Cinta Terhalang Dinding Pesantren Season 2

Cinta Terhalang Dinding Pesantren Season 2
Malam Tafarukan


__ADS_3

Gelap nya langit malam yang hanya bertabur bintang menjadi saksi dimana kesibukan orang-orang di pesantren milik njid Mahbub. Mempersiapkan acara pertama di malam ini, tafarukan.


Selepas sholat maghrib Mahda segera bersiap. Menempati kamar Yebba nya menjadi nya begitu leluasa sebelum kamar di rombak dan di rias ala-ala pengantin baru.


Sementara itu, santri putri di komando untuk masuk ke rumah tepat nya ke ruang tengah. Nama nya di komando, perihal baju dan kerudung pun para santri di atur agar sama, untunglah banyak baju seragaman yang mereka punya, namun untuk hari H nanti tentu saja Yemma Hani sudah menyiapkan seragaman yang khusus untuk para santri.


"Gak di rias Da?" tanya Lulu.


"Enggak, besok aja kalau malam henna" jawab Mahda.


"Ayo turun, udah pada nungguin tuh!" titah Lulu.


Mahda mengangguk dan berjalan ke bawah di temani Afiyah. Para santri terlihat sudah mulai membaca Maulid Diba' sebagai acara pertama. Mahalul qiyam kali ini terasa berbeda, ada rasa haru yang menyeruak dari hati tiap santri. Melepas seorang Mahda yang terlihat cuek padahal mengasyikan dan royal bagaikan kesedihan yang menghampiri tiba-tiba.


Untaian puisi tiba-tiba terdengar lirih seiring musik instrumental yang mengiringi setiap bait. Nazwa yang terkenal berparas ayu selain suara nya yang merdu begitu piawai membawakan puisi yang mereka karang sendiri untuk acara tafarukan Mahda.


Mahda sungguh di buat terkejut dengan acara yang tak di rencanakan oleh nya. Mahda hanya tau malam ini tafarukan dan makan-makan, tanpa ada persembahan dari perwakilan santri.


Tanpa di komando, bulir kristal begitu saja lolos dari mata Mahda. Kilasan balik selama Mahda di pondok tiba-tiba terpampang di depan mata dalam sebuah layar setelah lampu di matikan. Mahda yang periang dan aktif dalam segala kegiatan selama di Pesantren A***, bahkan ada beberapa foto yang pengurus ambil selama di pesantren terdahulu.


"Ya Allah, siapa yang ngatur semua ini?" lirih Mahda.


"Ustadz Aly" jawab Afiyah.


Lagi-lagi, salah satu laki-laki terhebat di hidup Mahda memberi nya kejutan yang tak di duga-duga.


"Allah Kareem" ucap Mahda terharu.


Sesi tafarukan puncak pun datang, Semua santri berdiri dan mulai menyalami Mahda, mengucapkan segala ma'af dan apa yang belum di ucapkan. Tak lupa muik instrumental yang semakin menambah syahdu suasana malam ini.


"Kenapa gak pake dumbuk aja sih? Musik gini melow banget" tanya Syamsiah.


"Tangan kita pegel mba" jawab Naura.


Mahda yang berdiri di atas pelaminan mini terlihat wajah nya sudah begitu basah. Antara haru dan bahagia bercampur menjadi satu.

__ADS_1


"Da, syukron ya" ucap Afiyah lirih tanpa bisa meneruskan kata-kata nya.


Lidah nya tiba-tiba kelu, semua kata yang sudah Afiyah rangkai untuk di ucapkan kepada Mahda tiba-tiba hilang. Hanya ada air mata yang tumpah begitu saja sebagai ekspresi nya.


"Kita masih bisa ketemu setiap hari Fi" timpal Mahda lirih.


"Tapi tidak satu kamar lagi" balas Afiyah lalu memeluk Mahda.


"Tetep masih bisa ghibah di bawah jemuran tapi Fi" timpal Mahda.


"Kalau ente gak sibuk ngelonin ustadz Syihab" balas Afiyah.


Tuk..


Satu jitakan manis mendarat di kepala Afiyah, souvenir pertama yang Mahda beri untuk Afiyah karna kelantangan ucapan sang teman terbaik nya itu.


Para santri silih berganti menyalami hingga selesai bagian nya. Tabsyi-tabsyi mulai berdatangan, aroma nasi liwet dengan aroma khas tercium begitu pekat di ruangan tersebut.


