
kediaman satya
Wina: " om.. mana syasa.."
satya: " ada di kamar, bersama Nindy, dua hari dia tidak keluar dari kamar nya, " Wina dan Bram pun langsung naik ke lantai atas dan menuju kamar syasa
Wina: " syasa..! wina dan Bram menghampiri syasa
syasa: " mama.. " memeluk Wina dan menangis
Wina: " apa yang sebenarnya terjadi hem.. " tangisan syasa pun semakin menjadi
Bram: " sayang.. katakan apa yang terjadi.. ? apa semua benar yang di katakan opa satya " duduk di sebelah syasa
Nindy: " jangan paksa syasa untuk bercerita Bram , win , biarkan dia meluapkan semua nya "
syasa : " iya pa.. apa yang di kata kan opa satya benar " kini syasa memeluk Bram,
syasa: " pa..dada syasa rasanya sesak pa.. sesak.. sakit pa.." semakin erat memeluk Bram dan tangisan pun semakin menjadi
Bram: " menangis lah.. biar hati mu lega " mengusap punggung syasa
syasa: " pa.. cinta sejati itu seperti apa, apa hanya kagum dengan paras saja atau sikap nya terhadap kita pa, aku mencintai Bryan karena dia tampan dan perlakuan manis nya pada ku, " masih meneteskan air matanya
Wina: " menurut mu? " tangisan syasa pun makin menjadi
Bram: " kamu masih terlalu muda sayang.. " memeluk syasa
syasa: " tindakan dewa terhadap ku, artinya apa pa.. "
Bram: " dewa sangat mencintai mu sya, walaupun kamu tidak membalas nya, itulah cinta sebenarnya, cinta tanpa syarat, "
syasa: " artinya..apa aku harus membalas cinta dewa "
__ADS_1
Bram: " turuti kata hati mu " menujuk dada syasa
syasa: " Bryan.. ? "
Bram: " papa sudah mengatakannya turuti kata hati mu "
syasa: " dewa.. " tangisan syasa pun semakin menjadi hingga syasa tidak sadarkan diri
Bram: " ya Tuhan syasa.. " tubuh syasa terjatuh di pelukan papa nya
Wina: " mas baringkan syasa " Bram pun membaringkan syasa,
Nindy: " aku akan panggilkan dokter "
Wina: " tidak perlu kak, yang ia butuhkan dewa "
Nindy: " aku akan menghubungi dewa, " Nindy pun menyuruh satya untuk menghubungi dewa.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Frans: " tuan.. apa anda membutuhkan sesuatu ?"
dewa: " tolong ambil kan saya minum aw.. sttt" menahan sakit di pundak nya karena tertembak
Frans: " baik tuan.. " mengambil kan air minum untuk dewa
dewa: " Frans apa mama papa tau jika aku kemarin malam menghabisi Richard,? "
Frans: " tidak tuan, hanya nona Agnes mengetahui nya
dewa: " semoga saja Agnes tidak menceritakan nya pada mama dan papa "
tiba tiba Agnes datang..
__ADS_1
Agnes: " berengsek kamu wa.. apa kamu mempunyai nyawa sembilan hah..! menampar lembut pipi dewa
dewa: " aw.. sakit Nes.. "
Agnes: " mau aku tambah hah..! gadis mana yang membuatmu gila, sehingga kamu mempertaruhkan nyawa mu yang hanya satu, kamu mau mati konyol hah.. "
dewa: " apa kamu tidak pernah merasakan jatuh cinta Nes.. "
Agnes: " sudah jangan membahas percintaan ku, yang tidak jauh beda dengan mu dengan merli, gadis rambut pirang menyebalkan "
tiba tiba ponsel dewa berdering, Frans pun mengambil kan untuk dewa
Frans: " tuan maaf.. tuan satya menelfon "
dewa: " ada apa om satya menelfon ku ?"
dewa: " hallo om.. "
satya: " dewa..syasa tidak sadarkan diri, dia menyebut nama mu "
dewa: " apa ? .. saya akan segera kerumah om.. "
dewa pun mencabut infus nya dan masih mengenakan pakaian rumah sakit, ia nekat menuju rumah satya demi syasa
Agnes: " dewa kamu gila hah.. kamu masih belum pulih "
dewa: " aku memang gila nes " turun dari brankar dan langsung menyambar kunci mobil dan berlari menuju parkir,
dewa tak menghiraukan luka nya yang mulai mengeluarkan darah kembali,
Agnes: " Frans ayo ikuti dewa " Agnes dan Frans pun mengikuti dewa
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
__ADS_1
vote, like, komen
Terima kasihππ