
Burung-burung berkicau bersahut-sahutan, tetes embun memuai bersamaan dengan angin yang menghembus semilir, seiring dengan fajar yang menyingsing begitu indah dari belahan bumi bagian timur.
Mahda meregangkan tangan nya merasakan tidur nya yang nyaman malam tadi. Di lihat nya sang suami yang sama terbangun karna pergerakan nya barusan.
"Ngobrol apa semalem sama Yebba? Lama banget" tanya Mahda.
"Ke hammam dulu, keburu siang!" alih-alih menjawab Syihab malah menyuruh Mahda segera pergi ke kamar mandi.
"Ya kher" timpal Mahda pasrah dan mendahului Syihab menuju kamar mandi.
Menyelesaikan ritual setiap pagi seperti 10 hari terakhir.
"Ngobrol apa sih semalem?" tanya Mahda lagi yang mulai tak sabar ingin tahu apa yang di obrolkan sang suami juga Yebba nya.
"Sarapan dulu sayang, laper kan?" dan lagi, Syihab mengalihkan pembicaraan.
Mahda dengan berjalan malas segera turun ke bawah guna membawa sarapan nya pagi ini. Ia berencana menikmati pagi sambil sarapan di balkon depan kamar nya.
"Syihab nya mana?" tanya Haniyah yang tengah menata beberapa roti bakar dengan selai cokelat kesukaan keluarga nya.
"Mau sarapan di atas aja Ma. Ma, semalem Yebba ngobrol apa sih sama kak Syihab?" tanya Mahda. Sekarang ia lebih memilih bertanya pada sang Yemma.
"Gak tau, Yemma gak nanya sama Yebba" jawab Haniyah datar.
"Harat, apaan sih Ma" rengek Mahda mendekati Haniyah bahkan menyenggol nya, hampir membuat nya tak seimbang.
"Sarapan dulu, nanti kita ngobrol bareng-bareng di saung. Kasian suami kamu nungguin sarapan nya" titah Haniyah mengakhiri.
Dan pada akhir nya Mahda kembali ke atas dengan membawa beberapa roti bakar yang sudah di beri selai, 2 gelas kopi panas dengan jahe bakar di dalam nya.
Menikmati sarapan pagi di balkon depan kamar nya. Berdua dengan pacar halal yang masih harus lebih banyak waktu untuk mengenali nya lagi. Merasakan angin sepoi-sepoi yang menerpa wajah juga dedaunan yang masih nampak basah oleh embun.
Mahda sesekali menyesap kopi hangat di tambah hangat nya jahe bakar yang melegakan tenggorokan nya.
..
"Mau kemana?" tanya Syihab yang melihat Mahda hendak melenggang keluar dari kamar mereka.
"Ke Yemma, mau ikut?" tanya balik Mahda.
"Enggak, jangan lama-lama" jawab Syihab sambil mengedipkan sebelah mata nya, berlaga so genit pada sang istri.
"Issshhh" Mahda bergidik ngeri melihat tingkah so genit sang suami, lalu segera pergi keluar dari kamar nya.
Berjalan melewati kamar sang kakak, lalu turun menapaki pijakan demi pijakan tangga. Melewati ruangan besar lalu sampailah di taman samping rumah yang terdapat saung tempat favorite ia dan keluarga menghabiskan waktu sore nya. Tak banyak yang di ubah semenjak rumah tersebut jadi, hanya beberapa yang di rombak, termasuk saung yang di rombak lebih di perbesar ukuran nya.
Terlihat Haniyah yang sudah menunggu nya dengan Sulthan yang berada di depan nya.
__ADS_1
"Ma.." sapa Mahda.
"Beik" jawab Haniyah.
"Ngobrol apa sih Ma?" tanya Mahda tak sabar.
"Hmmm.. Yebba ngusulin walimah di adain secepat nya, tapi Syihab nolak kata nya, alasan nya biaya nya belum ke kumpul apalagi kemarin orang tua nya meninggal. Yebba cuma takut kamu keburu hamil tapi kalian belum punya surat nikah. Menurut kakak gimana?" tutur Haniyah.
Mahda menghela nafas nya kasar, sudah bisa menduga apa yang di obrolkan Yebba dan suami nya semalam.
"Kakak udah pernah bilang minta di urusin aja surat nikah nya, kaya Yemma sama Yebba dulu. Tapi kak Syihab keukeuh pengen akad lagi" tutur Mahda lirih.
"Kalian udah?" tanya Haniyah sambil mengatupkan ke dua tangan nya.
"Maksud Yemma?" tanya balik Mahda memicingkan mata nya tak mengerti.
"Masa gak ngerti" jawab Haniyah kesal.
"Oohhh, itu. Privasi dong Ma" timpal Mahda malu-malu.
"Nanti kakak bicarain lagi sama kak Syihab nya. Tapi, kalau menurut Yemma gimana?" sambung Mahda.
"Ya menurut Yemma mending acara nya di percepat, secara Syihab terus nyuplai tidak memungkinkan kakak bakalan gini" tutur Haniyah mengisyaratkan perut orang hamil.
"Ada bagus nya juga kan, Yemma jadi bu hajat, banyak yang kondangan" sambung Haniyah menampakan senyum manis nya.
