Cinta Terhalang Dinding Pesantren Season 2

Cinta Terhalang Dinding Pesantren Season 2
Curiga


__ADS_3

Senyuman di bibir Mahda merekah saat satu notifikasi berbunyi dari benda pipih milik nya. Dengan segera, ia meraih benda tersebut dari atas nakas di samping tempat tidur nya.



Sebuah kamar bercat putih dengan aksen moulding minimalis di setiap sisi nya. Ranjang serta sofa berwarna dark grey menambah manis kesan dalam kamar tersebut.


Dengan semangat Mahda segera membuka pesan tersebut dan membalas cepat pesan nya.


Hari cerah secerah perasaan Mahda saat ini. Bibir dan sorot mata nya menampakan bahwa ia tengah di landa getaran yang maha dahsyat di hati nya.


Cinta kah, atau sekedar kagum?


Lirih Mahda lalu menyimpan kembali ponsel nya di atas nakas.


Rasa nya semakin gila mengingat obrolan dengan ke dua teman nya 2 hari yang lalu di kamar ini. Tanpa malu nya mengobrol tentang jika mereka berandai bisa berjodoh dengan makhluk penghuni kamar sebelah saat di pondok, santri putra.


Bisa-bisa nya asal nyebut ustadz itu, ampun ampun.


Gumam Mahda sambil menggelengkan kepala nya.


"Kak, abang masuk ya" izin Aly sebelum memasuki kamar sang adik.


"Fadhol bang" teriak Mahda dari dalam kamar.


Aly berjalan menghampiri Mahda yang tengah duduk di sofa sambil melihat keluar rumah. Langit biru yang di hiasi sedikit awan-awan putih, meneduhi sebagian bumi di bawah terik nya matahari.


"Tumben, ada apa gerangan kemari?" tanya Mahda heran, karna bisa di bilang Aly jarang sekali masuk ke kamar Mahda, bahkan bisa di bilang anti. Bukan tanpa sebab, ia lebih menjaga diri, meski ke dua nya adalah adik kakak namun mereka sudah lebih dari usia baligh. Tak bisa tidur berdua seperti dahulu sewaktu kecil.


Zein selalu mengajarkan pada ke dua nya dari usia dini, melarang Aly tidur berdua dengan Mahda ketika mereka sudah baligh, terutama Mahda. Zein pun melarang Aly untuk sekedar tidur di kamar Mahda.


"Ada yang mau abang tanyain" ucap Aly serius lalu duduk di samping Mahda yang masih sibuk melihat keluar rumah.


"Apa? Jadi penasaran deh ana" tanya Mahda penasaran.


"Kamu hawiyan sama Syihab?" satu pertanyaan refleks terucap begitu saja.


"Hah, apa? Ngaco deh abang"


Mahda terkejut bukan main dengan pertanyaan Aly. Bisa-bisa nya ia punya fikiran seperti itu.

__ADS_1


"Yakin?" tanya Aly lagi meyakinkan.


"Sawa (beneran) bang" jawab Mahda lirih.


"Ngapain sih nanya kaya gitu? Segitu nya curiga sama ana" sambung Mahda agak kesal seraya melihat Aly yang juga tengah menatap Mahda dengan serius.


"Gak papa, aneh aja gitu tiba-tiba dia pengen maen ke beyt (rumah). Dulu di ajak gak pernah mau, sekarang tiba-tiba dia yang ngebet. Curiga aja soal nya di sini ada hareem hally gitu" jelas Aly dengan menekankan kata hareem hally.


Sedikit cerita, Syihab dan Aly sudah bersama sejak di pesantren dulu, di pondokan milik bu Nyai. Awal nya Syihab boyong setelah lulus dan masuk ke pesantren A***** jadilah mereka bertemu kembali di sini.


"Isshh, jelas. Ana yang paling hally di sini, secara abang dan ade itu rejal" celoteh Mahda bangga karna menjadi anak perempuan satu-satu nya Zein dan Haniyah.


