
Berlian datang ke klinik Cakra. Hari ini ia datang dengan membawakan Cakra makan siang. Entah kenapa ia menjadi ingin perhatian pada laki-laki itu, entah karna merasa punya hutang atau kah memang ingin lebih perhatian.
Berlian terus menenteng rantang yang dibawanya, lalu menghadap ke resepsionais.
"Bapak ada?" Tanya Berliqn oada resepsionis wanita itu.
"Ada Bu, di ruangannya, silahkan saja." Sahut perempuan cantik itu ramah.
Berlian sudah tak lagi asing di klinik itu, ia memang sudah di kenal oleh pegawai-pegawai yang ada di sana. Bahkan pegawai itu tak segan-segan menggoda Cakra dengan Berlian sebagai pasangan.
Tak menunghu lama, Beelian langsung saja menuju ruangan Cakra. Ini adalah jam istirahat, biasanya tak menerima pasien dulu, jadi Berlian tak perlu memberi salam, ia langsung saja membuka pintu ruangan.
Deg! Pemandangannya sangat tidak baik untuk dilihat. Aurelia sedang mengelap kemeja Cakra yang basah. Ia tak tahu bagaimana kejadian sebenarnya, tapi ia kecewa.
"Maaf," lirih Berlian.
Cajra yang terkejut dengan kedatangan Berlian sontak mendorong Aurelia begitu saja dan mengejar Berlian yang sudah keluar.
"Lian..., Lian..."
Berlian berjalan di koridor dengan langkah cepat. "Lian tunggu!"
Berlian berhenti, namun raut wajahnya terlihat sangat masam. Entah kenapa hatinya terasa panas melihat Cakra bersama perempuan lain, terlebih itu adalah mantan adik iparnya.
"Ada apa Mas?" Berlian bertanya dengan ketus.
"Kamu kenapa? Kok gak jadi masuk?" Balik tanya Cakra tanpa merasa bersalah.
"Aku gak enak, ganggu orang pacaran."
Puftt!! Cakra menahan tawanya, lucu juga kalau Berlian lagi mode cemburu pikirnya.
"Ngapain senyum? Apa aku keliatan lucu?" Kesal Berlian, orang sedang kesal, bisa-bisanya Cakra malah tersenyum.
"Banget!" Jawab Cakra lagi tanpa ada rasa salah, "ternyata kamu juga bisa cemburu ya?"
Cemburu? Cakra berpikir jika dirinya saat ini sedang cemburu? Ah gak mungkin lah, Berlian terus menyangkal perasaannya bahwa ia sedang cemburu. Untuk apa cemburu? Dia kan tak punya ikatan apa-apa dengan Cakra.
"Loh ngapain cemburu? Mas Cakra kan juga berhak dekat dengan siapa pun." Sangkal Berlian, namun raut merah dari wajahnya tak dapat ia sembunyikan.
"Gak cemburu juga gak papa, tapi izinin aku jelasin dulu ya? Kamu salah paham tadi." Kata Cakra dengan suara merendah, seolah sedang merengek.
"Salah paham gimana? Orang aku liat sendiri tadi, Mas Cakra mesra banget sama dia." Ups! Berlian merutuki mulutnya yang langsung protes, ah kenapa tiba-tiba ia jadi tidak sabaran.
"Ini! Ini yang aku mau." Timpal Cakra semangat.
"Maksudnya?"
"Akhirnya aku bisa tahu juga perasaan kamu ke aku." Ucap Cakra lega.
__ADS_1
Berlian mendadak jadi malu dan menampilkan pipinya yang berubah menjadi merah merona.
"Udah, gak usah dibahas lagi. Kamu bawa apa?" Cakra mengalihkan pembicaraan.
"Kamu bawain buat aku kan? Sini aku juga laper banget!" Cakra menarik rantang yang ada di tangan Berlian.
"Temenin aku makan ya?" Pinta Cakra.
Dan Berlian tak mamou menolak Cakra lagi.
...****************...
Arhan adalah tipikal laki-laki yang oantang menyerah dalam segi apa pun. Sebelum ia mendapatkannya, maka tak ada kata kalah atau menyerah falam kamus hidupnya.
Seperti hari ini, ia kembali datang ke rumah Berlian. Walau mendapat penolakan yang sudah tidak bisa dihitung, ia takkan menyerah begitu saja.
Sebelum mengetuk pintu rumah, masih sempat Arhan melirik jemuran yang ada di samping rumah. Baju bayi?
