
Hanya butuh waktu 15 menit menuju Butik Balgis. Butik milik Syihab yang nama nya ia ambil dari nama sang Mama. Nama dari mutiara hidup nya yang sangat ia hormati dan sayangi namun kini telah tiada, meninggalkan Syihab yang baru saja menata kehidupan baru nya bersama Mahda.
Sebuah butik bercat nude dengan aksen moulding minimalis di berbagai sisi nya. Jejeran abaya dari mulai berwarna hitam hingga warna yang lain nya dapat terlihat di barisan gantungan paling depan. Abaya yang Syihab import langsung dari Turki, Dubai dan Mesir.
Semakin ke dalam semakin luas ruangan butik tersebut. Jejeran abaya semakin beragam dengan warna, juga kerudung import maupun lokal yang bisa di lihat sepuas nya.
"Butik nya gak sebesar punya Yebba, tapi insyaa Alloh dari butik ini ana bisa nafkahin kamu sama anak-anak nanti, bawa kamu jalan-jalan keliling dunia juga. Menikah itu membuka pintu rezeki, betul bukan?" tutur Syihab.
Mahda tersenyum dan menganggukan kepala nya. Mahda tersenyum pada beberapa karyawan juga pembeli yang kebetulan tengah berada di butik. Ia terus mengekor kemana Syihab pergi, tak terkecuali ke toilet.
Setelah urusan nya selesai Syihab segera mengajak Mahda kembali pulang. Ia harus kembali berkemas untuk kembali ke pondok esok hari.
"Pegangan yang kuat" ucap Syihab setengah berteriak saat berada di atas motor.
Mahda menurut lalu melingkarkan tangan nya, memeluk Syihab dengan erat di bawah sinar mata hari yang mulai meredup.
Senja mulai menyapa, mengganti warna biru menjadi merah. Semilir angin khas sore hari mulai tercium, menghiasi indra penciuman dua makhluk Tuhan yang baru saja tiba di rumah besar namun sederhana tersebut.
Rumah tampak sepi setelah bu Atih pamit untuk pulang. Mahda segera bergegas ke dapur untuk menyiapkan minuman. Perjalanan dengan cuaca panas membuat nya serasa dehidrasi, tak tahan untuk segera meneguk air dingin dari dalam kulkas sana.
Grep
"Allah Yahfadz" pekik Mahda.
Sebuah pelukan yang mengejutkan Mahda. Syihab tiba-tiba memeluk Mahda yang tengah menuangkan minuman pada gelas nya. Menghirup aroma tubuh Mahda yang kini menjadi candu bagi nya.
"Geli kak" lirih Mahda setengah mende*ah.
Syihab mengecup belakang tengkuk Mahda, menghembuskan nafas hangat nya hingga membuat Mahda meremang di buat nya.
"Pengen peluk" timpal Syihab.
"Jangan di sini, susah nih. Lepasin dulu!" titah Mahda yang merasa risih dengan Syihab yang terus menempel pada nya, seperti bayangan yang enggan berpisah saat tersorot oleh matahari di sore hari.
"Telalu nyaman" rengek Syihab.
"Allah kareem, tumpah loh nanti minuman nya kak" gerutu Mahda.
Pasrah, Syihab segera melepas pelukan nya lalu duduk di meja makan yang berada tak jauh dari tempat Mahda berdiri.
Langit semakin gelap, orang-orang segera bersiap menuju peraduan nya, meninggalkan segala beban dan pekerjaan, menjalankan kewajiban nya sebagai makhluk yang di ciptakan untuk beribadah dan menyembah pencipta-Nya.
__ADS_1
......................
"Sayang.." panggil Syihab saat masuk ke dalam kamar nya. Kamar bersejarah bagi diri nya dan sang istri saat malam kemarin.
"Sayang.." panggil Syihab lagi saat tak mendapat jawaban dari orang yang ia cari.
"Beik.." jawab Mahda yang muncul dari kamar mandi.
"Loh, abis ngapain?" tanya Syihab.
"Cuci muka. Besok jadi berangkat kan?" tanya balik Mahda.
"Jadi, tapi sebelum itu-" Syihab mencondongkan wajah nya lebih dekat dengan wajah Mahda, mengikis jarak antara diri nya dan sang istri.
