Cinta Yang Terbuang

Cinta Yang Terbuang
Arsy


__ADS_3

Aurelia dan Cakra berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Mareka tampak lebih akrab dari yang sebelumnya.


"Oh ya Mas Cakra, kemarin kok buru-buru banget? Ada pasien?" Tanya Aurelia bingung, ia sempat melihat Cakra yang kepanikan kemarin, namun ia tak sempat bertanya.


"Kapan?" Cakra coba mengingatnya.


"Kemarin loh, pas Mas lari-lari itu, kayaknya ada hal yang mendesak saja."


"Oh iya, memang begitu adanya."


"Oh ya? Pasien?"


Cakra menggeleng, "Lebih dari sekedar pasien." Cakra tersenyum manis.


"???" Aurelia menaikkan alisnya bingung.


"Orang yang special," Kata Cakra dengan wajah berseri, "Berlian."


Mendengar nama Berlian, hati Aurelian menjadi panas. Perempuan itu selalu saja hadir mengusik kebahagiaannya. Senyum yang tadinya diberikan Aurelia pupus begitu saja.


"Memangnya kenapa dia Mas?" Aurelia berusaha mengulik informasi.


"Melahirkan."


"Melahirkan?" Ulang Aurelia. Ini adalah berita baru untuknya.


"Iya, bayinya laki-laki. Yang membuatku sedih, dia melahirkan tanpa dukungan dari suaminya." Lirih Cakra, "Aku menggantikan peran seorang suami untuknya kemarin."


"Jadi Mas Cakra menemani Mbak Lian melahirkan?"


"Lia?"


"Heum?" Aurelia memalingkan wajah karna panggilan Cakra.


"Menurut kamu cocok gak sih aku sama Berlian?" Tanya Cakra polos sembari memamerkan wajah tampannya.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan itu, membuat Aurelia ingin muntah. Pertanyaan tak berbobot menurutnya. Andai ia bisa menjawab, ia akan mengatakan bahwa Cakra lebih cocok dengannya dibanding Berlian.


"Aku gak bisa komentar, aku saja gak kenal Berlian."


"Oh..., kapan-kapan akam ku kenalkan padamu ya? Kamu pasti suka dia, dia orang yang ramah dan baik." Jelas Cakra pwnuh semangat.


"Andai bisa ku katakan Mas, aku lebih dulu mengenalnya daripada kamu, dia gak seperti pikiran kamu."


...****************...


Berlian sekarang resmi menjadi seorang ibu tunggal. Kehadiran Arsy banyak mengubah hidupnya. Ia lebih bersemangat dan mulai benar-benar bisa melupakan Arhan, belum lagi kehadiran Cakra yang selalu di sampingnya membuat Berlian menjadi kebih mudah menyingjirkan Arhan dari hatinya.


Sekarang umur Arsy sudah memasuki tujuh bulan, ia sudah bukan bayi yang hanya mamou berbaring. Arsy sekarang sudah bisa merangkak dan mencoba untuk duduk. Andai saja Arhan bisa melihat peetumbuhan Arsy. Ah, kenapa memikirkan Arhan lagi?


Seperti biasa, orang indonesia identik dengan adat dan budaya yang beragam, salah satunya adalah turun tanah.


"Gak terasa ya Li, Arsy sudah besar saja." Ujar Cakra sembari mencubit pipi Arsy gemas.


"Mas jangan dicubit, itu sakit."


Acara turun tanah berlangsung, seperti biasa, Cakra punya andil yang besar di setiap acara yang diadakan Berlian. Hari ini Cakra kembali memainkan peran seorang ayah untuk Arsy.


Bukan hanya itu saja, Cakra juga ikut membiayai acara itu walau awalnya Berlian menolak. Selesai dengan semua acara yang telah diabadikan dalam foto dan Video. Ulah siapa lagi kalau bukan Cakra yang emnyewa photografer.


"Makasih ya Mas, sudah temenin aku sama Arsy."


Cakra mengangguk lembut, "Jangan sungkan, Arsu juga anakku, jadi tidak ada yang salah dari seorang ayah untuk anak."


Arsy terus membawakan dirinya kepada Cakra, supaya Cakra mwngambilnya. Cakra yang mengerti pun mengambil Arsy dan menggendongnya.


"Kangen ayah ya? Lama gak digendong ayah?"


Cakra sibuk bermain dengan Arsy. Sungguh! Ia sangat menyayangi Arsy.


...****************...

__ADS_1


Nautiya cukup aktif di media sosial instagramnya. Setelah momen turun tanah kemarin, Nautiya langsung mengunggah foto Arsy di instagramnya, dengan emoticon love.


Mata Arhan terbelalak melihat foto yang diunggah Nautiya. Bayi yang berusia sekitar tujuh bulan itu sangat mirip dengan Arhan, Arhan kecil. Dengan cepat Arhan meng Scrern shot foto tersebut. Arhan langsung over thinking kalau itu adalah anaknya dan Berlian.


"Kok ngelamun aja Han?" Tanya Bu Maharani sembari dusuk.di samoing Arhan.


"Lihat apa Han?" Tanya Bu Maharani sembari melirik ponsel Arhan. "Coba mama lihat, itu kok kayak foto kamu saat masih bayi?"


Tuh kan! Benar! Bukan hanya Arhan yang merasa kalau bayi itu mirip dengannya, Bu Maharani juga.


"Beneran Ma ini mirip sama aku?" Tanya Arhan menatap Mamanya mencari keseriusan di sana.


"Emang iti foto siapa?" Tanya Bu Maharani bingung, ia benar-benar berpikir kalau itu adalah Arhan.


"Aku gak tau Ma, tapi dia mirip aku kan?"


Bu Maharani mengangguk, "Iya mirip banget, hidung, mata, bibir dan semuanya."


Arhan bangkit dan mengambil bingkai fotonya yang terpajang di atas nakas. Arhan duduk dan mencocokkan dengan yang ada di HPnya. Mirip dan hampir seratus persen sama persis.


"Ma..." Lirih Arhan.


"Ini anak Arhan Ma."


"Maksud kamu?" Bu Maharani bingung dengan pernyataan Arhan.


"Berlian hamil. Saat dia keluar dari rumah ini, dia dalam keadaan hamil."


"Ta...,ta..,tapi Han."


"Ma, aku sangat yakin Berlian merahasiakan ini semua dari aku, dari kita."


"Iti artinya..., ini..., ini cucu mama?"


Arhan mengangguk, matanya berkaca-kaca.

__ADS_1


"Han..., ayo kita ke sana. Mama mau liat cucu Mama."


__ADS_2