadang-kadang menjengkelkan, tapi jujur dia itu anak yang baik, bahkan terkesan romantis pada mama sekalipun. Jaga Syihab untuk mama, dampingi dia terus, jangan berpaling dari nya. Mama tau, dunia Syihab adalah Mahda" tutur mama Balgis serius.
"Mama ko bicara kaya gitu? Sudah tentu Mahda akan selalu ada di samping kak Syihab bagaimana pun nanti" timpal Mahda.
"Mama hanya memastikan, mama tak sanggup jika melihat Syihab harus patah kembali karna wanita" sambung mama Balgis.
__ADS_1
Patah kembali karna wanita?
Mahda bergumam dalam hati nya.
Mama Balgis memeluk Mahda, mencurahkan kasih sayang nya pada wanita yang kini menjadi menantu nya.
..
Dan, malam ini Mahda kembali menginap di rumah yang berada di Perum Permai. Hanya saja malam ini di tambah dengan hadir nya ke dua mertua nya.
Mahda mempersilahkan Mama Balgis dan Abi Zainal untuk tidur di kamar utama, kamar yang kemarin malam ia dan Syihab tempati.
Ada ketegangan saat menentukan kamar, Mahda yang ingin mertua nya nyaman dan Mama Balgis yang ingin menantu nya tak kedinginan. Pasal nya di kamar ke dua hanya beralaskan kasur tipis dengan ukuran kecil.
"Gak papa ma, nanti Mahda bisa mepet ke Syihab. Biar anget kalau bobok nya peluk-pelukan, dempetan gitu" ucap Syihab mengedipkan sebelah mata nya.
Mahda yang mendengar ucapan Syihab tiba-tiba meremang, merasakan gelisah yang kembali melanda.
Dan pada akhir nya Mahda dan Syihab tidur di kamar ke dua, beralaskan kasur tipis tanpa selimut.
"Sini peluk, biar gak dingin" ucap Syihab lalu melingkarkan tangan nya pada perut Mahda. Syihab memeluk Mahda dari arah belakang, menjadikan nya bisa bebas memeluk bahkan menghirup aroma tubuh Mahda.
Hembusan nafas Syihab yang hangat bisa Mahda rasakan di tengkuk leher nya. Tiba-tiba darah nya berdesir manakala benda kenyal menyentuh tengkuk leher jenjang nya.
Mmmhhhhh
Mahda melenguh saat Syihab terus mengecup nya dari belakang. Tangan nya memengang tangan Syihab kencang. Ada rasa yang bergejolak dan sulit di artikan.
Syihab segera menyudahi aksi nya, ia sadar, tak mungkin malam pertama nya ia lakukan di tempat ini. Maksud nya di atas kasur yang sangat tipis, Syihab tak yakin jika ia takkan bersikap brutal. Ia ingin melewati malam yang indah di tempat yang indah pula.
Semua nya harus segera di bereskan agar bisa di tempati.
Gumam Syihab merencana.
..
Setelah kepulangan ke dua mertua nya kembali ke kota asal, Mahda kembali ke kamar pengurus. Kamar yang ia idam-idamkan sejak dulu, padahal jika di lihat biasa saja, tak istimewa. Lebih nyaman di asrama dari pada di sini, namun ia memilih untuk tidur di sini.
Mahda tampak duduk berkumpul dengam beberapa orang di teras kamar sambil memakan beberapa camilan yang Mahda bawa.
Sementara Syihab pun sama tengah berkumpul di aula depan mesjid, membentuk satu lingkaran dengan beberapa orang personil antara ustadz dan santri.
AAARRRGGGHHHHHH
Suara teriakan memekik dari arah aula, mengejutkan Mahda bersama teman-teman nya yang tengah menyantap camilan.
Tentu suara tersebut terdengar nyaring, antara kamar dan aula hanya terhalang mesjid dan pagar fiber yang tinggi nya tak seberapa.
Hah ada apa?
Sontak para santri berhamburan menuju arah suara di aula. Mahda yang penasaran pun ikut beranjak mengikuti beberapa teman nya yang tadi tengah sama-aama menyantap camilan yang ia bawa.
..
..
__ADS_1