
"Mmhhhh, geli" satu kata yang terucap di sela-sela ke dua nya berkesempatan mengambil nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan penyatuan bibir yang sudah berada di fase memanas.
Gelenyar aneh mulai menjalar di tubuh Mahda, antara geli dan nikmat berbaur menjadi satu. Tangan Syihab tak henti-henti nya memainkan mainan baru bagi nya yang baru ia temui di usia nya yang sebentar lagi hampir mencapai 30 tahun.
Tiada ampun, kali ini ia harus menuntaskan, mendapat hak nya yang sudah lama tertahan. Memilin, mengecup dan menghisap, entah kapan ia membuka penghalang dari tubuh Mahda.
Berada berdua di dalam selimut hampir tanpa sehelai benang pun bukan nya merasa dingin, justru menambah hawa semakin memanas.
Sesuai syari'at, etika penyatuan di larang bertelanjang bulat, yang arti nya harus ada penghalang seperti selimut.
Syihab tak ingin terlalu lama menganggurkan Mahda, ia kembali menyergap, menjelajah setiap inci lekuk tubuh sang istri. Memberi nya tanda serta rangsangan sebelum tindakan puncak ia lakukan.
Sementara Mahda sudah sering kali mengeluarkan kata merdu dari bibir ranum nya. Kata merdu yang menambah gairah Syihab semakin tak terbendung.
"Bolehkah sekarang?" tanya Syihab yang sudah tak tahan ingin menuntaskan sesuatu yang hendak meledak dari dalam diri nya.
Mahda mengangguk dengan wajah pasrah namun penuh gairah.
"Baca bismillah dulu" di sela-sela gairah nya yang membara Mahda tak lupa mengingatkan, ia tak ingin syetan ikut andil apalagi ini pengalaman pertama bagi ke dua nya.
Tak ingin membuang waktu lebih lama, perlahan Syihab menuntun sembari melafalkan do'a. Perlu sedikit usaha untuk mencapai nya, seperti usaha mendapatkan cinta nya.
Ko susah?
Batin Syihab tak sabar.
"Pelan, sa-kit"
Lirih Mahda di saat usaha Syihab menerobos pelan namun seperti memaksa meskipun usaha nya begitu lembut.
Kuku-kuku Mahda yang cantik bahkan sudah menancap indah di punggung Syihab, gigitan di pundak pun tak terelakan. Syihab biarkan, sesakit apapun ia akan mendapat hasil yang meng-enakan.
Setelah susah payah membuka pintu kenikmatan, Syihab terdiam, merasakan tiap pijatan yang membuat nya mabuk kepayang. Membiarkan Mahda menetralkan otot-otot yang seperti nya masih terkejut dan belum terbiasa dengan milik Syihab.
Bulir air mata meluruh begitu saja di pipi Mahda. Bibir ranum yang sedari tadi Syihab mainkan untuk mengurangi dan menetralisir rasa sakit berbalik justru bibir diri nya kini yang sakit akibat gigitan saat milik nya betul-betul berhasil mendobrak pintu Mahda.
Syihab mulai melancarkan aksi nya, memaju mundurkan, mengejar nikmat yang ingin ia raih, membuncahkan seluruh cinta yang akan menjadi bibit-bibit junior nya.
Suara laknat yang jika saja orang lain mendengar nya menggema di dalam kamar tersebut. Suara yang saling bersahutan dari bibir ke dua nya menjadi lantunan alami di iringi musik dari gesekan kulit. Peluh-peluh bercucuran, tanda cinta berwarna merah sudah bertebaran namun rupa nya Syihab masih menggila, masih belum puas memberi stempel kepemilikan diri nya atas Mahda.
__ADS_1
Tubuh Mahda menggelinjang lalu menegang saat semburan panas terasa oleh Syihab. Pelepasan pertama nya sudah ia dapat, namun Syihab belum nampak hilal untuk menyudahi semua nya.
Ia terus memacu, beradu mencapai kenikmatan yang akan menerbangkan jutaan kupu-kupu dari dalam tubuh nya. Mencapai kenikmatan hingga ia bisa melafalkan do'a mnecapai puncak.
Gerakan nya semakin cepat, nafas nya ikut memburu, semantara Mahda yang berada di bawang kukungan nya sama-sama tak henti-henti nya berteriak entah apa penyebab nya. Cuma othor yakin kalo denger bikin merinding.
Satu tusukan mendalam di iringi semburan panas yang menerobos, berlomba menuju tempat nya bersemayam. Lava hangat yang silih bersaing menuju tempat peraduan nya.
Kecupan hangat Syihab daratkan di bibir dan kening Mahda. Berkali-kali mengucapkan kata terima kasih atas kepuasan yang baru ia raih.
Mahda tersenyum meski senyuman nya mengandung nyeri, nyeri di inti diri nya yang masih terasa aneh.
