
Mahda berjalan menuju saung di belakang kelas sembari membawa beberapa kitab dan catatan nya. Terlihat beberapa halaqoh berkumpul dan sudah berkutat dengan buku juga kitab masing-masing. Sedangkan Mahda baru saja datang ke sana setelah selesai melakukan tugas nya menyiapkan makan malam untuk asatidz, termasuk calon suami nya, Syihab.
Duduk lalu berdo'a sendiri dan mulai bermuthola'ah pelajaran, besok adalah hari pertama santri putri ujian. Mahda yang sudah di angkatan takhasus pun harus mengikuti ujian demi mendapatkan ijazah nanti. Bukan perihal ijazah sebenar nya, tapi seberapa ia faham dan mengamalkan ilmu nya.
"Besok ujian fiqih kan?" tanya Mahda memastikan.
"Iya" jawab Afiyah.
Dengan pelan Mahda membaca lembar demi lembar catatan yang sudah ia tulis, kali saja ada yang belum ia hafal di luar kepala.
Pukul 21.30 para santri baru saja bubar keseluruhan nya, meninggalkan saung yang mulai di padamkan lampu-lampu nya.
"Jajan yuk!" ajak Afiyah.
"Emang mba Maya belum pulang?" tanya Mahda.
Maya, istri dari pengurus kebun dan segala hal yang bersangkutan dengan tanaman juga lain-lainya yang ada di pesantren. Hubabah menugaskan Maya sebagai pengurus kantin putri dari pagi hingga malam hari.
"Udah" jawab Afiyah.
"Terus?" lanjut Mahda.
"Bikin mie kremes aja deh, ente punya banyak kan Da stok mie nya?" tanya balik Afiyah.
"Tau aja" balas Mahda.
Mahda memang di kenal sebagai penyetok mie instan, pdahal sebenarnya ia jarang memakan nya, apalagi ketika lambung nya tengah kambuh.
Mahda pun berjalan menuju arah lemari penyimpanan para santri, mencari box dengan kode yang sudah di beri oleh masing-masing pengurus. Mengambil 2 bungkus mie instan untuk di remukan bersama Afiyah.
Menatap langit malam di sebuah bangku di depan asrama unit 2, merasakan semeliwir angin yang menerpa wajah nya halus. Merasakan dingin dan damai nya tempat ini kala para santri sudah berpetualang ke alam mimpi.
"Kalau nanti udah zuad, mau tinggal di sini apa di beyt Da?" tanya Afiyah yang masih setia menemani padahal suasana sudah sangat sepi. Hawa mistis pun mulai merasuki suasana.
"Gimana ustadz Syihab aja, kemana aja ana ngikut" jawab Mahda yakin.
"Dih, udah mau jadi suami masih manggil ustadz, gak ada panggilan khusus emang nya?" tanya Afiyah lagi.
"Gak ada tuh" timpal Mahda asal.
Memang tidak ada, komunikasi khusus pun tak ada. Syihab memang di perbolehkan membawa ponsel, tapi tidak dengan Mahda.
__ADS_1
Di jodohkan dengan Syihab pun Mahda masih merasa bermimpi. Di saat ia mengejar namun tak terkejar, namun saat ia memasrahkan pada Robb-Nya, ada yang lebih berarti balik mengejar.
*
*
2 hari setelah ujian selesai Mahda izin pulang guna melaksanakan acara khitbah. Dengan di jemput supir pribadi Yebba nya, Mahda dan Aly bertolak pulang ke kota asal.
"Gue boleh kan bang tidur di pangkuan lo?" tanya Mahda yang mode bicara nya kembali seperti saat mereka berada di rumah.
Terpaut usia yang hanya 2 taun menjadikan Mahda dan Aly seperti anak kembar, di tambah postur tubuh Mahda yang lebih besar dari pada Aly. Aly tinggi ke atas, namun Mahda ke samping.
Montoq
Julukan yang Aly berikan pada Mahda. Tubuh berisi dengan dada dan bokong yang sama berisi nya. Bak tubuh model gitar Spanyol jika saja tubuh itu di balut dengan pakaian yang ketat.
"Boleh" jawab Aly.
Sepanjang perjalanan Mahda berbaring dengan kepala di pangkuan Aly. Bercerita dan saling bertukar fikiran.
"Gue udah mau nikah 2x loh bang, lu mau kapan?" tanya Mahda.
"Nanti, satu-satu. Kasian Yebba sama Yemma ngurusin nya kalau anak nya nikahan semua" jawab Aly.
