
Tiga hari berlalu ...
Rasanya sudah tidak sabar menunggu kabar dari Dianri , mudahan semua berjalan dengan sempurna .
Walau bagai manapun juga aku perlu bantuan Bimo , karena Bimo lebih paham dalam menyelesaikan masalah .
lagi-lagi...aku menyusahkan Bimo ...!
Tak lama kemudian Bimo muncul tiba-tiba di hadapan ku ...
Rania...bagai mana , apa Dianri sudah memberikan bukti-bukti yang kamu minta kemarin .
Belum Bim...aku sudah tidak sabar ingin melihat semua bukti-bukti itu , cuma itu jalan satu-satunya untuk membebaskan ayah .
Setelah beberapa jam menunggu , tiba-tiba ada seseorang yang ingin menemui ku 'dia memberikan sebuah amplop berwarna coklat kepada ku.
RAN...ini apa...?
Bimo menunjuk ke arah amplop yang aku terima .
Entahlah aku juga tidak tahu ,namun perasaan ku sangat gugup untuk membukanya .
Biar aku saja yang membuka amplop itu , Bimo meminta amplop yang aku terima tadi .
Aku memberikan amplop tersebut kepada Bimo dan tanpa pikir panjang Bimo membuka amplop yang aku berikan itu .
RAN...ini surat kuasa pemindahan harta warisan Arda untuk anaknya arza .
jantung ku berdebar kencang mendengar kabar itu tapi hati ku sangat bahagia sekali , inilah waktu yang aku nantikan selama ini .
Benar Bim...ini surat yang aku inginkan , ternyata Dianri menepati janjinya .
Lebih baik sekarang kamu hubungi Dianri,
Bimo memintaku untuk memberi tahu Dianri bahwa surat sudah aku terima .
setelah semuanya selesai aku dan Bimo pergi untuk menemui Mita , aku berharap semua berjalan sesuai rencana ku tanpa menimbulkan permusuhan antara aku dan Mita dan aku berharap Mita mau memberikan semua hak arza yang di tutupinya selama ini .
Beberapa menit kemudian aku dan Bimo tiba di rumah pak Dedi , untunglah ternyata mita masih ada di rumah pak Dedi itu .
Ada perlu apa kalian berdua datang ke sini apa kalian mau menebus semua hutang-hutang ayahnya Rania , pak Dedi berdiri dengan muka sangarnya sambil melirik ke arah ku .
maaf kami berdua ada urusan dengan Mita bukan dengan pak Dedi , ada yang perlu kami bicarakan
Bimo menjawab pertanyaan pak Dedi itu .
Dengan ku ,,,jawab Mita sambil tersenyum sinis ke arah ku dan Bimo .
ia dengan mu ' bisa kita bicara di luar saja ,
__ADS_1
Bimo mengajak Mita untuk keluar dari rumah pak Dedi itu .
Di sini saja , cepat katakan aku tidak punya banyak waktu .
Mita semakin sombong dengan tingkahnya seperti tidak punya kesalahan .
Langsung saja , begini MIT...dulu sebelum Arda meninggal... ?apa Arda ada menitipkan pesan atau amanah mungkin untuk anaknya .
Apa maksud mu Bimo ...! Aku sendiri yang mendampingi bang Arda waktu dia meninggal jadi aku yang tahu semuanya , tidak ada pesan atau surat wasiat dari bang Arda dan aku harap kamu tidak ikut campur urusan rumah tangga orang lain .
lagi pula bang Arda juga sudah menceraikan Rania jadi aku rasa tidak ada urusan antara aku dan Rania ataupun anaknya .
dulu bang Arda juga tidak menganggap arza itu anaknya , jadi tidak mungkin bang Arda mau memberikan hartanya untuk arza .
Benarkah seperti itu ceritanya , aku harap kamu tidak mengarang cerita .
apa salahnya berkata jujur , apa kamu takut semua yang kamu nikmati saat ini...suatu saat menjadi milik orang lain .
Aku dengan cepat membantah ucapan Mita .
Apa maksud mu Rania...kamu mengancam ku , oh aku tahu saat ini kamu dalam kesulitan terutama dalam segi uang .
jadi...jika kamu butuh semua itu ...katakan saja berapa jumlahnya , tapi aku mohon jangan campuri urusan ku !
Mita semakin besar kepala .
