Cinta Yang Terbuang

Cinta Yang Terbuang
Dia Bukan Anakmu


__ADS_3

Mobil Charlie berhenti di depan sebuah rumah yang ada di dalam gang sempit. Ya sesempit-sempitnya gang itu, masih bisa dilewati oleh mobil.


Penumpang di sebelahnya langsung turun tanpa aba-aba. Sang pengemudi, yaitu Charlie ikut turun dan mengikuti langkah si perempuan yang menjadi penumoangnya malam ini. Nautiya.


"Aku mampir ya?" Pinta Charlie ketika Nautiya meliriknya dengan penuh tanya. Charlie menyunggingkan senyum polosnya.


"Gak!" Geleng Nautiya kuat. Ia tak setuju atas keinginan rekan kerjanya itu.


"Kenapa sih? Ayo dong?" rengeknya lagi.


"Enggak! Aku bilang enggak ya enggak boleh!" kekeuh Nautiya.


Heran! Kok ada orang pemaksa di dunia ini seperti si tengil Charlie ini. Ia kerap kali minta ikut mampir setiap kali mengantar Nautiya. Dan anehnya, kok ada perempuan sepelit Nautiya, melarang temannya mampir. Padahal kan Charlie tak akan bertingkah dan minta macam-macam. Disuguhkan teh saja ia sudah bersyukur, ia hanya ingin lebih akrab saja dengan keluarga Nautiya, selesai.


Bukan Charlie namanya kalau tidak keras kepala, alih-alih mendengarkan penolakan dari Nautiya, ia akan tetap ikut masuk mengikuti langkah gadis itu.


"Ih..., pulang sana." Nautiya semakin kesal kala mengetahui bahwa Charlie sama sekali tak menggubris larangannya.


"Gak mau!" sahut si keras kepala.


Perdebatan kecil terjadi di depan pintu tumah Nautiya, Nautiya masih tidak mau memberi izin Charlie ikut masuk.


"Lagian aku cuma mampir kok, gak ngomong macem-macem." Janji Charlie.


"Terserah deh!" Pasrah Nautiya akhirnya. Ia memang selalu kalah dengan sifat keras kepala Charlie.


Baru Nautiya ingin membuka pintu, daun pintu iti sudah duluan terbuka. Ibunya. Bu Rahma berdiri di ambang pintu dengan senyum ramah, khasnya seperti biasa.


"Ibu?" Nautiya sedikit kaget, ibunya belum tidur, padahal ini sudah larut.


"Loh? Ada temennya, suruh masuk Ti." Bu Rahma melihat seorang pria tampan berdiri di belakang anak gadisnya. Tumben perempuan itu membawa teman laki-lakinya ke rumah.


"Iya Tante."


Tanpa dipersilakan masuk oleh Nautiya, Charlie langsung mendahului masuk. Ia tak malu sama sekali. Sedikit catatan, Charlie adalah tipe orang yang friendly, ia mudah bergaul dengan siapa pun.


"Duduk Nak!"


"Iya Tante."


Charlie langsung duduk di sofa usang itu, ah ia tak masalah dengan keadaan yang berbanding terbalik dengan keadaan rumah mewahnya. Justru di sini keadaannya terlihat lebih hangat.


"Muka lo jelek kayak gitu." timpal Charlie.


Charlie dapat melihat ekspresi dongkol Nautiya yang duduk berhadapan dengannya.


"Terserah!"


"Ti..., pegangin Arsy sebentar dong, kakak mau mandi." Berlian datang dan memberikan Arsy pada Nautiya. Ia tak terlalu fokus pada tamu adiknya itu.


"Uh..., si endut-endut." Nautiya mencium-cium Arsy gemas.


"Eh ada temannya Tiya." Berlian menyapa Charlie, dan ternyata...


"Loh Mbak Lian?"


"Charlie?"


