Cinta Yang Terbuang

Cinta Yang Terbuang
Apa Ini Cinta?


__ADS_3

Tepat seperti dugaan Arhan. Berlian dan keluarganya pasti akan menyembunyikan keberadaan anaknya darinya.


Ok! Arhan memang tak berhak marah, ia akui ini adalah kesalahannya. Semua karna dirinya yang sedari awal tidak tegas. Andai saja ia bisa sedikit lebih tegas, mungkin ia tak akan kehilangan Berlian dan anaknya.


Arhan ingin sekali memejamkan matanya, namun bayang foto bayi itu terua menguasai pikirannya.


"Papa yakin, kamu adalah anak papa." Gumam Arhan sendiri.


"Apa pun yang terjadi, papa bakalan berusaha ketemu sama kamu nak."


Arhan menggapai gawainya lalu mencoba memgecek instagram Nautiya, dan benar saja, foto anak itu benar-benar sudah hilang, untungnya ia langsung menyimpannya.


"Nak? Maafin papa ya sayang? Papa udah mengabaikan kamu sama mama kamu. Papa janji akan nebus kesalahan papa."


...****************...


Sore iti Cakra dan Berlian jalan-jalan bersama, mareka tampak seperti pasangan kekasih. Cakra memang kerap mengakak Berlian untuk jalan-jalan, tanpa membawa Arsy. Bukan apa-apa, Cakra hanya ingin Berlian tak keropatan, lagi pula Arsy juga akan aman bersama neneknya.


Kalau Cakra bilang, Berlian butuh refreshing sesekali. Kata Cakra itu baik untuk ibu menyusi, agar tak stress.


"Gimana, masih sering lapar tengah malam gak?" Tanya Cakra saat mareka mulai duduk di kursi taman.


"Gak terlalu, mungkin karna Arsy juga sekarang udah ada MPASi, jadi dia gak terlalu sering menyusui kayak yang dulu."


Cakra tersenyum mengangguk, ia memang selalu perhatian dan selalu mengontrol perkembangan Berlian dan Arsy.


"Bentar ya, aku ke sana dulu?" Izin Cakra. Ia sedikit berlari, dan ketika kembali ia membawa es krim dan sebotol air mineral. Cakra memberikan es krim pada Berlian.


"Biat mood kamu baik." Kata Cakra sembari mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


Ah Cakra tampak lebih tampan dengan pakaian casualnya. Sweater berwarna mocha, lalu denim jeans di tambah sneakers coklat yang melekat di kakinya. Tingkat ketampanannya naik menjadi lima puluh persen dari biasanya yang sering berpenampilan klimis.


"Mood aku memang baik kok Mas." Sahut Berlian sembari menerima es krim yang diberikan Cakra.


Cakra selali tahu tentang kesukaannya, mulai dari hal kecil hingga yang besar. Contoh saja, Cakra akan mengingat bahwa coklat adalah kesukaan Berlian, dan es krim yang diberikannya juga rasa coklat. Memang terdengar biasa saja, tapi itu salah satu yang membuat Cakra terlihat lebih menarik.


"Makasih ya Mas?"


"Untuk?"


"Es krimnya."


Cakra tersenyum lalu mengangguk.


"Enak Mas, Mas Cakra mau coba?" Tawar Berlian.


Cakra menggeleng, "No! Aku beli khusus untuk kamu."


"Li...," Panggil Cakra, "Itu." Tunjuk Cakra.


"Apa Mas?"


Cakra mengusap pinggiran bibir Berlian yang belepotan, meski sudah punya anak, sifat anak-anaknya tetap masih melekat, itulah perempuan.


Berlian menegang dengan sentuhan dari Cakra, rasanya seperti tersengat listrik. Ah tidak-tidak, itu berlebihan, rasanya seperti ada getaran aneh yang menjalar ke seluruh tubuh Berlian. Berlian menegang karna sentuhan itu, ia terhanyut sesaat dengan sentuhan itu. Rasanya sudah lama sekali ia tidak merasakan perasaan seperti itu.


"Kamu kayak anak kecil." Ujar Cakra gemas sembati mengacak-acak pucuk kepala Berlian.


Tolonglah Cakra, jangan lakukan itu, itu terlalu manis. Rasanya Berlian menjadi salah tingkah karna sikap Cakra.

__ADS_1


"Li...," lirih Cakra lembut.


"Iya Mas?" Berlian melirik Cakra.


"Apa kamu gak ada rencana menikah? Kayaknya Arsy butuh sosok seorang ayah deh."


"Eum?" Berlian sedikit kagett dengan pertanyaan itu, jujur saja selama ini ia tak oernah kepikiran tentang pernikahan. Menurutnya selama ini semua baik-baik saja, dan berjalan sesuai keinginan.


"Iya, dia butuh seorang ayah."


"Mas Cakra sudah jadi ayah yang baik kok." Kenapa Berlian malah berkata seperti itu, "Maksud aku, Arsy udah deket bangey sama Mas Cakra, udah kayak ayah dia sendiri." Jelas Berlian canggung.


"Itu yang pengen aku omongin Li, kamu gak pengen aku jadi ayahnya Arsy secara resmi?"


Apa ini namanya? Termasuk ke dalam kata lamaran tidak ya?


"Mas..." Cicit Berlian.


"Gak papa kok kalau belum bisa di jawab."


Berlian menunduk, kali ini dengan tidak langsung ia menolak Cakra lagi.


"Aku belum mencintai Mas Cakra, maka dari itu aku belum berani untuk nerima Mas."


"Yakin kamu gak cinta sama saya?"


"Ma..maksud?"


"Nanti kalau saya sama perempuan lain, kamu cemburu..." Goda Cakra.

__ADS_1


Ah, Berlian tidak pernah membayangkan perasaanya jika Cakra bersama wanita lain, katna selama ini Cakra selalu bersamanya. Sepertinya rasanya akan aneh, dalam hati Berlian kok tidak rela ya? Tapi ia belum mencintai Cakra. Entahlah, entah dia belum mencintai Cakra, atau bekum menyadarinya.


"Enggak tuh!" Bantah Berlian, "Aku senang malah, kalau mas Cakranya senang."


__ADS_2