Cinta Terhalang Dinding Pesantren Season 2

Cinta Terhalang Dinding Pesantren Season 2
Kembali Pulang


__ADS_3

"Nisa sama Rijal, Ratih sama ustadz Haidar" jawab Afiyah.


"Ratih? Haidar?" beo Mahda.


Ada kelegaan di hati nya, akhir nya sang mantan menikah, tak akan ada lagi yang menghantui hidup juga rumah tangga nya. Karna jujur, meskipun ia sudah menikah sikap jahil Haidar masih belum hilang, ia masih tetap mengejar Mahda. Seringkali mengirimi nya pesan lewat sosial media nya. Apa Syihab tahu? Jelas, yang lebih menjengkelkan Haidar terang-terangan ingin merebut Mahda dari Syihab, namun Syihab tak pernah sedikit pun menghawil nya.


"Masa ustadz ngejar bini orang, mau di cap pebinor?" ledek Syihab kala itu.


Rasa cinta yang membutakan Haidar hingga lupa apa yang di namakan malu.


"Bini apa? Baru tunangan" timpal Haidar tak mau kalah.


Syihab menyunggingkan bibir nya, ia lupa jika Haidar belum mengetahui bahwa ia dan Mahda sudah menikah secara agama.


"Mereka udah lamaran juga?" tanya Mahda.


"Udah lah, ente ketinggalan acara sih" jawab Afiyah.


Mahda mengangguk, akhir nya terbebas dari orang yang nama nya Haidar. Tak akan ada lagi chat horor dari nya.


..


Malam hari nya acara perkenalan santri baru pun di gelar. Asrama pondok putri unit 2 di gunakan sebagai tempat acara. Tempat yang lebih luas dan memadai, halaman unit 1 sebenar nya luas, hanya saja di sana terdapat taman juga gazebo mana mungkin bisa menampung seluruh santri putri.


Ummuna sebagai pengasuh pondok putri hadir memberikan beberapa wejangan kepada seluruh santri, khusus nya untuk para santri baru. Sementara Hubabah memilih duduk di kursi khusus yang sudah di sediakan untuk beliau.


Dan selanjut nya acara di isi dengan perkenalan, satu persatu santri baru di persilahkan maju dan memperkenalkan nama masing-masing. Bersalaman melingkar, dan di akhiri dengan mahalul qiyam sebagai penutup acara.


Mahda yang badan nya merasa kurang fit memilih duduk di pojokan dan absen menjadi vocalis hadroh malam ini. Selesai acara ia langsung beranjak kembali ke asrama nya tanpa makan malam terlebih dahulu. Yang terpenting kali ini badan nya di istirahatkan dan kepala nya yang pusing segera membaik.


......................


Semilir angin segar menjadi penyambut di pagi hari. Suara kicauan burung silih berganti bersahutan menjadi musik alami bagi para santri yang tengah menjalankan aktifitas nya pagi ini.


Menyapu halaman, menyapu asrama, mengepel hingga membuang sampah, semua nya di lakukan sesuai jadwal harian yang sudah di bagi.


Mahda yang sudah merasa baikan segera menuju dapur. Ikut menyiapakan sarapan untuk pagi hari ini.


"Da, anterin sarapan ya buat asatidz!" titah Syamsiah.


Tanpa ba bi bu Mahda segera menyambar beberapa rantang untuk asatidz di bantu oleh Syamsiah. Berjalan melewati beberapa bangunan hingga sampai di deretan kamar asatidz yang berada di bagian belakang.


"Kak Syihab gak ada?" monolog Mahda dalam hati.

__ADS_1


"Da.." sapa Aly di belakang Mahda.


"Beik.." timpal Mahda.


"Ada apa bang?" tanya Mahda.


"Laki lu balik" jawab Aly.


"Oh, jadi tepak nya Mahda bawa lagi aja kali ya? Dari kapan pulang nya?" tanya Mahda lagi.


"Iya, sayang nanti gak ada yang makan. Tadi malem, kata nya rumah yang di perum udah laku. Yang sabar ya, ini ujian di awal rumah tangga" tutur Aly lalu menepuk pundak Mahda.


Mahda mengangguk, iya mengerti sangat sangat mengerti dengan semua ujian di awal pernikahan. Bukankah itu sudah pernah di jelaskan ketika ta'lim?


Ada rasa sedih ketika rumah hasil jerit payah sang suami harus melayang karna orang yang tak bertanggung jawab, namun di balik semua ini, ia yakin bahwa akan ada hikmah setelah nya. Entah kebahagiaan apa yang tengah Alloh persiapkan untuk nya kali ini.


..


Siang berganti senja, langit berwarna merah kembali menghiasi langit sore. Semilir angin yang menyejuk mulai terasa, asrama santri putri mendadak riuh dengan persiapan pergantian tahun baru Islam.


