Cinta Terhalang Dinding Pesantren Season 2

Cinta Terhalang Dinding Pesantren Season 2
Perkara Ketek


__ADS_3

"Gantiin baju nya" rengek Mahda manja.


"Yakin? Ayo?" timpal Syihab merasa tertantang dan langsung berniat menarik Mahda.


"Iihhh, enggak-enggak" tolak Mahda tiba-tiba menyingirkan tangan Syihab dan tanpa sengaja menendang kaki Syihab dan membuat nya limbung.


Bruughh..


Aaawwwww


Mata yang saling menatap dengan jarak yang terus terkikis. Mahda semakin kikuk, niat ingin menggoda malah akan terjerumus pada lubang jebakan.


"Ihhh, awas! Mahda mau ke hammam" ucap Mahda dan sedikit mendorong Syihab.


"Siapa yang buat kakak jatuh?" tanya Syihab meledek dan mencoba membangunkan Mahda setelah ia berdiri.


"Iya deh ma'af" jawab Mahda dan berlalu menuju kamar mandi.


Membersihkan diri dan berganti baju kenegaraan nya.


"Isshhh, ketek ku rasa nya segar, semriwing, terekspos kemana-mana" gumam Mahda sambil mengangkat ke dua tangan nya ke atas.


Berdiri di depan cermin seolah tengah mengamati diri nya sendiri.


"Lagi ngapain?" tanya Syihab yang aneh melihat sang istri.


"Hih, ganggu aja" jawab Mahda jutek padahal diri nya malu ketahuan tengah memandang ketek mulus nya di depan cermin.


"Abis nya berdiri depan cermin ketek di kemana-manain" timpal Syihab.


"Cuma lagi liat emang gak boleh?" tanya balik Mahda.


"Mending liatin ketek kakak nih, bulu nya rapih, bau nya juga nya sedep" saran Syihab dengan nada menggoda nya.


"Sedep apa nya, mual aku cium ketek kakak" elak Mahda.


"Masa? Kenapa betah kalau ngelusup ke dada kakak? Bisa kecium bukan bau nya?" goda Syihab lagi.


"Apaan sih? Perkara ketek malah meluber kemana-mana" timpal Mahda dan mulai menggigit bibir bawah nya.


Cup


Satu kecupan manis mendarat di bibir ranum Mahda. Syihab selalu tak kuat jika melihat bibir ranum yang di gigit oleh pemilik nya sendiri.


"Iya ma'af. Gak usah hawas" ucap Syihab dan mengacak-acak pucuk kepala Mahda.


"Sensi nya kaya ibu hamil aja. Apa emang kamu hamil sayang?" sambung Syihab.


"Gak mungkin dan jangan dulu" jawab Mahda cepat.


"Kenapa?" tanya Syihab yang terlihat kecewa.

__ADS_1


"Kita belum terdaftar di catatan negara kak. Mahda kan udah sering bilang minta di urusin, kakak yang leha-leha, kaya gak niat gitu sama Mahda" keluh Mahda.


"Loh, bukan gitu sayang. Kamu tau kan kalau kakak pengen ngejalanin acara seperti pada umum nya" tutur Syihab mencoba menjelaskan.


"Pengen nya kaya gitu, tapi rahim Mahda terus di suplai, dasar aneh, huh" timpal Mahda lalu berjalan namun menyenggol Syihab.


Selalu kesal dengan jawaban yang di berikan sang suami hingga sering berasumsi jika ia kembali di permainkan mengingat Syihab yang susah sekedar untuk mengurus hal tersebut.


"Besok kakak urusin" ucap Syihab pada akhir nya.


"Bener?" tanya Mahda kembali berbalik dengan tatapan gembira.


Syihab mengangguk. Mengenyampingkan ego nya itu lebih baik dari pada melihat Mahda yang kesal. Biarlah angan-angan nya di arak saat hendak akad ia buang, yang terpenting sang istri tak melulu kesal pada nya.


Mahda pun setengah berlari lalu memeluk Syihab. Menumpahkan rasa terima kasih nya akhir nya Syihab mau mendengarkan permintaan nya.


"Ayo regud! Ketek kakak gak bau kok, Mahda suka" ucap Mahda menarik kata-kata nya tadi.


Gelak tawa tak bisa Syihab tahan mendengar dan melihat perlakuan Mahda yang tiba-tiba berubah. Memeluk lalu membawa sang suami ke atas tempat tidur tanpa melepas pelukan nya dan sesekali Mahda mencium pipi mulus milik sang suami.


Sebentar? Kenapa ana kaya yang agresif gini?


Gumam Mahda tiba-tiba.


"Ma'af" ucap Mahda lalu melerai pelukan nya.


"Gak papa, kakak suka" timpal Syihab dan kembali membawa Mahda ke dalam pelukan nya.


......................


Gemericik hujan di pagi hari seolah mendukung setiap insan untuk kembali ke peraduan, tempat tidur. Kembali bergulung dengan selimut dan mencari kehangatan.


