
Persiapan demi persiapan mulai di lakukan, bahkan Mahda sudah pindah sementara waktu ke rumah jiddah Ita, menempati kamar Yebba Zein yang di rubah dalam waktu cepat. Sementara kamar Mahda di gunakan jika saja ada kerabat yang ingin menginap di sana.
Begitu pun dengan aula pesantren yang mulai di bersihkan juga di rapihkan untuk tempat beristirahat para santri putra dari Pesantren A***. Sedangkan untuk santri putra sama pula di aula putra. Rencana awal semua santri hendak di boyong, namun karna khawatir terjadi yang tidak-tidak, lebih baik menghindari, pengurus pondok akhir nya hanya mengizinkan kelas 3, takhassus juga mba dalem yang berangkat menghadiri acara.
"Manten.." panggil Aly menyembulkan kepala nya di pintu kamar yang kini di akui menjadi kamar Mahda.
"Labbeik.." jawab Mahda.
"Lagi ngapain?" tanya Aly yang masih di posisi nya.
"Masuk aja sih bang, kenapa nongol disitu terus?" titah balik Mahda.
Aly pun masuk dan berjalan menuju Mahda yang tengah duduk di sofa, melihat aktivitas para santri yang tengah membersihkan lapangan, yang hendak di pakai untuk acara nanti.
"Gak enak banget muka nya, kenapa sih bang?" tanya Mahda penasaran.
"Gak papa, cuma rasa nya sekarang abang bener-benar akan ngelepas kamu, ada rasa sedih juga, setelah acara nanti bakalan bener-bener lepas padahal kalau di fikir emang udah lama ya. Kita yang tumbuh bareng, kamu yang apa-apa abang, dikit-dikit abang bahkan sampe sekarang. Abis ini bener-bener kamu mulai ngejalanin nya berdua sama Syihab, tanpa ada embel-embel abang lagi kalau butuh sesuatu" tutur Aly lrih.
Melepas Mahda membuat Aly benar-benar sedih, berpisah rumah dan tidak ada lagi kecerewetan yang akan Aly dengar.
"Sad gitu. Biasa aja bang, kita kan masih bisa ketemu jarak dari sini ke rumah kak Syihab juga deket, cuma 1 jam. Lagian ya, sebenernya Mahda gak mau pindah dari rumah Yebba, terlalu nyaman untuk di tinggalkan" timpal Mahda.
"Huss, gak boleh gitu. Rumah Syihab nanti kosong, kelamaan kosong nanti ada yang nempatin" balas Aly.
"Mahda kontrakin aja, kan lumayan tuh dapet fulus" usul Mahda.
"Yassalaaam, otak mu cuan mulu Da" timpal Aly tak habis fikir dengan ide gila adik nya.
"Lebih enak tinggal berdua sama suami kata nya, tanpa orang tua atau ipar meski di rumah yang kecil atau gubuk sekalipun. Abang belum ngalamin tapi emang ada bener nya juga Da. Kadang masalah timbul dari orang terdekat" jawab Aly.
__ADS_1
"Nggeh ustadz Aly, ana fahim" timpal Mahda.
"Hih, gue gedig ya. Di omongin malah ngeledek" jawab Aly gemas.
..
Beberapa mobil mulai memasuki area pesantren yang hendak di pakai sebagai tempat acara. Mobil-mobil yang membawa mulai dari sayuran hingga peralatan masak yang besar, seperti wajan yang hanya masuk dua buah di mobil kolbak, cukup besar bukan? Bahkan dandang pun menggunakan ukuran besar. Bukan main, Yebba Zein mengundang kerabat juga rekan-rekan nya selama perjuangan hingga tamu yang hadir di prediksikan akan mencapai ribuan. Belum lagi para santri dari Pesantren A*** yang akan datang menghadiri acara.
Truk-truk besar pun mulai terlihat datang, bersiap memasang tenda juga pelaminan untuk tuan putri dari seorang Yebba Zein. Satu lapangan luas akan tertutup tenda dari ujung ke ujung.
Sementara itu, ruang tengah rumah njid Mahbub sudah mulai di pasang dekorasi minimalis untuk tafarukan dan pembacaan burdah malam ini. Sementara untuk malam henna sekaligus malam seru-seruan semisal ghoflah atau jappin, Mahda meminta untuk merubah dekorasi. Merepotkan memang, namun selama ada uang semua nya akan berjalan lancar.
