
Pukul 10 lebih Mahda beserta rombongan juga bahan belanjaan baru saja tiba di pondok. Dengan menaiki angkot biru langganan pondok, belanjaan di tata dengan rapih di dalam angkot agar Mahda, Syamsiah juga bu Rini yang notabene berbadan besar bisa masuk sekaligus ke dalam sana.
"Bu Rini ayo ding, pengap nih pengen keluar" titah Syamsiah yang sudah tak sabar untuk keluar dari angkot namun terhalang oleh bu Rini.
"Ya sebentar Syamsi, ini lagi on proses" timpal bu Rini dengan suara khas nya yang berat.
"Yassalaaam, lama bener bu" sambung Syamsiah.
Akhir nya bu Rini keluar dengan sedikit dorongan dari Syamsiah. Tak sabar, Mahda pun ikut-ikutan keluar dengan terburu-buru.
"Aaahhh, encok pinggang ku" ucap Mahda sambil merentangkan tangan nya juga memijit pinggan yang terasa pegal.
"Euuhhh, ampe kleyengan gini belanja sama naik angkot" tambah Mahda lagi.
"Santri, bantuin angkut belanjaan!" teriak bu Rini.
Tanpa banyak drama, para santri yang ada di sana ikut membantu mengeluarkan belanjaan, menunda pekerjaan yang tengah mereka kerjakan.
"Bu Rini, nota nya?" tanya Mahda melihat bu Rini yang hendak pergi.
"Oh iya, saya lupa. Nih" jawab bu Rini sambil menyerahkan beberapa nota belanjaan nya hari ini.
Mahda dengan sigap langsung membereskan nota-nota bersama nota yang kemarin.
..
Halaman kelas yang luas kini beralih fungsi menjadi dapur dadakan untuk acara. Beberapa tenda sudah terpasang agar para santri tak kepanasan saat bekerja.
Wadah-wadah besar dengan irisan kentang juga bahan lain nya sudah terlihat berjejer, daging-daging yang sebagian sudah di cuci juga tengah menunggu bagian nya untuk di olah.
Beralih pada saung di belakang kelas yang sama ramai nya tengah membuat aneka bolu sebagai pelengkap.
Sementara itu, Mahda terlihat hilir mudik menyiapkan pretelan untuk para wisudawati besok, semisal Syahadah dan slayer wisuda.
"Mahda, buat bunga pengantin udah pelunasan belum?" tanya Zulaikha dengan menarik sedikit baju gamis di pinggang seperti biasa nya.
"Belum, besok aja pas di anter baru pelunasan" jawab Mahda sambil merapihkan slayer wisuda.
..
Aula mesjid utama tampak ramai, beberapa tukang dekor di bantu santri putra mulai memasang panggung dan dekorasi pelaminan.
__ADS_1
Bunga putih yang mendominasi dekorasi semakin membuat elegant panggung untuk acara wisuda nanti.
Mahda yang merasa pegal akhir nya keluar dari persembunyian nya setelah terlebih dahulu mengunci kantor takut-takut ada yang masuk sementara pekerjaan nya belum selesai.
Berjalan ke arah aula menghampiri Zulaikha dan uatadzah Nur yang tengah mengarahkan dekorasi. Tujuan utama nya untuk melepas penat juga melihat panggung, tujuan ke dua nya barangkali ia bisa bertemu sang suami.
Tampak Aly juga berada di sana tengah membantu memasang bunga-bunga di bawah panggung.
"Bang.." sapa Mahda.
"Beik.." balas Aly.
"Kak Syihab kemana?" bisik Mahda pelan di telinga Aly. Takut-takut ada yang mendengar petanyaan nya.
Mahda mengerutkan kening nya lalu menatap Mahda yang berjongkok di dekat Aly.
"Dia gak bilang sama kamu?" tanya Aly pelan.
"Bilang apa?" tanya balik Mahda yang terlihat heran.
"Dia izin pulang sebentar, kata nya ada urusan" jelas Aly.
"Gak ada bilang, pulang kapan?" tanya Mahda lagi.
"Kemarin sore, tapi jadwal nya sore ini harus udah balik lagi" jawab Aly.
...****************...
Malam telah larut namun dapur masih terlihat ramai. Sebagian santri terlihat masih ikut membantu pekerjaan, namun tak sedikit pula yang sudah memejamkan mata nya menuju alam mimpi, termasuk para calon wisudawati.
"Da, tidur gih, mata udah tinggal lima watt begitu!" titah bu Ijah, salah satu orang yang memasak untuk acara besok.
