
Gadis berparas cantik dengan hidung mancung, berbulu mata lentik, beriaskan flawless tengah berdiri di dekat tembok sesuai arahan dari photographer. Dengan tangan berlukiskan henna berwarna maroon, Mahda memegang seikat bunga mawar putih.
Memakai gaun berwarna golden brown dan rangkaian melati yang menjuntai, Mahda terus di arahkan berbagai pose.
"Apa gak berlebihan ya pake melati segala? Ini kaya nikahan loh" gerutu Mahda.
"Udah nurut aja, bawel lu ah!" timpal Sofia yang membantu merapihkan penampilan Mahda.
"Ya tapi gue mengutarakan pendapatan Sofia" tutur Mahda penuh penekanan.
"Ikutin aja, ini emak lu yang ngatur!" bentak Sofia.
"Hih" kesal Mahda.
Sementara di ruang bawah tamu dari calon laki-laki sudah tiba. Hubabah, ustadz Muhammad juga Ummi turut serta hadir dari pihak Syihab. Sementara Abuya absen karna tengah tak enak badan.
Ke semua tamu di persilahkan duduk di tempat yang sudah tersedia. Beberapa hantaran lamaran pun di letakan di meja yang sudah di sediakan. Berbagai macam seserahan Syihab berikan untuk Mahda dari mulai make up hingga baju, dan sudah pasti Syihab memberikan yang terbagus, bukan asal-asalan. Rela merogoh kocek yang dalam untuk pujaan hati nya.
Di bawah, acara sudah di mulai dan sang Master of Ceremony mulai menyebutkan satu persatu acara. Ustadz Muhammad sebagai wakil dari keluarga Syihab, mengutarakan maksud nya untuk meminang Mahda untuk Syihab. Dan dari keluarga Mahda, Zein menunjuk abi nya sendiri, Abi Mahbub.
Tak berapa lama kemudian, Mahda turun di apit oleh Sofia dan Aini, lalu duduk di antara Zein dan Haniyah.
"Akad nikah nya bisa di mulai sekarang?" tanya ustadz Muhammad.
"Hah? Nikah?" ucap Mahda yang terkejut mendengar perkataan ustadz Muhammad.
Mahda menoleh pada Yemma nya, meminta penjelasan. Pasal nya diri nya hanya tau jika hari ini acara khitbah, bukan menikah.
Haniyah mengangguk sembari tersenyum.
"Nikah agama, biar kemana-mana aman" bisik Haniyah.
Dengan wajah cengo, Mahda melihat Syihab duduk di depan pelaminan, Zein yang akan menikahkan mereka langsung. Sementara sebagai saksi nya sudah ada ustadz Muhammad dan ustadz Zulkifli.
Dengan sigap Mahda di tuntun untuk meminta izin menikah dengan Syihab. Air mata nya tak terbendung, kejutan-kejutan yang beruntun tiba-tiba berseliwir di benak nya. Dari mulai di jodohkan dengan laki-laki yang ia sukai dan sekarang di nikahkan secara mendadak.
Pipi nya basah setelah air mata dengan bebas nya turun membasahi pipi. Dengan cepat team perias menyeka dan mengelap pipi yang basah, khawatir merusak make up yang sudah sedemikian rupa rapih nya.
Ustadz Zaki bertugas sebagai pembaca khutbah nikah segera melantunkan dengan khidmat khutbah tersebut.
Zein dengan lantang menikahkan putri nya dengan seorang pria bernama lengkap Muhammad Syihab dan Syihab pun dengan lancar tanpa hambatan mengikrarkan 'aqdun nikah dalam sekali tarikan nafas.
Qobiltu tazwijaha wa nikahaha linafsii bidzalik
__ADS_1
Kata SAH menggema dalam ruangan luas yang sudah di sulap sedemikian megah nya. Silih timpal dengan ucapan alhamdulillah yang fasih terdengar dari bibir setiap tamu. Selanjutnya pembacaan sholawat mahalul qiyam pun di lantunkan di iringi hadroh dari team hadroh santri putra pondok abi Mahbub, menyolawati dan mendo'akan pengantin baru yang baru saja di ikrarkan, di ikat dalam ikatan suci.
Selesai berdo'a, Mahda kembali di apit namun kini oleh Haniyah dan ibu mertua nya, Mama Balgis. Berjalan menuju Syihab. Mahda kini faham kenapa ia di dandani sedemikian rupa, dan ini jawaban nya, ia di nikahkan langsung setelah tunangan.
"Ayo cium tangan suami nya Mahda!" titah ustadz Muhammad.
Mahda kikuk dan gugup harus bagaimana? Mencium tangan Syihab? Mendekat saja rasa nya gugup tak karuan, apalagi meraih tangan lalu mencium nya. Selama ini hanya tangan mahram nya yang ia jabat, merasakan gugup kali ini saat di suruh menjabat tangan baru.
Mahda mengulurkan tangan nya lalu menarik lagi, begitu berulang ulang, pun sama dengan Syihab dengan tarik ulur tangan nya.
Gemas melihat anak nya, Haniyah memegang tangan Mahda dan Balgis memegang tangan Syihab, mengulurkan lalu menciumkan tangan Syihab pada Mahda. Sementara tangan yang satu nya Syihab letakan di atas kepala Mahda yang membungkuk, mengucapkan do'a di awal pernikahan nya.
