
Bulan di malam tanggal 15 memancarkan cahaya nya, begitu terang dan indah. Bulatan sempurna yang bahkan bisa memanjakan setiap mata yang memandang nya.
Mahda berjalan di bawah sinar bulan yang menerangi alam malam ini. Cahaya nya yang bahkan sampai tembus ke kamar-kamar jika lampu telah di matikan.
Ruangan berukuran 5x10 meter sudah mulai menggelap, sebagian lampu sudah di matikan di bagian tertentu. Mahda yang kebetulan baru memasuki gerbang hitam 2 membelokan arah nya menuju hammam.
"Eh, baru liat ya. Mba siapa?" tanya nya.
"Ana Mahda, antum siapa?" tanya balik Mahda.
"Ana Alfi, kalau ini Ratih" jawab orang tersebut.
2 orang santri yang baru masuk satu minggu kemarin, melanjutkan kelas takhasus sekaligus berkhidmah di pondok ini.
"Oh, salam kenal ya mba" timpal Mahda sopan lalu pamit mendahului kedua orang tersebut.
Masuk ruang khusus lemari dan mengambil baju kenegaraan nya untuk tidur, daster. Lelah di perjalanan tadi, Mahda izin untuk tidak ikut membantu kegiatan kupas mengupas di dapur untuk esok hari.
Membaringkan tubuh nya di kasur berukuran 1x2 meter dengan sprei cokelat dan selimut senada sebagai penghangat nya malam ini.
Tak ada selimut hidup yang biasa nya memeluk menghangatkan diri nya. Kini sementara harus berjauhan, menahan rindu kala tak bisa bertemu.
......................
Tepat pukul 8 semua panitia untuk acara haflah di minta untuk berkumpul di saung belakang kelas. Hari ini adalah rapat terakhir mengingat 4 hari lagi adalah acara puncak nya. Persiapan pun sudah hampir selesai, tinggal membagikan baju seragam dan pretelan nya kepada panitia.
Mahda yang kebetulan tengah menunggu Afiyah beridiri bersandar di bawah pohon kersem. Pohon rindang yang berjejer di depan kelas sebagai penyejuk kala panas mendera di siang hari.
"Kersem nya udah merah-merah tuh Ha, panjat gih!" titah Syamsiah, sesama mba yang mengabdi di pondok sini.
"Gak bisa, coba titah si Atin!" timpal Zulaikha.
"Atin lagi nyuci, enak banget tuh merah-merah menggoda" ucap Syamsiah lagi.
"Gak bisa Syamsiah" tolak Zulaikha lagi.
"Ribut-ribut mulu, mau kersem doang" ucap Mahda yang masih betah berdiri di sana menunggu Afiyah.
"Mahda, ente bisa manjat pohon kan? Panjat gih ! Itu kersem nya udah pada mateng" titah Syamsiah berbalik menyuruh Mahda kali ini.
"Nah iya, Mahda jago manjat tuh. Iya kan Da?" tanya Zulaikha.
"Berani berapa?" tantang Mahda.
__ADS_1
"Ayolah Da, enak tuh, manis seger uuuhhhhh" timpal Syamsiah.
"Ya kher dah" pasrah Mahda pada akhir nya.
Mahda segera menyimpan buku yang sedari tadi ia pegang ke atas bangku yang berada di depan kelas. Lalu bersiap untuk memanjat pohon kersem yang tak seberapa tinggi itu.
Dengan lincah Mahda menaiki pohon tersebut dan memetik satu persatu buah kersem dan memasukan nya ke dalam kresek yang sudah ia bawa dari bawah.
"Mahda, petik yang banyak!" teriak Syamsiah kegirangan.
"Mahda, ana minta juga" teriak Afiyah yang baru tiba.
Sementara Mahda tak menimpali perkataan teman-teman nya dari bawah.
..
Terlihat Syihab berjalan santai menuju rumah ustadz Muhammad untuk meminta hidangan dan teh hangat segera di antar karna ada tamu di ruang Marwah.
Beberapa kali ia menengok ke arah rumah tapi rumah nampak sepi, tak ada satu pun mba yang berada di sana.
