
Selesai mahalul qiyam, ke dua pengantin di arak menuju depan rumah Ummi untuk di pertemukan dengan mempelai pengantin wanita. Di iringi kembali dengan hadroh dan sorak dari para santri putra tentu nya.
Setelah adegan menegangkan dan hampir ribut karna Haidar salah menyebut nama dan gugup membuat nya harus mengulangi akad nikah setelah di istirahatkan sejenak.
Hayooo, nama siapa yang di sebut nih? Oleng kah bang?
Pengantin wanita sudah bersiap, di gandeng oleh ke dua wanita, ibu sekaligus mertua nya masing-masing. 2 pasang pengantin pun di arak satu persatu menuju pelaminan. Kini giliran santri putri yang bersorak karna kegemasan nya melihat pengantin. Suara heboh santri putri begitu terdengar sampai kelas RA, dimana Mahda berada kini.
Malu dengan tatapan hampir dari semua santri, Mahda memutuskan untuk pergi ke belakang, menghampiri sang adik yang masih asyik bermain antara perosotan juga jungkat jungkit.
"Jangan ngelamun" ucap seseorang dari belakang Mahda, mengelus pundak nya lembut.
Mahda tersenyum melihat sosok tersebut, lalu memeluk nya.
"Ko harus kaya gini sih, Fi?" keluh Mahda lirih.
Mahda tak habis fikir dengan apa yang di lakukan Haidar hingga membuat nya malu bukan kepalang.
"Gak usah di fikirin, toh sekarang udah sama yang lain" timpal Sofia.
"Buang semua rasa itu Da!" tambah Sofia.
"Gue udah ngebuang semua rasa itu sejak dia sama Aliya, Fi. Mungkin cuma rasa gini, ya, inget nya tuh, kok sama orang lain gampang banget bilang iya, kenapa dulu sama gue susah banget? Sampe gue lelah rasa nya nunggu dia. Saat gue udah sebel banget sama dia, dia dateng. Mungkin kalo posisi nya dia gak nyakitin, mungkin bakalan gue terima, mungkin. Tapi ya jujur, gue bahagia ko akhir nya dia punya lagi pasangan, mudah-mudahan aja gak ganggu gue lagi habis ini" tutur Mahda.
"Tapi gue ko ngerasa lu masih ada rasa ya?" tebak Sofia.
"Isshhh, kita udah punya laki ya. Udah di depak jauh-jauh rasa ke dia sejak punya laki yang tampan nya mengalahkan abang gue sendiri" jawab Mahda.
"Jadi dulu ke Ahmad masih suka dong?" tebak Sofia lagi.
"Sikit, gak banyak. Gue janda, dia duda, ngincer lagi malah kita ilfil" jujur Mahda dan langsung tertawa.
Mengingat bagaimana ia sebucin itu pada sosok yang kini menjadi pengantin.
"Udah ah, dosa gue malah nostalgia sama dia. Udah punya si jambang tampan, gak akan berpaling" lanjut Mahda.
"Mentang-mentang punya yang tampan sepondok putra" cibir Sofia.
"Suatu keberuntungan bagi Mahda Qaireen" balas Mahda.
..
Setelah Maghrib keluarga pengantin mulai banyak yang pulang, meninggalkan keluarga inti yang masih mendampingi pengantin wanita, sementara pengantin laki-laki tengah melaksanakan sholat.
Mahda pun berjalan menuju asrama untuk membersihkan diri dan kembali bersiap. Pukul 7 nanti bagian diwan atau pengurus juga para santri kondangan.
Aahhh, makan ice cream.
__ADS_1
Teriak Tika sumuringah karna sudah mengincar ice cream sedari tadi siang.
"Kalian tiap hari makan ice, kenapa sekarang kaya kegilaan gitu dapet ice cream?" tanya Afiyah.
"Kalau dari kondangan suka ada sensasi beda nya" jawab Tika.
Afiyah memutar bola mata nya jengah mendapat jawaban Tika.
"Bang.." sapa Mahda melihat Aly yang hendak keluar setelah bagian nya selesai.
"Beik.." jawab Aly.
"Abang ngasih apa ke dia?" tanya Mahda.
"Fulus aja, kakak mau ngasih apa?" tanya balik Aly.
"Kado ini, ke Ratih nya" jawab Mahda.
"Kak Syihab mana?" lanjut Mahda.
Aly mengisyaratkan mata nya, menunjukan Syihab ada di belakang Mahda.
"Ayo bareng" ajak Syihab.
"Malu kak" tolak Mahda.
Mahda menatap Syihab sebentar lalu mengangguk tanda setuju dengan saran sang kakak.
