
Hembusan nafas yang begitu hangat terasa di curuk leher Mahda, darah yang berdesir, nafsu yang menggelora berbaur menjadi satu.
Syihab menyesap lembut leher jenjang Mahda dan meninggalkan bekas kemerahan di sana. Tempat favorite baru Syihab manakala memancing Mahda agar cepat menuju puncak. Hembusan nafas maut nya begitu cepat membuat Mahda meremang, sekali menyesap dengan tangan bermain di antara pegunungan langsung membuat Mahda mengeluarkan kata merdu nya.
Syihab menatap Mahda, kembali meminta izin untuk masuk pada aset pribadi nya. Mahda terlihat gamang, takut-takut sakit lagi, namun ia sudah berada di puncak, maju mundur kena.
Penyatuan kembali terjadi, erangan-erangan hebat yang menggema di berbagai penjuru kamar terdengar begitu nyaring, saling mendayu, saling bersahutan bersama menuju puncak kenikmatan.
Mahda yang berada di bawah kukungan Syihab hanya bisa pasrah seraya terus mengimbangi permainan dengan racauan des*han merdu yang terus keluar dari bibir nya, seolah tak bisa berhenti, mulut Mahda terus saja melantunkan des*han demi des*ha dan meneriakan berbagai erangan hebat.
Ritme yang Syihab mainkan semakin cepat, menggoyangkan Mahda hingga tak beraturan. Peluh-peluh bercucuran membasahi kedua nya. Hingga getaran hebat itu datang, menyerbu dan menyemburkan jutaan kupu-kupu yang sedari tadi mendesak keluar. Berlomba-lomba menuju tempat nya membuat kehidupan baru.
Syihab ambruk di samping Mahda yang menghadap kanan dengan tangan melingkar di perut Mahda. Mengusap pelan perut rata namun sedikit gembul tersebut.
Cup
Satu kecupan ia daratkan di tengkuk Mahda, bahkan Syihab membiarkan bibir nya terus menempel di kulit Mahda.
"Geli kak" lirih Mahda merasakan nafas Syihab yang terus menyapu kulit tengkuk leher nya.
"Kakak?" beo Syihab
"Ma'af, belum biasa. Tapi jujur enakan kakak manggil nya" jujur Mahda.
"Kapan mau manggil Baba nya?" tanya Syihab lembut dengan bibir yang masih terus memberikan kecupan demi kecupan di belakang leher Mahda.
"Nanti kalau udah punya anak" jawab Mahda asal.
"Janji? Kita berusaha keras biar mereka segera hadir" timpal Syihab bersemangat.
Menyesal yang Mahda rasakan karna merasa ia memancing keinginan Syihab lagi. Dan pada akhir nya penyatuan kembali terjadi, tak terelakan, erangan dan des*han kembali menghiasi kamar tersebut.
Malam ini seperti begitu di manf'atkan oleh Syihab karna besok ia dan sang istri akan bertolak kembali ke tempat asal, penjara suci.
...****************...
"Kak, ke rumah Yemma yuk!" ajak Mahda dengan nada manja nya, sengaja agar Syihab menuruti keinginan nya.
"Boleh, sebelum berangkat kita kesana dulu" timpal Syihab dan di balas pelukan serta kecupan mesra di pipi nya.
__ADS_1
"Aaahhh, maaciw" jawab Mahda senang.
10 hari di rumah sang suami ternyata ia masih bisa merindukan rumah ke dua orang tua nya. Bagaimana pun juga rumah itu adalah rumah ternyaman nya sejak dulu.
Seperti janji Syihab sebelum kembali ke pondok Mahda akan di antar mengunjungi rumah ke dua orang tua nya.
Pejalanan 1 jam setengah dengan menaiki motor akhir nya Mahda dan Syihab tiba di rumah Zein. Terlihat Zein, Haniyah dan Sulthan tengah bermain di taman belakang, tepat nya di saung samping rumah.
"Yemma" panggil Mahda senang saat menghampiri Haniyah.
"Beik. Ucap salam dulu kalau namu ke rumah orang tuh" tutur Haniyah.