Seperti hal nya pasangan Mahda dan Syihab yang kembali ke dalam selimut setelah melaksanakan kewajiban nya. Saling menautkan kaki dan Mahda yang terus menyelusup ke dada bidang Syihab.


Lain hal nya dengan Syihab yang merasa terus di goda iman nya sejak semalam, bahkan ia mati-matian memendam hasrat nya agar tak mengganggu Mahda. Namun rasa nya pagi ini ia merasa tak kuat, cuaca yang mendukung dan Mahda yang terus menempel membuat nya serasa tersiksa.


"Da, diem, kalau gak diem kakak makan kamu nih" ucap Syihab dengan suara parau nya.


"Dingin kak, makan apaan? Minta mba anterin aja ya ke ghurfah" timpal Mahda.


Ahh, mendengar ocehan Mahda yang seolah tak mengerti, Syihab tak ingin membuang waktu lagi segera menyergap tubuh sintal yang sedari malam terus saja menempel pada nya.


Menjelajahi setiap inci tubuh mulus di depan nya, saling menyecap rasa satu sama lain, menikmati setiap sentuhan dan hembusan nafas yang saling beradu.


Lenguhan tertahan mulai terdengar, sebisa mungkin menahan suara erotis tak menggema jika tak ingin orang di luar sana mendengar nya dan merasa panas dingin.


Hawa dingin serta gemericik hujan semakin mendukung kegiatan pagi ini. Mencari kehangatan serta kepuasan secara bersamaan. Semakin lama semakin menggila, menghiraukan suara yang samar-samar mulai menggema seiring ranjang yang terus berderit akibat guncangan hebat. Hingga lenguhan keras yang di tahan bibir Syihab akhir nya terlontar. Mengakhiri segala aktifitas nya pagi ini bersama jutaan kupu-kupu yang terlepas dari tubuh nya.


Mengecup bibir yang tak puas ia kulum sebagai akhir dari aktivitas nya. Dan berujung di perut yang berharap akan segera tumbuh penerus nya di dalam sana.


......................

__ADS_1


Pukul 10 siang Mahda dan Syihab baru berniat turun ke bawah. Hujan pun sudah reda, tinggal tetesan dari atas genting sisa air hujan yang masih terus menetes.


Yebba Zein dan Yemma Hani pun baru keluar kamar saat Mahda dan Syihab menapaki tangga terakhir. Berjalan bersama menuju meja makan hendak sarapan, bukan, sekarang waktu nya makan siang bukan sarapan.


"Mba, Sulthan kemana?" tanya Yemma Hani.


"Tidur di kamar bang Aly Bu" jawab mba Syifa.


"Loh, sama siapa?" tanya Yemma Hani sambil menyiapkan makan untuk sang suami.


"Sama bang Aly" jawab mba Syifa lagi.


"Kapan pulang?" tanya Yemma Hani yang seolah terkejut mendengar anak sulung nya pulang namun ia sendiri tak tahu.


"Tadi pagi dateng naik grab Bu" timpal mba Syifa.


"Udah makan bang Aly nya" tanya Yemma Hani lagi.


"Udah Bu, tadi minta di masakin nasi goreng" balas mba Syifa dan pamit kembali ke kamar Sulthan yang berada di sebelah kamar mereka.


Makan siang pun berjalan sebagaimana mesti nya, tanpa pembicaraan atau obrolan sama sekali.


..


"Jadi nya mau kemana dulu kak? Ke galery nya mba Shinta aja?" tanya Yemma Hani.


"Gimana Yemma aja, tapi kata nya kak Syihab mau ke KUA dulu" jawab Mahda.


"Loh, jadi nanti nya gak usah akad lagi nih? Kata nya pengen di akadin lagi biar kaya orang-orang, di arak dulu" timpal Yemma Hani.


"Gak papa Yemma, Syihab ikut permintaan Mahda aja" jawab Syihab.


"Kak, kamu hamil?" tanya Yebba Zein tiba-tiba.


"Enggak Ba, ih fikiran nya tuh" jawab Mahda cepat.


"Kali aja Syihab berubah fikiran karna tahu kakak hamil" timpal Yebba Zein.


"Emang kalau gak hamil gak bakalan di urusin?" tanya Mahda pada Syihab.


"Ya di urusin lah" jawab Syihab.


"Tuh, berarti kak Syihab dengerin kakak Ba, bukan karna kakak hamil" timpal Mahda merasa menang.


"Iya lah terserah kakak, hamil atau enggak kalian udah halal, tinggal ngurusin surat nikah aja" balas Yebba Zein yang mengalah dari pada berdebat dengan sang anak.


Sesuai rencana akhir nya Syihab terlebih dahulu mengunjungi KUA guna mengurus surat-surat nya. Beruntung saat dulu nikah ada saksi dari pihak KUA hingga tak susah sekarang mengurus surat tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Semangatin dong biar double up❤

__ADS_1


__ADS_2