Cinta Terhalang Dinding Pesantren Season 2

Cinta Terhalang Dinding Pesantren Season 2
Positano


__ADS_3

Positano, sebuah kota di Eropa yang memiliki pemandangan dan spot wisata yang menakjubkan. Bukit-bukit dengan rumah yang seperti saling bertumpuk menjadi pemandangan yang Mahda nikmati saat bekunjung kesana.



Dengan menaiki sebuah bis kecil Mahda dan Syihab bertolak ke kota tersebut. Indah. Satu kata yang pantas terucap dari bibir tiap insan, namun jujur di balik keindahan tersebut terselip adrenaline yang harus Mahda dan Syihab nikmati selama perjalanan.


"Bener-bener uji nyali deh kak. Pinggir jurang banget ini, nengok depan bagus, nengok bawah berasa mau pingsan. Jalan nya kecil banget pula" keluh Mahda dengan tangan yang begitu erat memegang lengan Syihab.


"Sabar, bentar lagi nyampe. Lihat yang indah di depan aja, gak usah nengok-nengok yang bikin kamu spot jantung" jawab Syihab menenangkan Mahda, padahal dalam hati pun ia merasa gelisah tak karuan menikmati jalanan tersebut.


Ibarat kata setelah badai akan ada pelangi, begitu pun sekarang, setelah melalui jalan yang menguji nyali Mahda dan Syihab di suguhkan dengan pemandangan yang menakjubkan.


Asma Allah tak henti-henti nya Mahda lafalkan saat kaki nya berhasil menapaki tempat indah tersebut. Sebetulnya sedari dalam bus bibir Mahda terus menerus komat kamit menyebut nama sang pencipta karna ketakutan nya.


"Udah lega?" tanya Syihab melihat ekspresi sang istri yang kini berubah menjadi senyuman manis.

__ADS_1


"Alhamdulillah" jawab Mahda tenang.


Dengan cepat Mahda menarik tangan Syihab menuju pantai, memainkan pasir yang di iringi ombak yang menderu seolah menjadi pengiring.


Tak begitu besar dan banyak pengunjung menjadikan pantai tersebut terasa lebih asri dan segar, nyaman di bandingkan pantai-pantai pada umum nya yang kebanyakan terdapat banyak orang berlalu lalang dan berjemur diri. Entah kebetulan atau apa, saat Mahda berkunjung ke pantai sedang keadaan sepi, tak seperti biasa nya dan pada umum nya, namun itu yang Mahda suka.


Layaknya anak muda pada umum nya, Mahda mencoba menulis nama nya dan Syihab di atas pasir dengan hati sebagai bingkai nama mereka berdua. Buru-buru Mahda mengambil gambar sebelum nama nya dan sang suami terhapus oleh ombak yang datang menerjang.


"Mau minum air kelapa gak?" tawar Syihab pada Mahda.


Mahda menggeleng, malah asyik dengan benda pipih yang ia gunakan untuk mengambil gambar, padahl jelas-jelas ia mempunyai kamera yang kini di bawa oleh sang suami.


"Kita cari makan yang halal" jawab Syihab lalu memasukan kamera nya ke dalam tas kecil yang selalu ia bawa.


Meraih tangan Mahda dan mulai menjauh dari bibir pantai, menapaki satu persatu tangga untuk mencari restaurant yang sudah jelas kehalalan nya. Bukan tanpa alasan, di luar negri seperti ini jika kita tak begitu faham takut salah-salah kita makan yang tidak di perbolehkan.

__ADS_1


******


Selesai dengan urusan perut nya, Mahda lebih memilih mengajak Syihab untuk kembali berjalan-jalan sebelum akhirnya kembali ke hotel yang akan menjadi tempat nya beristirahat malam ini.


Melewati beberapa toko yang menjual aneka ragam oleh-oleh tak membuat Mahda kalap mata, tak begitu menanggapi tatkala Syihab menawari nya untuk berbelanja oleh-oleh. Namun saat ia melewati lapak bunga, Mahda seketika berhenti dan langsung memilih bunga-bunga yang nampak segar.


"Kak, beli ya buat di bawa ke hotel" rajuk Mahda.


"Layu nanti loh, katanya gak mau lama di sini, pengen cepet-cepet pindah liburan" bujuk Syihab.


Mengingat keluh kesah nya Mahda di negara ini membuat Syihab mengurungkan niat nya untuk berlama-lama dan memutuskan untuk segera bertolak ke negara selanjutnya yang menjadi tujuan nya.


Sebenarnya jalan-jalan panjang yang Yemma dan Yebba berikan membuat Syihab merasa tak enak, namun apalah daya ke dua mertua nya tersebut selalu memaksa untuk nya menerima, seperti hal nya kali ini, dari mulai tiket hingga bekal ia di beri, membuat Syihab merasa semakin sungkan dan tak enak hati, padahal ada rencana yang ingin ia wujudkan saat ini, merenovasi rumah.


Melihat respon Mahda yang cemberut membuat Syihab tak enak, akhirnya ia pun mengizinkan dengan syarat cukup satu yang ia beli.

__ADS_1


"Jangan banyak-banyak, besok kita ke taman bunga nya aja ya, pokok nya Mahda bakal puas di sana" jelas Syihab dan di angguki Mahda.



__ADS_2