
Banyak pertimbangan yang Mahda fikirkan setelah pembicaraan nya dengan Yemma Hani saat pulang kemarin. Beliau meminta Mahda agar tak kembali ke pondok dan tinggal di rumah, bisa nyambi mengajar di pondokan njid Mahbub yang kini di teruskan oleh Yebba Zein. Namun Mahda mengembalikan semua keputusan nya kepada sang suami, Syihab.
Hari-hari Mahda semakin sibuk mendekati hari pernikahan masal yang di adakan di Pesantren A****. Acara tahunan yang biasa di gelar dengan menikahkan santri-santri nya.
Mahda pun sedikit-sedikit mulai menyerahkan tugas nya sebagai bendahara pada Afiyah. Mencegah apabila Mahda benar-benar harus tinggal di rumah nanti setelah acara resepsi.
Rangkaian persiapan mulai di lakukan mengingat acara tinggal 2 hari lagi. Mahda pun ikut menyiapkan segala macam persiapan dan menitipkan Sulthan sementara waktu pada Aly dan Syihab.
Team pemasang dekorasi mulai datang dan memasang tenda yang berlokasi di depan kelas putri. Sementara masak memasak tetap di dapur belakang. Santri putri mulai hilir mudik membantu mengupas dan mengerjakan pekerjaan yang lain nya. Dan ada pula yang membuat bolu dan makanan ringan lain nya di samping rumah Abuya, termasuk Mahda yang berada di sana tengah membuat bolu.
Santri putra pun tak kalah sibuk nya, membersihkan juga merapihkan rumput-rumput juga pohon bambu yang mulai tinggi melewati batas pagar.
Aly yang bertugas mengarahkan baru saja selesai mengecek satu persatu pekerjaan sembari menggendong Sulthan yang manja tak mau pada siapa pun. Aly pun berjalan menuju ruang asatidz yang mana di dalam nya ada dua calon pengantin laki-laki.
"Sold out lagi ente Dar" ucap Aly.
"Iya, ngarep jadi adek ipar ente tapi gak jadi terus" timpal Haidar tanpa tau malu, untung saja di sana tak ada Syihab, jika ada sudah bisa di pastikan Syihab yang akan membalas ucapan Haidar.
"Loh, siapa suruh gak gercep" balas Aly.
"Kemarin udah gercep tapi malah di serobot Syihab" balas Haidar lagi.
"Maksud ana dulu, kemaren sih Mahda udah jelas gak bakalan mau" timpal Aly dan mendudukan Sulthan di pangkuan Haidar.
Untuk hari-hari ini Aly tak seperti biasa nya, bersikap baik pada Haidar, tak seperti biasa nya terlihat dingin. Entahlah, semenjak perlakuan Haidar pada Mahda dulu, respect pada teman nya yang satu ini tiba-tiba menghilang. Di tambah Haidar yang terus mengejar Mahda padahla sudah tahu jika Syihab telah di jodohkan dengan Mahda.
"Gak dapet Mahda, tapi tolong jagain adek nya. Ana mau regud dan Syihab lagi keluar" tutur Aly dengan tenang nya.
"Dasar, baek ke ana ada mau nya" timpal Haidar namun tetap mau menjaga Sulthan dengam sedikit bujukan.
..
Mahda yang sudah selesai dengan tugas nya langsung membersihkan diri dan beniat untuk menjemput Sulthan yang di tiitpkan pada abang dan suami nya.
Berjalan melewati beberapa bangunan hingga sampailah ke deretan kamar asatidz. Mengetuk pintu Aly terlebih dahulu, barangkali Sulthan ada di dalam bersama Aly. Namun nihil, beberapa kali di ketuk tak ada yang menyahut. Begitu pun dengan kamar Syihab, Mahda tak mendapat jawaban.
"Pada kemana sih?" gumam Mahda.
Namun saat Mahda berbalik ia di kejutkan dengan Sulthan yang tengah di gendong oleh Haidar.
"Allah yahfadz" ucap Mahda terkejut.
__ADS_1
"Tan, pulang yuk. Udah sore, mandi dulu" ajak Mahda tanpa menyapa orang yang menggendong Sulthan.
"Sulthan udah di mandiin sama ana tadi, tinggal ganti baju nya aja. Aly sama Syihab lagi keluar jadi nitipin Sulthan sama ana" jelas Haidar tanpa di minta.
"Oh, syukron kalau gitu" timpal Mahda ketus namun masih terdengar lembut di telinga Haidar.
"Da, tolong ma'afin ana" ucap Haidar tulus.
"Ana udah ma'afin antum, dari dulu" jawab Mahda dan mencoba meraih Sulthan yang masih di gendong Haidar.
"Yakin? Kenapa masih ketus gitu? Mahda yang ana kenal bukan kaya gini" tutur Haidar begitu sangat menyedihkan.
