
"Pokoknya kamu harus temenin aku ya?"
"Emang ada acara apaan sih?"
"Udah ikut aja!" Charlie menarik tangan Nautiya ketika mareka sampai di depan sebuah rumah mewah bergaya eropa. Nautiya tercengang dengan apa yang ada di depannya ini, seumur-umur baru x ini ia punya seorang teman yang memiliki rumah semewah ini.
Ngomong-ngoming tentang rumah mewah, Nautiya tak pernah masuk ke rumah yang mewah selain rumah mantan Abang iparnya, itu pun jarang dikarenakan keluarga Abang iparnya tak terlalu menyukainya.
"Kok bengong?" Teguran Charlie mengbalikan Nautiya ke alam sadarnya, ia terlalu takjub dengan pemandangannya saat ini.
"Ini beneran rumah kamu Char?" Tanya Nautiya bodoh.
Laki-laki ini tersenyum, lucu sekali Nautiya di matanya. Polos. "Bukan, inu rumah majikanku." Candanya.
Nautiya mencubit perut Charlie kesal, laki-laki di sampingnya ini tak pernah bisa di ajak serius sekali pun.
"Udah ayok?"
Charlie menggandeng tangan Nautiya yang terasa dingin, entah karna ia gugup atau karna hembusan angin malam.
"Tangan kamu dingin banget." Ujar Charlie sembari menatap Nautiya dengan aneh. Maksud Charkie, Nautiya tak usah seserius itu.
"Iya aku gugup, mana gak bawa apa-apa lagi. Kamu sih gak bilang kalau mau ke sini." Gerutu Nautiya dengan sedikit cemberut.
Gimana enggak gugup. Ternyata teman sekantor Nautiya ini anak orang kaya, mana dirinya sangat trauma berhadapan dengan orang kaya, mengingat kakaknya Berlian tak diperlakukan dengan baik.
"Santai."
"Kok kamu gak pernah bilang kalau rumah kamu segede istana begini?" Tanya Nautiya penasaran, yang ia pikirkan pertama kali melihat Charlie dulu adalah, pria itu sama sepertinya. Lagi pula pikirannya tak akan salah, mengingat Charlie di kantor hanya karyawan biasa, sama sepertinya. Belum lagi pergaulan Charlie, yang Nautiya lihat Charlue berteman dengan semua orang, termasuk dirinya.
Ngomong-ngomong tentang Charlie, ia adalah pria tampan berkulit putih yang sedang populer di kantor Nautiya. Namun akhir-akhir ini, Nautiyalah yang dekat dengannya. Yang tak disangka Nautiya, pegawai biasa seperti Charlie ini berasal dari keluarga kaya raya.
"Terus aku ngapain ke sini? Kayaknya aku malu deh." Gerutu Nautiya lagi, ia masih tak percaya diri walau hampir sampai di ambang pintu.
"Orang tua aku baik kok," jelas Charlie.
Nautiya mengambil napas dalam-dalam ketika ia dan Charlie sudah memasuki pintu rumah.
"Assalamu'alaikum Ma, Pa," Charlie memberi salam ketika mareka sudah sampai di ruangan yang punya sofa besar, namun jika boleh ditebak sepertinya ini adalah ruang keluarga, karna tadinya mareka sudah melewati ruang tamu.
__ADS_1
"Wa'laikum salam." Jawab seorang wanita paruh baya yang berpakaian modis, mungkin itu adalah mama dari Charlie, apalagi wajahnya dan Charlie tergolong mirip.
"Ayok Charlie ajak temen kamu langsung ke meja makan, kita udah telat nih gegara nungguin kamu." Ajak Mamanya.
"Kita langsung ke meja makan aja ya?" Tanpa menunggu jawaban dari Nautiya yang masih planga-plongo dengab seisi rumah, Charlie langsung menarik tangan Nautiya menuju meja makan.
Charlie menarik sebuah kursi mempersilakan Nautiya duduk, sedangkan dirinya mengambil posisi di samping kursi milik Nautiya.
Nautiya dibuat terpana dengan pemandangan di depannya. Meja makan yang panjang dengan berbagai menu hidangan lezat di atasnya. Kalau dipikir-pikir, untuk apa meja makan yang panjang begitu, padahal yang ada di sana hanyalah empat orang. Kedua orang tuanya Charlie, Charlie dan juga Nautiya. Belum lagi piring dan gelas yang begitu cantik, rasanya akan sayang sekali jika harus makan di piring yang secantik itu. Dan tentang makanan, siapa yang akan menghabiskan makanan sebanyak ini? Ini terlalu berlebihan, dan mubazir. Begitulah kira-kira isi hati Nautiya.
Tak lama setelah itu seorang perempuan cantik muncul, dan ikut bergabung bersama mareka. Perempuan itu lebih cocok terlihat seperti model, ia punya body yang bagus juga kaki yang jenjang. Namun, wanita itu seperti tidak asing di mata Nautiya, namun ia lupa di mana melihatnya.