Semua santri di himbau untuk berkumpul di mesjid utama untuk melaksanakan do'a akhir tahun secara bersama-sama. Dengan memakai niqob (cadar) yang senada, hitam, para santri berkumpul di aula mesjid dan sekitarnya.


Satir hijau menjadi pembatas antara santri putra dan putri. Deretan ustadz dan ustadzah duduk di barisan depan sesuai kelompok santri. Bahkan Hubabah juga Ummuna kali ini ikut berdo'a di mesjid. Do'a akhir tahun di pimpin langsung oleh ustadz Muhammad.


Sholat maghrib pun di laksanakan secara berjama'ah di lanjutkan do'a awal tahun yang di pimpin oleh Abuya sendiri.


{Boleh di amalin ya, waktu nya malam ini sampai waktu subuh. Baca do'a dulu sebelum minum susu nya!!!}


"Ngantri ya, jangan curang!" ucap ustadzah Nur pada santri-santri yang tengah mengantri mengambil jatah susu murni nya persatu orang satu gelas.


Hubabah sengaja memborong susu langsung dari pemilik sapi perah langganan nya, menyediakan untuk seluruh santri nya yang jumlah nya tak sedikit.


Selesai meminum susu area pondok tiba-tiba menjadi sepi dari aktifitas. Para santri kembali mengerjakan amalan untuk 1 Muharrom, menulis bismillah 113x dalam kertas putih. Pun ada sebagian santri yang mulai menyicil membaca Ayat Kursi sebanyak 360 kali.


......................


Selepas mengajar di kelas I'dad, Mahda pamit untuk pulang bersama Syihab. Kesibukan nya di pondok membuat nya melupakan rencana acara terpenting di hidup nya yang mulai mepet waktu.


"Jangan kenceng-kenceng ya bawa nya" ucap Mahda.


"Kenapa? Tumben? Biasa nya suka kebut-kebutan?" tanya Syihab heran.


"Agak linu bawah perut Mahda nih" jawab Mahda setengah meringis.

__ADS_1


"Sakit? Kita naik mobil aja ya, pake grab" ajak Syihab.


"Enggak ah, gak bisa meluk kalau di mobil" tolak Mahda.


"Kan bisa nanti regud peluk-pelukan" goda Syihab.


"Iissshhhh, mau nya" timpal Mahda sambil mencubit pinggang Syihab.


Menembus dingin nya angin malam, Mahda dan Syihab melaju menaiki motor kesayangan Mahda. Meski menurut kabar jika turun dari motor tersebut membuat kaki sakit dan ngakang, namun menurut Mahda itu motor ternyaman nya, kenapa? Karna jok nya yang lebar membuat bokong lebar nya nyaman untuk duduk.


Pukul 8 malam Mahda dan Syihab baru tiba di rumah besar Yebba Zein. Yemma Hani dengan semangat menyambut anak dan menantu nya datang hingga repot-repot menyiapkan makanan kesukaan Mahda juga Syihab.


"Yemma yang terbaik, cup" ucap Mahda sambil mencium pipi Yemma Hani.


"Yebba gak di cium kak?" goda Yebba Zein.


"Enggak, nanti ada yang cemburu" timpal Mahda sambil mengedipkan sebelah mata nya genit pada Yebba nya.


"Siapa? Dulu aja dikit-dikit cium Yebba" ledek Yebba Zein.


"Itu kan beda Ba" timpal Mahda.


"Yebba yakin pasti kamu, Syihab, habis dikit-dikit di cium Mahda, apalagi kalau keinginan nya terpenuhi" ucap Yebba Zein tambah meledek Mahda.


"Apaan sih Yebba, enggak. Enggak kan kak?" ucap Mahda mencari pembelaan.


Syihab hanya tersenyum menyikapi istri dan mertua nya yang saling melempar ucapan. Masuk ke dalam keluarga Aly Zein ternyata tak secanggung seperti yang ia bayangkan. Keluarga nya sangat welcome pada siapapun, tak memandang mereka kaya atau pun miskin.


..


Dengan merentangkan tangan nya Mahda akhir nya merasa senang bisa kembali tidur di kamar milik nya. Kasur empuk yang selalu membuat nya nyenyak di tambah pelukan nyaman dari sang suami.


"Ganti baju dulu sayang!" titah Syihab yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Memakai sarung dan kaos oblong putih, menambah kharisma ketampanan Syihab semakin menjadi, menurut Mahda.


"Gantiin baju nya" rengek Mahda manja.


"Yakin? Ayo?" timpal Syihab merasa tertantang dan langsung berniat menarik Mahda.


"Iihhh, enggak-enggak" tolak Mahda tiba-tiba menyingirkan tangan Syihab dan tanpa sengaja menendang kaki Syihab dan membuat nya limbung.


Bruughh..

__ADS_1


Aaawwwww


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2