Cinta Yang Terbuang

Cinta Yang Terbuang
Tentang Nautiya


__ADS_3

Rumah mewah itu terasa sunyi, untungnya suara variety show di TV daat memecahkan keheningan yang ada di sana, sehingga ruangan yang luas itu tak terlalu serius. Memang tak ada yang serius, karna dua manusia paruh baya itu benar-benar fokus dengan apa yang sedang ditampilkan di sana. Mungkin juga mareka ingin melihat sebagus apa iklan produk mareka yang sedang di promosikan di *variety show* tersebut.


"Lumayan bagus." Komen yang laki-laki sembari manggut-manggut.


Yang dimaksud adalah iklannya yang sedang tayang di TV. "Bagaimana menurut mama?"


"Lumayan juga." Jawab sang istri disertai anggukan.


"Menurut aku itu bagus pa, karna penjualannya meroket sejak Brand ambassador-nya dia." Timpal Angel yang ikut bergabung dengan kedua orang tuanya, ia memilih dusuk di single sofa.


"Oh..." Hanya iti tanggapan dari papanya Angel-Jaulin Amar.


"Oh ya Pa, bagaimana menurut papa pacarnya Charlie kemarin?" Kini Bu Gretha mengalihkan topik pembicaraan sembari melirik pada suaminya.


Pak Jaulin mengedikkan bahunya, tak terlalu peduli. "Ya..., terserah Charlie saja, kalau dia cocok ya silahkan. Masa harus kita larang." Fokusnya masih pada TV.


"Pacarnya Charlie?" Ulang Angel.


"Iya." Bu Gretha membenarkan.


"Siapa pacarnya? Bukan gadis yang malam itu kan?"


"Iya dia. Bagaimana menurut kamu Gel?" Bu Gretha meminta pendapat pada anak pertamanya, karna ia sendiri sudah cocok-cocok saja.


"Aku gak setuju, ma, pa," tentang Angel.


Bu Gretha dengan cepat memalingkan wajahnya pada Angel yang duduk dengan melipat tangannya di dada. "Loh, kenapa?" tanya Bu Gretha heran. Apa yang salah menurutnya.


"Mama gak liat. Penampilannya aja gimana?" sewot Angel.


"Ya memangnya gimana? Biasa saja tuh menurut mama. Dia kan pulang dari kantor," sanggah pak Jaulin.


"Dia itu bukan dari keluarga berada Ma, Pa, beda dengan kita," jelas Angel.

__ADS_1


"Ya, dia bilang kok begitu."


"Terus Mama sama Papa setuju aja?"


"Ya... Memangnya kenapa kalau dari kalangan bawah? Tidak ada hukum kok yang menyatakan kalau orang kalangan bawah dan atas itu yidak boleh menikah. Berapa kali harus Papa bilang sama kamu Gel, jangan melihat orang hanya dari hartanya." Pesan Pak Jaulin yang tidak setuju dengan pendapat anak gadisnya.


"Pa..., Ma..., selain dari itu, dia adalah mantan adik iparnya Arhan. Tunangan aku."


"Arhan? Berlian?" Pak Jaulin mengernyitkan dahinya, ia mengenal sepintas Berlian karna dulu ia hadir di acara pernikahan mareka.


"Iya, adiknya Berlian."


Bu Gretha dan Pak Jaulin saling pandang, dan diam.


"Kalau hanya masalah harta, ya aku gak pernah besar-besarin kok!" aku Angel.


"Tapi kan itu tidak akan jadi masalah," tutur Pak Jaulin.


"Ma, Pa, kalian harus tahu dibalik alasan perceraian Berlian dan Arhan itu apa. Berlian gak pernah akur sama tante Maharani, dia materialistik. Dulu tante Maharani selalu bilang begitu."


"Ya begitilah, seperti Mama dan Pap melihat pacarnya Charlie sekarang, siapa tuh namanya?"


"Nautiya," Sahut Bu Gretha.


"Ya! Si Nautiya itu."


Bu Gretha dan Pak Jaulin mulai termakan omongan anaknya, lagi pula tak mungkin ia berbohong. Mareka tampak mulai berpikir.


"Ya terus bagaimana? Bisa saja Charlie sudah terlanjur cinta sama dia, kan kamu sendiri tahu kalau adik kamu itu gak pernah bawa pacarnya ke rumah, gak pernah pacaran pun kayaknya," cetus Bu Gretha.


"Serahkan padaku Ma, Pa!" Kata Angel sombong diiringi sebuah seringai yang tidak dapat diartikan.


*Flasback on

__ADS_1


Aurelia langsung di sambut oleh Angel, begitu perempuan itu sampai di depan rumah.


"Hai?" sapa Angel gembira.


"Aku telat ya Mbak?" tanya perempuan itu dengan nada yang sedikit menyesal, ia masih lengkap dengan pakaian rumah sakit. Sepertinya ia baru saja menyelesaikan shift-nya.


"Enggak kok!"


"Tapi makan malamnya udah selesai?"


"Udah sih!" Jawab Angel disertai cengiran.


"Itu siapa?" Tanya Aurelia sembari menunjuk ke arah Nautiya yang baru saja masuk ke dalam mobil Charlie.


Angel mengedikkan bahu acuh, "Nautiya sih kalau gak salah namanya." Angel terlihat tak terlalu peduli dengan wanita yang digadang-gadang sebagai pacar Charlie-adiknya.


"Enggak! Maksud aku, ada apa dia ke sini?" tanya Aurelia serius.


"Ya..., Charlie mau ngenalin pacarnya, ya yang tadi itu."


"Wah!!!" Seru Aurelia dengan mulut yang terbuka lebar.


"Kenapa sih?" tanya Angel penasaran.


"Sini deh Mbak." Aurelia menarik Angel untuk duduk di kursi teras.


"Kenapa sih?" Angel semakin bingung, apa yang terjadi?


"Mbak tahu gak itu siapa?"


Angel menggeleng, "Siapa? Emang kamu kenal?"


"Ya ampun Mbak, itu adiknya mbak Lian," seru Aurelia heboh.

__ADS_1


"Hah? Serius kamu?"


Aurelia mengangguk yakin. "Gak nyangka ya, kakak dan adik sama aja, ngincernya orang kaya terus*."


__ADS_2