
Ruang tengah kembali riuh dengan kedatangan Lulu dan Irfan. Agak terlambat mereka mengetahui sang ponakan di pelakukan tidak enak oleh Ahmad, suami nya. Bahkan rasa nya seperti tidak terhormat, mengembalikan tapi Ahmad tidak ikut sama sekali untuk mengembalikan Mahda. Hanya kakak nya sendirian yang datang ke rumah Mahda tanpa di temani pihak keluarga yang lain nya.
Lulu dan Irfan yang kebetulan tengah tinggal di kota asal Irfan begitu terkejut saat Haniyah tiba-tiba menelpon sambil terus menangis menceritakan Mahda. Begitu mendengar kabar tersebut Lulu dan Irfan segera bertolak menuju kediaman Zein.
Gurat kehawatiran Irfan begitu terlihat saat tahu keponakan kesayangan nya di coreng nama baik nya begitu saja. Tentu saja nama baik Mahda juga keluarga nya akan tercoreng. Orang-orang hanya menilai tak mau mendengar. Tak habis fikir juga pada Ahmad kenapa bisa sebegitu tega nya pada Mahda.
"Ana gendeng sama dia mba, wallahi, kalo ketemu pengen ta unyeng-unyeng ya rambut nya, pengen ta pentuk pake syutil kepala nya" geram Lulu dengan tangan memeragakan tengah meremas Ahmad.
"Apalagi mba de, rasa nya kalau mau ngitung rugi, mba rugi banget, tapi mau gimana lagi? Mungkin kata Alloh harus kaya gini, Ahmad bukan yang terbaik dan bukan jodoh Mahda inti nya. Segini juga masih untung Mahda belum acara" tutur Haniyah dengan nada lembut nya.
"Jadi gimana baju-baju ini?" tanya Lulu melihat tumpukan baju untuk keluarga besar nya.
"Bagiin aja, nanti mba minta tolong anak pondok aja anterin" jawab Haniyah.
"Kenapa gak di jual di butik bang Zein aja?" usul Lulu.
"Gak ah, udah kasihin aja!" final Haniyah.
Mahda yang berada di dalam kamar hanya mendengarkan gerutuan Yemma juga Hameh nya. Bagaimana pun juga mereka pantas untuk kesal.
*****
Seminggu kemudian Mahda dan keluarga nya bertolak ke pesantren pertama tempat Mahda menimba ilmu, yang tak lain pesantren milik bu Nyai. Berniat silaturahmi juga membawa barang-barang Mahda yang masih tertinggal di sana.
Aly pun ikut serta dalam rombongan dan duduk di jok belakang bersama Mahda dan Sulthan dalam pangkuan Mahda.
Banyak pasang mata menatap Aly dan Mahda juga Sulthan saat mereka berhenti di rest area. Seperti sebuah keluarga yang harmonis, cocok dan serasi jika boleh berkata.
Duh, istri nya cantik, suami nya ganteng, anak nya lucu banget. Bener-bener klop, sempurna.
Ujar salah seorang di antara orang-orang yang sama tengah beristirahat di rest area.
Lihat deh ! Suami nya romantis gitu, humoris juga. Anak nya di becandain terus sampe ngekek gitu.
Timpal seseorang di samping nya melihat Aly tengah menjahili Sulthan.
__ADS_1
Itu yang di samping nya mungkin kakak nya ya, soal nya mirip. Wahh, bibit unggul ini mah kaya nya.
Celoteh yang lain nya. Menyangka bahwa Haniyah adalah kakak dari Mahda.
Haniyah yang mendengar kalimat demi kalimat tersebut hanya tersenyum geli. Bagimana mungkin ia bisa di sebut kakak nya Mahda yang jelas-jelas dia adalah orang yang melahirkan nya.
"Yamma memang masih cantik, maka dari itu, masih cocok jika harus punya 1 anak lagi" ucap Zein tiba-tiba dengan mengedipkan mata kanan nya.
"Apaan sih, gak mungkin. Sel telur Yamma udah habis" timpal Haniyah asal seraya mengerucutkan bibir nya.
Ia tak berniat mempunyai lagi anak setelah 3 kali melahirkan dan bisa-bisa nya ke 3 anak nya lahir di saat ada Irfan. Membuat nya selalu mendapat ledekan dari sepupu rese nya tersebut.
Flashback on
Dengan perut buncit di usia kehamilan yang sudah 9 bulan Haniyah berjalan tertatih-tatih menapaki tangga. Kontraksi palsu sesekali mulai terasa membuat Haniyah meringis merasakan sakit. Hanya tinggal menunggu waktu, hari atau mungkin jam untuk dia melahirkan anak ke 3 nya.