"Ngikut aja lah, gimana dia" jawab Mahda.
"Lu yang nurut ye, yang baik, yang sholehah, berbakti sama laki lo. Jangan malu-maluin abang lo yang tampan ini" tutur Aly memberikan wejangan pada Mahda.
"Nggeh ustadz" timpal Mahda dengan tersenyum mengejak.
"Dasar"
Tak !!!
Aly menyentil gemas jidat Mahda yang menurut nya jidat Mahda itu lebar, persis milik Yebba nya.
*
*
Mahda di buat terkejut saat memasuki halaman rumah nya yang sudah di sulap oleh team dekor. Yebba nya lagi-lagi menyiapakan sesuatu yang mewah untuk sekedar acara lamaran.
__ADS_1
Halaman luas nya sudah di pasang tenda dengan di hiasi background cream kombinasi cokelat dengan hiasan lampu pada tiang-tiang dan di bawah nya, menambah megah halaman luas yang kini di sulap sebagai pintu masuk. Gelaran karpet merah seperti menyambut Mahda dan Aly yang baru saja tiba mepet dengan waktu acara lamaran di mulai.
"Kenapa baru dateng?" gerutu Haniyah yang mulai sibuk melihat jam menunjukan waktu maghrib tiba, sedangkan acara di gelar selepas sholat isya.
"Tadi macet Ma di jalan" jawab Aly lalu menyalami Yemma nya.
"Kakak cepet mandi, abis sholat siap-siap ya. Nanti ada mba yang bakal ngerias kakak! Jangan lupa makan dulu, jangan sampai kakak pingsan waktu acara" titah Haniyah sambil menggiring ke dua anak nya masuk.
Lagi-lagi Mahda di buat takjub dengan dekorasi pelaminan yang minimalis untuk acara lamaran nya. Mahda bersyukur karna kali ini Yebba nya menuruti nya agar tak menyewa dekorasi yang mewah hanya untuk lamaran, tak seperti dulu saat dengan Ahmad. Yang terpenting sekarang adalah ada ikatan, urusan mewah bisa nanti saat resepsi.
Rasa gugup mulai menghampiri diri nya, apalagi setelah Mahda melihat jamuan makanan yang sudah berderet rapih di meja prasmanan.
Mahda menggelengkan kepala nya melihat ruang bawah nya kini di hiasi berbagai bunga, bahkan sampai pegangan tangga yang tengah ia tapaki kini pun di hiasi bunga.
Selepas sholat maghrib Mahda sudah di tunggu oleh pihak perias yang akan merias nya kali ini.
"Sof, suapin gue ya, please!" pinta Mahda pada Sofia yang sudah standbye dari siang hari menunggu kedatangan teman nya yang akan mengadakan khitbah malam ini.
"Iye dah" timpal Sofia tak sampai hati harus melihat Mahda di rias namun perut nya kelaparan.
Sambil di rias Mahda di suapi oleh Sofia. Teman terbaik nya sewaktu dari SD, bahkan mungkin TK.
Dengan riasan flawless membuat Mahda semakin cantik, hidung mancung yang semakin menantang dengan bola mata bulat dan bulu mata lentik. Siapa pun yang melihat pasti akan mengucap Maasyaa Alloh saat melihat kecantikan Mahda kali ini.
"Uh, hally nya ponakan Hameh malam ini" puji Lulu.
"Emang biasa nya gak hally Hameh?" tanya Mahda.
"Hally kok, tapi malam ini hally nya plus plus, sangat" puji Lulu lagi.
Lulu pun tak ketinggalan, ia ikut di rias seperti Haniyah dan Mahda.
"Hameh hally gak Da?" tanya Lulu sambil mengerjapkan ke dua mata nya.
"Hally, makanya Hami suka sama Hameh" jawaban yang memuaskan Lulu.
Setelah selesai di rias, dia segera mengganti baju nya. Baju yang sudah Haniyah siapkan, ia pun memesan langsung dari desainer terkenal, Sahila. Gaun yang beliau rancang khusus untuk Mahda di acara pertunangan nya.
Hati Mahda serasa semakin gugup manakala waktu sudah menunjukan pukul 8 malam, itu tanda nya acara akan segera di mulai.
"Jangan tegang gitu lah, gak lucu!" ledek Sofia sambil terus memainkan ponsel nya, mengambil beberapa foto Mahda yang sudah berubah bak putri Timur Tengah.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