Cinta Terhalang Dinding Pesantren Season 2

Cinta Terhalang Dinding Pesantren Season 2
Tanpa Kabar


__ADS_3

Sudah 3 hari Ahmad tak ada menghubungi Mahda, begitu pun sebalik nya, Mahda tak menghubungi Ahmad. Mahda masih sungkan untuk menghubungi nya terlebih dahulu, belum terbiasa, tapi sekarang ia terlena dengan sikap Ahmad sendiri.


Apa ada yang salah dengan ana?


Batin Mahda menelisik, berfikir apakah selama mereka berpisah ada berbuat salah atau perkataan yang tidak mengenakan pada Ahmad. Mahda rasa tidak.


"Kenapa ngelamun kak?" tanya Haniyah melihat Mahda tengah menonton televisi namun pandangan nya seperti kosong, menerawang sesuatu.


"Enggak kok" jawab Mahda cepat dan buru-buru membetulkan pandangan nya pada televisi.


"Yakin? Mikirin apaan sih kak?" tanya Haniyah lagi penasaran.


"Sawa (beneran), gak mikirin apa-apa" jawab Mahda meyakinkan.


"Ya kher, Yemma keluar dulu ya. Yemma titip Sulthan ya, dia lagi tidur" tutur Haniyah.


Mahda mengangguk dan melihat kepergian Haniyah tanpa bertanya sang ibu akan pergi kemana dengan siapa.


Sementara itu, Haniyah di antar Aly pergi ke galery milik salah seorang MUA yang terkenal di daerah nya. Sebelum nya ia sudah membuat janji untuk berkunjung ke galery nya, maklum lah ke dua nya sama-sama sibuk, baik Haniyah maupun MUA tersebut yang harus menjadikan nya mengatur waktu terlebih dahulu sebelum bertemu.


Haniyah di sambut ramah oleh seorang wanita cantik bernama Sinta, yang tak lain pemilik galery sekaligus MUA tersebut.


Haniyah di antar memilih gaun mana saja yang akan di kenakan oleh Mahda nanti dan tak lupa memilih dekorasi seperti apa yang akan ia pakai untuk acara resepsi putri nya.


"Kenapa tidak bawa Mahda nya sekalian bu Nyai?" tanya Sinta melihat Haniyah yang kebingungan masih belum menemukan gaun yang pas untuk selera Mahda.


"Jangan panggil begitu ah, Hani saja" tolak Haniyah sopan.


"Tidak sopan rasa nya memanggil seorang istri ustadz yang di hormati seperti itu" sungkan Sinta.


"Tak apa, mba cukup, jangan bu Nyai!" titah Haniyah final.


Sinta pun mengangguk menyetujui dari pada tidak sama sekali.


"Saya menyiapkan ini sembunyi-sembunyi, tanpa Mahda tahu. Saya pengen Mahda terima beres" tutur Haniyah.


Melihat jejeran gaun berwarna putih dengan berbagai model sembari membayangkan Mahda yang memakai nya, membuat Haniyah tambah pusing.

__ADS_1



"Semua nya bagus, apa tidak ada yang berlengan lebih tertutup untuk Mahda? Biar tangan nya tidak terekspos kemana-mana" tanya Haniyah yang khawatir dengan aurat sang anak.


"Ada mba, sebelah sana. Jika memakai gaun yang ini pun saya akan menggunakan manset mba, dan menambahkan aksen tambahan di lengan untuk menutupi lengan Mahda" tutur Sinta dengan memegang salah satu gaun nya.


"Ada yang lebih simple kah mba?" tanya Haniyah lagi.


"Mari mba ikut saya, di sana ada baju yang simpel dan lengan lebih tertutup" jawab Sinta.


Haniyah pun mengikuti ke ruangan atas, tempat berbagai baju kebaya untuk pengantin berada.


Melihat-lihat berbagai macam kebaya yang di pajang di manekin. Dan pilihan nya jatuh pada sebuah kebaya berwarna buttermint dengan ke dua selendang di kedua tangan nya.



"Saya pengen yang ini mba untuk Mahda" ucap Haniyah dengan mata berbinar melihat kebaya yang begitu indah menurut nya untuk Mahda.


"Baik bu Ny- eh maksud sama, mba" ralat Sinta.


"Untuk malam nya mau pakai yang mana mba?" tanya Sinta lagi.



Sinta mengangguk dan mengikuti langkah Haniyah yang duduk di kursi yang tersedia di ruangan tersebut.


"Tanggal nya kapan mba jadi nya?" tanya Sinta lagi.


"Belum tentu mba, tapi saya pastikan secepat nya" jawab Haniyah.


"Saya kasih dp dulu segini, selebih nya nanti kalau tanggal sudah pasti ya mba. Tolong tulis nomor rekening nya" tutur Haniyah seraya menyodorkan ponsel nya dengan layar menunjukan digit angka 50 juta.


"Terima kasih" lanjut Haniyah saat Sinta mengembalikan ponsel nya.


*****


"Yemma kemana sih, lama banget" gerutu Mahda saat ia sudah merasa lelah mengasuh Sulthan yang terus berlari ke sana kemari.

__ADS_1


Tak biasa nya sang ibu pergi berlama-lama meninggalkan Sulthan dengan nya tanpa mba yang biasa mengasuh nya.


Ka Ahmad masih belum ada lagi ngehubungin, ada apa sih?


Batin Mahda menerka-nerka.


"De, kita main di atas yu, di ghurfah kakak" ajak Mahda.


Mahda pun menuntun tangan Sulthan dan membawa ke kamar nya.


"Serasa gak punya laki" ucap Mahda setelah berhasil merebahkan tubuh nya di atas kasur queen size nya.


Sementara Sulthan ia suruh bermain di bawah kasur nya, menonton film dari permainan edukasi anak berwrna tosca yang bisa ia sentuh layar nya seperti ponsel. Tak lupa Mahda mengunci pintu kamar nya, takut-takut Sulthan keluar saat ia terlelap tidur.


Diri nya terus melamun, memikirkan hubungan nya yang baru saja ia mulai menerima nya namun tiba-tiba seperti motor, mogok.


☘☘☘☘☘


40 hari pun berlalu dari kepulangan Ahmad dari kediaman keluarga Zein. Dan sampai kini Ahmad belum menampakan batang hidung nya, bahkan menghubungi Mahda pun tak ada, seperti orang yang tak bertanggung jawab dari suatu kesalahan.


"Masih belum bisa di hubungi?" tanya Zein pada Mahda terlihat kesal.


Mahda menggelengkan kepala nya lemah. Rasa nya tak enak melihat Yebba nya menahan kesal dan amarah.


Dulu Ahmad berjanji akan kembali di hari ke 40 ia pergi dari rumah, namun sudah seminggu yang lalu ponsel nya tak bisa di hubungi. Zein yang saat itu ada agenda keluar pulau belum bisa menyusul Ahmad ke rumah nya yang juga bisa memakan waktu seharian di jalan untuk menuju rumah Ahmad.


Haniyah tampak gusar melihat kekesalan suami nya, merasa di permainkan dengan menantu nya. Tiba-tiba menikahi anak nya namun sekarang tanpa kabar apalagi pulang ke istri nya.


"Yahdik" ucap Zein kesal dengan memecutkan sorban nya ke udara.


"Assalamu'alaikum" ucap seseorang yang berdiri di depan pintu.


Semua yang berada di ruang tamu menoleh dan melihat pada orang yang baru saja datang ke rumah tersebut.


☘☘☘☘☘


Siapa nih yang dateng?

__ADS_1


Hai hai !!! Jangan lupa like dan coment nya ya


__ADS_2