Mahda menghembuskan nafas nya kasar sebelum kembali menjawab perkataan Haidar.
"Situasi dulu dan sekarang beda, Haidar. Dulu ana menghormati antum karna ada secerca harapan yang ana titipkan, namun saat antum mematahkan harapan tersebut, berkurang sudah rasa hormat itu. Ma'af jika ana tidak sopan, namun jujur untuk bersikap baik-baik saja seperti dulu itu sulit. Terlalu dalam dan menyakitkan saat antum melakukan itu semua. Kalau saja bukan dengan Aliya mungkin takkan sesakit ini. Dan ana minta, stop! Jangan bertingkah konyol dengan meneror ana terus menerus. Ada hati yang harus ana jaga, dan hati yang harus antum jaga pula. Hargai Ratih. Lupakan ana!" tutur Mahda panjang lebar lalu meraih Sulthan dengan paksa.
Untuk pertama kali nya Mahda menyebut nama laki-laki tersebut sesuai nama nya.
"Tapi rasa itu masih ada Da, jujur. Mengganti kamu dengan Ratih ataupun Aliya sungguhlah sulit" timpal Haidar.
"Tapi tidak dengan ana. Stop mengatakan yang tidak-tidak. Mau bagaimana pun kamu mengoyak hati ana, sudah tidak ada nama antum di sana. Sudah ada yang lebih berhak dan tepat, juga Insyaa Allah takkan menyakiti ana" jelas Mahda dan berlalu dari tempat sana.
Mahda tak menyangka niat nya mengambil Sulthan malah kembali bertemu dengan Haidar. Ia memang telah mema'afkan Haidar dengan apa yang ia perbuat dulu, itu semua sudah takdir nya, tapi untuk kembali meski jika saja Mahda tidak pada Syihab, Mahda tak mau.
Batin Mahda.
Tanpa Mahda dan Haidar ketahui, ada sosok yang mendengar pembicaraan mereka.
...----------------...
"Mahda, bantuin ngerias koper ya!" pinta Zulaikha.
"Siap" timpal Mahda lalu masuk mengikuti Zulaikha ke dalam rumah Abuya. Sementara Sulthan sudah kembali di boyong ke asrama utama oleh santri putri sebelum melaksanakan acara pembacaan burdah sekaligus malam henna.
Mulai melipat beberapa baju koko juga jubah untuk di masukan ke dalam koper lalu merias nya, bersama dengan cuci muka khusus laki-laki, jam tangan, tas kecil dan juga sandal.
"Da, ente beresin yang buat ustadz Haidar ya!" titah Zulaikha.
Lagi dan lagi Mahda harus berurusan dengan hal yang berkaitan dengan Haidar. Ingin menolak pun susah.
Sementara Mahda merias koper, di tenda pelaminan santri putri mulai mempersiapkan alat hadroh dan yang lain nya, menggelar karpet untuk tempat duduk para santri.
__ADS_1
Tabuhan hadroh mulai terdengar mengiringi para santri yang tengah membaca Qosidah Burdah. Mendo'akan para calon pengantin agar acara pernikahan nya lancar juga menjadi pernikahan yang barokah.
Ratih dan Nisa duduk di depan, di samping para pemain hadroh dengan tempat yang sudah di sediakan.
"Ini yang mau ngehenna-in siapa?" tanya ustadzah Nur.
"Yang bisa cuma mba Mahda sama Hilya" jawab Tika.
"Mahda nya mana?" tanya ustadzah Nur.
"Lagi ngerias koper sama mba Eha" jawab Tika lagi.
"Tih, kamu nanti nunggu mba Mahda ya" ucap ustadzah Nur pada Ratih. Sementara itu Nisa tengah di henna oleh Hilya.
..
Mahda merentangkan tangan nya setelah selesai merias koper yang berkali-kali di bongkar karna menurut Mahda penataan nya kurang bagus.
"Sulthan di mana ya?" tanya Mahda sendiri.
"Mba, ana pamit ya, mau nyari si bontot" pamit Mahda pada Zulaikha.
Mahda pun berjalan menuju area halaman kelas yang tengah berlangsung acara pembacaan burdah sekaligus malam henna, hendak mencari Sulthan yang tadi di bawa Tika.
"Loh, Sulthan tidur Ka?" tanya Mahda melihat Sulthan yang tertidur di gendongan Tika.
"Iya nih, udah pegel aku mba" jawab Tika.
"Sini ana tidurin ke ghurfah" timpal Mahda.
"Tapi mba Mahda di minta buat ngehenna mba Ratih kata nya" balas Tika.
"Sekarang?" tanya Mahda lagi.
Tika hanya menganggukan kepala nya dan berlalu meninggalkan Mahda untuk menidurkan Sulthan di kamar Mahda.
..
"Ana tau semua nya, dan mendengar pembicaraan kalian" ucap seseorang yang mengejutkan lawan bicara nya.
*
__ADS_1
*