Cinta Terhalang Dinding Pesantren Season 2

Cinta Terhalang Dinding Pesantren Season 2
Semuanya adalah Takdir


__ADS_3

Hampir saja Syihab mengamuk mendapati kenyataan menyakitkan lagi jika saja Aly tak menahan nya. Memberikan ia pengertian bahwa Mahda lebih membutuhkan nya kini, dukungan juga perhatian begitu di butuhkan Mahda, ia juga sama kehilangan nya, seperti Syihab. Aly hampir kewalahan menghadapi Syihab yang hampir mengamuk.


"Saya mau nemenin istri saya boleh Dok?" pinta Syihab lirih saat mengantarkan Mahda ke dalam ruang tindakan.


"Syihab, stop!" ucap Aly jengkel.


"Gue mau nemenin Mahda, Ly" timpal Syihab.


"Boleh nemenin sebentar, hanya sampai di masukan biusan ya" timpal Dokter Hafizah.


Syihab mengangguk lalu ikut masuk ke dalam ruangan, menemani Mahda dan terus memegangi tangan nya yang tak di infus.


Sementara itu, Mahda tak banyak bicara semenjak di beri pengertian, lagi-lagi Aly yang harus lebih banyak memberi pengertian pada Mahda ketimbang Syihab yang susah mengatur emosional nya. Air mata yang terus meluruh dari mata indah nya seolah menjadi bukti bahwa Mahda begitu kehilangan, merasakan sakit yang amat sangat.


"Ma'afin Mahda kak" ucap Mahda lirih, melihat sang suami yang terus menitihkan air mata di samping nya.


"Ini semua udah takdir, iya kan? Ini yang terbaik juga buat kita. Kita hanya berencana, tetap Allah yang menentukan" tutur Syihab.


Dokter Hafizah mulai masuk, seorang perawat juga mulai menyuntikan biusan ke dalam infusan Mahda.


"Baca sholawat atau istighafr ya Bu" titah perawat tersebut.


Perlahan mata Mahda menutup seiring reaksi biusan yang menyebar perlahan. Syihab dengan pelan mengurai pegangan tangan nya, lalu keluar menghampiri Aly yang menunggu nya di depan ruangan.


"Apa Yemma udah di kasih tau?" tanya Syihab.


"Udah, udah jalan kesini" jawab Aly tenang namun jujur dalam hati nya menghawatirkan adik perempuan satu-satu nya tersebut.


"Rasa nya kaya gak berguna ya, saat Mahda butuh gue gak ada di samping dia" tutur Syihab.


"Ini semua udah takdir nya, perihal ente gak ada kemarin itu juga tugas yang mulia" timpal Aly.


"Habis ini Mahda balik dulu ke beyt" sambung Aly.


Syihab mengangguk dan kembali tenang namun bibir nya tak lepas dari sholawat yang ia lafalkan, berharap bisa membantu Mahda dengan do'a.


..


Jari Mahda mulai bergerak perlahan seiring biusan yang menghilang. Syihab yang selalu di samping nya setelah Mahda keluar dari ruang tindakan, terus menggenggam tangan nya.


Yemma Hani juga Yebba Zein terlihat sudah datang dan menunggu Mahda sadar di dalam ruangan. Bahkan Ummi dan ustadz Muhammad juga turut datang melihat keadaan Mahda.


"Lagi-lagi, kamu seperti Yemma kak" ucap Yemma Hani lirih.


Mahda mengerjapkan mata nya namun kembali tertidur hingga berulang-ulang. Pandangan nya seperti berputar-putar bahkan merasakan mual.


..

__ADS_1


Mahda kembali di bawa pulang ke rumah setelah ia betul-betul sadar dan bisa berjalan ke kamar mandi dengan sendiri nya.


"Yakin gak papa kakak gak ikut pulang?" tanya Syihab di pintu mobil.


"Gak papa, banyak tugas kan di pondok?" tanya balik Mahda.


"Bakalan rindu" ucap Syihab sendu.


"Hanya beberapa hari" balas Mahda dengan tersenyum.


Dengan berat Syihab melepas Mahda kembali pulang ke rumah di bawa oleh Yemma Hani dan Yebba Zein. Sementara Syihab dan Aly kembali ke pondok, meneruskan tugas nya yang terganggu hari ini.


Syihab yang tubuh nya benar-benar lelah memilih beristirahat di kamar nya. 5 hari perjalanan dan baru tiba pukul 1 pagi tadi, pukul 6 mendapat kabar bahwa Mahda jatuh pingsan membuat kantuk nya hilang seketika. Dan kini ia merasakan tubuh nya serasa begitu remuk.


......................


