
AAARRRGGGHHHHHH
Suara teriakan memekik dari arah aula, mengejutkan Mahda bersama teman-teman nya yang tengah menyantap camilan.
Tentu suara tersebut terdengar nyaring, antara kamar dan aula hanya terhalang mesjid dan pagar fiber yang tinggi nya tak seberapa.
Hah ada apa?
Sontak para santri berhamburan menuju arah suara di aula. Mahda yang penasaran pun ikut beranjak mengikuti beberapa teman nya yang tadi tengah sama-aama menyantap camilan yang ia bawa.
Terlihat santri putri berkerumun di samping mesjid, tak jauh berbeda denga santri putra pun yang berada di area aula mesjid.
Ada yang kesurupan kah?
Bisik-bisik di antara santri.
Mahda yang berada di belakang tak mampu melihat siapa yang berada di aula sana, yang berteriak seperti kesetanan.
AAAAARRRGGGHHH, GAK MUNGKIN
Teriak nya lagi.
Sebentar, suara kak Syihab bukan?
Mahda terlihat panik. Ia segera menerobos kerumunan demi bisa melihat ke depan.
Ada apa?
Belum sempat Mahda maju terlihat Ummi, Hubabah juga ustadz Muhammad keluar dengan berjalan tergopoh-gopoh.
"Gak tau, ustadz Syihab ngamuk di aula" ucap salah seorang santri putri.
Mahda menoleh sekaligus terkejut, dugaan nya benar, itu suara Syihab sang suami. Tapi kenapa?
Mahda segera menerobos, mengacuhkan sikut-sikut yang mengenai diri nya. Sedikit terengah-engah saat Mahda berhasil menerobos ke depan.
"Ada apa?" tanya Mahda masih bingung.
"Da" panggil Aly lirih sambil berjalan ke arah Mahda.
Tatapan Aly nanar, terlihat mata nya sedikit berair. Mahda masih tertegun di tempat nya dengan perasaan yang campur aduk, tak menentu.
"Ada apa bang? Kak Syihab kenapa?" tanya Mahda lirih, melihat Syihab masih mengamuk sambil menangis membuat nya keliru bagaimana harus bersikap.
"Emm, a-abi sama mama nya Syihab meninggal" ucap Aly.
Degh..
__ADS_1
Mahda kembali tertegun. Satu kalimat yang menghancurkan hati nya. Lutut serta persendian yang lain nya serasa lemas dalam serentak. Tubuh Mahda meluruh setelah mendengar kabar tersebut.
"Gak mungkin bang, tadi mama sama abi masih baik-baik aja. Kemarin kami baru menghabiskan waktu bersama bang. Abang bohong kan? Itu bukan mama sama abi" elak Mahda tak percaya dengan kabar yang ia dengar.
Kemarin mba Mahda keluar sama ustadz Syihab? Bukan nya baru tunangan ya?
Dalam kondisi seperti ini masih saja ada yang bergunjing mempertanyakan hubungan Mahda dan Syihab.
Dalam posisi duduk katak, Mahda masih menangis tersedu di hadapan Aly. Baru saja ia bergabung dengan keluarga ini namun ke dua mertua nya sudah pergi meninggalkan nya.
Sementara di sebrang sana Syihab sudah mulai tenang, tak terdengar amukan yang menggema dan mengejutkan hampir seluruh pondok seperti tadi. Namun sesekali tangisan pilu masih terdengar seiring cucuran air mata di pipi nya.
Mahda tak kuasa melihat penampilan Syihab yang begitu berantakan, bahkan separuh kancing baju nya terlepas saat ia di tahan karna amukan nya tadi.
Jika kuasa, rasa nya Mahda ingin berhambur memeluk sang suami. Memberi nya kekuatan meski hanya sekedar pelukan. Namun ini wilayah yang tak sembarang orang bisa menerobos wilayah santri putra, apalagi jika di sana ada golongan tersebut.
"Mahda kamu siap-siap ya, kita berangkat! Aly, mau ikut?" suara bariton terdengar dari belakang Mahda.
Ummi yang ternyata berdiri di belakang Mahda segera menyuruh Mahda bersiap. Sementara ustadz Muhammad terlihat sedang menelpon seseorang dan berlalu meninggalkan kerumunan.
"Ana naik motor aja Ummi" pinta Syihab masih setengah menangis merangkak mendekat ke arah Ummi dan Hubabah.
"Jangan gegabah Hab, yang ada bakal celaka semua" timpal Aly sedikit menaikan suara nya satu oktav.
"Enggak. Sayang, kita naik motor aja ya, temenin kakak" ucap Syihab tak peduli dan membuang rasa malu saat menyebut Mahda dengan kata sayang.
Allah kareem, jangan segitu nya ustadz, belum halal
Masih banyak bisikan-bisikan yang terdengar dari kerumunan para santri. Banyak pertanyaan yang terlontar mengenai ucapan Syihab pada Mahda.
"Syihab, tenang dulu ! Kita berangkat bareng" ucap Hubabah tegas.
Tak selang lama terlihat mobil berwarna hitam mendekat ke arah kerumunan. Santri putri mundur memberikan jalan untuk mobil tersebut.