Samar-samar ia mendengar keributan dari arah pondok putri, tampak seseorang tengah menyemangati yang lain nya. Namun yang membuat nya penasaran adalah nama sang istri yang di elu-elukan.
Kesal menunggu lama dan tak ada jawaban dari panggilan ke nomor pondok putri, Syihab terpaksa mendekati area terlarang bagi nya.
"Mba.." kini panggilan nya agak kencang namun masih saja suara nya seperti tak terdengar oleh sekumpulan orang-orang di depan nya.
HAH???
Syihab terkejut melihat pemandangan di depan nya. Sang istri, Mahda yang tengah berada di atas pohon dan anteng memetik satu per satu buah kersem.
Allah kareem bini gue.
Jerit Syihab dalam hati was-was melihat Mahda di atas pohon, takut-takut terjatuh atau tak bisa turun kembali.
"Mba.."
Barulah panggilan ke tiga suara nya di dengar penghuni area tersebut.
"Eh ustadz, beik" jawab Syamsiah yang menyadari kehadiran Syihab di luar pintu.
"Mahdaaaaaa" Syamsiah berteriak kencang memanggil Mahda, mengkode nya bahwa ada Syihab di sana.
"Apaan mba? Udah ya, ana turun, udah banyak nih" timpal Mahda dan segera turun.
__ADS_1
Namun baru saja setengah Mahda turun ia di buat sama terkejut nya oleh Syihab yang tengah berbicara dengan Zulaikha namun mata nya menatap tajam ke arah Mahda.
Glek
Mahda menelan ludah nya susah payah. Antara malu atau takut dengan Syihab menjadi satu. Perlahan Mahda turun dan segera menyerahkan kresek berisi kersem lalu mengambil buku dan berlalu menuju saung di belakang kelas tanpa berbicara sepatah kata pun.
..
Rapat di pimpin langsung oleh Ummi, meminta kerja sama nya serta memberikam semangat kepada para panitia sebelum melaksanakan tugas nya mulai besok.
Beberapa seragam sudah di bagikan kepada panitia dan calon wisudawati lengkap dengan kerudung nya masing-masing.
Sebuah abaya berwarna hitam kombinasi brown untuk panitia, dan abaya hitam kombinasi dark grey untuk para wisudawati.
Mahda merenggangkan otot-otot nya setelah selesai menulis rekapan untuk belanjaan acara besok. Merekap belanjaan serta pesanan kue basah untuk konsumsi para wali santri juga tamu.
"Ganteng banget ya" samar terdengar suara Ratih yang melewati Mahda dan juga Afiyah di dalam kamar.
"Iya" timpal Alfi.
"Nanti kalau di suruh lagi mau deh, rela" sambung Ratih kegirangan.
Mahda tak begitu menghiraukan atau pun ingin tau siapa yang di maksud ke dua orang tersebut, yang terpenting adalah yang di maksud pembicaraan itu bukan suami nya.
Suami? Oh ya, Mahda kembali teringat dengan tatapan Syihab tadi saat Mahda memanjat pohon kersem, pasti akan ada omelan yang panjang dari suami nya tersebut.
..
Hari masih pagi namun Mahda sudah di sibukan dengan belanjaan untuk acara. Hilir mudik dari kantor ke dapur putri lalu saung untuk memastikan belanjaan pertama sudah komplit.
"Mahda, ikut belanja ya. Takut salah!" titah Ummi.
"Baik Ummi" jawab Mahda dan segera pamit mengikuti bu Rini yang hendak berbelanja bersama Syamsiah.
Mahda berjalan melewati kantor dan ruang marwah lalu bangunan baru dan store namun tak ia dapati suami juga motor milik nya yang biasa nya terparkir di sana.
Kemana kak Syihab? Tumben gak ada di sana, motor juga gak ada di sana
Gumam Mahda dalam hati.
Menikmati sibuk nya beberapa hari terakhir dan menikmati kerinduan yang tiap waktu menyiksa nya hingga ingin sekali hanya sekedar untuk melihat sosok sang suami, Syihab.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1