
Mahda keluar dari kamar saat Syihab sudah terlelep. Sekian lama Syihab menangis hingga mata nya sembab, bahkan isakan nya sesekali masih terdengar meski mata nya sudah terpejam.
"Sudah tidur?" tanya Haniyah saat Mahda keluar dari kamar nya.
"Baru aja Ma" jawab Mahda lesu.
Mahda berjalan dengan gontai lalu ikut duduk bersama orang tua nya. Terlihat beberapa orang keluarga dari Syihab sudah meninggalkan rumah, tinggal beberapa orang yang bisa Mahda lihat beserta pelayat yang masih saja terus berdatangan.
Ucapan duka silih berganti terus terlontar atas meninggal nya Mama Balgis dan Abi Zainal. Terlihat kakak ipar dari Abi Zainal yang menghadapi, menerima para pelayat langsung karna kondisi Syihab yang tak memungkinkan.
Mahda menyandarkan kepala nya pada bahu Haniyah. Kini giliran ia yang ingin menangis, menumpahkan kesedihan nya setelah tadi ia berusaha menguatkan sang suami.
Hanya sebentar, ia hanya sebentar waktu Mahda untuk merasakan kasih sayang dari mertua nya. Kasih sayang yang tulus dan tak pernah mempermasalahkan status nya saat kemarin. Mama Balgis tipikal orang yang welcome pada orang meskipun orang itu baru bagi nya.
"Sabar, semua yang bernyawa akan kembali pada Dzat-Nya kak. Sekarang tinggal kakak saling menguatkan ya. Seperti Yebba dulu yang selalu nguatin Yemma" tutur Haniyah seraya mengelus punggung Mahda.
"Mahda cuma takut kak Syihab kenapa-kenap Ma" lirih Mahda.
"Maka dari itu, kalian harus saling menguatkan. Yemma yakin setelah ini ada kebahagiaan yang akan datang pada Mahda. Saat Allah mengambil pasti ada yang di berikan kembali, mengerti bukan?" tutur Haniyah lagi.
"Mengerti apa Ma?" tanya Mahda lirih.
"Insyaa Alloh, Alloh ganti dengan anak kalian secepat nya" jawab Haniyah.
Tidak mungkin secepat itu Ma, kita belum buka segel.
Gumam Mahda dalam hati.
"Aamiin Ma, do'ain aja ya" pinta Mahda.
......................
6 hari setelah kepergian ke dua orang tua nya Syihab baru mau keluar dari kamar. Selama beberapa hari ke belakang ia terus berdiam diri, mengurung diri nya di dalam kamar. Beranjak dari kasur jika hanya makan atau berurusan dengan kamar mandi.
Mahda hampir kewalahan melihat Syihab, segala bujuk rayu ia keluarkan demi Syihab tersenyum atau mau berbicara.
Ameh Fitri yang tak lain adalah kakak dari Abi Zainal pun merasa pusing bagaimana cara nya membujuk Syihab. Selama ini Syihab begitu dekat dengan ibu nya dan kini orang tua nya meninggal secara bersamaan dan mendadak.
"Ameh pasrahin sama Mahda, sekarang cuma Mahda satu-satu nya harapan untuk Syihab" ucap Ameh Saiful saat keluar dari kamar Syihab, membujuk Syihab agar keluar dari kamar kala itu.
__ADS_1
Acara pengajian dan serangkaian do'a yang di laksanakan tiap malam di handle oleh Ami Saiful langsung. Dari mulai menyiapkan dan segala macam nya.
"Kakak mau makan?" tanya Mahda mengahmpiri.
"Mau ke Mama sama Abi" jawab Syihab dingin.
"Mahda temenin ya, Mahda wudhu dulu, tungguin" pinta Mahda.
Syihab mengangguk dan berjalan duduk di samping foto ke dua orang tua nya. Menatap nya nanar. Kini hanya foto yang bisa ia lihat, tak bisa ia sentuh, tak ada belaian lembut seperti dulu yang selalu ia dapatkan dari Mama Balgis.
"Ayo!" ajak Mahda.
Syihab pun berjalan mengikuti Mahda. Dengan menggunakan motor besar kesayangan nya Syihab dan Mahda melaju menuju tempat peristirahatan Mama dan Abi nya kini.
..
Lagi-lagi Syihab menumpahkan air mata nya di atas pusaran ke dua orang tua nya. Menyampaikan rindu yang sudah membelenggu, dan menyampaikan apa yang belum tersampaikan.
Mahda ingin menangis, namun ia ingat, jika ia rapuh maka takkan ada yang membangkitkan Syihab.
