Cinta Yang Terbuang

Cinta Yang Terbuang
Cakra


__ADS_3

Arhan duduk di depan Angel. Wajahnya terlihat menyimpan lelah yang amat dalam. Dalat Angel lihat, Arhan semakim hari semakin kurus dan tak terurus. Banyak bulu-bulu kecil yang tak beraturan tumbuh di pipi Arhan, mengurangi sekian oersen kegantengannya.


Huh! Arhan menghembuskan napasnya kasar. Untung saja Angel mengajaknya bertemu tepat saat makan siang di kantor, jadi ia tak perlu terlalu buru-buru.


"Ada apa Gel ngajak ketemu?" Tanya Arhan melihat pada Angel yang terus menatapnya tanpa berkedip.


Angel langsung memasang wajah cemberut. "Harus ya iti dipertanyakan?" Tanya Angel kesal.


Arhan tersenyum. "Kamu kok sensi banget, lagi dapet ya?"


"Kamu sih nyebelin, masa ketemu calon suami harus ada alasan." Kesal Angel.


"Tapi kamu kan tahu aku lagi kerja."


"Enggak! Buktinya aku ngajakon kamu ketemu pas jam makan siang."


"Ok! Ok! Berarti mau ketemu aja?" Arhan menaikkan alisnya menggoda. Bagaimana pun juga ia harus bersikap baik pada Angel yang akan memjadi calon istrinya.


"Sebenarnya ada yang pengen aku omongin juga sih." Kata Angel.


"Tuh kan?"


"Pesan makan aja dulu kali ya? Soalnya kamu kayaknya lagi laper."


"Tahu aja kamu." Arhan tertawa kecil.


Setelah memesan makanan, tak lama setelahnya makanan datang. Karna rasa lapar yang mendera sedari tadi, Arhan pun memakan hidangan yang sudah ada di hadapannya ini.


"Kamu mau ngomong apa?" Tanya Arhan di sela ia makan.


Angel terlihat ragu mengutarakan isi hatinya, takutnya tak sejalan dengan pikiran Arhan. Tapi masa bodoh, ia harus tetap mengatakannya. Semua demi kebahagiaannya.


"Ayo kita percepat pertunangan kita?"


"Uhuk! Uhuk!" Arhan langsung tersedak mendengar Angel. Cepat ia mengambil air minum dan meminumnya.


"Kamu gak papa?" Tanya Angel khawatir.


Arhan menggeleng."Kenapa?"


"Aku pikir lebih cepat lebih baik!" Jawab Angel, "


Aku gak mau kamu kembali ke pelikan Berlian!" Tentu saja iti hanya mampu diucapkan dalam hati.


"Kok kamu jadi buru-buru sih? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Arhan dan mengakhiri makannya karna sudah tak lagi berselera dengan adanya pernyataan dari Angel.


"Gak ada yang terjadi. Aku hanya takut terjadi sesuatu lalu kamu berubah pikiran. Dan aku gak mau kamu kami berubah pikiran seperti dulu lagi." Angel mengingatkan kembali. "Bertemu perempuan lain, lalu melupakan aku. Dan sekarang, bisa jadi kamu kembali pada masa lalu kalai aku gak mengikat kamu sekarang."


Arhan terlihat tak suka dengan ucapan Angel. "Sudah-sudah, jangan bahas itu lagi. Yang terpenting aku di sini sekarang."


"Aku harap bukan hanya kamu yang di sini Han, hati kamu juga!" Sindir Angel.


"Angel...."


"Kamu setuju kan pertunangan kita dipercepat?"

__ADS_1


"Terserah padamu, kalau kamu maunya memang begitu."


...****************...


Sore itu, Cakra mengajak Berlian untuk berjalan-jalan di sekitar taman. Cakra mengajak agar mareka jalan kaki saja, hitung-hitung Berlian agar banyak gerak karna mau memasuki usia kehamilan sembilan bulan. Artinya HPL (Hari Perkiraan Lahir) sudah semakin dekat.


Cajra tak pernah menyangka bahwa ia bisa seakrab ini dengan Berlian, berbagi keluh kesahnya, dan yang paling aneh adalah Cakra selalu merasakan getaran cinta setiap berdekatan dengan Berlian.


"Rumah Mas Cakra di mana sih?"


Iya benar juga, mareka audah sangat dekat, tapi Berlian masih belum tahu di mana letak rumah pria itu.


"Aku gak punya rumah." Jawab Cakra.


"Terus tinggal di mana dong?"


"Apartmen."


"Ah..., maksud aku ya gtu, tempat tinggal Mas Cakra."


Cakra tersenyum. "Kalau kamu main ke sana boleh kok!"


