
Syuuuutttt.. Braagghhh..
"Allah yahfadz"
Mahda yang tengah di kamar mandi merasa terkejut dan berlari keluar.
"Bukan kak Syihab yang jatuh lagi dari tempat tidur kan?" gumam Mahda setengah panik.
"Da, sayang.." teriak Syihab dari arah yang berlawanan.
Mahda pun segera berlari menuju arah suara. Dengan detak jantung yang cukup tak beraturan karna suara yang mengejutkan nya tadi, bahkan terasa menggetarkan rumah tersebut.
Apa gempa? Batin Mahda takut.
Saat hendak melewati ruang tengah, Mahda kembali di buat terkejut dengan kondisi ruangan yang begitu berantakan. Lemari yang berguling dan tentu saja barang-barang yang di dalam nya ikut pecah. Kursi pun tak luput dari penampakan yang tak indah, hancur, penyok bahkan ada yang terbelah dua.
"Ya Allah kak.."
Mahda histeris lagi saat mengarahkan pandangan nya pada kamar Syihab. Seketika Mahda merasa lemas tak berdaya dan duduk di lantai, di samping Syihab yang masih berdiri termangu menatap apa yang terjadi di depan nya.
"Firasat istri emang suka bener ya, gak mau regud di ghurfah itu, eh kejadian sekarang. Gak kebayang kalau regud di sana dan kakak di dalem ghurfah, peyek ana" tutur Syihab.
"Ya Allah, kamar kenangan gue" isak Mahda pilu.
Syihab jujur begitu terkejut mendengar perkataan yang baru saja di ucapkan oleh Mahda. Ia sedih karna kamar yang pernah menjadi saksi bisu mereka rusak, bukan khawatir akan diri nya, ckk Allah kareem.
"Kamu gak khawatir sama kakak? Gimana kalau ana di dalem sana?" tanya Syihab yang sebenarnya kesal dan gemas secara bersamaan.
Seperti tersadar seketika, Mahda buru-buru menormalkan ekspresi di wajah nya dan langsung berdiri memeluk sang suami.
__ADS_1
"Tentu Mahda lebih khawatir sama kakak. Kakak gak kenapa-kenapa kan?" tanya Mahda dengan mimik muka yang ia rubah secepat mungkin dari cenggo menjadi khawatir.
"Kamu lihat sendiri deh" jawab Syihab cuek karna sedikit kesal pada sang istri.
"Ciyee hawas" ledek Mahda yang mencoba menggelitik Syihab.
"Nggak" elak Syihab berbohong.
"Allah kak, foto mama sama abi" Mahda kembali berteriak mengingat foto kedua mertua nya yang pasti hancur tertimpa reruntuhan di ruangan tersebut.
Tanpa ba-bi-bu Syihab segera berlari menuju tempat dimana foto kedua orang tua nya di letakan. Hampir saja tubuhnya melorot namun bisa terkendali saat melihat foto orang yang tak lagi bisa ia sentuh tak seperti yang ia khawatirkan.
Fotonya selamat. Lirih Syihab.
"Minta tolong sama santri-santri lah buat beresin, sama panggil tukang sekalian" lanjut Syihab.
**
Tepat pukul 16:35 WIB reruntuhan baru bisa selesai di bereskan. Pemotongan kayu yang besar pun sudah rampung, dan juga sudah mulai di bereskan. Beruntunglah semuanya cepat selesai karna gotong royong dari para santri juga tukang yang Syihab panggil.
Yemma Hani dan Yebba Zein pun tak selang lama langsung mendatangi rumah Syihab setelah Mahda mengabari bahwa pohon besar di samping rumah nya rubuh menimpa rumah. Bahkan Yebba Zein sempat menyemburkan gahwa (kopi) yang tengah ia minum saat mendengar kabar tersebut. Yebba Zein khawatir anak perempuan dan menantu nya kenapa-kenapa.
Mahda sayang kamu gak papa? Ada yang luka? Mana yang sakit? Allah Allah, Syihab gimana?
Cerocos Yebba Zein sewaktu tiba di rumah Syihab.
Alih-alih terharu di khawatirkan oleh Yebba nya, Mahda malah merasa geli karna sang Yebba menjadi comel mirip Hami nya, Irfan.
Dih, Yebba. Kenapa jadi mirip Hami?
__ADS_1
Celetuk Mahda dan membuat Yebba Zein mengerucutkan bibir nya karna di samakan dengan adik ipar nya sendiri.
**
Sesuai rencana awal, hari ini Syihab dan Mahda memulai rincian perjalanan honeymoon nya. Dengan mengendarai mobil putih milik Yebba Zein, Syihab dan Mahda di lepas oleh Yemma Hani dan juga yang lain nya.
Seperti biasa, ada drama dulu di awal saat Mahda hendak berangkat. Sulthan yang merengek manja ingin ikut dengan Syihab dan Mahda. Untunglah ada segudang mainan yang akhirnya bisa mengalihkan perhatian nya.
Tujuan pertama nya adalah destinasi wisata dengan hamparan alam yang begitu asri. Sepanjang perjalanan pun mereka di suguhi dengan pemandangan yang benar-benar menyejukan mata.
Pohon-pohon yang tinggi berjejer rapih di tepi jalan, rumput dan pesawahan, sungai yang jernih. Ah, serasa di Switzerland.
**
Saat membuka mata yang pertama Mahda lihat adalah paras tampan nan rupawan milik Syihab. Rasanya masih tak menyangka the most wanted boy di pesantren nya dulu ini sekarang tidur di sebelah nya.
Langit masih gelap dan itu waktu yang sangat baik untuk menghirup udara yang belum tercemari oleh hiruk pikuk nya polusi. Selesai melaksanakan kewajiban nya sebagai makhluk kepada Tuhan nya, Mahda keluar dari villa dan merentangkan tangan nya, menghirup dalam-dalam udara sejuk dan segar, udara yang sangat ia rindukan, yang rasa nya ingin ia hirup setiap hari.
Sementara Mahda bersantai dengan menghirup udara segar di pinggir kolam kecil yang menghadap langsung ke sawah dan gunung, Syihab bersiap hendak menceburkan diri ke kolam kecil di hadapan Mahda. Padahal jika di rasakan udara masih begitu dingin, namun Syihab tetap nekat untuk berenang.
Bukan Syihab jika tak jahil pada Mahda, kali ini Syihab tak mau melewatkan kesempatan. Dengan sengaja Syihab mencipratkan air pada Mahda. Jelas Mahda kaget saat diri nya yang tengah santai menikmati hangat matahari dan udara yang sejuk namun di buyarkan oleh sang suami.
Mahda yang kesal dan kepalang dingin juga basah, balas mencipratkan air pada Syihab. Mendapat semburan yang bertubi-tubi Syihab pun hampir kewalahan dan tersedak karna air yang masuk.
Pagi ini pun menjadi ajang basah-basahan di kolam, bukan seperti yang readers harapkan, hihi.
Memandang gunung dan alam sektiar yang begitu asri rasanya memang tak bosan, sama hal nya dengan Syihab dan Mahda lakukan, mereka memilih sarapan di tempat yang lebih bisa memanjakan mata nya sebelum suasana semakin ramai.
__ADS_1