Cinta Terhalang Dinding Pesantren Season 2

Cinta Terhalang Dinding Pesantren Season 2
Di Kamar Pengantin


__ADS_3

Tok.. Tok.. Tok..


Begitu ketukan pintu terdengar Mahda belingsatan, gugup tak karuan dan segera berhambur ke kamar mandi yang masih berada di dalam kamar nya.


Siapa yang masuk? Kak Syihab?


Batin Mahda menerka-nerka. Mana mungkin ada yang masuk ke kamar nya selarut ini setelah acara selesai.


Pintu sedikit demi sedikit terbuka, menampakan sosok tampan nan rupawan yang memakai jubah putih.


"Mahda" panggil Aly pelan.


Rupa nya bang Aly yang ngetok pintu guys🤭


Celingak celinguk mencari Mahda di kamar nya, namun tak ada.


"Mahda lagi di kamar mandi mungkin" ucap Aly.


Syihab mengangguk, ia pun pelan-pelan memasuki kamar gadis yang beberapa jam lalu baru saja sah menjadi istri nya.


"Makasih ye" ucap Syihab pada Aly yang mengantarkan nya ke sini.


Syihab kebingungan mencari kamar Mahda yang mana, saking luas nya rumah. Dan ternyata kamar Mahda berada di pojokan, terpisah dari kamar Aly yang jauh di sebrang nya. Sementara kamar Yemma dan Yebba nya, sudah tentu di bawah, merombak 2 kamar besar menjadi satu. Entah apa alasan nya menyatukan 2 kamar utama menjadi satu, yang besar nya hampir setengah gor.


"Iya, ana tinggal ya" pamit Aly.


Syihab pun berjalan mendekati sofa dan mendaratkan diri nya, duduk di sana. Menunggu Mahda yang masih enggan keluar dari kamar mandi.


5 menit, 10 menit, 15 menit, Mahda masih belum menunjukan tanda-tanda keluar dari hammam. Syihab mulai gelisah, cemas terjadi apa-apa di dalam sana.


Syihab bangkit dari duduk nya dan berjalan menuju kamar mandi yang berada di sebelah Walk-in Closet. Tangan nya hampir mengetuk pintu, namun ia urungkan kembali. Tapi kehawatiran nya pada Mahda jauh lebih besar.


Tok.. Tok.. Tok..


"Mahda" panggil Syihab pelan.


Tak ada jawaban.


"Mahda" panggil Syihab lagi.


Masih tak ada jawaban.


Apa Mahda pingsan di dalem?


Batin Syihab tak karuan. Rasa nya lucu di malam pengantin nya, sang istri pingsan di kamar mandi.


Dengan segenap keyakinan Syihab segera membuka pintu kamar mandi tersebut, bertepatan dengan Mahda yang juga membuka pintu.


"Aaaaaaa.."


Teriak Mahda saat Syihab yang tak sengaja menabrak diri nya karna sama-sama membuka pintu. Hampir saja Mahda terjatuh jika saja Syihab tak menahan nya.


"Wajah mu, aaaaaa.."

__ADS_1


Teriak Mahda lagi mendorong wajah Syihab yang hanya berjarak beberapa centi dari wajah nya. Mendekat sedikit lagi, ciuman pertama tak tertolong.


Syihab segera mengurai pelukan nya, membiarkan Mahda kembali masuk dan menutup pintu kamar mandi.


"Mau regud di hammam?" tanya Syihab di depan pintu.


"Tolong ambilin kerudung dulu, ana gak pake kerudung!" pinta Mahda yang masih betah berada di balik pintu.


"Yang mana?" tanya Syihab lagi.


"Mana aja, kerudung nya deket sama deretan abaya" jelas Mahda.


Syihab dengan santai berjalan ke arah Walk-in Closet, mengambil kerudung Mahda asal.


"Ini kerudung nya" ucap Syihab di depan pintu.


Mahda membukakan pintu nya sedikit, lalu meraih kerudung tersebut. Sepersekian detik kemudian, Mahda keluar dari kamar mandi. Riasan nya masih belum terhapus, pun dengan baju yang masih ia kenakan.


"Kenapa diem di kamar mandi?" tanya Syihab santai terbalik dengan Mahda yang terlihat gugup.


"Mmm, itu, apa, anu, kebelet" alasan yang terlontar dari bibir Mahda.


Syihab tersenyum mendapati istri nya yang begitu gugup meski ini adalah pernikahan ke dua nya.


Syihab mengulurkan tangan nya, mengajak Mahda kembali ke dalam kamar. Mahda ragu-ragu untuk menempatkan tangan nya di atas tangan Syihab.


"Kita sudah halal" ucap Syihab meyakinkan Mahda.


