Cinta Yang Terbuang

Cinta Yang Terbuang
Maaf


__ADS_3

Tak ingin pertengkaran itu menjadi konsumsi tetangga, akhirnya Bu Maharani dan Arhan dipersilakan masuk. Mareka duduk berhadaoan dengan Berlian dan ibunya, sedang Nautiya ia bermain dengan Arsy di depan TV.


"Katakan apa yang Mas Arhan ingin katakan." tegas Berlian.


"Lian.., aku ingin minta maaf. Selama ini aku tidak bermaksud mengabaikanmu, tapi susah sekali bertemu kamu Lian."


"Setelah maaf, lalu apa?"


Arhan mengernyit, ia tak mengerti maksud Berlian.


"Anggap saja aku sudah memaafkan kamu Mas, lalu selanjutnya apa yang akan terjadi? Apa yang berubah setelah aku memafkan kamu?" Berlian begitu tegas dengan pertanyaanya.


Arhan kelimpungan untuk menjawabnya, ia sempat bingung terlebih dahulu.


"Ak..aku akan bertanggung jawab de..dengan Arsy."


"Dengan cara apa?" Berlian seolah tak percaya bahwa Arhan mampu melakukannya.


"Apa pun itu," jawab Arhan tanpa ragu, dan tanpa harus berpikir.


"Termasuk?" Beerlian menaikkan alisnya sebelah.


"Kembali bersama kamu Lian." Jawab Arhan dengan penuh percaya diri.


Bu Maharani agak terkejut dengan jawaban Arhan dan cepat melirik ke arah anak laki-lakinya itu.


"Lalu, bagaimana dengan tunangan kamu Mas?" Berlian sengaja bertanya seperti itu, ia hanya ingin memancing Arhan.

__ADS_1


Arhan diam. Ia lupa bahwa dirinya sekarang sudah bertungan dengan Angel. Namun sayangnya ia sama sekali tak mencintai Angel, hanya Berlianlah yang ada di hatinya.


"Kamu tidak bisa menjawab kan Mas?" Berlian menghela napasnya, sebenarnya dinhati Berlian juga sedih, menurutnya Arhan benar-benar telah melupakannya. Ia menjadi lupa, Arhan datang bukan untruknya, tapi untuk anak mareka.


"Sudahlah Mas, tak perlu berpikir terlalu keras, aku mengizinkan kamu bertemu Arsy. Datanglah sesuka hatimu."


...****************...


"Tiya!" Suara itu sangat lembut.


"Iya Kak?" Nautiya hanya melirik sekilas lalu kembali fokus dengan laptop yang ada di depannya, ada pekerjaan yang belum ia selesaikan.


Berlian mengambil posisi di kiri gadis yang rambutnya di kepang dua, ah dia cantik sekali saat seperti itu.


"Arsy sudah tidur?" Nautiya berbasa-basi.


"Udah tadi."


"Iya."


"Bicaralah."


"Tentang...." Berlian ragu melanjutkan kata-katanya membuat Nautiya berpaling melihat kakaknya.


"Tentang apa?" tanya Nautiya heran.


"Ini tentang Charlie."

__ADS_1


"Memangnya kenapa dengan dia?"


Nautiya merasa kakaknya inhin berbicara serius, jadi ia menutup laptopnya dan berbicara dengan tatap muka.


"Kamu dan dia?" Kalimat Berlian terlalu ambigu.


"Aku gak ada apa-apa sama dia, kami cuma teman. Apa yang kakak khawatirkan?"


Banyak. Banyak sekali yang Berlian khawatirkan jika benar Nautiya punya hubungan khusus dengan Charlie.


Charlie dan orang tuanya memang manusia yang baik, tapi ada seseorang dalam anggota mareka yang salah. Maksudnya ia tak baik. Bukan begitu, Berlian tidak maksud mengatakan bahwa Angel adalah orang jahat. Mungkin Angel juga termasuk baik sama seperti yang lainnya. Hanya saja Angel mungkin tak menyukai Berlian karna dulunya Berlian adalah istri Arhan. Begitukah?


Berlian memang tak terlalu tahu bagaimana masa lalu antara Arhan dan Angel, tapi yang Berlian ingat, Angel sangat terpukul dengan pernikahan Arhan.


Kembali lagi pada masalah Charlie dan Nautiya. Berlian mengkhawatrkan jika Nautiya telah jatuh hati dengan pria itu, ia takut Nautiya akan kecewa atau bahkan berakhir sama seperti dirinya. Belum lagi kasta mareka benar-benar berbeda.


"Kakak kenapa sih tiba-tiba nanya gitu?" Nautiya menatap kakaknya heran.


"Kakk takut kamu suka sama dia." Ah berlian merasa bersalah, kemarin ia memaksakan adiknya untuk mengenal laki-laki, giliran ia sudah punya teman laki-laki, Berlian malah khawatir.


"Kamu tahu sendiri kan, dia berasal dari keluarga kaya. Sangat tidak sebanding dengan kita. Kakak hanya takut hal yang pernah terjadi pada kakak akan terulang lagi sama kamu Ti," jelas Berlian. Setidaknya Nautiya mengerti bahwa ini semua untuk kebaikannya.


"Tenang aja Kak, aku dan Charlie gak ada apa-apa. Kita benar-benar hanya sebatas teman, itu pun karna dua satu tim denganku. Aku juga baru tahu kalau dia anaknya owner perusahaan."


Ya memang, andai saja Nautiya tahu kalau Charlie anaknya pemilik perusahaan, mana berani dia berteman dengan pria itu. Ia pasti akan menunduk sopan jika melewatinya. Bahkan untuk menyapa, Nautiya yakin akan sangat tidak punya nyali.


Sekarang saja ia menjaga jarak dengan Charlie, namun Charlie tak ingin Nautiya melakukan hal itu, sebab Charlie tak ingin ada yang tahu bahwa dia adalah anak Jaulin Amar. Dan ia akan gagal mengawasi orang-orang yang curang dalam perusahaan.

__ADS_1


"Kakak gak pernah larang kamu dekat dengan siapa pun kok! Tapi ingat posisi kita ya Ti?"


Nautiya mengangguk. Ia tak akan bodoh kok untuk menaruh hati pada langit. Sampai kapan pun Nautiya paham bahwa Bumi tak akan pernah bisa memeluk langit, sampai kapan pun.


__ADS_2