"Nanggung ini, dikit lagi selesei" timpal Mahda yang sesekali menguap karna menahan kantuk.
Tubuh nya memang lelah dan pegal, wajib di istirahatkan. Namun ia tetap harus menuntaskan pekerjaan nya memotong tempe untuk sarapan besok pagi.
"Ana mau regud di sini aja deh" ucap Mahda dan melangkahkan kaki nya menuju tumpukan pisang yang sudah di preteli.
"Ih, di dalem aja Mahda! Ana belum beres nih" titah Syamsiah.
"Ana udah lelah, lelah sampe gak kuat melangkah, takut hilang arah" timpal Mahda lebay lalu dengan cepat membaringkan tubuh nya sedikit menjauh dari gundukan pisang.
Beralaskan terpal dan tangan sebagai bantal nya, Mahda perlahan memejamkan mata nya yang sudah sangat lelah barang sebentar untuk kembali membuka. Mengistirahatkan tubuh nya untuk kembali besok menyambut acara yang pasti akan menguras tenaga nya.
__ADS_1
..
Fajar kembali menyongsong, kokokan ayam masih sesekali terdengar membangunkan segelintir orang yang masih betah bergulung dengan selimut.
Lain hal nya dengan keadaan di pondok A****, dari pukul 3 para santri mulai bangun mereka tak kembali tidur dan memilih untuk membantu pekerjaan di dapur.
Sementara bu Rini dan bu Ijah sebagai juru masak sudah terlihat mulai berkutat lagi dengan syutil dan wajan besar.
Para santri yang bukan bagian wisuda kali ini mulai di kerahkan untuk menyiapkan acara. Mulai dari melipat untuk kotal dan mengisi nasi kotak juga makanan, kue basah dan yang lain nya.
Aula mesjid yang menjadi tempat acara mulai di bersihkan dan di rapihkan. Menggelar karpet juga menaburkan bunga melati, membakar dupa lalu menyebarkan nya di setiap penjuru membuat wangi semakin semerbak.
Mahda terlihat tengah bersiap di depan kaca besar, mengoleskan sedikit sibak Tarim dan lipgloss di bibir ranum nya. Lalu membelitkan phasmina yang telah ia siapkan.
Tugas nya dalam haflah kali ini begitu berlipat-lipat, sebagai bendahara pada umum nya dan sebagai penerimaan tamu bersama Afiyah.
"Fi, udah belum?" tanya Mahda yang sudah terlihat rapih.
"Belum, bentar lagi, ini lagi pake sibak" jawab Afiyah.
Mahda keluar dari asrama tampak kebingungan mencari sandal nya yang suka menghilang tiba-tiba. Memang sudah biasa nya sendal suka menghilang dan berpindah tempat sesuka hati di pondokan.
"Ke sini bawa sendal sampe 3 pasang pada kabur semua, gini nih orang yang hobby ngeghasab sendal orang" gerutu Mahda.
Pada akhir nya Mahda menemukan sandal nya di depan kantor namun entah siapa pelaku nya. Berjalan menuju tenda di samping ruang Marwah untuk menyambut para tamu dan wali santri yang datang sembari menunggu para personil hadroh siap. Setelah siap ia akan beralih profesi sebagai vocalis hadroh sejenak.
Sungguh, tugas yang begitu mengasyikan. Sebentar-sebentar di panggil kesana, di panggil kesini, kesitu.
Para wali santri mulai berdatangan, dengan sigap Mahda mengarakan nya untuk duduk. Para wali santri di larang menemui anak-anak nya terlebih dahulu, dan di perbolehkan bertemu satu jam setelah acara untuk menghindari kerusuhan dan kerecokan di dalam lokasi.
Terlihat santri putra saling membantu mengarahkan pengendara untuk memarkirkan kendaraan yang di bawa tamu juga wali santri.
Mahda sedari tadi mata nya tak diam mencari sosok yang sangat ia rindukan beberapa hari ini.
Pucuk cinta ulam pun tiba
Mungkin seperti itulah pribahasa nya. Tak selang lama Mahda akhir nya melihat orang yang ia cari-cari, sang suami. Syihab terlihat baru saja memasuki ruang Marwah dengan yang nampak lelah tak bersemangat.
Kenapa kak Syihab? Murung gitu?
Batin Mahda.
Seperti tak fokus, Syihab tak melihat Mahda yang berdiri tak jauh dari hadapan nya. Tak ada senyuman yang biasa nya ia berikan percuma pada Mahda, hanya ada tatapan kosong dan lelah.
__ADS_1
......................
...Semoga lelah dan khidmah menjadi jalan untuk mendapat Ridho nya Allah SWT....