Cinta Yang Terbuang

Cinta Yang Terbuang
Belanja Bersama


__ADS_3

"Yang ini bagus ga" Tanya Berlian menunjukkan baju yang kimi dipegangnya.


Cakra tersenyum sembari mengangguk, "Bagus."


Cakra dan Berlian sedang berbelanja kebutuhan bayi, juga untuk persiapan dirinya melahirkan.


"Kalau yang ini?" Berlian memperlihatkan yang lainnya.


"Bagus juga."


Akhirnya setelah mendapat rekomendasi dari Cakra, Berlian mengambil baju bayi yang berwarna biru dan menaruhnya di troli.


"Aku sengaja loh Mas ambil warna biru." Kata Berlian sembari berjalan beriringan dengan Cakra yang mendorong troli.


"Kenapa? Kamu suka warna biru?"


"Dikit. Tapu karna menurutku warna biru itu netral."


"???"


"Karna bisa dipakai anak cewek dan cowok." Ujar Berlian polos.


Jawaban Berlian berhasil membuat Cakra tertawa kecil, lucu juga perempuan di sampingnya ini, rasa ingin menjadikan istrinya.


"Kok ketawa? Salah ya?"


"Enggak. Cuma lucu aja."


"Letak kelucuannya dimana?" Tanya Berlian cemberut mode manja.


"Kamu berpikiran kalau warna pink hanya untuk cewek, iya kan?"


Berlian mengangguk.


"Menurut aku enggak."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Karna setiap warna berhak dimiliki oleh siapa pun, tidak hanya cewek. Kamu gak liat sekarang, banyak cowok yang menggunakan warna pink, tapi masih terkesan cool. Kamu tau kenapa?"


Berlian menggeleng, "Ya karna mareka memakai dengan seharusnya."


"Maksudnya? Ah jangan bilang lagi, rumit sekali." Ujar Berlian.


Cakra hanya mampu tersenyjm melihat tingkah polos Berlian.


"Ya sudah kalau tidak mau dengar, ayo cari yang lain lagi?"


Berlianengangguk menurut.


"Apa yang belum kebeli?"


"Kain bedong Mas, sama handuk juga perlengkapan mandi."


Cakra dan Berlianpu mencari barang yang diperlikan. Setelah semua terbeli mareka langsung melakukan pembayaran.


"Jangan!" Tolak Berlian.


"Diem di situ!" Cakra melotot tajam memaksa.


"Wah, belanja buat lahiran ya Mas?" Sang kasir menggoda Cakra, dan berpikir Cakra adalah suami Berlian.


"Iya Mbak!" Jawab Cakra sembari memberikan kartu Atmnya.


"Totalnya sepuluh juta seratus ya Pak?"


Setelah selesai melakukan pembayaran, dengan cepat Berlian menarik Cakra. Berlian terkejut dengan harga yang ia dengar tadi.


"Mas? Kok mahak banget sih? Aku mana punya uang segitu buat bayar." Protes Berlian.


"Emang siapa yang suruh kamu bayar?"

__ADS_1


"Tapi Mas, gak mungkin Mas kasih ini cuma-cuma, ini banyak banget. Mas Cakra udah banyak banget ngeluarin uang buat aku Mas."


"Ya emang kenapa? Salahnya di mana?" Tanya Cakra balik dan berjalan dengan santainya.


"Ya salah dong mas! Salah banget! Aku bukan siapa-siapanya Mas!" Berlian ngedumel.


"Berarti kamu harus jadi siapa-siapanya aku." Jawab Cakra dengen entengnya.


...****************...


Angel dan Aurelia tengah duduk di sebuah cafe yang berada di sekitar kantor Angel. Aurrlia mengajak Angel bertemu secara tiba-tiba.


"Mbak! Mbak harus desak Mas Arhan agar mempercepat acara tunangan."


"Kenapa gitu?" Tanya Angel bingung.


"Mbak gak tahu kan kalau Mbak Lian hamil?"


Angel melotot, "Hamil?"


"Iya Mbak."


"Kamu tahu dari mana?" Tanya Angel sedikit panik. Gimana gak panik, Kehamilan Berlian adalah sebuab petaka untuknya.


"Aku lihat sendiri."


"Mama dan Mas Arhan gak tahu kan?"


"Justru itu Mbak, sebelum mareka tahu, Mbak harus memperkuat ikatan Mbak dan Mas Arhan. Bisa-bisa kalau Mas Arhan tahu, dia akan balik lagi ke Mbak Lian."


"Enggak boleh! Itu enggak boleh terjadi." Geleng Angel khawatir.


"Maka dari itu Mbak, Mbak gak boleh lama-lamain lagi. Aku yakin anak itu akan jafi pengganggu nantinya."


"Kamu benar Rel!" Angel membenarkan ucapan Berlian. "Tapi kenapa dia gak bilang sama Mas Arhan kalau dia hamil? Bukannya itu menguntungkan untuk dia?"

__ADS_1


"Ya ampun Mbak! Dia pintar dan licik. Kita gak tahu apa yang sedang direncanakan sama dia. Makanya Mbak, sesegera mungkin Mbak harus menikah sama Mas Arhan."


__ADS_2