Aku berani berbicara seperti ini karena punya bukti yang kuat , jadi aku sarankan sebelum semuanya terjadi lebih baik kamu akui semuanya .
Rania...! seharusnya kamu sadar , dulu bang Arda tidak mau mengakui arza itu anaknya ...
Mita semakin tidak mau mengalah
Cukup MIT...! itu semua masa lalu , memang benar dulu bang Arda tidak menyukai anaknya sendiri .
tapi kamu juga harus tau , apa tujuan bang Arda mengambil Arza secara diam-diam dari ku dan bang Arda tega memisahkan aku dengan arza ...
itu semua karena bang Arda tidak mempunyai anak selain arza .
Mita terdiam seakan-akan tidak bisa berbuat apa-apa lagi , namun sepertinya Mita akan terus mencari cara agar semua rahasianya tidak terbongkar .
begini saja MIT , aku sudah tidak mau bertengkar lagi ...lebih baik kita bicarakan masalah ini dengan kepala dingin .
Tidak ada yang perlu di bicarakan Rania...lebih baik kamu dan Bimo keluar dari rumah ini .
Mita mengusir aku dan Bimo , tapi aku dan Bimo tidak menghiraukan ucapan Mita .
aku dan Bimo terus mendesak Mita agar dia mau mengakui semuanya .
Baiklah jika memang tidak ada jalan keluarnya , kita akan lanjutkan masalah ini ke pihak yang berwajib .
__ADS_1
Bimo mendekati Mita dengan wajah memerah , Bimo terlihat begitu emosi mengahadapi Mita .
tunggu ...ada satu hal yang perlu kalian ketahui ...
Mita mengambil selembar surat yang ada di dalam tasnya itu .
baca baik-baik dan pahami apa isi dari surat itu .
Aku dan bimo membaca surat itu ...ternyata itu surat pemindahan harta warisan yang tertulis bahwa semua harta milik bang Arda jatuh ke tangan Mita .
ini benar - benar tidak masuk akal , sedangkan surat yang aku terima dari Dianri jelas-jelas harta milik bang Arda jatuh ke tangan anaknya arza .
sebenarnya aku tidak ingin memperpanjang masalah harta warisan , karena masalah ini membuat bang Arda tidak tenang di sana .
Bim...bagai mana ini , aku benar-benar tidak tahu harus bagai mana lagi .
aku menatap Bimo untuk meminta pendapat apa yang harus aku lakukan selanjutnya.
Tenang saja biar ini menjadi urusan ku , sekarang keluarkan surat yang kamu terima dari Dianri tadi .
Bimo meminta ku untuk memberikan surat wasiat yang di berikan Dianri itu .
beberapa menit kemudian , aku melihat Bimo tersenyum ke pada ku .
ada apa Bim ...
apa yang ada di pikiran mu , aku semakin penasaran apa yang di pikirkan Bimo .
sepertinya surat ini palsu , aku melihat ada ketidak samaan dalam surat ini .
sebaiknya surat ini akan kita proses sebagai mana mestinya .
Bimo meminta ku untuk menyimpan kedua surat tersebut , namun Mita memaksa agar aku mengembalikan surat miliknya itu .
akhirnya antara aku dan Mita terjadi pertengkaran hebat karena aku tidak mau memberikan surat wasiat itu .
Tiba - tiba pak Dedi mendorong ku sehingga aku terjatuh .
pada saat itu Mita berhasil merampas ke dua surat dari tangan ku .
namun dengan gerakan cepat Bimo dapan merampas kembali surat wasiat itu dari tangan Mita dan menyuruh ku untuk pergi dan membawa surat itu .
Cepat Rania pergi dari sini dan selamatkan surat itu , surat itu sangat penting ...cepat Rania..!
pergi dari sini biar Mita dan Dedi menjadi urusan ku .
tapi Bim bagai mana dengan mu , bagai mana pun juga aku tidak ingin Bimo terlibat dalam masalah ku .
jangan pikirkan aku Rania...pergilah ...sejauh mungkin cepat...!
__ADS_1
aku berlari meninggalkan Bimo , meski berat kaki ku untuk berlari meninggalkan Bimo sendirian .
aku berharap Bimo akan baik-baik saja , rasanya ingin ku kembalikan saja surat ini agar semua masalah ini tidak terjadi ...tapi ayah , aku tidak kuat melihat ayah menderita di penjara .