Cinta Terhalang Dinding Pesantren Season 2

Cinta Terhalang Dinding Pesantren Season 2
Kecewa


__ADS_3

Tangan Mahda bergetar memegang secarik kertas yang ia dapat. Mata nya berkaca-kaca dengan mata tak lepas dari benda tipis berwarna putih tersebut.


"Kak Ahmad nyerein ana?" ucap nya bergetar.


Serasa sembilu menghujam hati nya terus menerus. Sesak, perih, sakit, menjadi satu.


Pagi ini seorang pengurus dari Pengadilan Agama datang ke rumah nya dan menyodorkan secarik kertas yang harus Mahda tanda tangani, tanda persetujuan bahwa ia setuju bercerai dari Ahmad. Suami yang bahkan belum melaksanakan tugas nya sebagai suami.


Buru-buru Mahda mengusap air mata nya yang hampir saja lolos terjun di pipi mulus nya. Rasa nya tak pantas menangisi laki-laki pengecut seperti suami nya, ralat, yang akan menjadi mantan suami nya sebentar lagi. Begitu mudah nya dia meminta lalu mengembalikan.


Tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, Mahda segera membubuhi pernyataan tersebut dengan tanda tangan nya. Lantas petugas tersebut segera pamit pergi setelah berhasil mendapatkan tanda tangan Mahda.


"Kakak yang sabar ya ! Yemma yakin, setelah ini ada kebahagiaan yang akan menyambut kakak" tutur Haniyah, memeluk Mahda yang diam membisu, tak menangis atau pun mengeluarkan air mata nya seperti tadi.


"Salah kakak apa Yemma?" kini Mahda mulai berbicara, mengeluarkan sesak dalam hati nya.


"Kakak tidak salah, Alloh hanya sedang menyiapkan yang terbaik untuk kakak" tutur Haniyah lembut, membelai pipi Mahda.


"Takdir seperti nya tak memihak pada Mahda ya Ma. Rasanya sudah berkali-kali di patahkan" keluh Mahda.


"Huss, jangan ngomong gitu kak ! Percaya deh, habis ini kakak akan bahagia sampai tak lepas membaca Alhamdulillah dan bersyukur" sambung Haniyah.


"Lalu sekarang Mahda harus bagaimana Ma?" tanya Mahda lirih.


Mahda bingung dengan jalan hidup nya sendiri. Mengikuti alur dengan tertatih kah? Atau melawan sekehendak nya?


"Bagaimana apa nya sayang? Lanjutkan hidup Mahda, bercerai bukan berarti berakhir. Buka dan kejar kembali semua impian Mahda yang sempat tertunda" tutur Haniyah.


"Mahda malu" timpal Mahda lirih.


"Janda bukan lah sebuah aib. Yang menentukan jodoh, celaka, mati, hidup nya seseorang itu Alloh" sambung Haniyah.


Seperti mendapat angin segar, Mahda berusaha berdamai dengan rasa sakit dan kecewa nya. Meninggalkan semua ego yang membelenggu nya. Dan secerca harapan ia gantungkan dalam angan-angan nya.


*****

__ADS_1


Langit pagi ini terlihat lebih cerah dari hari kemarin. Terik nya mulai menghangati daun-daun yang nampak basah oleh embun di pagi hari. Bunga-bunga perlahan memekar, menampakan kelopak indah yang berjejer rapih, menghasilkan sebuah bentuk yang begitu indah.


Kicauan burung di pepohonan semakin menambah syahdu pagi hari ini. Seolah memberi tahu bahwa hari ini adalah hari yang begitu indah.


Mengulas senyum manis di bibir nya, Mahda bercermin seraya melilitkan phasmina berwrna purple dan memakai baju bercorak warna senada.


"Selamat pagi ganteng nya kakak" ucap Mahda gemas melihat Sulthan yang tengah duduk sambil menikmati roti bakar buatan Yemma nya.


Sulthan tak menggubris perkataan sang kakak, ia terlalu sibuk menikmati sarapan nya pagi ini, hingga membuat Mahda gemas karna mendapat acuhan dari sang adik.


"Ihh gemes, cuek nya mirip abang" celoteh Mahda lagi.


"Sulthan mau ikut kakak?" tanya Mahda.


"Kemana?" kini Sulthan merespon pertanyaan sang kakak.


"Mengajar, di pondok njid (kakek)" jawab Mahda.


"Mauuu" jawab Sulthan dan segera turun sambil terus membawa roti bakar nya di tangan kanan.


"Masih pagi kak, sarapn dulu !" titah Haniyah.