"Isshhh, jangan mesum" Mahda mendorong wajah yang hampir menabrak wajah nya.
"Dosa loh kamu sayang gitu sama suami" ucap Syihab dengan kesal yang di buat-buat.
"Kakak yang gak tau tempat, ini di pintu kamar mandi" skakmat Mahda.
Mahda segera berjalan menuju tempat tidur. Ingin segera melepaskan lelah, meregangkan otot-otot nya yang terlanjur pegal karna perjalanan hari ini.
"Soal? Kita udah zuad?" tanya Mahda.
Syihab mengangguk.
"Seperti nya ada yang tahu juga, secara tiba-tiba Mahda langsung ikut pulang sama kakak, dan sampai sekarang belum balik lagi ke pondok" tutur Mahda.
"Menurut Mahda gimana?" tanya Syihab lagi.
"Gimana apa nya?" bingung Mahda.
"Gimana kalau kita minta izin tinggal bareng aja, di perum" ide Syihab.
"Itu sih pengen nya kakak. Lagian gak semua nya tau mungkin" timpal Mahda.
"Biar kalo kangen gak susah ketemu nya sayang" sambung Syihab dan mengecup pipi Mahda.
Sekedar kecupan sekilas namun mampu membuat darah Mahda berdesir tak karuan.
"Gak enak banget manggil nya kakak, ganti deh Baba" pinta Syihab.
__ADS_1
"Gak, itu panggilan dari Yemma buat Yebba" tolak Mahda tak setuju.
"Ayolah sayang" Syihab merajuk seraya mengendus leher jenjang Mahda yang terdapat tanda merah hasil maha karya nya malam kemarin.
"Baba, please!" Syihab terus merajuk setengah memberi rangsangan pada Mahda yang masih terlihat cuek dan enggan menuruti permintaan Syihab.
Tangan Syihab terus bermain, menjelajahi setiap inci lekuk tubuh sang istri. Merajuk sang istri agar mengganti nama panggilan nya sekaligus memanfa'atkan waktu yang tersisa di malam terakhir mereka bersama sebelum kembali terpisah oleh dinding tebal di pesantren.
Wajah Mahda mulai memerah menahan gairah, tangan nya meremas sprei dengan posisi setengah terlentang.
Bibir Syihab memang nakal, tak cukup mengecup, ia kini merasa ahli memainkan pucuk merah muda di antara pegunungan.
Mahda masih enggan menanggapi celotehan Syihab yang berulang kali meminta nya memanggil Baba. Ia sibuk menahan gairah yang mulai memuncak. Mahda mengigit bibir bawah nya demi menahan suara de*ahan tak keluar dari mulut nya.
Semakin liar permainan lidah dan tangan Syihab semakin susah Mahda di buat nya. Menahan ekspresi juga de*ahan hampir mati di buat nya.
Euuuuhhhhh
Satu kata lolos dari bibir Mahda dengan kepala menengadah ke atas.
Syihab tersenyum smirk melihat Mahda dengan nafas nya yang terengah-engah.
"Bagaimana?" tanya Syihab lagi.
"Ba-Baba" lirih Mahda dengan suara parau nya.
"Terima kasih" Syihab mengakhiri celoteh rajukan nya dengan kecupan manis di bibir Mahda.
Kecupan yang lama-lama berubah menjadi lum*tan penuh gairah. Mengabsen setiap inci rongga mulut lawan hingga menjelajahi tiap inci tubuh sang istri.
Semua nya terasa seperti sempurna, paras cantik, hidung mancung, bulu mata lentik, tubuh sintal dan putih mulus hampir tanpa cacat noda.
Subhanallaoh.. Maasyaa Alloh..
Ucapan yang pantas untuk ciptaan Tuhan yang tengah ia nikmati saat ini.
Menurut orang-orang ilmu dalam ranjang itu ilmu laduni, tanpa belajar pun bisa. Padahal sebenar nya dalam agama ada etika-etika yang harus di perhatikan, termasuk memberi rangsangan pada pasangan.
......................
Mau main hareudang-hareudangan lagi gak nih?ðŸ¤
__ADS_1