"Ih, ke rumah Mahda inih" gerutu Mahda.
"Ke rumah siapa pun" ucap Zein menengahi.
"Iya deh ma'af, saking seneng nya Mahda ini tuh bisa kesini" jelas Mahda.
"Iya iya. Kakak mau kemana udah rapih begitu?" tanya Zein kali ini.
"Nanti mau berangkat lagi ke pondok Ba" jawab Mahda sembari menyalami Zein dan Haniyah secara bergantian.
"Oh ya Syihab, gimana keadaan kamu? Sehat? Yakin mau ke pondok lagi?" tanya Zein.
"Alhamdulillah Yebba. Ana masih punya kewajiban di sana Yebba, insyaa Alloh ana kuat kok, ada Mahda juga yang nguatin" tutur Syihab.
"Jaga kesehatan ya, jangan banyak yang di fikirin" ucap Zein dan di sambut dengan anggukan Syihab.
"Tan, kangen kakak gak?" tanya Mahda sembari mencubit pipi Sulthan yang berada di pangkuan Haniyah.
"Enggak" jawab Sulthan jutek.
"Allah kareem, bang Aly banget kamu Tan cuek nya. Yemma, pasti Yemma pas ngidam hamil Sulthan sama kaya waktu hamil bang Aly kan? Gemes banget sama sifat, sikap nya, persis bang Aly, hih" gerutu Mahda dengan gemas nya pada sang adik yang terlihat cuek.
"Mungkin" timpal Haniyah asal.
"Udah makan belum?" tanya Haniyah.
"Belum, ini mau numpang makan di beyt Yemma" jawab Mahda asal.
__ADS_1
"Jangan belaga so punya suami yang gak mampu kamu tuh kak sampe numpang makan di rumah Yemma" cibir Haniyah.
"Emang gak boleh? Bakhil (pelit) banget sih sekarang" jutek Mahda.
"Softoh, gitu aja hawas" timpal Haniyah dan segera menggiring ke dua anak dan menantu nya masuk.
Acara makan siang bersama untuk pertama kali nya setelah Mahda dan Syihab menikah. Hidangan nasi briyani dengan daging kambing di tengah nya. Hidangan khas Timur Tengah kesukaan Zein, berbahan dasar beras basmati dan rempah-rempah khusus.
Sebagai minuman nya Haniyah membuat sahlab, minuman yang sangat familiar di Timur Tengah bahkan hingga India. Berbahan dasar susu dan rempah-rempah, cocok di minum saat musim dingin seperti sekarang ini.
Makan bersama berjalan dengan khidmat tanpa seorang pun berbicara. Zein sangat melarang siapa pun yang berada di rumah nya berbicara ketika sedang di meja makan, sedang makan inti nya.
Selesai makan Zein dan keluarga nya berkumpul di ruang keluarga. Ruangan yang luas nya sama besar nya dengan ruamg tamu utama.
"Mahda berangkat sekarang ya Ma" pamit Mahda.
"Kamu kesini cuma mau numpang makan?" tanya Haniyah namun seperti sindiran untuk Mahda.
"Isshhh, ya enggak lah, Mahda kangen sama Yemma, sama Yebba, selebih nya iya" tutur Mahda tanpa tau malu.
"Hih" cebik Haniyah sebal.
"Nginep di sini dulu kak satu malam, besok baru berangkat. Ada yang mau Yebba bicarain sama Syihab" titah Zein.
"Gimana kak?" tanya Mahda meminta pendapat dari Syihab.
"Boleh" jawab Syihab tanpa keberatan.
Bukankah itu menguntungkan bagi nya? Malam ini ia masih bisa bersama Mahda, memeluk dan tidur bersama nya, syukur-syukur lebih dari itu.
Melihat tatapan Syihab yang mencurigakan membuat Mahda merinding, sudah terlebih dahulu membayangkan apa yang akan terjadi jika ia kembali tidur besama malam ini.
Allah Kareem, cukup 2 malam kemarin hamba di porak porandakan. Semoga malam ini jangan.
Do'a nya dalam hati begitu tulus dan berharap di qobulkan.
__ADS_1
...****************...