Saat Mahda berjalan dengan di gandeng oleh Syihab. Semua santri kembali heboh menyoraki pasangan pengantin stok lama ini. Bahkan terdengar tepuk tangan dari beberapa ustadz dan ustadzah yang sudah menyetahui hubungan nya, karna keberanian Syihab menampilkan hubungan ke dua nya.
Uwuuuwww, mba Mahda, ustadz Syihab.
Sorak beberapa santri.
Mahda dengan gaya pede nya melambaikan tangan seperti hal nya para artist yang berjumpa dengan fans mereka. Berjalan berdua melewati beberapa santri putri yang tengah mengantri prasmanan sedangkan santri putra sudah pamit kembali ke asrama, tinggal beberapa ustadz yang masih menemani Abuya berada di sana.
Gile gileee, pengantin yang ini lebih uwuw.
Teriak Nafisah dengan girang nya hingga tak sadar antrian nya di serobot Tika dan ustadzah Nur.
Mahda dan Syihab berjalan menuju pasangan Rijal dan Nisa terlebih dahulu, tak lupa sesuatu yang tak boleh terlewatkan, selfie.
Selesai dengan Rijal dan Nisa, Mahda dan Syihab berjalan menuju pelaminan Haidar dan Ratih yang bersebrangan. Hati Mahda tiba-tiba tak tenang harus kembali berhadapan dengan Haidar.
"Mau langsung kesana?" tanya Syihab melihat raut wajah Mahda yang malas menghampiri Haidar.
"Kakak udah makan belum?" Mahda malah bertanya balik pada Syihab.
__ADS_1
"Tadi di bawain makanan sama Yemma" jawab Syihab.
"Yaudah langsung aja, nanti temenin Mahda makan tapi ya" pinta Mahda.
Syihab mengangguk dan kembali berjalan menuju pelaminan Haidar. Menaiki tangga, Syihab pun membantu Mahda dengan mungulurkan tangan nya.
"Mabruuk ya, ustadz" ucap Syihab menyalami Haidar.
Mahda tersenyum tanpa bicara, dan langsung menjabat tangan Ratih.
"Mabruuk Ratih, samawa, barokah ya" ucap Mahda dan memeluk Ratih.
Memberikan sebuah kado yang mudah-mudahan bermanfa'at untuk kedua nya, terutama Ratih.
"Syukron mba Mahda" jawab Ratih.
Mahda pun kembali berfoto dengan pasangan baru tersebut. Setelah merasa cukup Mahda buru-buru mengajak Syihab turun, bukan tanpa alasan, tangan sialan Haidar terus usil pada Mahda, padahal masih terhalang oleh Ratih yang berdampingan dengan Mahda. Saking kesal nya Mahda pun harus mencubut tangan usil dan tak tahu diri itu. Sudah pasti Haidar akan meringis kesakitan di buat nya, siapa yang tak tahu, cubitan Mahda begitu sakit dan panas.
Kini giliran Mahda yang menggandeng Syihab terlebih dahulu, menunjukan pada Haidar bahwa ia sudah benar-benar tidak mempunyai celah lagi untuk menggoda Mahda, ada Syihab yang kini benar-benar Mahda cintai.
Allah kareem, kaya lagi unjuk kemesraan gini ya. Saling ngebales.
Batin Mahda.
Mahda menarik Syihab ke arah prasmanan, mengikuti ustadz Rahman dan ustadzah Rahmah yang tengah mengantri pula untuk makan.
"Ustadz Syihab gak makan?" tanya ustadzah Nur.
"Enggak, nemenin istri aja" jawab Syihab.
"Yassalaaam, sweet amat tadz" ledek ustadzah Nur.
Syihab tidak mengambil jatah prasmanan nya, hanya mengambil ice cream, es teh juga siomay pesanan sang istri.
"Maruk banget kamu sayang" ucap Syihab yang repot membawa makanan Mahda.
"Gak papa, kita kan makan berdua kak" jawab Mahda.
Mahda memilih tempat yang agak kosong untuk mereka berdua. Seperti janji Syihab ia akan menemani Mahda makan, dan kali ini ia benar-benar menemani nya bahkan mau tak mau menerima suapan dari sang istri di temani sorakan santri putri dan beberapa asatidz di sana.
"Kakak balek ya, malu udah pada reja' tuh asatidz" pamit Syihab.
"Ayo, Mahda anter ke depan" tawar Mahda dan kembali menggandeng Syihab berjalan keluar dari area pelaminan.
Sudah pasti ada mata yang menatap tak suka pada Mahda dan Syihab. Tatapan sinis yang seolah ingin memisahkan Mahda dan Syihab.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1