"Kalian saling kenal?" tanya Nautiya yang keheranan melihat respons dari kakak dan temannya itu.

__ADS_1


"Iya kenal." sahut Charlie. "Ini anaknya Mbak?"


"Iya."


Berlian tersenyum, namun ada sedikit kegetiran dalam senyumnya mengingat bahwa Charlie ini adalah calon adik iparnya Arhan.


"Wah lucu ya Mbak?" seru Charlie.


"Kalau gitu Mbak permisi dulu ya?"


"Iya Mbak," sahut Nautiya.


Kemudian Berlian berlalu dari hadapan Charlie juga Nautiya. Ia masih tak menyangka bahwa dunia akan sesempit ini. Adiknya berteman dengan calon adik iparnya Arhan, dan teman yang dimaksudkan hati Berlian tidak sesederhana itu. Ia dapat melihat semburat cinta di mata Charlie, namun tidak di mata Nautiya. Ah ia belum cukup mengenal gadis itu. Ia masih terlalu tertutup.


...****************...


Pantang menyerah. Itulah yang saat ini ditanamkan dalam diri Arhan. Ia tak akan pantang menyerah sedikit pun untuk berjuang. Berjuang dalam artian mendapatkan maaf dari Berlian, ah mungkin begitu kiranya.


Porsche taycan berwarna hitam itu berhanti di depan rumah sederhana milik Berlian. Empunya mobik itu sedang menunggu empunya rumah keluar. Ia tak sendiri, pastinya sekarang ua sedang ditemani ibunya.


"Ma! Mama lihat! Itu Berlian Ma!" seru Arhan.


Mata Arhan membelalak kala mendapati Berlian keluar dari rumah dan menggendong seorang bayi, yang ia yakini adalag anaknya. Benih yang ia tanam dan berhasil tumbuh di rahim Berlian, kini benih itu sudah nampak nyata. Ia indah.


"Iya Han, Mama lihat. Dia mirip sekali dengan kamu,"


"Aku ayahnya Ma!"


Baru kali ini Arhan melihat anak itu secara nyata, walau masih pada jarak kejauhan. Tapi entah mengapa ia tetap bahagia.


"Han..., ayo turun," ajak Bu Maharani. Ia sudah tak sabar bertemu dengan cucunya itu.


"Kucing..., mana kucing, ayok ambil Arsy, Arsynya nakal nih cing!" Berlian berbicara dengan Arsy yang berada dalam gendongannya.


"Jadi namanya Arsy?"


DEG!!!!


Suara itu? Berlian mengenali suara itu. Suara yang selama ini selalu ia hindari.


Berlian berbalik. Arhan! Bu Maharani! Dua orang itu tak pernah ia harapkan kedatangannya barang sekali pun.


"Ma..., Mas Arhan?" Berlian terlihat gugup menghadapi dua orang di depannya inu.


"Berlian?"


Kenapa Berlian semakin cantik saja di pandangan matanya? Tak dapat dipungkiri ternyata hatinya masih berdetak begitu kencang melihat wanita itu. Ternyata benar bahwa selama ini Berlian betul masih bertakhta di hatinya, tanpa bergeser sedikit pun.


"Kenapa Mas Arhan ke sini?" Berlian semakin mundur, menghindari pria itu.


"Lian, aku ingin bertemu anakku," Lirih Arhan.


Arhan memasang tampang menyedihkan.


Berlian menggeleng. "Bukan! Ini bukan anaknya Mas Arhan? Siapa yang mengatakan bahwa ini anak Mas Arhan?"


"Lian..., tolong jangan begini. Aku ayahnya, aku ingin sekali menyentuhnya."


Arhan menahan tangisnya. Ada rasa sedih yang begitu menyesakkan dadanya.

__ADS_1


"Berani-beraninya Mas Arhan mengatakan ayahnya. Mas gak berhak sama sekali atas itu," imbuh Berlian.


