Cinta Terhalang Dinding Pesantren Season 2

Cinta Terhalang Dinding Pesantren Season 2
Liburan Keluarga (part 2)


__ADS_3

Family time. Tak tanggung-tanggung Yebba Zein dalam hal membawa keluarga nya pergi berlibur melepaskan penat. Area camping di taman bunga Yebba Zein booking untuk keluarga nya malam ini.


Lampu-lampu yang indah menggantung menerangi taman bunga tersebut, serta terang bulan yang seperti tepat di atas sana ikut serta menerangi malam ini.


Api unggun mulai di nyalakan, menghangatkan suasana yang kian mendingin. Sulthan dan Lufia nampak gembira berlarian di bawah terang nya langit malam.


Mahda yang merasa sedikit mengigil meski sudah memakai jaket, antusias mendekati api unggun, mencoba mencari kehangatan di sana.


"Zein.." panggil seseorang dari jarak yang sedikit jauh.


Mahda menyipit melihat orang yang baru saja memanggil nama Yebba nya. Orang tersebut seperti tergesa-gesa berjalan ke arah Yebba Zein.


"Egi? Maasyaa Alloh Gi, ini ente?" tanya Yebba Zein tak percaya.


"Ini hantu, iya lah ini ana. Waahh, udah mau punya cucu tapi masih keliatan gas'ah ente ya" puji Egi sambil menjabat tangan Yebba Zein.


"Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad. Bisa aja, ente juga tetep gas'ah. Sendirian aja?" tanya Yebba Zein.


"Sama istri, tuh dia" jawab Egi sambil menunjuk istri nya yang tengah berjalan menuntun anak perempuan seusia Sulthan.


"Nginep ya, biar seru" ajak Yebba Zein.


"Ente aja yang nginep, ada villa ana di sebelah bawah" ajak Egi.


"Wah wah, juragan mah tajir, punya villa di kawasan bagus kaya gini. Tapi ana udah booking di sini, lain kali aja kali ya Gi" jelas Yebba Zein.


"La ba's" timpal Egi dan berlanjut merumpi sesama bapak-bapak, di tambah Irfan yang ikut menimbrung karna memang mereka satu pondokan saat muda dulu.


Sulthan, Lufia dan Amira, anak dari Egi terlihat tengah asyik bermain di dampingi Mahda dan Syihab yang selalu berada di dekat nya. Sementara Yemma Hani tengah berbincang pula dengan Salsa, istri Egi.


"Lihat Zein! Sulthan kaya ente waktu di pondok, di gandrungi banyak hareem" ucap Egi menunjuk Sulthan yang di kerubungi para wanita.


"Iisshhh, ada-ada aja" timpal Yebba Zein.


"Memang betul, iya kan mba Hani?" tanya Egi pada Yemma Hani yang tak jauh dari mereka.


"Iya, hampir aja ana kecolongan, sama misan antum" balas Yemma Hani telak.


Egi tersenyum malu, ia faham apa yang di maksud Yemma Hani. Karna tak lain yang di maksud adalah Lala, misan nya sendiri.


..


Waktu semakin malam, lolongan anjing dari hutan pinus yang notabene hampir berdampingan dengan kebun bunga mulai terdengar.


Udara semakin dingin bahkan api unggun mulai padam. Makanan mulai tak bersisa setelah di santap berjama'ah, para pengurus taman pun mulai pamit untuk beristirahat dan berpesan bisa memanggil nya di posko depan jika ada apa-apa.


Terdapat 4 tenda yang berjejer, persatu tenda di isi Yemma Hani dan Yebba Zein, Irfan dan Lulu, Syihab dan Mahda, dan satu nya lagi mba Syifa dan Lida yang bertugas menjaga Sulthan dan Lufia. Sementara itu Aly masih kebingungan harus tidur di tenda mana.


"Ba, Aly di tenda mana?" tanya Aly.


"Mau ikut Yebba?" tanya balik Yebba Zein.


"Enggak" tolak Aly tegas.

__ADS_1


"Masa di luar, dingin" sambung Aly lirih.


"Aahhh, bang kamu ikut di tenda Mahda aja" saran Yebba Zein.


"Dengan mereka? Enggak" tolak Aly mentah-mentah.


"Dih, so-soan nolak, ya udah, kak ayo kita regud. Biarin tuh bang Aly kedinginan" tutur Mahda sinis.


"Yakin kamu mau regud di luar bang? Dingin loh" tanya Yemma Hani.


Setelah di fikir berulang kali akhir nya Aly dengan terpaksa menyetujui tidur bertiga dengan adik dan adik ipar nya dengan posisi Syihab di tengah.


Dari pada mati kedinginan.


Fikir Aly.


"Awas aja kalau nanti malem kalian ah ih uh di sebelah abang, tak pites satu-satu termasuk punya kau, Syihab" ancam Aly saat memasuki tenda.


Syihab langsung meringis membayangkan tongkat pusaka nya jika di pites Aly.