"Mau rejal atau hareem?" tanya Syihab setelah nafas nya ia rasa sedikit beraturan.
"Mau nya?" tanya balik Mahda.
Tanpa menjawab Syihab memiringkan Mahda ke arah kanan, sudah tau jawaban yang Syihab inginkan.
..
"Apa dengan Ahmad-?" pertanyaan Syihab terpotong, rasa nya ia kelu untuk bertanya saat melihat noda merah di atas sprei tempat tidur nya.
Jadi ana dapet perawan?
Batin Syihab.
Syihab tersenyum mendengar penjelasan Mahda. Ternyata Mahda masih terjaga, hanya status nya saja yang berubah. Syihab sungguh bersyukur mendapatkan poin ganda, memperistri Mahda juga sesuatu dalam diri Mahda yang ternyata Syihab lah yang mendapatkan nya.
Syihab kembali merengkuh tubuh sintal Mahda. Membawa nya ke dalam pelukan hangat tubuh nya. Sekali lagi ia terbangunkan, terbangun dengan gelora yang kembali membara dan menuntut untuk di tuntaskan.
Maklumin ya, penganten baru stok lama yang baru mau unboxingš¤£š¤£
Terlihat keraguan di mata Mahda mengingat betapa sakit nya tadi, namun rangsangan dari sang ahli melupakan rasa sakit tersebut dan merubah nya menjadi kenikmatan yang maha dahsyat.
Tubuh Syihab runtuh ke samping Mahda saat tenaga nya benar-benar terkuras dan kenikmatan nya tersalurkan juga terpenuhi.
Kecupan hangat di kening Mahda menjadi penutup sebelum tidur setelah Mahda dan Syihab membersihkan diri masing-masing.
...****************...
__ADS_1
Dingin semakin menyapa, menyelusup di antara celah-celah kecil berusaha masuk ke dalam kehangatan. Seperti hal nya Mahda dan Syihab yang saling memeluk mencari kehangatan.
Setelah melewati pergulatan hebat tadi malam rupa nya meremuk redamkan tubuh ke dua nya hingga merasa enggan membuka mata dan bangun meski jam menunjukan waktu fajar segera tiba.
Masih dengan langkah gontai Mahda berjalan menuju kamar mandi. Ia melirik keranjang yang penuh dengan sprei tempat tidur nya tadi malam. Noda merah menjadi saksi bagaimana ia menjaga diri nya selama ini. Bahkan pemilik yang sebenar nya adalah suami ke dua nya, bukan Ahmad, namun Mahda bersyukur.
Sebelum bu Atih datang Mahda terlebih dahulu menyuci sprei yang sudah menjadi saksi kegiatan nya semalam. Mahda merasa malu jika sprei tersebut harus di cuci oleh bu Atih.
"Mau ikut kakak gak?" tanya Syihab setelah selesai sarapan pagi hari ini.
"Kemana?" tanya balik Mahda.
"Ke kedai sama butik. Belum pernah ke sana kan?" ajak Syihab.
"Boleh, Mahda siap-siap dulu ya" pamit Mahda.
Menempuh pejalanan selama 30 menit Mahda dan Syihab sampai di kedai milik Syihab yang ia dirikan dua tahun yang lalu. Tempat nya berada di pusat kota hingga selalu banyak pengunjung yang datang entah itu untuk makan menu yang sudah tersedia atau sekedar meminum kopi.
Sebuah kedai dengan desain bagian luar seperti rumah kaca dengan pemandangan tembus ke langit. Pohon besar yang rindang juga tanaman yang menjuntai di pagar semakin memperindah pemandangan yang kedai suguhkan.
"Cantik" puji Mahda lalu duduk tepat di pinggir kaca.
Menikmati sedikit udara segar dari tumbuhan yang kebetulan menggantung di ruangan tersebut. Sementara Mahda menikmati strawberry milkshake nya, Syihab pamit mengecek ke dalam, mengecek pembukuan kedai juga hal-hal lain nya.
"Mau ke butik sekarang?" tanya Syihab.
Mahda mengangguk dan langsung meraih tas nya. Berjalan menggandeng Syihab melewati beberapa pengunjung dan pegawai kedai nya hingga beberapa pujian terdengar di telinga nya.
Memuji betapa serasi nya pasangan Syihab dan Mahda. Pria tampan dan wanita cantik yang kedua nya sama-sama memiliki hidung macung yang menantang.
Melesat membelah jalanan kota menuju butik menaiki motor kesayangan sang suami. Mahda yang duduk mengangkang tak pernah melepas pegangan nya, sebenarnya ia hanya takut terjatuh selebih nya nyaman.
Pasangan yang baru saja meraup kenikmatan seperti susah terlepas dari saling berpelukan. Mahda pun sama, ia enggan terlebih dari tubuh yang membuat nya nyaman.
......................
Gimana-gimana? Terlalu terbuka atau kurang hareudang? Ma'afin yaš
__ADS_1