Sebuah pelaminan minimalis namun elegant dengan aksen berwarna putih dan pink menjadi tema malam ini. Bunga hidup yang semerbak menjadi parfum alami di ruangan berukuran 5x15 meter tersebut, belum lagi bunga melati yang sengaja di tabur di ruangan tersebut. Hamparan karpet dengan bulu-bulu putih dan pink menjadi alas duduk para santri untuk acara malam ini. Sementara Mahda sendiri sudah di sediakan sofa yang nampak mewah di tempat nya.
"Wiihhh, cakep bener" puji Mahda menghampiri Yemma Hani yang tengah mengecek satu per satu persiapan acara resepsi Mahda.
Rumah besar njid Mahbud di rombak habis-habisan untuk menyelenggarakan acara Mahda. Bahkan njid Mahbub harus rela menyatukan dua ruangan untuk di dobrak, di renovasi dan sekarang di jadikan tempat acara di dalam rumah untuk nanti malam.
Meja makan pun sudah mulai di tata dengan peralatan yang akan di gunakan. Juga berbagai makanan ringan sebagai pendamping pun sudah mulai di sajikan.
Tepat pukul 16.25 WIB, rombongan santri putri tiba. Menggunakan 1 buah mobil bus dan 1 mobil travel. Kesemua nya di giring memasuki aula putri untuk beristirahat sejenak. Di sana pun Yemma Hani sudah menempatkan mba yang akan mengatur dan mendampingi. Roti, slei, susu hingga kopi sudah tersaji untuk para santri, bahkan kue-kue juga buah-buahan sudah di sediakan. Tak tanggung-tanggung dalam menghormati para tamu, Yemma Hani mencoba memberikan kenyamanan pada teman-teman anak nya.
"Emm, Yemma Hani. Apa dari pondokan dulu juga dateng kesini?" tanya Afiyah saat Yemma Hani memanggil nya untuk menemani Mahda.
Afiyah memang di kenal dekat dengan Mahda, begitu pun dengan Yemma Hani yang sudah merasa tidak sungkan terhadap nya.
"Kesini, tapi cuma 1 mobil sama bu Nyai nya" jawab Yemma Hani.
Meski pernah merasa kecewa dengan bu Nyai karna masalah Ahmad, Yemma Hani dan Mahda masih menghormati beliau, karna beliaulah guru pertama Mahda selain ustadz dan ustadzah di pondokan njid Mahbub.
__ADS_1
Sementara itu, santri pun turut datang namun hanya 1 mobil bus kecil, hanya personil hadroh yang akan mengiring Syihab nanti.
Syihab pun sudah tiba dan menetap di rumah Yebba Zein di temani Aly. Sedangkan keluarga nya akan mendadak berangkat di hari H acara nya nanti.
"Perasaan kaya bener-bener mau nikahan lagi deh" ucap Syihab.
"Lah, emang iya kan?" tanya ustadz Iman.
"Resepsi doang ustadz" jawab Syihab.
"Loh, kata nya mau di aqadin lagi, belum nikah negara nya" timpal ustadz Iman bingung.
"Udah, udah ana urusin surat nya pas kemarin doi tekdung" jawab Syihab.
"Isshhh, dah bobol gawang" ledek ustadz Iman.
"Sudah, dan rasa nya mantap ustadz" bisik Syihab yang membuat bulu kuduk ustadz Iman meremang.
"Yahdik ente, Hab" kesal ustadz Iman.
..
Melihat orang-orang yang terus hilir mudik kesana kemari membuat Mahda pusing, di tambah hawa yang tiba-tiba menjadi panas efek dari kerumunan orang yang begitu banyak.
Mahda pun memutuskan untuk pergi ke saung yang berada di tengah-tengah rumah njid Mahbub. Sebuah ruangan yang tembus ke langit tanpa atap. Melihat langit yang begitu cerah membuat Mahda tambah pusing karna kesilauan dan kepanasan nya, untung saja banyak tanaman yang tumbuh hingga bisa sedikit menyejukan hawa di sana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dah siap kondangan belom makemak?
__ADS_1