Cinta Terhalang Dinding Pesantren Season 2

Cinta Terhalang Dinding Pesantren Season 2
Pertemuan


__ADS_3

Cerah, satu kata untuk cuaca hari ini. Dengan mengambil nafas dalam-dalam Mahda menghembuskan nafas nya. Merasakan kesejukan di pagi menjelang siang hari ini.


2 hari berbaring di klinik dan 3 hari di rumah rasa nya cukup untuk memulihkan kesehatan nya. Hanya tinggal menjaga nya lebih.


Jam menunjukan pukul 09.00 saat Mahda dengan santai nya duduk di ruang keluarga. Membuka sedikit jendela, membiarkan udara masuk ke dalam ruangan dengan mudah nya. Menatap langit yang begitu cerah dengan pemandangan pohon-pohon kamboja menghiasi pelataran samping rumah.



"Yemma agak horor, nanem beginian di samping rumah" gumam Mahda yang masih betah berdiam diri sambil terus memainkan ponsel nya.


Rumah begitu sepi padahal hari masih menunjukan pukul 9 pagi. Mba yang biasa di rumah sudah kembali ke pesantren untuk ikut belajar, sementara Yemma, Yebba dan juga Sulthan pergi ke rumah Jiddah Ita.


"Membosankan" keluh Mahda.


Mata nya menerawang jauh ke luar jendela, menatap langit biru yang membentang di atas nya. Mata bulat dengan bulu mata lentik sesekali memejamkan mata nya begitu lama.


Mahda kembali teringat dengan perkataan Yebba nya semalam. Ia kembali di kabari dengan perjodohan. Hanya saja kali ini Abuya yang merencanakan itu, perjodohan yang bisa di bilang santai, bukan seperti dahulu perjodohan yang begitu mendadak dengan Ahmad.


Ingin bertanya dengan siapa namun Yebba nya pun belum tahu. Zein sendiri pun belum di beri tahu siapa calon menantu nya kali ini. Abuya merencanakan akan mengenalkan ke dua nya saat nanti pertemuan, dan pertemuan ini akan di adakan saat Mahda kembali lagi ke pondok.


Mahda hanya di minta ke siapannya kembali untuk menerima perjodohan ini.


Yemma yakin pilihan Abuya sama Ummuna kali ini gak bakalan salah. Ummuna juga udah bilang, udah istikhoroh berkali-kali buat ngeyakinin perjodohan ini. Insyaa Alloh, pilihan guru adalah yang terbaik buat kita, jalan ke depan nya pun akan mudah dan baik.


Tutur Haniyah saat Zein memberitahukan kabar tersebut pada Mahda malam tadi.


*


*


Hari itu pun tiba, Mahda dengan semangat mulai menyiapkan barang bawaan nya. Membawa beberapa ganti baju yang akan ia tukar dengan baju-baju stok lama nya di pondok.


"Ba, kakak pengen baju baru. Boleh ngambil ke butik?" cicit Mahda yang duduk di samping Zein.


"Boleh, ambil baju yang paling bagus yang kakak mau. Ingat, hari ini di pondok kita bakal ketemu sama calon keluarga kakak. Kakak siap kan?" tutur Zein.


"Bismillah Ba" timpal Mahda dengan senyum manis terukir di bibir nya.


Entahlah, saat ini Mahda hanya mengikuti kata hati nya. Rasa nya tak ada kata ragu untuk mengucapkan kata iya, padahal ia saja belum tahu siapa yang akan menjadi suami nya.


Mendapat lampu hijau dari Yebba nya, Mahda segera pamit dan meluncur menaiki motor kesayangan nya. Motor yang selalu menemani ia kemana pun. Ia tak fanatik, biar pun seorang anak Aly Zein tapi ia tetap bisa membawa yang nama nya motor, tak melulu harus di antar supir.


Dengan senang Mahda memilih beberapa abaya yang terpajang paling depan di butik Yebba nya. Abaya-abaya yang di kirim langsung dari Mesir, Dubai dan Turki. Sudah jelas ke-orian nya, dan jangan tanyakan pula harga nya.


Pilihan nya jatuh pada abaya berwarna hitam. Abaya simple namun elegant. Berbahan serat mix brukat dengan stone hitam mempercantik abaya original Dubai tersebut.



Di ruangan butik yang lain nya, Mahda menyempatkan diri mengambil foto diri nya mengenakan abaya tersebut dengan background galery moulding minimalis semakin mendukung latar belakang dari foto tersebut.

__ADS_1


Puas mengambil beberapa baju, Mahda kembali pulang dengan senyum yang sama sekali tak memudar dari bibir ranum nya.


Rasa nya bahagia sekali bisa gampang asal catut catur baju dari butik Yebba nya tanpa mempedulikan harga. Patut di syukuri, ketika anak lain menghemat uang jajan nya untuk 1 buah abaya, tapi Mahda dengan mudah nya bisa memiliki baju tersebut.


Tepat pukul 10.00 keluarga Aly Zein bertolak kembali ke kota pesantren A**** dengan mengendarai kendaraan beroda 4 keluaran Jepang.


"Kakak siap?" tanya Haniyah yang duduk tepat di samping Mahda. Sedangkan Sulthan, Haniyah serahkan pada mba yang duduk di jok belakang.


"Bismillah Ma, kakak siap" jawab Mahda menutupi ke gugupan nya.


