
3 hari 2 malam menginap di Rumah Sakit cukup membuat tubuh Mahda merasa pegal. Meskipun berada di ruangan VVIP tidur nya tetap tak nyenyak. Tidur nya tak beraturan karna harus menjaga Sulthan bergantian dengan sang suami juga mba Syifa sebagai pengasuh Sulthan.
Mahda pun harus sesekali mengecek keadaan Yemma nya juga membantu nya membersihkan diri sebelum Yebba nya datang.
Alhamdulillah nya, di hari ke 3 akhir nya dokter mengizinkan kedua nya pulang setelah di nilai cukup sehat. Mahda akhir nya bisa bernafas lega, meskipun masih harus mengurus Sulthan setidak nya di rumah lebih nyaman ketimbang di Rumah Sakit meski pelayanan nya cukup baik.
"Mama udah was-was takut Sulthan punya adek Han" ucap jiddah Ita saat sekembali nya Haniyah dari Rumah Sakit.
Selama di Rumah Sakit, jiddah Ita tidak bisa menjenguk di karnakan beliau pun memang sedang tidak enak badan. Dan baru bisa menjenguk saat Yemma Hani tiba di rumah.
"Mama ngaco aja, Hani udah tua begini. Sekarang tinggal nunggu cucu dari Mahda sama Syihab" jawab Yemma Haniyah.
"Ya kali aja, Sulthan aja masih bisa tuh padahal dulu Mama udah bosen denger kamu udah tua, gak bakalan, mau nunggu cucu" timpal Jiddah Ita memperagakan cara bicara Yemma Hani.
"Sekarang enggak bakalan deh Ma, yakin" sambung Yemma Hani.
"Mama gak yakin. Banyak kejadian anak nya nikah, emak nya juga ikutan hamil" ucap Jiddah Ita menggebu-gebu.
"Mama do'ain Hani biar hamil lagi?" tanya Yemma Haniyah tak suka.
"Kenapa tidak? Cucu Mama makin banyak makin seru, Lulu juga Mama ta suruh punya anak lagi malah. Seru kan, nanti cucu sama cicit Mama seumuran" tutur Jiddah Ita.
"Mama, udah. Obsesi nya tuh, mereka bukan mesin anak" timpal Njid Mahbub menengahi.
"Abi, Mama cuma gemes loh sama anak kecil, Abi seneng juga kan kalau rumah kita penuh sama cucu cicit kita" sambung Jiddah Ita yang seperti rengekan.
"Gimana kalau Jiddah aja yang punya anak lagi? Bukankah lebih lucu? Kalau dalam film ikan terbang judul nya, Sudah punya cucu, aku punya anak lagi, yassalaaam" kini Mahda ikut-ikutan nimbrung dalam perdebatan konyol antara Yemma dan Jiddah nya.
Mahda tertawa puas setelah meledek habis-habisan jiddah hally nya tersebut. Dan drama pun di akhiri dengan tangisan Sulthan yang merasa terganggu dengan perdebatan para orang dewas di ruangan tersebut.
......................
Setelah merasa Yemma dan Sulthan benar-benar pulih, Mahda, Syihab dan Aly pamit untuk kembali ke pondok. Menyelesaikan tugas yang sudah menjadi tanggung jawab nya.
"Kita naik apa ke pondok?" tanya Mahda di tengah-tengah kesibukan nya merapihkan kamar yang akan ia tinggalkan kembali.
"Motor kakak aja" jawab Syihab.
"Yang bener aja kak, motor nya bising gitu. Gak ah gak mau, yang ada dateng ke pondok telinga aku agak budek" tolak Mahda.
"Kan enak di jalan nya kamu bisa meluk kakak" timpal Syihab.
"Yeee, pake motor Mahda aja ya" saran Mahda.
"Abang gimana? Aly maksud nya" ralat Syihab.
__ADS_1
"Dia juga kan punya motor, gak usah mikirin bang Aly ah" timpal Mahda.
"Kenapa kesel gitu?" tanya Syihab heran.
"Dia ngeledekin ana terus, sebel ana tuh" jawab Mahda.
"Ngeledekin apa?" tanya Syihab lagi.
"Tentang malam itu" jawab Mahda jutek.
"Oh, mau lagi?" goda Syihab.
"Kita berangkat sekarang!" ajak Mahda mengakhiri, menarik tangan Syihab untuk berpamitan pada kedua orang tua nya.
..
Beriringan dengan menaiki motor, Syihab, Mahda juga Aly berangkat menuju pondok. Kembali mengabdi dan mengamalkan ilmu yang telah mereka terima.