"Ba, jangan kemana-mana ya hari ini" pinta Haniyah seraya mengusap perut besar nya.
"Udah mules? Mau ngelahirin?" Zein tiba-tiba panik melihat Haniyah meringis menahan sakit.
Dua kali melahirkan membuat nya tak begitu terkejut mendapati kontraksi saat hendak melahirkan. Seberusaha mungkin di bawa santai.
"Mau ke klinik sekarang?" tanya Zein dengan penuh kehawatiran.
"Nanti, nunggu mules banget" jawab Haniyah.
Zein pun mengngguk. Mengusap pelan pinggang dan punggung sang istri, berharap dapat mengurangi rasa sakit yang kian mendera.
3 jam berlalu akhir nya Haniyah mau di bawa ke klinik. Dengan langkah kaki semakin kecil Haniyah berjalan di papah Irfan.
Satu jam yang lalu Irfan datang ke rumah mereka hendak membawa soal ujian untuk para santri yang sudah Zein buat. Namun dia kembali di sambut dengan Haniyah yang tengah meringis menahan sakit.
"Fix, anak lo emang mau nya lahir pas ada gue" celoteh Irfan pada Haniyah.
"Cuma kebetulan" balas Haniyah dengan meremas kencang tangan Irfan hingga mengaduh kesakitan saat ia mengalami kontraksi.
__ADS_1
Dan kelahiran Sulthan pun benar-benar saat Irfan berada di sini. Biasa nya ia lebih lama menghabiskan waktu di rumah tempat asal nya, namun kata nya ia tiba-tiba ingin segera kembali ke rumah sang mertua. Ternyata benar, tak selang lama sepupu sekaligus kakak ipar nya hendak melahirkan.
Flashback off
☘☘☘☘☘
Bu Nyai benar-benar meminta ma'af atas nama Ahmad dan keluarga nya. Bahkan bu Nyai tak henti-henti terus melontarkan kata ma'af saat tengah bercengkrama dengan keluarga Mahda.
Mahda tak ambil hati, ia menyadari sepenuh nya bahwa Ahmad bukan lah jodoh nya. Terlepas dari Mahda pernah menikah dengan Ahmad, itu semua tak lepas karna Alloh meridhoi. Bukankah tanpa ridho dan kuasa nya semua nya takkan pernah terjadi? Begitu pun dengan pernikahan Mahda dan Ahmad meski hanya beberapa hari.
Mahda pamit membawa Sulthan ke asrama pondok. Berencana mengambil beberapa baju nya yang masih tertinggal di sana.
Setiba nya di asrama bukan Mahda yang anak-anak santri sambut, melainkan Sulthan yang mereka rebutkan. Ketampanan juga kegemasan yang membuat tiap santri berlomba ingin mencubit pipi gembul nan putih tersebut.
Sementara Sulthan dengan cuek terus menurut di rebutkan oleh gadis-gadis di asrama ini. Memasang tampang jutek bak fotocopy-an Aly.
Allah kareem, Sulthan fotocopy-an banget ustadz Aly.
Teriak Anisa, teman seangkatan Mahda yang gemas terhadap Sulthan.
Ustadz Aly kw. Greget banget.
Timpal salah seorang di antara mereka.
Yassalaam, calon mantu ana inih.
Teriak Vivi tak kalah heboh dengan kegemasan Sulthan.
Mahda hanya geleng-geleng mendengar dan melihat tingkah teman-teman nya. Sementara ia sibuk memasukan baju beserta barang-barang nya.
Namun sepersekian detik kemudian suasana riuh menjadi syahdu. Mahda pamit untuk pulang. Salam perpisahan pun meluncur dari bibir ranum nya. Mata nya berkaca-kaca merasakan kesedihan bahwa ia takkan pernah tinggal lagi di tempat ini.
Pelukan dan isakan tangis terdengar silih bersahutan saat Mahda menyalami satu persatu santri dan pamit untuk pulang.
Mahda di bantu Vivi membawa tas besar berisi pakaian nya, sementara Mahda menggendong Sulthan. Berjalan perlahan menuju parkiran tempat mobil Mahda berada.
__ADS_1
Tiba-tiba langkah nya terhenti saat beberapa langkah lagi Mahda dan Sulthan sampai di mobil nya. Mahda tertegun seketika. Diam tanpa sepatah kata pun.