Angel. Sepertinya itu adalah Angel, kalau tidak salah, itu adalah tunangannya Arhan yang sekarang.
Kemudian Nautiya mengalihkan atensinya oada kedua orang tua Charlie yang mendadak jadi tidak asing.
"Pak Jaulin Amar?" Batin Nautiya terkejut.
Ia kenal. Pak Jaulin Amar ini kan pengusaha kaya raya, fotonya terpampang di baliho sana sini. Dan salah satu perusahaannya? Itu kantor Nautiya, tempat ia bekerja. Apakah dunia sesempit ini? Apakah dunia sekebetulan ini? Dan jangan bilang bahwa ternyata Charlie adalah anaknya Pak Jaulin Amar, dan sayang sekali jawabannya adalah iya.
"Jangan bilang kalau mareka orang tua kamu." Bisik Nautiya pada Charlie yang berada di sampingnya.
Semua yang berada di situ memulai makan malam mareka, termasuk Nautiya yang berada dalam keadaan amat canggung. Rasanya ingin sekali ia menghilang dari situ juga sekarang.
"Nautiya sudah berapa lama kenal sama Charlie?" Tanya Mamanya Charlie yang tak lain adalah Bu Gretha, sepertinya ia bukan asli indonesia, blasteran mungkin.
"Ba..."
"Setahunan lebih Ma!" Potong Charlie.
Nautiya melirik Charlie seolah mempertanyakan pernyataan dustanya tadi, namun Charlie memberikan kode agar mengikut saja dengan yang dikatakannya.
"Orang tua masih ada?"
"Tinggal ibu saja Tante." Entahlah, Nautiya juga bingung apakah sudah benar ia menyebutnya denhan sebutan tante, apakah ia terlihat sok akrab? Padahal baru kali ini mareka bertemu, apakah harusnya ia memanggil dengan sebutan, 'Bu' atau 'Nyonya'?
"Ayah?"
"Sudah meninggal."
__ADS_1
"Ibu kerja di mana?"
"Hanya menjahit di rumah." Mengapa rasanya ia seperti di interogasi oleh polisi? Padahal Bu Gretha bertanya dengan nada lembut dan ramah.
"Jadi Nautiya kerja di mana?" Giliran Pak Jaulin yang bertanya.
"Loh Pa! Kan Charlie sudah bilang, dia kerja di perusahaan kita." Sela Bu Gretha.
"Oh iya papa lupa."
"Sudah lama kerja di perushaan kami?" Giliran wanita cantik bernama Angel yang bertanya.
"Sudah dua tahun."
"Oh iya Ma, Pa, aku udah mantap sama Tiya, jadi jangan ada lagi drama perjodohan. Stop menjodohkan Charlie lagi."
Hah?
"Uhuk! Uhuk!" Mendengar ucapan Charlie, Nautiya langsung tersedak dengan makanannya. Dan Charlie langsung siaga memberikannya air putih.
"Kamu gak papa sayang?"
Sayang? Drama apa lagi Charlie memanggilnya sayang? Dan bukannya menjawab, Nautiya malah mempelototi Charlie, bisa-bisanya pria itu mengenalkannya sebagai pasangan tanpa persetujuannya lebih dulu.
Setelahnya makan malam berjalan semestinya dengan obrolan yang tidak dimengerti Nautiya. Ia hanya mengiyakan saja jika pendapatnya dibutuhkan, selebihnya ia hanya diam menikmati makanan yang lezat di depannya. Dan satu yang baru Nautiya ketahui, Charlie sengaja menjadi karyawan biasanya, ia hanya di uji ileh kedua orang tuanya sebelum nantinya ia diperkenalkan sebagai CEO baru perusahaan mareka.
Makan malam selesai, dan Nautiya yang mohon undur diri, dan Charlie yang akan mengantarnya. Yang ada dalam pikiran Nautiya sekarang adalah, ia akan menyemprot Charlie habis-habisan.
Charkie dan Nautiya berjalan ke arah mobil, ia melihat Aurelia, adiknya Arhan datang. Pantas.
"Hai Rel, kok telat?" Sapa Charlie.
"Iya, baru sempat, aku baru pulang dari rumah sakit." Jawab Aurelia, namun matanya menatap sinis pada Nautiya. Netra mareka beradu, sebelum akhirnya Aurelia memberikan seringai remeh pada Nautiya. Entah apa yang ada dalam benak wanita itu? Kurang beres memang.
"Yok Ti?" Charlie membukakan pintu mobil untuk Nautiya.
Tak lama mobil itu pun keluar dari pekarangan rumah membelah jalanan yang ramai.
Hay semuanya? Jangan lupa untuk mampir di novel aku dengan judul 'Setelah Menikah Denganmu' Ya?
__ADS_1