
Mahda~
Adek nya Aly?
Satu pesan masuk melalui aplikasi medsos berbentuk kotak ungu. Dengan terlebih dahulu sebelumnya aku tekan tombol menyukai foto nya. Dan hasil nya, taraaaaaa..
Orang yang tadi kami obrolkan dan berkunjung ke rumah ini tiba-tiba mengirim pesan.
Rasa nya ketar ketir hanya mendapat sebuah pesan pun. Bagaimana tidak? Peraturan pondok melarang kami untuk mempunyai hubungan khusus dengan penghuni asrama sebelah, dan ini?
Eh, eh, tapi aku sama dia tak ada hubungan kan. Sekedar kagum tanpa dia ketahui mungkin wajar. Tak memungkiri, mungkin dari banyak nya penghuni putri ada yang diam-diam bertegur sapa di dunia maya dengan penghuni asrama sebelah. Asal tidak seperti santri-santri yang berani melanggar dan berujung dengan hukuman, di iring di depan semua santri dengan putri duduk di arko dan di dorong putra. Ampun malunya.
Iya
2 hari kemudian aku baru sempat membalas pesan nya. Bukan tak ada waktu senggang, hanya sedang menimang apakah harus membalas nya atau tidak. Dan ku putuskan ya, aku akan membalas nya.
Hati serasa menggelitik saat ku putuskan membalas nya. Bibir merekah seketika, serasa ada rasa puas, padahal bila di ingat ini adalah pelanggaran.
Cinta kah, atau sekedar kagum?
Tanpa di duga, bang Aly seolah mencurigai, seolah tau apa yang terjadi sekarang.
Dan di awal ini, benar-benar hanya ber-say hallo. Sudah dan cukup. Rasa nya mendahului takdir itu tak bagus. Melanggar aturan takut juga ke depan nya seperti apa.
🍀🍀🍀🍀🍀
Hari berganti malam dan Mahda sudah berada di pondok. Berangkat lebih awal dari jadwal pemberangkatan santri lain nya. Kesemua itu karna Mahda kesal terus di bombardir pertanyaan, kapan mau nikah lagi?
Dan pertanyaan itu datang dari orang-orang terdekat nya yang tak menghargai perasaan nya.
Bukan tak ingin, setiap insan pasti ingin menyempurnakan agama nya, tapi apalah, jodoh yang tepat belum menghampiri.
Fikir Mahda kesal dan langsung memutuskan berangkat pada hari itu juga, membuat Aly dan Haniyah ketar ketir di buat nya. Asyik bersantai di samping rumah tapi tiba-tiba Mahda meminta berangkat saat itu juga. Mood yang selalu berubah-ubah layak nya ibu hamil.
Kenapa sih de?
Pertanyaan berulang kali yang Aly lontarkan pada Mahda saat di perjalanan, dan membuat Mahda jengah di buat nya.
Berada di pondok rasa nya lebih aman, kuping tak panas dengan cibiran para tetangga yang selalu membuat hati nya panas, ledekan silih berganti dengan gunjingan, memuakan bukan?
Ada saja segerintil emak-emak yang berghibah ria tentang Mahda padahal kejadian sudah lama berlalu. Mereka tak berfikir bagaimana susah nya membangun kembali, menata hati dan menjaga kewarasan.
Setidak nya di pondok, tidak ada yang mengatakan secara terang-terangan. Terlebih di belakang, itu terserah.
"Kenapa cemberut Da?" tanya Citra, teman dari Yemma nya yang kebetulan tinggal di pondok ini.
"Gak papa tanteu" jawab Mahda masih menekuk wajah nya.
Tanteu, sebutan menggelitik yang Mahda berikan untuk Citra. Sudah di hak paten dan tak bisa di ganggu gugat meski Citra sudah berulang kali merengek pada Haniyah untuk merayu anak nya, mengganti panggilan untuk nya.
Hah? Tanteu, tanteu? Yang benar saja, astaga Haniyah anak lo manggil ana tanteu.
Gerutu Citra saat pertama kali Mahda memanggil nya tanteu, kala itu.
__ADS_1
"Ko di tekuk wajah nya? Lagi kesel?" tanya Citra lagi.
Mahda mengangguk tanpa menjawab.
"Ada titipan nih" ucap Citra menyodorkan sebuah paper bag.
"Dari siapa?" tanya Mahda bingung.
"Ustadz ganteng" jawab Citra tenang.
Mahda seolah terkejut mendengar perkataan Citra.
