
Angel dan Aurelia duduk mencicipi hashbrown yang menjadi menu andalan di restoran baru, yang kini mareka kunjungi. Mareka berdua memang punya selera yang sama dari segi apa pun. Makanya saat Arhan mengumumkan pernikahannya dengan Berlian, Aurelia sangat kecewa bukan Angel yang menjadi kakak iparnya. Padahal ia berharap begitu.
Mareka berdua memang dekat sudah sejak lama. Keluarga mareka berdua adalah kerabat. Jadi tak heran jika dulunya Angel punya kisah asmara tersendiri dengan Arhan.
Aurelia dan angel selalu cocok dalam hal apa pun. Dan ketika Berlian menjadi istri Arhan, Aurelia tidak bisa beradaptasi dengan Berlian. Berlian yang tidak mengerti selera fashion-nya dan juga pergaulannya membuat Aurelia menaruh rasa kesal yang lama-lama tumbuh menjadi benci. Aurelia dan Berlian berasal dari keluarga yang punya kasta berbeda, alhasil tidak pernah ada kecocokan di antara keduanya.
"Aku suka, rasanya pas!" Aurelia berkomentar ketika hasbrown itu berhasil masuk ke dalam mulutnya.
"Selera kita selalu sama." Balas Angel diiringi tawa renyahnya.
"Makanya aku menginginkan Mbak yang jadi iparku, semua terasa menyenangkan jika dilakukan bersama."
"Benar sekali!"
Mareka terus mencicipi hashbrown itu hingga tersisa setengah.
"Mbak!" panggil Aurelia dengan nada serius.
"Hmm,"
"Mbak tahu gak pria yang kuceritakan waktu iti?"
"Dokter itu maksudmu?" terka Angel tanpa mengalihkan atensinya dari hashbrown di depannya.
Aurelia mengangguk, pandangannya kosong ke depan.
"Bagaimana? Apa kamu sudah berhasil mendapatkan hatinya?" tanya Angel berbinar. Ia menerka akan mendengar cerita romansa dari adiknya itu. Ah iya, Angel memang menganggap Aurelia layaknya adiknya.
"Aku rasa Mbak akan terkejut mendengar ini?"
"Why?"
"Mbak Lian. Sepertinya dokter itu menyukai mbak Lian."
"Owh ****! Ini gak masuk akal," umpat Angel. Bagaimana bisa semua laki-laki jatuh hati pada perempuan seperti itu. Apakah dia menggunakan pelet?
"Benarkan? Aku pantas membencinya, dia menjadi penghalangku mendapatkan keinginanku," sebal Aurelia.
"Aku tidak berharap kamu tidak percaya diri karna dia," kata Angel sembari menaikkan sebelah alisnya, angkuh. Ia melihat Aurelia dengan seringainya.
"Tentu tidak!" sambar Aurelia. Mau di taruh di mana mukanya jika ia merasa tersaingi dengan perempuan seperti Berlian. Benar-benar bukan levelnya.
"Tapi aku hanya ingin mempermudah jalanku saja. Aku rasa dia akan menjadi penghakang kita berdua." Tambah Aurelia.
__ADS_1
"Lalu?" Menatap Aurelia penuh tanya, berharap perempuan di depannya memiliki sebuah ide.
"Kita singkirkan dia dengan cara apa pun!"
...****************...
Tak seperti biasanya, Nautiya tidak akan pernha bermimpi jika seorang Angel Maranatha Amar mengajaknya bertemu. Tentu ini bukan tentang pekerjaan, semua tak akan sesederhana itu.
Mareka berjanji bertemu di sebuah cafe yang ada di depan kantor. Dan Nautiya? Jelas ia menyetujui saja saran tempatnya.
Nautiya memasuki area kafe yang di desain dengan tema outdoor minimalis yang menarik.
Nautiya mulai celingak celinguk mencari keberadaan Angel yang kemudia ia temui berada di barisan paling ujung. Segera Nautiya menghampiri perempuan yang dihiasi dengan berbagai merek mahal ditubuhnya. Mungkin taksiran harganya bisa mencapai ratusan juta atau lebih.
Nautiya menyapa Angel sopan.
"Duduklah," perintah perempuan yang memakai dress hitam milik kenamaan Dior. Ia terkesan malas melihat Nautiya.
Nautiya segera mendaratkan bokongnya di kursi yang lumayan terasa nyaman.
"Pesanlah dulu supaya kita lebih enak berbincang."
