
Pesta ulang tahun sederhana di rayakan di sebuah restoran mewah. Ulang tahun Arhan. Dan hari ini genap sudah Arhan berumur dua puluh delapan tahun, hampir berkepala tiga.
Sayangnya ulang tahun yang ke dua puluh delapan ini adalah ulang tahun terburuk bagi Arhan. Ia sama sekali tak menikmati pestanya. Berbeda dengan Bu Maharani, Aurelia dan juga Angel.
Bayang-bayang Berlian masih terus membekas di hati Arhan. Apalagi ketika mengingat Berlian yang menangis saat mengembalikan cincin mareka, sungguh! Itu sangay menyayat hati Arhan.
"Arhan? Kok bengong? Tiup lilinnya dong!" Suara Bu Maharani menyentakkan Arhan dari lamunannya.
"Oh iya Ma!" Arhan hendak meniupkan lilinnya sebelum Angel menegurnya.
"Make a wish dulu Han!" Tegur Angel, "Kebiasaan deh!"
Arhan mengangguk, ia hampir lupa membuatkan permohonan di hari pentingnya ini. Arhan pun memejamkan matanya lalu bersoa di hatinya, dan ia harap tuhan mendengarkan setiap doanya.
"Berlian sayang? Maafkan aku, maafkan segala dosa-dosaku. Aku salah, dan aku bersumpah aku menyesal. Jika tuhan mengizinkan, aku ingin kembali pada mu, kapan pun itu. Dan jika tuhan tak mengizinkan, aku harap kamu bertemu lelaki yang jauh lebih baik dibanding aku. Berlian disetiap doaku ku sebut namamu, aku berharap kamu bahagia."
Setelah hatinya berdoa, Arhan kembali membuka matanya. Ia menarik napas dalan dan menghembuskannya lalu mendekat ke arah lilin dan meniupkannya.
Setelah api di lilin itu mati, Ketiga wanita yang berada di sisi Arhan bertepuk tangan.
"Potong kuenya Han!" Seru Angel semangat.
Arhan mengambik pisau dan juga piring kecil lalu memotong sedikit kuenya. Setelahnya Arhan memberikannnya pada sang Mama, Bu Maharani. Dan Bu Maharani mengambil sembari mencium pipi kanan kiri Arhan.
"Selamat ulang tahun Nak, semoga kebahagian selalu menyertaimu."
Bulshit! Padahal kebahagian Arhan ia sendiri yang menghancurkannya.
"Makasih Ma." Balaa Arhan.
Setelah itu Arhan kembali memotong kue ke dua dan diberikan pada Aurelia, adiknya satu-satunya. Aurelia juga mencium pipi kanan kiri Abangnya.
"Selamat ulang tahun Mas Arhan, semoga cepat ketemu jodoh!" Ujar Aurelia dengan bangganya.
"Iya, makasih Rel!" Balas Arhan seadanya.
Dan kue yang trakhir Arhan berikan pada Angel. Teman masa kecil juga masa lalunya. Ah masa lalunya bersama Angel tak bisa diceritakan.
"Makasih Han, dan selamat ulang tahun buat kamu, semoga sukses selalu."
"Sama-sama." Balas Arhan seadanya.
Ngomong-ngomong tentang Angel, ia memang pasti sudah jelas yang pertama adalah teman sedari kecil Arhan. Dia adalah seorang perempuan cantik multitalenta. Dari dulu Bu Maharani sangat berharap Angellah yang menjadi menantunya.
Hingga hari di mana Arhan mengatkan bahwa ia akan menikahi Berlian, membuatnya ngamuk tak terima. Dan jelas-jelas ia tak merestui hubungan itu.
"Harusnya kamu di sini Berlian. Kamu ingat gak hari ini aku ulang tahun? Kamu nyiapin kado gak buat aku? Aku rindu."
...****************...
Unggahan bahagia dari momen ulang tahun Arhan di abadikan dalam sebuah foto dan dibagikan pada postingan instagram Aurelia.
__ADS_1
Dalam foto tersebut ada Bu Maharani yang duduk disamping Aurelia, sedangkan dibelakangnya ada Arhan yang berdiri memeluk lehernya. Dan jangan lupakan siapa yang disamping Arhan, wanita yang sudah dikenal Berlian.
Dan yang lebih membuat hati Berlian perih adalah caption dari unggahan tersebut 'keluarga baru'. Keluarga baru? Bahkan dulu Aurelia tak mau menyebutnya sebagai keluarga.
"Apa semudah itu kamu lupain tentang kita Mas?"