Dan seperti yang di duga, Aly kembali menjadi pengawas gartisan untuk adik dan adik ipar nya. Aly di wanti-wanti Yemma Hani untuk mengikuti Mahda dan Syihab dari belakang.
{Haniyah kita panggil Yemma Hani aja ya, biar gak kepanjangan}
3 jam perjalanan akhir nya Mahda dan yang lain nya sampai di pondok saat memasuki waktu maghrib. Keadaan sudah agak gelap dan para santri sudah mulai bersiap untuk menunaikan sholat berjama'ah hingga tak ada yang menyadari kedatangan Mahda.
"Tadi, gagian sih. Kebelet nih" jawab Mahda dan segera menyingkirkan Afiyah dari pintu kamar mandi.
"Fi, tungguin ana ke mesjid nya" pinta Mahda dari dalam kamar mandi.
"Nggeh bu Nyai" timpal Afiyah.
Kembali melakukan aktivitas seperti biasa nya, sholat berjama'ah, wirid, membaca surah Yaasin bersama, lalu membaca Ratib. Mengisi tepak makan sesuai jadwal juga mengantarkan makan untuk astadiz, jadwal ganda nya adalah membuat teh untuk asatidz.
..
"Ini ada adrahi buat kalian" ucap Mahda sambil menyimpan kantong besar berisi makanan untuk para santri.
Seperti biasa, jika seseorang ada yang pulang pas kembali ke pondok selalu ada yang nama nya adrahi. Biar pun makanan nya biasa akan terasa nikmat jika di nikmati bersama-sama.
"Syukron mba Mahda. Kami turut berduka cita ya atas meninggal nya orang tua ustadz Syihab" ucap Imah.
Mahda tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban nya.
"Mba Mahda, ko lama banget pulang nya?" tanya Tika mulai kepo.
"Iya, ada sesuatu yang tidak bisa di tinggalkan soal nya" jawab Mahda.
__ADS_1
Suami saya maksud nya.
Batin Mahda meneruskan.
"Mba Mahda nginep gak di rumah ustadz Syihab waktu kemaren?" tanya nya lagi.
"Ente? Mau tau apa mau tau banget?" goda Mahda.
"Tau banget dong mba" jawab mereka serempak dan sukses membuat Mahda terkejut.
"Jangan pada kepo, gak baik. Gih makan, takut keburu dingin makanan nya!" titah Mahda.
"Mba Mahda satu lagi, ustadz ganteng nya balik lagi ke pondok gak?" tanya Tika blak-blakan.
"Gak tau" jawab Mahda saat berlalu dari kumpulan santri di asrama unit 1.
Sekembali nya dari asrama, Mahda berjalan menuju mathbakh (dapur). Mahda pun segera menyerahkan kantong makanan untuk yang bertugas di bagian dapur pondok.
Banyak yang mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya Mama Balgis dan Abi Zainal, namun tak sedikit pula yang menanyakan hubungan nya dengan Syihab, apalagi setelah menyaksikan adegan di mana Syihab yang terang-terangan memanggil nya sayang.
Berada di lingkungan pondok tak menjamin tak ada gosip yang simpang siur. Banyak mulut dan banyak pendapat menjadi penyebab banyak nya kabar yang menyimpang. Kadang asumsi yang berlebihan menjadi penyebab utama nya.
Mba Mahda gak jadi nikah sama ustadz Syihab?
Satu pertanyaan yang begitu horor di telinga Mahda.
Karna kejadian meninggalnya kedua orang tua Syihab menjadikan asumsi bahwa mereka tak jadi menikah.
*Siapa yang mau ngebiayain?
Wah, fix gak jadi kalau kaya gini*.
Dan beberapa komentar lain nya yang masih terdengar mendayu di telinga Mahda.
Sungguh, apa kejadian kemarin tak menyadarkan mereka bahwa ia dan Syihab telah menikah? Eh, tapi mereka belum mengumumkan.
Apa sebegitu pendek pemikiran nya hanya karna orang tua meninggal lalu menikah tak jadi?
Gosip yang menjengkalkan.
Batin Mahda saat kembali ke asrama nya. Asrama yang berisikan santriyah atau ustadzah yang tengah berkhidmah. Asrama yang hampir 3 minggu ia tinggalkan.
Kini semangat nya harus ia tata kembali untuk menghadapi hari esok. Mengambil nafas lalu membuang nya perlahan agar hati nya kembali tenang.
......................
__ADS_1