"Jadi?" tanya Aly lagi dengan menaikan sebelah alis nya.


"Apaan lagi?" tanya balik Mahda so bingung.


"Hawiyan" ucap Aly.


"Enggak lah. Abang tau sendiri kan kalau ana harman sama rejal pasti cerita sama abang ana yang gas'ah ini" tutur Mahda sambil mencolek dagu Aly. Bak istri yang sedang menggoda suami nya.


Aly bergidik ngeri melihat kelakuan Mahda hari ini.


Hati Mahda mencelos mendengar penuturan Aly. Tak menyangka orang yang yang begitu cuek ternyata sebegitu menghawatirkan diri nya.


"Ahh abang, makasih" ucap Mahda dan tiba-tiba memeluk Aly yang masih anteng duduk di samping nya.


Sejati nya seorang kakak pasti menyayangi adik nya, dan akan selalu menjaga nya, bahkan ia takkan ragu mengorbankan nyawa nya sekalipun untuk sang adik. Begitu pun dengan Aly yang begitu menyayangi Mahda.


*


*


*


Syihab~


Ada pepatah yang mengatakan jika Cinta itu buta. Yah, seperti diri ku sekarang. Tanpa tau malu merengek seperti anak kecil untuk bisa singgah ke rumah dia.


Mungkin Aly berfikir aneh, dulu saat dia yang mengajak aku untuk bertandang ke rumah nya, aku tak pernah menggubris nya, bahkan mati-matian menolak dengan berbagai alasan, padahal hanya malas. Dan sekarang aku sendiri yang mati-matian merengek agar bisa ke rumah nya, agar bisa melihat dia dari dekat.

__ADS_1


Gila bukan? 7 tahun bareng di pondokan lama dan disini bareng lagi baru tahu kalau Aly punya adik perempuan yang bisa menggetarkan hati saat melihat nya.


Sumpah, hally


Satu kata yang pertama terlontar dari bibir ini saat dia mengantarkan teh hangat. Pada biasa nya mba yang lain yang mengantarkan, namun entahlah hari itu dia yang mengantarkan nya.


Masih zonk tentang siapa dia yang mengantarkan teh. Seperti pengusaha yang profil nya di privasi, tentang dia adik nya Aly pun tak tahu. Dan baru tahu saat dia di kabarkan akan menikah.


Adek nya ustadz Aly mau zuad.


Celoteh santri putra saat kami tengah berkumpul di teras asrama.


Adek? Adek nya yang mana?


Bingung saat itu karna tak tahu yang mana adik dari Aly ini. Dan mengejutkan nya, dia yang hampir setiap hari ku temui.


Daaarrrrrr..


Rasa nya seperti tunas yang baru tumbuh langsung di patahkan kembali. Baru saja akan mengejar sudah ada yang lebih mengejar. Seperti itu mungkin devinisi nya.


Dan saat kabar dia di campakan sampai pada ku, ada rasa lega namun jujur juga kasihan. Lega, bisa mengejar dia yang belum tahu sama sekali tentang perasaan ini. Dan kasihan karna dia di sakiti.


Ekspresi seperti apa yang harus di gambarkan pun susah saat itu.


Sampai pada saat nya liburan tiba, dengan mengenyampingkan segala ego, merajuk pada Aly untuk bisa berkunjung ke rumah nya.


Semoga Aly tak curiga. Dan semoga juga ada jalan untuk memiliki nya.


*


*


*


Hari berganti malam. Semilir angin dingin mulai menerpa, menyeruak masuk di sela-sela pintu yang terbuka.


Mahda dengan santai tengah memilih beberapa baju nya yang hendak ia bawa kembali ke pondok. Menyicil persiapan apa-apa saja yang hendak ia bawa nanti.


Jadwal liburan nya telah usai, dan kini waktu nya ia kembali ke penjara suci. Meneruskan khidmah nya, menimba ilmu, dan mengajar. Mengamalkan ilmu yang telah ia dapat.

__ADS_1


__ADS_2