Sakit. Hati Berlian sangat sakit. Bagaimana bisa Arhan dengan mudahnya melupakan dia dan manggait perempuan lain. Bahkan hakim belum mengetuk palu untuk perceraian mareka.
"Sepertinya kenangan kita memang gak ada artinya ya Mas?"
Rasanya jawabannnya sudah dapat Berlian lihat. Dalam unggahan tersebut saja dapat dilihat senyum Arhan yang begitu merekah, apalagi keberadaan seorang perempuan baru di sampingnya.
Angel. Perempuan itu Angel. Berlian kenal dekat dengan perempuan itu. Tidak, maksudnya mareka tidak dekat dan akrab. Berlian hanya tahu banyak tentang Angel.
Angel adalah teman dekat Arhan, namun lebih dari itu Angel juga tak tahu. Dan kalau boleh Berlian menebak, Angel punya perasaan pada Arhan. Terlihat pula dari gelagat Angel yang tak menyukainya. Belum lagi Angel sering bergelayutan manja pada Arhan, tanpa memikirkan perasaannya.
Tapi Berlian mengingat satu hal, sehari sebelum mareka menikah, Angel pulang dari Inggris. Ia menemui Arhan dan menangis padanya. Tepatnya Berlian tak tahu apa yang telah terjadi.
Ah sudahlah, Berlian tak ingin lagi memikirkan masa lalu yang membuatnya terjebak. Ia menarik selimutnya dan mencoba memejamkan matanya, berharap esok lebih baik.
...****************...
Sepulang dari tempat kerja, Berlian mampir di super market membeli beberapa keperluannya. Setelah mengambil beberapa barang yang diinginkannya, Berlian segera menuju meja kasir.
Selesai dengan pembayaran, Berlian segera menuju pintu keluar, namun tiba-tiba seseorang menyapanya.
"Hai??"
"???"
Berlian mencoba mengingat wajah pria di depannya. Ah sekarang dia ingat.
"Sudah ingat?" Tanya pria itu lagi.
"Sendirian?"
Berlian mengangguk.
"Aku antar yuk?" Tawarnya.
"???"
"Ini kan sudah malam, gak baik tahu perempuan pulang sendirian."
"Tapi deket kok."
"Ya tetap saja, bahaya!"
Berlian menimbang. Ia tak mengenal pria di depannya ini. Bertemu saja baru sekali. Pria ini adalah pelanggan di restorannya. Ia pun mengingat wajah pria ini, karna kecorobohannya meninggalkan ponselnya begitu saja.
"Kamu takut ya? Mungkin karna belum kenal. Tenang saya bukan orang jahat kok."
__ADS_1
"Eh enggak gitu!" Bantah Berlian, ia jadi tak enak sendiri.
"Atau muka saya menakutkan? Mirip penjahat?"
"Enggak kok enggak!"
Bagaimana bisa pria setampan ini dibilang menakutkan. Akhirnya Berlian mengangguk.
"Ayo?" Pria itu menarik tangan Berlian untuk keluar dari super market.
"Maaf." Lirik Berlian saat di luar.
"Kenapa?"
Berlian memberi kode dengan matanya, bahwa sedari tadi pria itu memegang tangannya. Setelah pria itu sadar, segera saja ia melepaskan tangan Berlian, ia jadi sedikit gugup.
"Maaf-maaf!" Ucapnya malu.
"Gak papa kok."
"Ayok naik!"
Pria itu membukakan pintu mobil untuk Berlian. Sesudah Berlian masuk ke dalam mobil, Ia menutupnya kembali. Kemudian ia berlari kecil memutar dan masuk pada kursi pengemudi, dan mulai melajukan mobilnya.
"Kiri atau kanan?"
"Kiri."
"Bye the way, kita belum kenalan ya? Kenalin nama saya Cakra, lengkapnya Cakra sulaiman."
"Saya Berlian."
"Lengkapnya?"
"Berlian Husein"
"Saya harus hafal nih!"
"???"
"Biar pas akad gak lupa." Canda Cakra diiringi tawa kecil, begitu pula Berlian.
"Bisa aja."
"Kamu bercahaya ya? Seperti nama kamu."
Berlian hanya tersenyum kecil mendengarnya.
Di dalam mobil mareka bercerita banyak hal. Dan baru Berlian ketahui bahwa Cakra adalah seorang yang friendly, dan juga pintar. Buktinya Ia bisa menjadi Dokter spesialis pada umur dua puluh delapan tahun.
Sekarang Cakra sudah berkepala tiga. Tepatnya tiga puluh tahun. Ia adalah laki-laki putih, tinggi berbadan kekar dan berbahu lebar. Ditambah ia punya mata elang, namun entah kenapa wajahnya begitu meneduhkan.
__ADS_1