"Abang udah bisa nebak aja apa yang akan kita lakuin" timpal Mahda menggoda Aly.


"Maghrum ya kalian" balas Aly sebal.


Tidur bertiga di dalam tenda membuat Aly semakin tak nyaman. Pasangan muda yang tengah di mabuk asmasa dengan tanpa perasaan nya tidur saling berpelukan dengan posisi Syihab membelakangi Aly.


Sabar Ly sabar. Akan ada waktu nya.


Batin Aly lagi.


......................


Liburan sesaat tlah usai namun Mahda semakin menjadi. Selama di perjalan pun Mahda tak berhenti mengeluh pusing hingga Syihab harus terus memijit pelan kepala nya.


"Kakak hamil?" tanya Yemma Hani.


"Enggak Ma" jawab Mahda lirih.


"Yakin? Yemma perhatiin kamu dari kemarin ngeluh terus pusing" tutur Yemma Hani.


"Cuma gak enak badan Ma" timpal Mahda keukeuh.


"Kamu yakin Syihab, Mahda gak hamil? Udah di cek belum?" tanya Yemma Hani.


"Syihab gak tau Ma, cuma kemarin Mahda ngeluh keram perut bawah nya" jawab Syihab.


"Astaghfirulloh, bener-bener yah. Menurut Yemma kamu hamil, dan sakit itu efek dari hamil juga bisa karna kecapean" tutur Yemma Hani.


"Kalau udah sampai beyt kita periksa" sambung Yemma Hani.


..


Baru saja di rencanakan akan di periksa Mahda sudah terlihat lebih parah. Dari pagi hingga siang hari Mahda terus bolak balik ke kamar mandi hingga membuat Syihab juga yang lain nya kawatir.

__ADS_1


"Keluar deh, pengap banget di ghurfah banyakan gini" titah Mahda seolah mengusir.


"Allah kareem, Mahda. Ghurfah udah kaya lapangan futsal di bilang pengap, ckckck" decik Lulu.


"Bang, coba telfonin kak Ema, tanyain masih dimana!" titah Yemma Hani pada Aly yang ikut berkumpul di dalam kamar setelah drama Mahda yang pingsan di kamar mandi menggemparkan seisi istana Aly Zein, hingga jiddah Ita dan njid Mahbub datang kemari.


Aly mengangguk dan segera melaksanakan perintah. Menelfon Ema yang tak lain adalah misan nya.


Seperempat jam kemudian Emma datang dengan tas berisi alat untuk memeriksa Mahda. Mahda yang sudah sangat lemah terus meringkuk di atas tempat tidur. Sebagian anggota keluarga keluar memberikan tempat untuk Mahda di periksa hingga menyisakan Syihab dan Yemma Hani.


"Sudah dari kapan ngerasa pusing?" tanya Emma.


"Udah dari pas masih di pondok kak" jawab Mahda lirih.


"Mual?" tanya Emma lagi.


Mahda mengangguk.


"Hari pertama terakhir haid masih ingat?" tanya Emma.


"Tanggal 26 kak" jawab Mahda lagi.


Emma terdiam seperti tengah menimang sesuatu.


"7 minggu" ucap Emma.


"Hah?" Yemma Hani terkejut.


"Mahda hamil Emm?" tanya Yemma Hani meminta penjelasan.


Emma mengangguk.


"Menurut perhitungan Emma udah 7 minggu kak, tapi untuk lebih pasti nya coba bawa ke dokter spesialis!" saran Emma.


"Untuk sekarang Mahda di infus dulu ya, udah lemes gini. Makan yang teratur terus minum vitamin yang kakak kasih" tutur Emma sambil berusaha menancapkan jarum infus di tangan Mahda.


"Kakak, apa Yemma bilang. Kamu hamil" ucap Yemma Hani dengan mata yang berbinar, senang dan haru menjadi satu.


Begitu mendengar kata hamil, spontan Syihab menegang lalu ambruk dan bersujud. Sujud syukur karna di beri kenikmatan dan kabar gembira kali ini. Syihab tergugu dan menangis, tangis bahagia yang tak bisa ia ucapkan dengan kata-kata. Kehidupan kecil kini mulai tumbuh di rahim istri nya, calon penerus yang akan menjadi kebanggaan nya kelak.


Yemma Hani ikut meneteskan air mata nya melihat sang menantu yang begitu bahagia mendengar Mahda tengah mengandung anak nya.


Di rengkuh nya Mahda ke dalam pelukan Yemma Hani. Memberikan ucapan selamat serta syukur dengan nikmat yang ia dapatkan kini.


"Istirahat lagi, Yemma ke bawah dulu" titah Yemma Hani pada akhir nya.


Sepeninggal Yemma Hani dan Emma, Syihab bangkit dan segera memeluk Mahda. Menumpahkan kebahagiaan nya dengan menghujam Mahda dengan kecupan penuh cinta.


Terima kasih, terima kasih sayang


Ucap Syihab berkali-kali dan masih terus memeluk Mahda.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Gimana mak? Masing kurang?


__ADS_2