"Softoh. Coba ajak ngobrol lagi suami kamu. Masalah biaya Yemma juga gak bakal ngebebanin sama Syihab" timpal Haniyah.
"Tapi hari ini kita rencana mau berangkat Ma" lirih Mahda.
"Di pending lagi, besok aja. Emang gak kangen rumah ini?" goda Haniyah.
"Kangen nya masakan Yemma" jawab Mahda menggelayut manja di pelukan Haniyah.
......................
Di dalam kamar bercat putih gading, terdapat 2 makhluk Tuhan yang duduk bersebrangan dengan mata yang menyorot tajam.
"Kenapa sih Da, dateng-dateng manyun gitu?" tanya Syihab yang bingung melihat sang istri menekuk wajah nya.
Mahda masih enggan menjawab, melipat ke dua tangan nya di dada dan menyandarkan tubuh nya di sofa.
Mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nya perlahan sebelum memulai berbicara. Ia akan menuruti saran Yemma nya untuk berbicara dengan Syihab, merayu nya dengan lembut jika bisa penuh godaan.
"Kakak sayang" ucap Mahda lirih dengan suara nya yang sedikit parau.
"Beik. Ngeri kakak denger suara kamu kaya gitu" timpal Syihab.
__ADS_1
"Hih, mau di goda juga" belum apa-apa Mahda kembali berdecih sebal. Bukan nya luluh, Syihab menjadi merasa tertantang.
Pada akhir nya setelah melewati pertimbangan juga beberapa perdebatan Syihab mengalah, menuruti keinginan sang istri setelah di ancam tak akan mendapat jatah dengan alasan takut keburu hamil tapi belum punya surat nikah.
"Padahal Yebba semalem udah bilang gitu kan? Kenapa gak mempan? Emang apa-apa mesti sama pawang nya ya" gerutu Mahda pelan.
"Kita jadi berangkat sekarang?" tanya Syihab.
"Besok aja pagi-pagi, masih betah di sini" jawab Mahda lembut setelah mendapat keputusan yang memuaskan hati nya.
Seperti rencana sebelum nya, acara walimah akan di gelar satu bulan lagi. Berarti persiapan harus segara di persiapkan mulai dari sekarang. Dan Mahda menyerahkan nya pada ke dua orang tua nya.
..
Semilir angin dingin mulai terasa menerpa wajah, menyeruak masuk ke dalam tulang dalam tubuh. Sepasang insan muda yang tengah di mabuk cinta berjalan berdua di bawah hitam nya langit malam berabur bintang. Dengan tangan yang saling bertautan, Mahda dan Syihab berjalan kembali ke rumah setelah bersilaturahmi ke rumah jidaah Ita.
Hampir saja Mahda melupakan jiddah Ita jika saja beliau tak mengomel karna Mahda belum berkunjung ke rumah nya padahal sedang berada di rumah Zein.
"Mahda, udah lupa ya kamu sama jiddah. Tega sama jiddah, gak kangen sama jiddah?"
Gerutu jiddah Ita kala menelpon Mahda saat itu. Dan tak menunggu lama Mahda segera bergegas ke rumah jiddah Ita dan mengajak serta sang suami.
Di rumah jiddah Ita pun kedua nya kembali di cerca untuk segera mengesahkan pernikahan nya sebelum Mahda berbadan dua.
"Jiddah bawel kaya Yemma" ucap Mahda.
"Dan kamu tidak menyadari kalau kamu juga bawel Mahda?" ucap jiddah Ita membalikan tuduhan Mahda.
Mahda mendengus kesal saat di skakmat oleh jiddah nya sendiri. Entah turunan atau sifat alami seorang perempuan, ia begitu bawel.
Memasuki rumah besar Zein keadaan sudah sangat sepi, maklum jam sudah menunjukan pukul 10 malam. Penghuni rumah sudah mulai kembali ke kamar nya dan bersiap untuk melepas lelah.
"Gak pegel itu tangan dari rumah jiddah nempel mulu?" cibir Aly yang kebetulan menjadi penonton gratisan dari saat Mahda dan Syihab pulang dari rumah jiddah Ita.
Entah sengaja atau apa, jiddah Ita menyuruh Aly untuk mengantarkan Mahda dan Syihab pulang padahal niat awal nya ia akan menginap di rumah jiddah Ita.
"Oh ya, hampir Mahda lupa kalau abang ada di sini, hehe. Al'afwu bang" kekeh Mahda.
Aly pun berjalan mendahului dari pada mata nya terus merasa panas melihat adegan di depan mata nya, tangan yang terus berpegangan, Mahda yang bergelayut manja, Syihab yang mencium pucuk kepala Mahda.
Wait, wait, wait.. Ini mengganggu jiwa jomblo..
Batin Aly.
"Kalau udah ketemu sama pawang nya kaya gitu ya, gak kenal malu, dulu aja cuek nya na'udzubillah" gerutu Aly meninggalkan Mahda dan Syihab yang baru saja menapaki tangga pertama.
......................
__ADS_1
Beberapa hari gak up, mohon ma'af ada acara beres nya tumbang😂😂 Tak qodhoin deh insyaa Alloh🤗