Ustadz Syihab? Ngapain?
Batin Mahda.
"Tanteu, apaan sih ini? Jangan bikin ana masuk ke dalem masalah deh" lirih Mahda.
"Terima aja, mungkin ada niat baik ke depan nya" timpal Citra seraya tersenyum pada Mahda.
Seolah mengerti apa yang Syihab maksudkan.
"Gak kaya gini juga, nanti nya malah jadi masalah" tolak Mahda.
"Ya kher, nanti aty sampein" pasrah Citra.
Meski Mahda selalu memanggil nya tanteu, tapi jawaban dari Citra selalu aty, halaty.
"Tapi gak papa sini, sayang kan udah di beliin, hehe" kekeh Mahda dan langsung merebut papar bag yang sudah kembali di pegang Citra.
Citra menggelengkan kepala nya melihat tingkah Mahda. So so-an menolak tapi akhir nya di terima.
Satu paper bag berisi berbagai cokelat terpampang jelas di mata Mahda. Seperti tau kesukaan nya, atau diam-diam mencari tahu?
Entahlah.
*
*
*
Senyuman dari bibir Syihab mengembang saat melihat Mahda berjalan menuju kantor putri. Cara nya menundukan kepala benar-benar menunjukan ia benar-benar begitu menjaga pandangan nya dengan lawan jenis, pun dengan diri nya.
Meskipun belum secara gamblang menyatakan cinta, setidak nya sudah ada awalan jika dia berencana.
Semoga di mudahkan.
Batin Syihab.
"Lagi ngapain?" satu pertanyaan mengejutkan Syihab yang tengah asyik menatap Mahda.
"Ini, lagi muthola'ah kitab" dalih Syihab sambil menunjukan sebuah kitab di tangan nya.
__ADS_1
"Muthola'ah kitab apa ngesyuf adek gue?" tanya Aly secara gamblang.
Syihab mengembuskan nafas kasar, ternyata dia ketahuan tengan curi pandang pada adik Aly.
"Kalo gue jadi ipar ente, boleh gak sih Ly?" tanya Syihab to the point tapi bernada candaan.
"Berani ente?" tanya balik Aly menantang.
"Cih, ngeremehin. Gak berani kenapa?" timpal Syihab.
"Lu minta baik-baik gih kalo iya bener-bener serius. Jangan pernah kecewain adek gue" tutur Aly sembari menepuk pundak Syihab.
"Sawa? Ente ngizinin gue?" tanya Syihab sumuringah mendapat angin segar dari Aly.
"Ente suka sama Mahda dari dulu kan, sebelum dia zuad sama Ahmad? Ana tau, cuma ana diem. Ana pengen tau sejauh mana ente berusaha, eh ternyata di duluin Ahmad ya" tutur Aly sambil terkekeh.
Syihab membulatkan mata nya, terkejut karna diam-diam ternyata Aly mengetahui ketertarikan dia pada adik nya.
"Ente juga kemarin titip sesuatu buat Mahda kan lewat mba Citra? Cih, jangan ngebahayain Mahda lah. Di hukum kalian tau rasa. Gentle man dong, minta sama Yebba sama Yemma baik-baik" sambung Aly.
"Terlalu pengecut ya. Ana takut di tolak sebelum bertindak" timpal Syihab lesu.
"Cobain dulu, ente gak bakalan tau hasil nya kalau belum nyoba!" titah Aly.
Syihab tersenyum dan memeluk Aly. Teman seperjuangan nya sedari I'dad di pesantren lama, dan kini sama-sama berkhidmah di pesantren A****. Dan sebentar lagi ia akan menjadi kakak ipar nya, Allah Allah.
*
*
*
Beberapa hari kebelakang matahari sungguh sulit untuk sekedar menampakan sinar nya. Tapi beruntunglah hari ini, semakin siang sinar nya semakin nampak. Memberikan kebahagiaan tersendiri bagi para santri yang jemuran nya susah sangat menumpuk, terlalu lama menggantung di tempat jemuran.
Akhirnyaaaaa..
Teriak Devi yang gembira melihat matahari yang terang bersama sinar nya.
Fix, pakaian hari ini kering.
Girang Afiyah.
Sementara Mahda, ia tengah menikmati hangat nya mentari seraya memandang pohon palm phoenix yang tengah berbuah di taman depan asrama.
Sungguh indah.
Batin Mahda.
*
*
__ADS_1
Gimana nih? Gas jangan Syihab sama Mahda?