Yemma Hani menjadi lebih overprotektif pada Mahda kini. Segala hal tak boleh di kerjakan Mahda, meski hanya mencuci dalaman nya sekali pun. Bahkan Yemma Hani sengaja meminta bantuan kepada jiddah Ita, meminta satu santri nya lagi khusus untuk mengurus Mahda selama ia berada di rumah dengan janji memberi santri tersebut uang yang lebih.


Memang setiap mba yang membantu di rumah nya Yemma Hani selalu memberi nya jatah uang setiap bulan. Bukan berniat menjadikan nya seperti pembantu, hanya sekedar memberi uang jajan tambahan. Rasa terima kasih Yemma Hani pada orang tersebut. Bahkan tak jarang Yemma Hani membelikan baju atau yang lain nya saat lebaran atau hari-hari tertentu.


"Ini air sirih sama kunyit nya kak" ucap mba Ida.


"Yemma yang nyuruh?" tanya Mahda.


Mba Ida mengangguk dan kembali pamit keluar. Kerjaan nya memang tak berat, namun ia harus fokus pada Mahda.


"Harus banget Ma?" tanya Mahda.


"Biar badan kakak cepet sehat, darah nya cepet bersih juga. Katanya pengen cepet balik ke pondok, biar bisa ketemu suami tercinta lagi kan?" goda Yemma Hani.


"Apaan sih Ma" timpal Mahda.


"Apa mau liat mantan terindah zuad?" goda Yemma Hani lagi.


"Hih, ngaco" kesal Mahda.


Yemma Hani terkekeh melihat ekspresi Mahda yang kesal jika membahas Haidar.


"Apa dia masih gangguin kakak?" tanya Yemma Hani.


Tentu saja ia tahu tentang Haidar yang terus meneror Mahda bahkan mengatakan secara terang-terangan, karna Mahda yang selalu curhat pada Yemma nya tersebut.


"Kemarin masih ngomong yang gak masuk di akal. Gak ngerti deh padahal dia udah mau zuad" gerutu Mahda.


"Yemma denger kata nya, mamah nya Haidar kurang setuju. Tapi gak tahu juga sih, Yemma cuma denger dari orang-orang" tutur Yemma Hani.


"Bukan urusan kita Ma" timpal Mahda.

__ADS_1


"Ma, dulu pas Yemma keguguran, ke hamil lagi nya lama gak?" tanya Mahda.


"Enggak lama juga kak. Mudah-mudahan kakak cepet isi lagi, biar jadi pelipur kehilangan kakak kali ini" jawab Yemma Hani.


"Do'a nya Ma" balas Mahda.


"Do'a terbaik dari Yemma buat kakak" jawab Yemma Hani lalu memeluk Mahda.


..


Hampir satu minggu di rumah membuat Mahda jenuh, hanya tiduran dan keluar kamar jika perlu, selebih nya ia habiskan di tempat tidur. Seperti hal nya hari ini, selesai sarapan ia lanjutkan menonton drama di ponsel nya, di temani beberapa camilan juga Sulthan yang malam tadi meminta tidur bersama nya lagi.


"Ade, sama Yemma yuk" ajak Yemma Hani.


"Enggak, mau sama Umma aja" jawab Sulthan.


"Hah apa?" tanya Yemma Hani terkejut.


"Siapa Umma?" lanjut nya.


"Ini, ini Umma nya Sulthan" jawab Sulthan.


"Hey, kata siapa?" kini giliran Mahda yang bertanya.


"Malem kakak bilang, iya Umma mau tidur juga, gitu" tutur Sulthan menirukan gaya bicara Mahda.


"Allah kareem" timpal Mahda menepuk jidat nya.


Ternyata Sulthan mendengar pembicaraan nya semalam dengan Syihab.


"Itu kak Mahda, de" ucap Yemma Hani.


"Sekarang jadi Umma, iya kan?" balas Sulthan tak mau kalah.


Yemma Hani menggelengkan kepala nya, ia tahu pasti sang anak bungsu mendengar pembicaraan Mahda dengan Syihab.


"Anak sulung kamu tuh kak" ledek Yemma Hani.


"Ya kareem, bisa-bisa nya punya adik yang manggil Umma" ucap Mahda tak habis fikir dengan Sulthan.


Melihat Sulthan yang terus bergelayut manja dengan nya, membuat Mahda selalu berandai-andai dan berdo'a agar Allah kembali mempercayai nya.


Ya Robb, bagi Mu mudah. Semoga Engkau kembali menitipkan janin di rahim ku. Aku percaya, ada sesuatu yang indah yang engkau siapkan setelah kehilangan berkali-kali.


Batin Mahda yakin.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2