Jujur saat ini ia sangat gugup, sikap seperti apa yang harus ia tunjukan di hadapan keluarga calon suami nya. Seperti pada umum nya, keluarga laki-laki akan bertemu langsung dengan si pihak calon perempuan dan selanjut nya keluarga akan memberi tahukan detail nya pada calon laki-laki. Pun saat ini, Mahda akan bertemu tanpa calon laki-laki nya.


Selepas sholat ashar di pondok, Mahda bersiap sebelum menunggu panggilan dari rumah Abuya. Mengenakan abaya yang tadi pagi ia pilih di butik Yebba nya dan kerudung phasmina yang senada.


"Ciyee, yang mau ketemu keluarga calon" ledek Tika yang melihat Mahda tengah memakai sibak.


"Heem, do'ain ya, biar lancar" timpal Mahda


"Oh iya, ustadz Syihab sama keluarga mba Eha kata nya ketemu juga loh hari ini" sambung Tika.


Hati Mahda mencelos seketika, rasa nya ada sedikit sakit kala mendengar Syihab dengan orang lain, padahal dia tak ada hubungan nya sama sekali.


"Jadi ada 2 pertemuan ya hari ini?" tanya Mahda meyakinkan.


"Begitu mungkin" jawab Tika asal.


Sementara itu, Yemma dan Yebba nya sudah berada di rumah Abuya dan tengah mengobrol ringan sembari menunggu keluarga dari pihak calon laki-laki.


*


*


Syihab, di asrama sebelah tengah mondar-mandir tak karuan. Pasal nya hari ini orang tua nya di panggil ke pondok untuk di pertemukan dengan calon istri nya yang bahkan Syihab sendiri belum tau siapa yang akan menjadi calon nya.


Syihab hanya mendengar kabar jika ia di jodohkan dengan Zulaikha, namun ustadz Muhammad atau keluarga yang lain pun tak pernah memberi tahu nya. Bertanya pada keluarga nya pun mereka tak tahu.


Rasa nya ingin mengajukan dan membeberkan bahwa ia sudah mempunyai pilihan, ia sudah menaruh hati pada santri penghuni asrama sebelah.


Mahda


Syihab berteriak dalam hati nya, menjerit memanggil nama Mahda yang sebentar lagi harus ia hapus nama nya dari hati juga fikiran nya.


Salah nya sendiri tak segera menemui orang tua Mahda hingga akhir nya harus menyetujui perjodohan ini.


Untunglah perjodohan ini terkesan alot, coba kalau grasak grusuk? Setidak nya ada waktu untuk melupakan nya terlebih dahulu, nanti, kalau bisa.


Monolog Syihab dalam hati.


"Ciyee yang mau di jodohin" ledek Faqih, teman sesama asatidz nya di pesantren A****.

__ADS_1


"Skutt ah!" kesal Syihab.


"Uuhhh yang gugup. Tenang, mba Eha udah siap di halalin ko, gak usah gugup bakalan di tolak" ledek Faqih lagi.


Tetap pada kabar yang beredar, Syihab hanya mengetahui diri nya akan di jodohkan dengan Zulaikha. Syihab mendelikan mata nya sebal karna ledekan Faqih.


"Ly, kapan Mahda balik?" tanya Haidar yang mengetahui Mahda pulang karna sakit.


"Hari ini" jawab Aly seperlu nya.


"Ko abah ana belum ngabarin ana lagi ya" Haidar bergumam sendiri di hadapan Aly dan Syihab.


"Emang kenape?" tanya Aly yang penasaran dan memicingkan mata nya.


"Abah ana udah ke rumah ente, minta Mahda" jelas Haidar frontal.


Jedderrrrr


Syihab yang mendengar kata-kata Haidar seketika hati nya memanas. Pujaan hati nya di lamar oleh lain sementara dirinya di jodohkan pula dengan orang lain. Ia mengepalkan jari-jari tangan nya, menahan amarah yang begitu besar karna tak bisa memiliki Mahda.


"Jangan ngasal" timpal Aly sembari mengusap punggung Haidar.


"Maksud lo apa Ly?" tanya Haidar yang cukup terlihat kesal karna Aly selalu saja terlihat mendinginkan diri nya.


"Ya jangan ngelantur aja gitu, udah nyakitin tiba-tiba pengen nikahin" tutur Aly sinis.


Syihab tersenyum melihat perseteruan antara Aly dan Haidar di depan nya. Kini ia faham kenapa Aly selalu bersikap dingin pada Haidar padahal rumah mereka berdekatan.


Jadi, ini orang nya yang udah nyakitin Mahda?


Batin Syihab.


Apakah diri nya jahat merasa senang dengan perseteruan ini?


Sementara itu Haidar memilih keluar dari ghurfah, perdebatan dingin antara diri nya dan Haidar bahkan bukan terjadi kali ini saja, sudah sering kali dan penyebab nya hanya satu, Haidar yang terus ingin memiliki Mahda sementara diri nya dulu sudah menyakiti Mahda.


*


*


Sebuah mobil berwarna hitam pekat baru saja tiba di parkiran depan ruang tamu santri putra. Beberapa orang turun dan membawa beberapa bingkisan makanan dan buah-buahan sebagai oleh-oleh tangan.


Seorang pria berusia 50 tahunan berjalan paling depan di iringi beberapa orang di belakang nya. Berjalan memasuki area gerbang hitam 2 menuju rumah Abuya.


"Assalamu'alaikum" ucap salam pria tersebut.


*


*

__ADS_1


Mau ikut yang mana nih jadi nya?


__ADS_2