Syihab tersenyum lalu berjalan mengikuti Mahda dan duduk di atas ranjang. Sebenar nya ia pun canggung, namun rasa nya tak gentle man harus menampakan kecanggungan nya.


"Ma'af kalau ini membuat antum terkejut" ucap Syihab.


Mahda tersenyum dan menghadap Syihab yang duduk di pinggiran ranjang.


"Tak apa, ini yang terbaik bukan?" timpal Mahda dengan senyum manis mengukir di bibir nya.


Ia sangat tidak apa-apa dengan pernikahan mendadak ini, sebab ia pun menyukai Syihab, tak ada paksaan sedikit pun meski semua ini adalah perjodohan dari guru mereka.


Syihab balas tersenyum mendengar ucapan Mahda. Rasa ingin memiliki nya begitu besar hingga memutuskan untuk langsung menikahi Mahda setelah acara pertunangan.


"Sudah sholat?" tanya Syihab memastikan Mahda.


"Lagi haid" cicit Mahda.


"Oh, udah berapa hari?" tanya Syihab santai.


"Baru aja tadi" jawab Mahda.


Hening


Syihab seperti tengah berfikir sesuatu.


"Ana pamit sholat dulu ya, belum sempet sholat isya. Boleh sholat disini kan?" izin Syihab memecah keheningan.

__ADS_1


"Boleh. Ana siapin dulu" Mahda beranjak menyiapkan tempat untuk sholat Syihab masih dengan memakai baju dress. Belum sempat ia mengganti nya.


Sementara Syihab sholat, Mahda berjalan menuju Walk-in closet berniat untuk mengganti baju nya. Mahda menghembuskan nafas kasar menahan segala kegugupan nya. Mau di bilang tak gugup tapi ia sangat gugup. Ia ingat pepatah Yebba nya,


Nanti kalau nikah jangan sampe nyuekin suami ya kak, jangan kaya Yemma nikah ngedadak sampe nyuekin Yebba. Tidur aja di batesin bantal guling, keterlaluan.


Gerutu Zein saat mengenang kenangan di awal pernikahan nya yang mendadak.


"Astaghfirulloh"


Syihab terkejut saat beranjak usai sholat dan Mahda berdiri di belakang nya dengan kepala menunduk.


"Bisa tolong bantuin?" cicit Mahda.


"Bantuin apa" tanya Syihab lembut.


"Emm-anu, tolong bantuin buka kancing baju nya, susah, gak ke jangkau sama ana" jelas Mahda lirih menahan malu.


"Boleh, sini" timpal Syihab dan membantu membuka kancing baju Mahda setelah menyimpan sejadah nya.


Tangan nya sedikit bergetar saat menyentuh Mahda. Ada getaran hebat dan rasa yang muncul tiba-tiba namun sulit di artikan.


"Sudah" ucap Syihab.


"Syukron" timpal Mahda.


Dengan cepat Mahda berjalan dan mengganti baju nya. Sementara di kamar, Syihab pun tengah melepas jubah nya, mengganti dengan kaos oblong berwarna putih dan sarung goyor kesayangan nya.


.....


Fajar baru saja menampakan sinar nya di sela-sela awan yang masih menyelimuti bumi. Kokokan ayam silih berganti membangunkan tiap insan yang masih setia bergumul dengan kehangatan selimut.


"Kak, bangun!" ucap Mahda pelan membangunkan Syihab.


Di amati nya wajah tampan yang mampu menggoyahkan iman nya. Tuhan sebegitu kuasa nya menyiptakan makhluk setampan Syihab. Alis tebal dan bulu mata lentik seperti wanita, hidung mancung dan bibir tipis, aahhh gas'ah, jerit Mahda dalam hati.


Semalam tak ada drama guling pemisah di dalam kamar pengantin, berbeda dengan Zein dan Haniyah dulu. Ia sangat menerima meski semua nya terasa mendadak.


Melihat Syihab mulai mengerkapkan mata nya, buru-buru Mahda menormalkan kembali mimik wajah nya yang tadi sempat tersenyum bahagia melihat sosok di samping nya.


"Jam berapa?" tanya Syihab dengan suara parau khas bangun tidur.


"Jam setengah 5" jawab Syihab.


"Subuh dulu gih ! Ana siapin buat sarapan" titah Mahda.


Sementara Mahda memang sudah membersihkan diri sebelum Syihab bangun.


💐💐💐💐💐


**Tak selama nya ada luka dalam air mata, mungkin ada air mata bahagia juga di dalam nya.. Seperti kini, jika saja boleh menangis, aku akan menangis karna bahagia memiliki mu❤


~Mahda Qaireen**~

__ADS_1


__ADS_2