"Mas? Duduk dulu yuk? Aku capek banget jalan terus." Keluh Berlian.


Akhirnya Cakra mencari kursi taman yang masih kosong, dan menemukannya di sudut taman. Sebuah kursi panjang bercat putih.


"Mas tinggal sendirian?" Tanya Berlian melanjutkan obrolan yang tadi.


Cakra mengangguk. "Kenapa? Mau tinggal sama aku?" Goda Cakra.


"Ih..., enggak!" Berlian tersipu malu setiap kali Cakra menggodanya.


"Gak!" Geleng Berlian kuat.


"Oh ya? Orang tua Mas Cakra di mana?" Berlian mulai mengulik kehidupan Cakra, karna selama ini, ia tak tahu apa-apa tentang Cakra. Justru Cakralah yang banyak tahu tentangnya.


"Meninggal!" Jawab Cakra enteng.


"Hah?" Berlian terkejut, dan juga merasa tak enak setelah mulutnya lancang bertanya tentang Cakra.


"Maaf ya Mas? Aku gak ada maksud untuk..."


"Gak papa," Potong Cakra, "Emangnya kenapa sih? Semua orang kan bakalan meninggal juga, cuma beda waktu aja."


"Ya..., siapa tahu itu ngebuat Mas Cakra sedih."


"Sedih itu manusiawi."


"Mas Cakra itu kalau ngomong ada aja jawabannya." Ujar Berlian yang tak habis oikir dengan setiap jawaban yang dilontarkan Cakra.


Cakra yertawa kecil. "Loh? Emang benar kan?"37


"Heum, iya deh! Berarti orang tua Mas Cakra gak bisa liat Mas Cakra nikah dong!"


"Bisa!" Jawab Cakra enteng.

__ADS_1


"???" Berlian terheran.


"Aku sudah menikah."


"????" Berlian melotot tak percaya denga jawaban yang diberikan Cakra.


"Iya." Cakra mengangguk lagi, "Aku udah nikah saat baru lulus SMA."


"Terus istri Mas di mana?"


"Di surga."


Tuh kan! Jawaban Cakra semuanya di luar nalar.


"Dia kecelakaan saat sedang hamil." Jelas Cakra menjawab pertanyaan di benak Berlian.


"Berarti Mas Cakra duda dong?"


Cakra tersenyum dan mengangguk. "Taoi kami hanya menikah siri."


"Kenapa begitu?" Berlian semakin penasaran mengenai Cakra.


"Saat SMA aku adalah laki-laki nakal. Kenakalanku membuat pacarku hamil. Aku harus menikahinya gar tak membuat malu keluarga. Kami sama-sama di usir dari rumah, dan sama-sama tak melanjutkan kukiah. Aku bekerja paruh waktu untuk menghidupi istriku. Walau begitu, aku bahagia." Cakra tersenyum membayangkannya.


"Namun na'asnya, di usia kehamilannya yang menuju lima bulan, ia mengalami kecelkaan lalu lintas, anak dan istriku tak bisa di selamatkan." Tiba-tiba air muka Cakra berubah menjadi masam. "Aku kehilangan bayi dan istriku."


Berlian manggut-manggut.


"Setelah kehilangan istriku, orang tua ku menerimaku kembali. Mareka sedih melihatku. Dan setelah itu aku memutuskan untuk menjadi Dokter, Dokter spesialis kandungan, aku tidak mau ada ibu yang kehilangan anaknya."


"Mas Cakra baik..." Lirih Berlian.


"Baru tahu?" Canda Cakra.


"Ih..." Cakra tak bisa dipuji sedikit pun, ia pandai terbang.


"Oh ya Lian ada hal yang ingin aku sampaikan sama kamu."


"Tantang?" Berlian melirik.


"Perasaanku."


"????"


"Kamu pasti mengerti kalau selama ini aku mencintai kamu Lian." Cakra menatap Berlian serius tanpa kedip. "Hanya saja untuk mengatakannya aku tidak leluasa. Karna keadaan kamu masih dalam masa iddah. Tapi, aku juga takut untuk menunda mengatakannya."


Cakra mengeluarkan sesuatu dari kantong jaketnya, kotak cincin. Cakra membukanya.


"Mau tidak Berlian menikah dengan ku? Setelah kamu melahirkan nantinya."


"Mas Cakra?" Berlian melotot tak percaya.


"Aku benar-benar tulus sama kamu Berlian."


Berlian mendorong kotak cincin itu dengan halus.

__ADS_1


"Jangan sekarang ya Mas? Aku belum berpikir ke arah itu. Aku juga masih trauma dengan pernikahan."


Cakra menutup kotak cincinya. "Gak papa Lian, aku bakalan tunjukin seberapa gigihnya aku."


__ADS_2