"Lihat! Banyak banget bunga segar di maqom Mama sama Abi. Banyak yang ziarah berarti. Kakak pasti seneng kan banyak yang do'ain Mama sama Abi? Pahala yang do'ain Mama sama Abi pasti ngalir banget, pasti mereka bahagia di sana. Sekarang tinggal kakak yang bangkit ! Bukan nya sedih terlalu berlebihan itu tak baik, benar bukan?" tutur Mahda.
Syihab mengusap air mata nya lalu memeluk Mahda. Bersyukur karna ada seseorang di samping nya yang selalu menguatkan diri nya apalagi di saat kondisi seperti ini.
"Terima kasih selalu nguatin kakak" satu kalimat tulus terucap dari bibir Syihab.
"Sama-sama. Pulang yuk, udah sore" ajak Mahda.
Syihab tersenyum. Senyuman pertama setelah Mama Balgis dan Abi Zainal meninggal. Syihab pun berpamitan layak nya sang anak berpamitan pada ke dua orang tua nya untuk pulang. Tak lupa ia pun mencium ke dua nisan yang masih menggunakan kayu tersebut.
Mahda berjalan menggandeng tangan Syihab, menautkan jari-jari nya dengan jari tangan Syihab.
"Aku yang nyetir ya" ucap Mahda.
"Emang bisa?" ledek Syihab tak percaya.
"Bisa lah, ngeremehin banget" timpal Mahda lalu merebut kunci dari saku baju Syihab.
"Sayang, ini CBR loh, bukan matic" ucap Syihab ragu-ragu dengan kemampuan Mahda.
__ADS_1
"Ck, ayo ah ikut aja" decih Mahda.
"Jangan ngebut-ngebut, kakak gak mau jatuh pas pertama di bonceng kamu" sambung Syihab.
"Dah, ayo naik!" titah Mahda saat diri nya sudah siap di atas motor. Untung saja ia memakai celana panjang di balik abaya nya.
Dengan ragu Syihab menaiki motor nya. Pegangan nya cukup kuat, takut-takut jatuh seperti yang ia takutkan.
"Sayang, hati-hati, pelan-pelan!" ucap Syihab setengah berteriak.
Mahda tak menjawab, ia fokus menyetir motor besar sang suami. Menyalip, setengah mengebut, jujur membuat Syihab spot jantung di buat nya.
Sepanjang perjalanan banyak tatap mata yang menatap aneh, wanita bergamis mengendarai motor besar dan di belakang nya ada laki-laki dengan ekspresi wajah ketakutan.
Mungkin si cowo nya gak bisa motor.
Yasaalaam, ada-ada aja. Cewe bawa motor begituan
Dan masih banyak ucapan-ucapan yang ia bisa di dengar di sepanjang perjalanan menuju rumah.
Syihab menghembuskan nafas nya kasar saat sampai di depan rumah nya. Ini pengalaman perdana nya di bonceng sang istri, dan dengan motor kesayangan nya.
"Gak lagi-lagi" dengus Syihab.
"Dih, hawas" timpal Mahda lalu berjalan mendahului Syihab menuju kamar nya.
Ruangan masih terlihat sepi karna acara pengajian biasa di laksanakan selepas sholat isya.
Syihab yang berjalan di belakang Mahda seperti berlomba menuju kamar nya dengan langkah kaki yang panjang.
"Gerah, mau ujan nih kaya nya" gumam Mahda yang masih bisa terdengar oleh Syihab yang duduk di atas tempat tidur nya.
Dengan santai Mahda membuka lilitan phasmina yang senantiasa menutupi kepala nya.
Syihab yang sedari tadi hanya duduk diam-diam memperhatikan Mahda yang berdiri di dekat diri nya. Dengan lembut Syihab menarik tangan Mahda, membawa nya jatuh ke dalam pelukan nya.
Tatapan indah dan penuh cinta bisa terlihat dari sorot mata ke dua nya. Mahda terpaku, detak jantung dan debaran hati nya tiba-tiba tak beraturan. Saling memandang penuh cinta rasa nya membuat Mahda seketika terasa bodoh, hanya diam tak berkutik.
Hembusan nafas hangat saling bersahutan meski belum ada pergerakan. Hanya tatapan mata yang masih saling beradu, mencoba mendalami apa yang di inginkan nya kini.
__ADS_1
......................
Saran dong, kalo bab part hareudang mending detail apa jangan? Hihi, kalau detail takut di bilang cerita anak santren tapi begitu, kalau engga bilang nya gak seruš„±