"Kakak sarapan di beyt jiddah (nenek) aja Ma" timpal Mahda.


"Sulthan jangan nakal ya ! Jangan di titip sama jiddah, kasian kalau harus ngejar-ngejar Sulthan, titip sama mba dulu kalau mau ngajar !" titah Haniyah.


Cara efektif agar Mahda tak berlarut-larut dalam kesedihan juga kecewa nya, Haniyah segera memberikan nya saran untuk membantu mengajar di pondok milik kakek nya sendiri, Njid Mahbub. Tentu saja Mahda sangat setuju meski awal nya ragu-ragu.


Dengan menenteng beberapa kitab sambil menggendong Sulthan, Mahda berjalan menuju pondok milik sang kakek yang jarak nya tak lumayan jauh dari rumah nya.


Kasihan ya, masih muda udah jadi janda, mana belum di apa-apain lagi kaya nya sama laki nya


Bisik seorang ibu-ibu saat Mahda melewati nya.


Iya, denger-denger habis akad langsung pulang. Pasti gak bener tuh anak nya. Miris.

__ADS_1


Timpal ibu-ibu di samping nya.


Malu-maluin orang tua jadi nya. Acara lamaran aja gede-gedean, mewah, eh nikah nya cuma sebulan lebih.


Sambung ibu-ibu yang lain nya lagi.


Hati Mahda mencelos mendengar kata kasihan yang justru terdengar seperti sebuah cibiran bagi nya. Andai Mahda bisa memilih dan tahu akan seperti ini jadi nya, ia tentu akan menolak usulan bu Nyai untuk menikah dengan Ahmad. Bukankah ia di paksa setuju tanpa mendengar dulu pendapat dari nya saat penjodohan itu di lakukan?


Sekarang ia harus menanggung semua nya. Orang-orang tahu nya Mahda yang salah, Mahda yang tak mau melayani suami nya dan bla bla bla. Padahal jauh di lubuk hati nya, ia yang paling kecewa dan sakit akibat semua ini.


Bismillah. Allahumma sholli 'ala Sayyidinaa Muhammad.


Lafal yang selalu ia lafalkan saat hendak belajar. Seolah memberikan semangat tersendiri bagi nya.


*****


Pukul 3 sore Mahda baru berniat pulang ke rumah, membawa serta Sulthan yang baru saja bangun bersama nya. Selepas sholat dhuhur ia tertidur bersama Sulthan di kamar yang sudah jiddah Ita siapkan di rumah nya.


Baru saja Mahda hendak menapaki ruang tengah, ia mendengar suara isakan tangis Yemma nya.


"Jadi ini gimana Ba? Semua nya udah jadi, tinggal pake, bahkan Yemma udah ngasih dp ke pihak WO" keluh nya sambil menangis di hadapan sang suami, Zein.


"Gak papa, baju nya kasihin aja sama orang-orang nya. Pihak WO pasti ngerti dengan kondisi kita saat ini. Mau gimana lagi? Kita hanya sebaik-baik nya perencana, yang menentukan tetep Alloh. Masih untung belum di gelar acara, coba kalau udah jadi lalu Ahmad seperti sekarang, kerugian akan semakin besar Ma" tutur Zein menenangkan Haniyah.


"Tadi nya Yemma pengen yang terbaik buat Mahda, pengen bikin acara yang meriah buat Mahda, tapi malah berantakan kaya gini" keluh Haniyah lagi.


"Wes, ojo sedih ! Bagikan saja, itung-itung sedekah juga. Keluarga pada dapet baju baru seragaman" timpal Zein.


Siang tadi selepas dhuhur, seorang penjahit datang membawa baju seragam untuk acara resepsi Mahda nanti nya. Baju nya telah selesai semua padahal tanggal belum di tentukan. Haniyah pun sudah membayar dp terlebih dahulu dan melunasi nya saat tadi penjahit mengantarkan baju tersebut.


Haniyah terlalu sibuk mengembalikan dan menjaga psikis Mahda agar selalu waras dan tak terjadi hal yang mereka inginkan. Membantu nya untuk selalu tersenyum dan tak mengingat perihal perpisahan Mahda yang bahkan belum saja di mulai. Haniyah lupa, benar-benar lupa hingga tak membatalkan semua pesanan maupun kepada pihak WO.


"Ma'af" lirih Mahda yang memaksa masuk ke ruang tengah.


Haniyah terkejut dengan kepulangan Mahda dan Sulthan di saat ia berkeluh kesah karna semua rencana yang ia rancang tak jadi. Kerugian materi yang ia alami pun tak sedikit.

__ADS_1


__ADS_2