
Setelah pengajian hari ke 7 meninggal nya Mama Balgis dan Abi Zainal, semua keluarga yang tadi nya tinggal sementara di rumah tersebut satu per satu pamit kembali ke rumah masih-masing, kembali memulai kehidupan mereka seperti biasa nya, termasuk Ami Saiful dan Ameh Fitri yang pamit pulang ke rumah nya.
"Ameh sama Ami pulang dulu ya, kalau ada apa-apa telpon Ameh!" tutur Ameh Fitri saat Mahda dan Syihab mengantar nya hingga depan rumah.
Mahda dan Syihab mengangguk dan melepas orang terakhir yang pulang dari rumah Abi Zainal. Dan mereka pun kembali masuk setelah menutup gerbang.
Syihab berjalan terlebih dahulu dan meraih foto Mama Balgis juga Abi Zainal. Meletakan kembali ke tempat nya, tempat baru di ruang tamu rumah tersebut.
Mama, Abi, terima kasih atas cinta dan kasih sayang kalian. Sekarang Syihab janji, gak akan sedih lagi, Syihab akan bangkit dan memulai hidup Syihab kembali, dengan Mahda. Do'ain Syihab supaya tetap tegar, seperti kata Mama, Syihab itu tegar.
Monolog Syihab dalam hati.
Sementara Mahda segera berjalan ke dapur untuk membantu bu Atih menyiapkan makan siang. Abi Zainal memang tak mempunyai santri, beliau dan Mama Balgis aktif sebagai pengisi kajian di mushola atau mesjid terdekat bahkan tak jarang keluar kota. Bu Atih sendiri masih warga sini hingga tak perlu menginap, cukup pagi-pagi datang dan sore pulang lagi.
Mahda memang tak pandai memasak, namun ia bersyukur bisa belajar dari sang Yemma langsung dan bantuan sosial media berlogo merah yang amat pintar.
Beberapa hidangan sederhana Mahda siapkan untuk makan siang diri nya dan juga Syihab. Satu meja besar hanya beranggotakan 2 orang.
"Boleh ke kamar Mama gak?" tanya Mahda pelan.
Selama satu minggu terakhir Mahda belum sekalipun masuk ke dalam kamar mertua nya. Mahda berniat membereskan kamar yang sudah di tinggal penghuni nya untuk selama-lama nya, bahkan jika di ingat tidur terakhir mereka adalah di rumah Syihab, tidur di rumah yang ala kadar nya.
"Boleh, ayo kakak temenin" ajak Syihab.
Mahda menurut lalu berjalan mengikuti Syihab yang sudah terlebih dulu menuju kamar Mama Balgis.
Sebuah kamar dengan tempat tidur berdesain mewah beraksen warna cream di sekitar nya. Dua buah nakas dan lampu tidur yang berada di masing-masing samping tempat tidur menambah indah nan minimalis penataan kamar tersebut.
Bagus banget
Batin Mahda.
"Kamar Mama sama Abi emang beda sama yang ana. Mama lebih suka warna yang kalem, dan ukuran kamar nya lebih besar, lebih suka dengan hal-hal yang berbau manis pula. Mau pindah ke sini aja?" tanya Syihab sembari membuka tirai yang beberapa hari terakhir terus di biarkan tertutup.
"Kamar kakak juga udah cukup, biar jadi kenangan kamar ini. Ana mau beresin barang-barang Mama, boleh kan?" tutur Mahda.
"Tapi kita harus sesekali tidur di kamar ini. Boleh, nanti kakak bantu" timpal Syihab
"Ya kher" balas Mahda.
Mahda berjalan menuju sofa besar yang terdapat di dalam kamar tersebut. Terlihat beberapa tumpukan tas belanjaan yang mungkin belum sempat Mama Balgis bereskan.
__ADS_1
"Ini apa dalem nya?" gumam Mahda yang masih bisa terdengar oleh Syihab.
"Itu belanjaan buat kamu" timpal Syihab.
"Aku?" beo Mahda sambil menujuk diri nya sendiri.
"Iya, untuk acara resepsi nanti" timpal Syihab lagi.
"Kemarin waktu lamaran udah kan, sekarang Mama sama Abi udah gak ada, gak usah lah ngadain resepsi" pinta Mahda.
"Kita belum resmi secara negara sayang" ucap Syihab dan duduk di dekat Mahda, mencoba membantu membereskan belanjaan Mama nya.