"Tak payah Bu," tolak Nautiya halus.
Nautiya mengangguk mengerti.
Walau Nautiya menolak, Angel tetap memanggil pelayan dan memesankan dua coklat panas untuknya dan nautiya. Tak berselang lama, pelayan tadi kembali dengan pesanan untuk keduannya.
"Minumlah, aku tidak tahu selera orang kaya sepertiku entah akan sama denganku," kata Angel sembari menyeringai.
Nautiya menangkap bahwa kata-kata tadi adalah suatu hinaan untuknya, tapi ia tak terlalu memusingkan hal itu. Bukankah orang kaya memang bertingkah susukanya?
"Bagaimana hubunganmu?" Tanya Angel setelah menyesap sedikit coklat dari cangkir putih itu.
"A..apa?"
"Hubunganmu dengan adikku?"
"Baik."
Angel mendesah, nampak dari sudut matanya Nautiya baru menyesap coklat itu. Mungkin ia tak akan terbiasa dengan coklat pilihan, palingan, ia sering meminum coklat yang dari kemasan, dijual dengan harga dua ribuan. Jadi nikmatnya akan berbeda.
"Hmm.., aku tidak tahu apa yang Charlie lihat darimu, aku sendiri bingung apa yang menarik darimu." Ejek Angel sembari memindai penampilan Nautiya.
__ADS_1
Rok span hitam di atas lutut dengan kemeja putih lengan panjang yang dimasukkan ke dalam, lalu blazer hitam. Benar-benar sangat biasa.
"Tiya..., aku tahu kamu mendekati Charlie karna apa. Aku sudah banyak bertemu perempuan seperti kamu. Dan aku akui kamu lihai dalam menipu Charlie," cetus Angel.
"Menipu?" ulang Nautiya heran. Dari segi apa ia menipu Charlie.
"Iya! Kamu berhasil mencuri hati Charlie.
"Aku tidak mengerti maksudmu." Nautiyamengernyit.
"Bukankah kamu adik Berlian?"
Nautiya mengangguk, "Iya."
Angel tertawa mengejek. "Ternyata adik dan kakak sama saja."
"Tolong jangan bawa-bawa kakakku, jika Bu Angel punya masalah denganku. Mari selesaikan!"
"Baiklah, aku mengerti maksudmu." sahut Angel, "Tinggalkan Charlie."
"Astaga!" Nautiya tertawa kecil seolah mengejek. "Aku tidak akan menyangka jika semua orang kaya berpikiran sama."
"Apa maksudmu?" kesal Angel.
"Katakan lagi Bu Angel, selain dari meninggalkan Charlie, selanjutnya apa yang harus aku lakukan?"
"Ya! Aku juga ingin memberitahumu, jika kamu masih berminat bekerja di perusahaan kami, kamu akan dipindahkan ke Bandung, kantor cabang yang ada di sana. Tak usah takut, gajimu di sana dua kali lebih besar dibandingkan dengan yang sekarang."
"Benar! Itu akan lebih baik!" sahut Nautiya.
"Dan juga...., sampaikan pada kakakmu untuk tidak lagi mengganggu calon suamiku dengan berdalih anaknya. Aku bahkan tidak yakin jika itu anaknya."
Nautiya menyeringai, mengejek Angel. "Kakakku tak seburuk prasangkamu. Aku akan kebih bersyukur jika Bu Angel menjaga suami Ibu agar tidak mengganggu kenyamanan kami. Aku sudah bosan mengusirnya yang hampir setiap mimggu berkunjung ke rumah. Bahkan dia tidak sendiri, dia juga datang bersama ibunya. Kami benar-benar terganggu, tolong sampaikan itu," balas Nautiya telak.
"Dan...satu lagi," tambah Nautiya, "Kami tidak pernah mengatakan bahwa itu anaknya, tapi entah kenapa dia selalu terobsesi dan mengatakan itu anaknya." Di akhir Nautiya kembali memberikan seringai membuat Angel semakin panas.
Angel tak menyangka jika ternyata Nautiya tak seperti Berlian yang terlihat lemah dan mudah untuk dibodohi.
"Saya permisi jika tidak ada lagi yang ingin dibicarakan." Nautiya bangkit dari tempat ia duduk.
"Satu lagi!" seru Angel, "Pastikan adikku tak tahu tentang kepindahanmu."
Nautiya tak membalas, ua hanya mengedikkan bahu lalu tersenyum. Setelahnya ia pergi.
__ADS_1