Alat-alat hadroh sudah di geserkan ke tempat yang lebih luas agar tidak mengganggu acara makan-makan para santri malam ini.


Sederhana, hanya nasi liwet yang masih mengepul panas dengan lalapan juga krupuk seadanya namun terasa nikmat karna di nikmati secara bersama-sama.


..


Di rumah besar Yebba Zein suasana tak jauh berbeda, santri putra dan ustadz yang sudah hadir kini tengah bermain ghoflah asal-asalan dengan alat hadroh seadanya. Tak lupa nasi liwet yang masih mengepul menjadi sajian malam ini sebelum tidur.


Sengaja acara di pisah di 2 tempat agar tak bentrok suara nya, begitu kata Yemma Hani. Dan Yemma Hani mengizinkan Syihab dan Aly menggunakan ruang tengah sebagai tempat acara. Sementara untuk tidur mereka kembali ke aula putra di pesantren.


Selesai acara, Syihab kembali masuk ke kamar Mahda. Aroma khas yang Mahda tinggalkan di kamar nya membuat Syihab semakin uring-uringan karna merindukan Mahda.


"Ly, gue regud sama ente ya" pinta Syihab dan asal masuk ke kamar Aly yang berada tak jauh dari kamar Mahda.


"Dih, ngapain?" tanya Aly heran.


"Di kamar Mahda gue malah keingetan terus sama doi" jawab Syihab lesu.

__ADS_1


"Loh, kasian. Mending di sana biar ada penawar dikit, bau-bau nya gitu" saran Aly.


"Yang ada malah tambah kangen" lirih Syihab.


"Cih, kangen trowongan kali ya ente. Ogah, takut tiba-tiba ente khilaf dan nyangka gue sarang nya" timpal Aly.


"Allah yahfadz, ente mikir nya, maghrum! Gue gak semaghrum itu ya, Muhammad Aly" balas Syihab kesal dan langsung berbalik kembali menuju kamar Mahda.


"Tahan Hab tahan, 2 hari ketemu. Ya Allah Yemma, cuma pengen chatan aja di larang" gerutu Syihab dan kembali masuk ke dalam kamar yang harum nya masih mendomisili wangi keberadaan Mahda.


...----------------...


Hawa segar masih sedikit terasa saat jam menunjukan pukul 6.25. Dedaunan yang masih terlihat segar dari tetesan embun pagi tadi masih begitu terlihat nyata.


Hari masih cukup pagi namun pesantren njid Mahbub sudah begitu ramai, ramai dengan kegiatan santri yang bersih-bersih juga santri dari Pesantren A*** yang kini tengah berada di sana.


Pukul 6 semua santri sudah di beri jatah sarapan. Ustadzah Nur menginstruksikan agar santri yang ikut untuk membantu pekerjaan yang ada. Seolah sudah faham bagian nya, masing-masing pergi ke dapur bahkan rumah, dan sebagian di aula untuk beres-beres. Sebisa mungkin tetap menjaga kebersihan saat berkunjung ke pesantren lain.


Sementara itu Afiyah dan Syamsiah masuk ke dalam rumah untuk ikut membantu membersihkan dan membantu dekorasi untuk nanti malam, acara malam henna.


"Eh, lagi ngapain?" teriak Yemma Hani saat melihat Afiyah tengah menyapu di ruang tengah.


"Eh, Yemma"


"Gak usah, sana-sana balik ke kamar. Nanti ada bagian nya ini, udah kalian jangan cape-cape bantu" titah Yemma Hani.


"Yemma, kita sumpek kalau di ghurfah terusm Bolehin ya bantu-bantu, nganggur itu membosankan" tutur Syamsiah dengan manja yang di buat-buat.


Yemma Hani menggelengkan kepala nya mendengar kicauan Syamsiah.


"Ya kher, jangan cape-cape. Bantu sebiasa nya aja" saran Yemma Hani.


Afiyah dan Syamsiah mengangguk lalu kembali melanjutkan aktivitas nya.


Sementara di dapur terlihat penuh bahkan padat dengan aktivitas. Memotong bawang bombai, mencuci daging ayam, hingga mengupas kentang terlihat tengah di lakukan.

__ADS_1


Sore nanti akan di gelar acara pengajian sekaligus upacara adat. Islami dan adat tetap Yebba Zein bawa dalam acara pernikahan putri satu-satu nya tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2