Setelah mengetuk pintu dan mengucapkan salam, seorang wanita paruh baya membukakan pintu untuknya.
"Arhan?" Bu Rahma mengerutkan keningnya.
"Boleh aku masuk?" Tanpa menunggu jawaban atau persetujuan dari Bu Rahma, Arhan langsung masuk dan duduk di sofa.
"Sebentar ibu buatkan minum." Ujar Bu Rahma lalu berlalu ke dapur.
Bu Rahma kembali dengan secangkir teh yang ditaruh di depan Arhan, dan ia ikut duduk bersamanya.
Arhan menyesap teh uang ada di depannya.
"Teh buatan ibu memang selalu juara." Puji Arhan.
Jujur saja, ia memang sangat menyukai teh buatan ibu mertuanya karna mengingatkannya pada Berlian.
"Ada apa nak Arhan ke sini?" Tanya Bu Rahma baik-baik, walau sebenarnya ia sudah tahu jawabannya.
"Bu Arhan tahu, Arhan salah sama ibu. Tapi biarkan Arhan bertanya satu hal, dan jawablah dengan jujur Bu ."
Bu Rahma mengerutkan keningnya.
"Berlian hamil kan Bu? Tolong ibu jawab dengan jujur."
Bu Rahma tak bisa menjawab, katna ia sudah berjanji dengan Berlian. Namun, du satu sisi ia juga kasihan melihat Arhan yang oantang menyerah.
"Enggak Han, kamu dengar dari siapa?" Bu Rahma memilih berdusta.
Arhan langsung bangkit dan bersimouh di kaki bu Rahma, ia memohob.
"Bu Aku mohon." Arhan mengiba.
__ADS_1
"Apa apaan ini?"
Nautiya yang baru datang melihat drama yang sedang dibuat Arhan.
"Tiya?" Arhan bangkit menghampiri Nautiya.
"Di mana anakku Tiya?" Arhan menggoncang tubuh Nautiya seperti orang gila.
"Anak siapa sih Mas?" Tanya Nautiya dengan kesal.
"Jangab bohonh lagi Tiya, kalau enggak, untuk apa? Untuk apa inu semua?" Arhan mempertanyakan belanjaan yang ada di tangan Nautiya berupa popok bayi dan keperluan bayi lainnya.
"Hua...., hua....," Suara tangis bayi menggema di sebuah kamar.
Arhan langsung berlari ke arah sumber suara, kamar Berlian. "Bayi? Itu suara bayi?" Arhan seperti orang kesetanan.
"Lian..., Lian..., buka pintunya Lian, aku tau kamu di dalam." Arhan menggedor pintu kamar Berlian, yang memang di sana ada Berlian bersama anaknya.
"Berhenti Mas!" Nautiya menarik lengan Arhan menjauh.
"Itu anak aku kan Ti?"
"Pulang Mas! Mas Arhan membuat bayinya takut."
Bukannya pulang, Arhan malah bersimouh di kaki Arhan, ia menangis.
"Mas mohon Ti, izinin Mas ketemu sama anak Mas."
Nautiya diam. Ia termangu.
"Tiya Mas mohon." Isak Arhan, ia benar-benar sedih.
"Pergi Mas, sebelum aku memanggil orang-orang dan Mas akan dikeroyok di sini."
"Tiya...," Bu Rahma menegur anak gadisnya.
"Bu! Ini adalah kesalahan ibu yang selalu mempersilahkan manusia inu masuk ke sini, sehingga dia sudah tak tahu malu dan terus mengganggu ketenangan kita Bu. Dia pikir dia masih punya posisi di sini." Berang Nautiya sembari menunjuk-nunjuk Arhan yang masih bersimpuh.
"Jangan begitu Tiya, kamu begitu kasar."
"Ini gak seberapa dengan yang kak Lian rasakan Bu, dia pantas mendapatkan ini." Geram Nautiya ketika ibunya terus membela Arhan.
"Dia tidak pantas dikasihani." Tambah Nautiya masih dengan ekspresi marahnya.
"Aku gak papa kalau kamu marah Ti, asal izinkan aku ketemu sama Berlian."
Nautiya berdecih lalu menyeringai, "Pergi Mas! Kak Lian sendiri yang tidak mau bertemu Mas Arhan."
Hy semuanya, jangan lupa mampir di novel aku dengan judul 'Setelah menikah denganmu' Ya? Aku tunggubkehadiran kalian.
__ADS_1