"Lian..., Mama juga ingin menyentuhnya." Bu Maharani juga memelas, berharap Bu Maharani mengasihaninya.


Tapi selangkah keduanya mendekat, maka selangkah pula Berlian mundur menghindari. Sungguh ia tak ingin berurusan dengan dua manusia ini.


"Lian..., aku mengakui kesalahanku padamu, tali biarkan aku menyentuhnya, aku merindukan dia Lian..." bujuk Arhan.


"Sudah ku katakan bahwa ini bukan anakmu Mas!"


"Berhenti bergurau Lian, jika ini bukan anakku, lantas anak siapa?"


"Berani sekali Mas Arhan mengatakan ini anak Mas, setekah Mas Arhan membuangku."


"Lian..., mari bicara dengan baik sayang?"


"Menjauhkah Mas, dia sama sekali bukan anakmu!" teriak Berlian.


"Kalau bukan anakku, lantas anak siapa Lian?" Arhan juga berteriak tak kalah kencangnya.


"HUA!!!" Bayi itu terkejut dan menangis.


"Cup! Cup! Sayang." Berlian menepuk-nepuk halus bayinya agar ia diam.


"Lian?"


"Mas, biar ku perjelas, ini adalah anakku sendiri, anggap hasilku menjuak diri. Dan Mas Arhan tak berhak sama sekali atas anakku!" Diiringi air mata yang tumpah dari netra indah Berlian. Ia tak sanggup menahan sakit bertemu dengan Arhan. Melihat wajah Arhan mengingatkannya dulu pada hari di mana Arhan menceraikannya tanpa sebab dan alasan.


Berlian menangis, Arhan ikut serta. Dan Bu Maharani? Ia juga ikut menangis, mengingat ini adalah ulah dirinya.


"Jangan berkata demikian Lian, sunggub aku minta maaf!" Isak Arhan.


Mudah sekali pria iti mengucapkan kata maaf. Apa dia pikir hanya dengan kata maaf bisa menyelesaikan segalanya. Bisa mengembalikan semuanya seperti semula.


"Tak ada yang perlu dimaafkan Mas! Enyahlah! Kalian membuat anakku takut!" usir Berlian.


Melihat penolakan dari Berlian, Bu Maharani mendekat lalu bersimouh di kaki Berlian.


"Apa yang Mama lakukan?" Arhan terkejut dengan apa yang dilakukan mamanya.


"Lian..., biarlah mama menebus kesalahan Mama selama ini. Mamalah yang harua disalahkan di sini." Bu Maharani ikut menangis, ia benar-benar ingin menebus kesalahannya.


"Lepaskan Ma!" teriak Berlian, "Sudah aku katakan sedari dulu, sesudah aku kelaur dari rumah kalian, jangan mencariku untuk urusan apa pun. Kenapa Mama melupakan hal itu?"


"Lian..., Mama yang salah. Mama tahu itu. Tapi biarkan Mama melihat cucu mama."


"Ma..." Arhan meraih pundak mamanya agar bangun, tapi mamanya menolak.


"Pergi!" teriak Berlian, masih dengan air mata yang terus menerua keluar.


"HUA!!" Bayi itu kembali menangis, mungkin saja ia takut dengan suara teriakan di sisinya.


"Pergilah! Anakku takut dengan kehadiran kalian." Untuk kesekian kalinya Berlian mengusir Arhan.


"Ada apa ini?" tanya Nautiya heran. Ia melihat Bu Maharani bersimpuh di kaki kakaknya, lalu Arhan? laki-laki itu berada di sisi mamanya.


Drama apa lagi ini? Pikir Nautiya ketika ia menghampiri kakaknya bersama ibunya.


Bu Rahma mengambik Arsy dalam gendongan Berlian. "Berlian, bicaralah baik-baik dengan Arhan. Semua tak akan selesai dengan cara begini." Ujar Bu Rahma lembut.

__ADS_1


__ADS_2