"Tinggal ngurusin surat-surat kan? Udah deh, simple" saran Mahda.
"Kita tetap resepsi. Kakak yakin Yemma sama Yebba gak bakalan setuju kalau kita gak ngadain resepsi" keukeuh Syihab.
"Tapi ka-"
Cup
Belum sempat Mahda menyelesaikan ucapan nya, Syihab terlebih dulu cepat mengecup bibir ranum Mahda.
Kecupan yang lama-lama menjadi lu**tan hingga melupakan apa yang tadi nya tengah mereka rencanakan, membereskan kamar.
"Malam boleh?" tanya Syihab serius.
"Ih, ko saya ngeri-ngeri sedep ya denger nya" jawab Mahda.
"Ngeri-ngeri enak mungkin sayang" timpal Syihab sambil mencolek dagu Mahda.
"Dahlah, beberes dulu, masih siang ngomingin begituan" gerutu Mahda.
Sesuai instruksi, Mahda merapihkan baju dan Syihab membereskan bekas tas-tas belanjaan tersebut.
...****************...
Malam kembali menyapa, senja mulai menghilang, matahari telah menyerahkan tugas nya pada bulan untuk menerangi bumi. Udara panas kini telah berganti dengan dingin.
Sebuah kamar dengan nuansa cat dark and black menjadi pilihan Syihab. Kamar minimalis dengan 2 foto besar di atas tempat tidur nya. Walk-in Closet yang berada di samping tempat tidur nya menambah type minimalis yang Syihab pilih terlihat begitu pas. Di tambah penerangan lampu yang tak begitu berlebihan, tampak syahdu jika di rasakan.
"Mau ke pondok lagi?" tanya Mahda sambil membereskan baju-baju nya, memasukan ke dalam lemari di samping tempat tidur sang suami yang kini juga menjadi tempat tidur nya.
__ADS_1
"Tentu, tugas kakak belum selesai. Kamu juga masih belum selesai" jawab Syihab lirih.
"Kalau emang berat gak papa, Mahda ikut kakak" timpal Mahda.
"Enggak, kita berangkat nanti rabu. Minggu depan haflah, kita punya tugas buat acara itu" jelas Syihab.
"Ya kher, ana manut aja" timpal Mahda.
"Ma'af, kemarin-kemarin aku gak ngehawil kamu" ucap Syihab tiba-tiba.
"Gak papa, ana ngerti ko" balas Mahda masih terus membereskan baju-baju nya.
"Kamu gak risih manggil ana kakak? Ko rasa nya kaya ana itu abang kamu, kaya Aly" tanya Syihab.
"Emang mau di panggil nya apa?" tanya balik Mahda dan berjalan menghampiri Syihab yang duduk di pinggiran tempat tidur.
"Baba kaya nya sweet" jawab Syihab.
"Baba itu panggilan Yemma ke Yebba, nanti di sangka plagiat" keluh Mahda.
"Gak papa, mereka jadi inspirasi kita. Ana iri sama Yebba yang masih romantis sama Yemma di usia nya yang sekarang, bahkan sebentar lagi mereka akan punya cucu" tutur Syihab.
"Siapa yang hamil?" tanya Mahda seperti terkejut mendengar perkataan sang suami.
"Kamu segera" jawab Syihab yakin.
"Isshhh, dasar" cebik Mahda memukul pelan dada Syihab.
Syihab menangkap tangan Mahda yang baru saja memukul dada bidang nya lalu mengecup nya perlahan dengan lembut.
Perlahan kecupan itu berpindah pada benda kenyal yang sudah menjadi candu bagi nya. Menyesap nya perlahan, menikmati rasa manis yang halal ia nikmati setiap saat.
Tangan kiri nya menahan belakang tengkuk Mahda sedangkan tangan kanan nya bergerilya tak tentu arah mencari sesuatu yang ingin ia raih.
Emmmm-euuhhhh
Satu des*han merdu keluar dari bibir Mahda. Kecupan yang berubah menjadi lum*tan panas, kecupan di curuk leher dengan beberapa titik merah sudah terpampang jelas.
Pagutan terlepas saat mereka hampir kehabisan nafas. Mata yang saling memandang penuh cinta dan penuh penuntutan seperti tak sabar dengan langkah selanjutnya.
......................
Pemanasan dulu ahh💃💃
__ADS_1
Siap hareudang?