Sorak riuh dan tepuk tangan menggema, menyoraki pasangan pengantin baru yang banyak drama saat hendak bersalaman.
Mahda dan Syihab di persilahkan duduk di pelaminan minimalis requestan Mahda, sementara para tamu di persilahkan menyantap makanan yang telah di sediakan.
Zein dan Zainal terlihat tengah bercengkrama, begitu pun dengan Haniyah yang tengah berkumpul dengan Hubabah, Ummi dan besan nya, Balgis.
"Geseran sana!" cicit Mahda yang melihat Syihab duduk terlalu dekat dengan nya.
"Kenapa? Kita sudah halal" tanya aneh Syihab.
"Aneh aja gitu, masih kaget" jawab Mahda.
Syihab pun tersenyum, tak menanggapi perkataan Mahda.
"Mahda, kita foto yuk!" ajak Sofia yang sedari tadi sudah banyak mengambil foto diri nya, sejak dari dalam kamar kalau di ingat.
"Bang Syihab juga dong, kita foto bareng!" pinta Aini kali ini.
Syihab mengikuti permintaan teman istri nya, ia berdiri di samping Mahda.
"Gini dong tangan nya!" ucap Sofia mengarahkan tangan Mahda agar menggandeng tangan Syihab.
Hampir saja Mahda memekik terkejut dengan kelakuan teman nya yang satu ini. Dan pada akhirnya merek berfoto, di ikuti oleh keluarga juga dan yang lain nya.
*
*
Mahda melangkah menuju kamar nya setelah di rasa acara selesai, hanya tinggal beberapa orang yang masih asyik mengobrol, termasuk Abi mertua nya yang masih mengobrol dengan Yebba dan suami nya.
Saat membuka pintu kamar, bau melati dan dupa langsung menyambut Mahda. Menampakan kamar yang sudah di ubah menjadi kamar pengantin saat Mahda di bawah.
Sprei yang tadi nya berwarna silver berubah jadi warna coklat susu, taburan bunga mawar dan melati bertabur di atas ranjang.
__ADS_1
Mahda menggelengkan kepala nya, tak mengerti apalagi yang Yemma nya rencanakan kali ini.
"Mahda?" sapa Haniyah yang menyembulkan kepala nya di antara pintu, melirik kesana kemari seperti mencari orang.
"Beik, kenapa berdiri di situ terus Ma?" tanya Mahda yang mulai melepaskan satu persatu bunga melati di lanjut dengan menghapus riasan di wajah nya.
"Gak papa" jawab Haniyah lalu melenggang masuk ke kamar putri nya dan duduk di sofa yang tak jauh dari ranjang Mahda.
"Sini kak!" panggil Haniyah menepuk sofa di sebelah nya yang masih kosong.
Mahda menurut dan langsung duduk di samping Haniyah, dengan kerudung yang sudah terlepas.
"Gimana perasaan kakak sekarang?" tanya Haniyah.
"Emm-gimana ya? Bingung deh kakak jawab nya" jawab Mahda ragu sambil menggaruk wajah nya tak gatal.
"Bingung kenapa?" tanya Haniyah heran.
"Semua nya seperti mendadak. Roller coaster banget kehidupan kakak. Tapi sekarang kakak bersyukur, bahagia, terima kasih Yemma selalu membuat Mahda bahagia, memberikan kejutan yang membuat Mahda berulang-ulang mengucapkan syukur. Makasih Yemma" tutur Mahda lalu memeluk erat Haniyah, wanita yang sudah melahirkan dan membesarkan nya hingga saat ini.
"Ma'af dulu Yemma pernah memaksakan kehendak dan membuat kakak berada di titik terendah. Semua ini permintaan suami mu, Syihab. Rupanya dia memang tak sabar menghalalkan putri Yemma yang cantik ini" jelas Haniyah lalu mengurai pelukan nya.
"Sekali lagi terima kasih, terima kasih untuk semua nya, terutama untuk hari ini" ucap Mahda lagi.
"Sama-sama. Bahagia selalu ya kak! Jadi istri yang sholehah, nurut sama suami" balas Haniyah.
"Yemma keluar dulu ya, takut ngeganggu Syihab mau istirahat" sambung Haniyah.
"Ko Kak Syihab sih?" ucap Mahda menautkan ke dua alis nya.
"La terus?" tanya balik Haniyah.
"Ngapain kesini? Dia pulang kan?" tanya Mahda lagi.
"Ngaco" jawaban dan setilan di jidat Mahda mendarat dengan cantik nya.
"Awww, sakit Yemma. Emang bener, mau ngapain? Cuma nikah agama, gak langsung tinggal bareng kan?" cerocos Mahda.
"Langsung bareng" ucap Haniyah penuh penekanan lalu meninggalkan Mahda yang masih setia duduk di sofa.
Apa? Langsung tinggal bareng? Bobo bareng juga? Allah kareem, spot jantung lagi kalau gini.
Monolog Mahda dalam hati.
Tok.. Tok.. Tok..
Begitu ketukan pintu terdengar Mahda belingsatan, gugup tak karuan dan segera berhambur ke kamar mandi yang masih berada di dalam kamar nya.
__ADS_1
💐💐💐💐💐
Aku pernah mengejar namun bukan ku dapat, melainkan lari menjauh dan semakin jauh.. Saat aku mengejar Rabb ku, ada hal lain yang lebih mengejar ku❤