"Ummi, ana berangkat duluan ya. Syihab, Aly, Mahda ayo masuk!" pamit ustadz Muhammad pada Hubabah. Tak lupa beliau terlebih dahulu mencium tangan Hubabah, tanpa pamit.
"Hati-hati! Nanti Ummi nyusul" ucap Hubabah.
Ustadz Muhammad mengangguk lalu segera masuk mobil di ikuti Syihab, Aly dan Mahda. Beliau duduk di depan, selebih nya duduk di kursi ke dua.
Mahda masih tak banyak berbicara, hati nya masih bergejolak antara sedih dan terkejut. Ia masih tak menyangka perpisahan tadi pagi adalah perpisahan nya yang terakhir dengan ke dua mertua nya.
Mahda meraih tangan Syihab dan menggenggam nya, mencoba menguatkan dan mengatakan bahwa aku ada di sini.
Satu jam perjalanan mereka tiba di Rumah Sakit X, terlihat Yemma Haniyah dan Yebba Zein pun sudah menunggu di sana.
Haniyah langsung memeluk Mahda saat mereka bertemu, begitu pun dengan Zein yang memeluk Syihab. Mata sembab tak bisa kedua nya sembunyikan. Berita yang mengejutkan serasa menghancurkan semua nya.
__ADS_1
Zein menyuruh Aly untuk membawa Syihab duduk. Sementara Zein berjalan mendekati ustadz Muhammad.
"Ana kaget denger nya ustadz" ucap ustadz Muhammad seraya menjabat tangan Zein.
"Ana juga, padahal tadi malam beliau masih chat-an sama ana, bilang kalau nginep di rumah Syihab, yang dia beli di perum deket pondok" tutur Zein.
"Bagaimana bisa seperti ini?" tanya ustadz Muhammad.
"Kata nya ada truk mau nyalip, kebetulan mobil ustadz Zainal lagi jalur situ, dan ya.." Zein tak bisa meneruskan kata-kata nya. Terlalu sakit jika membayangkan peristiwa tersebut.
"Zainal dan Balgis terjepit" satu kalimat namun berat Zein ucapkan.
Mahda yang mendengar pembicaraan Yebba nya dan ustadz Muhammad tak bisa membendung air mata nya lagi. Dada nya sesak dan teramat perih, lalu bagaimana dengan Syihab? Ke dua orang tua nya meninggal dalam waktu bersamaan. Kehilangan 2 mutiara di hidup nya dalam waktu yang begitu cepat.
...****************...
Selesai pemakaman Syihab masih tetap diam dengan pandangan yang kosong. Tubuh nya lemah, berjalan pun begitu gontai. Bahkan sekedar mengganti baju pun harus di bujuk dan di bantu Mahda.
"Kak, ganti baju dulu ya" ucap Mahda.
Syihab masih saja diam, pandangan nya kosong namun sayu. Mahda khawatir jika Syihab terus seperti ini ia akan sakit.
"Ma'af ya" izin Mahda lalu mencoba membuka satu persatu kancing baju Syihab.
Antara ragu dan gemetar, ini pertama kali nya Mahda mengganti baju Syihab. Padahal ia sering mengganti baju Sulthan, tapi entah mengapa rasa nya kali ini tak karuan, seperti lancang dan gugup.
"Jangan ninggalin ana" satu kalimat lolos setelah lama berdiam diri.
Tangan nya memegang tangan Mahda yang masih memegang kancing baju yang hendak ia buka.
Mahda yang berjongkok di hadapan Syihab langsung menatap nya. Menatap netra yang menyimpan luka yang begitu dalam.
"Jangan berfikir seperti itu" timpal Mahda.
Syihab ambruk ke bahu Mahda. Getaran hebat karna tangisan Syihab begitu Mahda rasakan. Satu tangan nya terangkat mengelus pelan punggung Syihab. Mahda mengurai pelukan nya lalu duduk di atas kasur sejajar dengan Syihab.
"Menangislah, setelah itu jangan lagi menangis. Mahda yakin ini yang terbaik, Alloh lebih sayang sama mama, sama abi" tutur Mahda lembut.
"Kenapa harus secepat ini? Bahkan ana belum sempet ngebahagiain mama sama abi" keluh Syihab.
"Semua nya sudah takdir, mama dan abi itu jodoh sehidup semati. Sweet bukan? Sekarang tinggal kakak yang buktiin bisa bahagia, bisa banggain mama sama abi. Mahda yakin mama sama abi bakalan bahagia kalau kakak juga bahagia" tutur Mahda sekuat mungkin tak menitihkan air mata nya.
Syihab kembali memeluk Mahda, menumpahkan segala kesedihan nya. Kini hanya Mahda yang ia miliki selain saudara, ia anak tunggal, tak ada bahu untuk bersandar ketika ia menangis selain sang istri.
......................
Jodoh dan kematian itu begitu dekat jarak nya, kita tak tau mana yang akan lebih dulu meminang kita, jodoh atau kematian.. Dan segala hal yang bernafas, pasti akan kembali kepada yang mencipta-Nya💔
__ADS_1