
Aurelia berjalan di koridor di rumah sakit, ia akan pulang, karna jadwalnya sudah selesai. Di depannya ia melihat seorang pria yang juga tengah berjalan, bahunya yang besar memudahkan Aurelia mengenal siapa pemilik bahu lebar itu. Cakra. Dokter spesialis kandungan yang ada di rumah sakit ini.
"Pak Dokter?" Panggil Aurelia antusias.
Mendengar namanya dipanggil, sang pemilik nama pun berhenti dan menengok ke belakang.
"Saya?" Tanya Cakra memastikan bahwa perempuan yang berlari ke arahnya, memanggilnya.
Aurelia mengangguk, dan dengan langkah kecil ia berlari memghampiri Cakra.
"Ada apa Lia?"
"Euhmm, saya boleh gak pak ikut liat-liat ke klinik Bapak?" Pinta Aurelia tanpa basa basi.
"Oh tentu." Cakra menyetujuinya.
"Saya mau belajar lebih selama masa coas ini."
"Owh, gak masalah di sana juga ada perawat dan juga Dokter, mungkin saat jadwal mareka, kamu bisa ikut masuk."
"Kalau hari ini gimana Pak?"
"Wah sayang sekali Lia, hari inu saya ada janji sama teman. Saya juga gak ke klinik."
"Terus Bapak sekarang mau kemana?"
"Pulang dulu ke rumah."
"Saya boleh ikut gak pak?" Tanya Aurelia penuh harap.
"???"
"Numpang nebeng Pak, boleh kan?"
Cakra berpikir sejenak, kemudian ia menyetujuinya. Karna ia juga akan melewati jalan ke rumah Aurelia.
Cakra mengangguk.
"YES!" Sorak Aurelia dalam hati.
Sebenarnya bukan rahasia umum lagi di kalangan teman-temannya Aurelia bahwa ia sudah menaruh hati pada Dokter tersebut.
Aurelia pun mengikuti Cakra keluar dari rumah sakit dan menuju parkiran mobil.
"Itu mobil saya, ayok?" Tunjuk Cakra.
Aurelia mengangguk dan mengikuti Cakra naik ke dalam mobil.
"Rumah kamu di gang A gak sih?" Tanya Cakra memastikan.
Aurelia mengangguk, "Iya Pak."
Dan setelahnya mobil Cakra pun berlalu dari rumah sakit membelah jalanan yang ramai.
__ADS_1
...****************...
Ini adalah kali kedua Rachel datang menjalankan misinya. Ia sudah berdiri di depan pintu rumah Berlian, namun ia ragu-ragu.
"Pulang gak ya? Pulang gak ya?" Itulah yang terus dirapalkan Rachel dalam hatinya.
Akhirnya ia memberanikan diri memberi salam. "Assalamu'alaikum?"
Tak berselang lama ada juga yang menjawab salamnya diiringi derit pintu yang terbuka.
"A'laikum salam." Nautiya. Gadis itu yang membukakan pintu untuk Rachel.
"Kaka Rachel? Masuk kak." Nautiya mempersilakan teman kakaknya masuk.
Rachel pun masuk mengikuti Nautiya.
"Kakak ada?" Tanya Rachel yang baru menempelkan pantatnya di sofa.
"Ada! Nautiya panggil dulu ya kak?"
Tak lama setelah Nautiya berlalu, muncullah Berlian dengan pakaian dasternya yang kelonggaran, kali ini Berlian terlihat sedikit pucat.
Entah mengapa Rachel merasakan kecanggungan bertemu dengan Berlian, padahal tak seperti biasanya.
Sedangkan Berlian, ia sedikit kebingungan dengan kedatangan Rachel. Berlian mengerutkan keningnya. "Rachel?"
Rachel memaksakan senyumnya saat Berlian sudah duduk di depannya.
"Kebetulan lewat, jadi aku mampir." Rachel beralasan.
"Minum Nak!" Ucap Bu Rahma ramah.
"Iya Bu!"
"Sendirian aja?" Tanya Bu Rahma.
"Iya Bu!"
"Cepat cari teman, biar gak sendirian terus." Goda Bu Rahma.
Rachel tersenyum malu, "Belum ada yang cocok Bu!"
"Ya..., jangan terlalu milih-milih."
"Enggak kok Bu!"
Di obrolan ini, Bu Rahma menguasai obrolan, dan Rachellah yang menjadi objeknya. Sedangkan Berlian hanya tersenyum saja.
Di tengah obrolan, tak sengaja mata Rachel tertuju pada perut Berlian yang terlihat sedikit membuncit.
"Kamu agak berisi ya Lian?"
"Ah? Masa iya?"
__ADS_1
"Atau kamu lagi hamil ya?" Rachel memancing.
"Kelihatannya?"
"Iya. Dia hamil." Bu Rahma membenarkan.
Rachel manggut-manggut. Ia punya informasi penting untuk Arhan.
"Itu apa?" Tanya Berlian sembari menunjukkan kantong plastik yang berada di atas meja.
"Ini? Oh ini obat yang kemarin aku kasih ke kamu. Kamu udah habisin yang kemarin? Kebetulan inu aku dapat gratis dari temenku." Dusta Rachel.
"Belum. Kamu mau kasih untuk aku lagi?"
"Iya."
"Kenapa?"
Rachel jadi bingung menjawab apa, masa iya harus menjawab bahwa Arhan yang menyuruhnya.
"Kok tanya kenapa sama kebaikan orang lain?" Bu Rahma tak menyukai Berlian yang ingin menyudutkan Rachel.
Berlian tak peduli dengan perkataan Ibunya, ia mengambil kanyong kresek itu dan membuka isinya. Sama seperti kemarin, amplop dan juga obat. Berlian mengambil amplop coklat itu dan mengintip isinya lalu ia menyeringai.
"Uang ini, dari kamu juga?"
Rachel mengangguk takut.
Berlian menggeleng tal habis pikir, dengan rasa kesal ia melempar amplop itu ke atas meja, membuat Rachel sedikut terkejut.
"Rachel bilang, siapa yang nyuruh kamu?" Tekan Berlian.
Rachel menggeleng.
"Rachel jawab yang jujur, aku temen kamu, aku ngerti keadaan kamu. Uang sebanyak itu gak mungkin kamu kasih ke aku secara cuma-cuma."
Bu Rahma ikut heran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Dan obat ini, ini obat mahal Rachel. Gak mungkin kamu beliin ini untuk aku. Yolong Rachel jangan bohong, aku udah sangat familiar dengan obat ini, juga pemiliknya. Tapi di sini aku pengen lihat kejujuranmu."
Rachel menunduk. "A.. Arhan..."
Sesuai dugaan Berlian, Arhanlah dibalik semua ini. Satu yang tidak dimengerti Berlian, apa tujuan Arhan memberikan semua ini kepadanya. Entah apa keinginan pria itu.
"Apa permintaan mas Arhan sama kamu Chel?" Tanya Berlian dengan mata yang sedikit berkaca.
Rachel menggeleng, "Hanya mastiin kamu sehat dan baik-baik saja."
"Apa Mas Arhan tahu kehamilanku?"
Rachel menggeleng.
"Jangan sampai dia tahu."
__ADS_1
"Maafin aku Lian..." Cicit Rachel.
"Iya aku maafin, tapi aku harap kamu tidak datang lagi ke sini atas suruhan Mas Arhan. Datanglah sebagai temanku."